
Dara masih termenung sendiri didalam kamarnya yang luas, duduk bersandar diatas ranjang sambil memangku bantal diatas pahanya, memejamkan matanya memikirkan sikap dingin dan acuh suaminya.
Dara membuka kelopak matanya pelan, sebelum menoleh ke sisi ranjang yang kosong tempat suaminya biasa tidur.
"Kenapa lama sekali sih Mas kamu marahnya....." Ucap Dara lirih menatap sendu sisi ranjang yang ada disampingnya.
Tok tok tok suara ketukan pintu kamar Dara membuyarkan lamunannya
Dara segera turun dari ranjang sebelum melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamar.
"Iya Bi?" ucap Dara kepada Bi Minah setelah membuka pintu.
"Maaf Non, waktunya makan malam, sudah ditunggu sama Bapak dibawah." Ucap Bi Minah Sopan.
"Mas Erfan sudah ada dibawah belum Bi?"
"Belum Non, sepertinya masih diruang kerja, tadi Tuan Erfan minta tolong dibuatkan kopi sama saya."
Dara terdiam sebelum mengalihkan pandanganya ke pintu ruang kerja Erfan yang tertutup. "Menyentuh kopi buatanku saja kamu nggak mau Mas," ucap Dara dalam hati.
"Saya permisi memanggil Tuan Erfan ya Non?" ucap Bi Minah sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Erfan.
"Bi.." Panggil Dara menghentikan langkah Bi Minah. "Biar saja saja," ucap Dara lagi menatap Bi Minah.
"Baik Non," ucap Bi Minah sebelum meninggalkan Dara dan menuruni anak tangga.
Dara menghela nafas sejenak sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Erfan, membuka pintunya perlahan sebelum masuk ke dalam ruangan, mendekati Erfan yang terlihat sibuk dengan layar laptopnya.
"Mas Erfan sibuk ya? kok nggak masuk kamar?" tanya Dara menghampiri Erfan.
Erfan masih diam, melirik sekilas Dara sebelum menatap kembali layar laptopnya.
"Waktunya makan malam Mas, sudah ditunggu Papa dimeja makan." Ucap Dara saat berdiri didepan Erfan.
"Kamu makan aja, aku belum lapar." Ucap Erfan datar tanpa melihat Dara.
"Sampai kapan Mas Erfan marah sama aku?" tanya Dara memelas.
"Sampai kepalaku dingin." Ucap Erfan dingin tetap fokus sama laptopnya
Dara menghela nafas sebelum melangkahkan kakinya lagi mendekati Erfan, berdiri dibelakang Erfan sebelum melingkarkan lengannya pada bahu kekar milik suaminya. "Aku minta maaf Mas....aku salah," ucap Dara lirih ditelinga Erfan, membuat Erfan mengalihkan pandangannya lurus kedepan.
"Aku nggak bisa menjaga perasaan kamu, aku minta maaf." Ucap Dara mulai menangis semakin mengeratkan pelukannya.
Erfan masih diam tak membalas kalimat istrinya.
"Aku benar-benar nggak sengaja saling tatap seperti itu Mas, aku minta maaf karena belum bisa menjaga sikapku dengan baik," ucap Dara sebelum membenamkan wajahnya pada bahu Erfan, membasahi kaos Erfan dengan airmatanya.
Erfan menghela nafas sebelum melepaskan tangan istrinya yang melingkar, menarik tangan Dara kedepan sebelum mendorong kursinya ke belakang.
"Aku sudah pernah bilang kan, kamu jangan menangis, hatiku sakit saat melihat air mata kamu," ucap Erfan setelah berdiri dari kursinya, mensejajarkan dirinya dengan Dara.
"Gimana aku nggak nangis kalau Mas Erfan marah terus, diemin aku terus," ucap Dara semakin menangis menatap Erfan.
"Sudah jangan menangis," ucap Erfan menyeka lembut air mata Dara yang terus mengalir, merengkuh bahu Dara sebelum mendekapnya ke dalam pelukannya, membuat wajah Dara menempel didada bidangnya.
"Aku sudah terbiasa dengan pelukan kamu Mas, dengan senyum manis kamu, dengan sikap lembut kamu, jadi jangan membuatku merasa kehilangan itu semua," ucap Dara semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku terlalu cemburu Ra, aku terlalu mencintai kamu," ucap Erfan membelai lembut kepala Dara, sebelum mendorongnya pelan dari pelukannya. "Lain kali kalau aku marah, jangan pernah pergi meninggalkan aku, karena aku butuh kamu untuk mendengarkan semua isi kepala dan perasaanku," ucap Erfan lagi menatap Dara.
Dara mengangguk pelan menatap Erfan. "Maaf Mas," ucap Dara lirih sebelum menghamburkan kembali tubuhnya memeluk Erfan.
"Aku juga minta maaf Ra," ucap Erfan membalas pelukan Dara.
__ADS_1
"Ayo makan, Papa pasti sudah menunggu." Ucap Erfan masih memeluk Dara.
Dara melepaskan pelukannya, menyeka air matanya lembut sebelum menganggukkan kepalanya.
Erfan tersenyum menatap Dara, merangkul bahu Dara sebelum berjalan bersama keluar dari ruang kerjanya.
Sementara itu, dimeja makan, Pak Subrata sedang menunggu Erfan dan Dara turun sambil memainkan ponselnya.
"Maaf ya Pa, kami lama turunnya." ucap Erfan sebelum menarik salah satu kursi untuk Dara duduk.
"Nggak lama kok Fan, baru juga satu jam, makanan Papa aja sampai habis karena kelamaan nungguin kalian," sindir Pak Subrata membuat Erfan terkekeh.
"Kenapa Ra? kok sembab gitu matanya?" tanya Pak Subrata menatap Dara.
"Nggak Papa Pa," ucap Dara menggelengkan kepalanya sebelum berdiri dan mengambil makanan untuk Erfan.
"Apa Erfan menyakitimu?" tanya Pak Subrata lagi menyelidik menatap Dara.
"Cih," Dengus Erfan. "Apa Papa pernah melihatku menyakiti wanita?" Protes Erfan sebelum menerima sepiring nasi dari Dara.
"Terimakasih sayang...." ucap Erfan menatap Dara, membuat Dara tersenyum menahan malu didepan Mertuanya.
"Tuh kan? Dara aku sayang-sayangin," ucap Erfan menatap papanya.
"Bagus lah," ucap Pak Subrata sebelum menghabiskan air putihnya.
"Mau kemana Pa?" tanya Dara saat melihat Pak Subrata berdiri.
"Mau ke kamar, kalian nikmati aja makanannya."
"Aku baru duduk Pa, kok sudah ditinggal," Ucap Erfan pura-pura memelas.
"Cih, Jangan sok melas gitu Fan, nggak cocok." ucap Pak Subrata mencebikkan bibirnya, sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan, membuat Erfan dan Dara tertawa.
"Ngapain?" tanya Erfan sambil menyuapkan makanan ke mulut Dara.
"Kok ngapain sih?" ucap Dara sebelum membuka mulutnya menerima suapan dari Erfan.
"Kita kan harus mengundang Ibu sama Ayah secara langsung." ucap Dara lagi disela-sela mengunyah makanannya.
Erfan menganggukkan kepalanya pelan sebelum menyuapkan lagi sesendok nasi ke mulut Dara.
"Mas Erfan kok nggak makan?" tanya Dara sebelum menerima suapan Suaminya.
"Nanti aja setelah kamu."
"Tadi Mas Erfan makan siang pakai apa?"
"Nggak makan, Secretarisku cuti," Jawab Erfan datar.
"Ha? beneran nggak makan?" tanya Dara memastikan.
Erfan kembali menganggukkan kepala sebelum menyodorkan lagi sesendok nasi ke mulut Dara.
"Ih," ucap Dara memukul pelan lengan Erfan, membuat Erfan terkejut.
"Kok nggak makan Sih Mas?" omel Dara kesal mengambil alih sendok yang ada ditangan Erfan.
"Nggak sempat makan Ra."
"Kebiasaan kamu itu Mas, kalau nggak enak hati pasti nggak mau makan," Omel Dara lagi sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulut suaminya.
"Kamu makan....." ucap Erfan terpotong.
__ADS_1
"Aa...." Ucap Dara menyuruh Erfan membuka mulut.
"Walaupun marah, ataupun nggak enak hati, Mas Erfan itu harus tetap makan," Omel Dara mengambil tambahan nasi dan lauk lagi untuk suaminya.
"Ra, Ra kebanyakan Sayang..." Protes Erfan sambil mengunyah makanannya, saat melihat banyaknya nasi yang Dara tambahkan diatas piringnya.
"Biar kenyang," ucap Dara cemberut.
***
Jarum jam dinding kamar Erfan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, terlihat Dara sudah tertidur nyenyak sambil mendekap guling dipelukannya.
"Ra...." panggil Erfan menggoyang pelan lengan Dara berusaha membangunkan istrinya.
Dara membuka matanya perlahan sebelum bangun dan terkejut saat melihat Erfan seperti sedang menahan rasa sakit.
"Kenapa Mas?" tanya Dara panik menyeka keringat dingin yang ada didahi suaminya.
"Tolong ambilkan obat maagku Ra," ucap Erfan lirih menyentuh perut bagian atasnya yang terasa sakit.
"Dimana Mas?" tanya Dara semakin panik.
"Dikotak obat." jawab Erfan lirih.
Dara segera turun dari ranjang, setengah berlari untuk mengambil obat yang ada didalam laci almarinya.
"Ayo Mas," ucap Dara membantu Erfan bangun.
"Minum dulu obatnya," ucap Dara lagi memberikan obat cair yang baru saja dia ambil sebelum memberikan segelas air putih kepada suaminya.
Erfan membaringkan tubuhnya kembali diatas kasur, berusaha menahan rasa sakit yang ada diulu hatinya.
"Mas Erfan punya sakit maag?" tanya Dara lirih duduk di tepi ranjang setelah meletakkan gelas air diatas nakas.
Erfan hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
Dara terlihat semakin sendu saat melihat anggukan dari suaminya.
"Kamu kenapa? kok sedih gitu wajahnya?" tanya Erfan tetap berusaha menahan rasa sakitnya.
"Nggak papa Mas, Mas Erfan tidur lagi ya? istirahat." Ucap Dara berdiri membenarkan selimut suaminya, sebelum kembali naik keatas ranjang.
"Sakit banget ya?" tanya Dara membelai lembut pipi Erfan setelah membaringkan badannya disamping suaminya.
Erfan menganggukkan kepalanya menatap Dara.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mas Erfan butuh sesuatu? aku ambilkan air hangat ya?" ucap Dara ingin bangun dari tidurnya.
"Ra" Ucap Erfan menahan tangan Dara, membuat Dara kembali tidur.
"Aku nggak papa, besok juga sembuh." ucap Erfan lagi menatap Dara.
"Aku ingin tidur dipeluk kamu," tambah Erfan manja berusaha tersenyum.
Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum meletakkan lengannya dibawah kepala Erfan, membawa suaminya kedalam dekapannya.
"Istirahat ya Mas, cepat sembuh," Ucap Dara membelai lembut kepala Erfan.
"Mulai besok jangan telat makan lagi ya?" Ucap Dara lirih sebelum mencium lembut kening suaminya, dijawab dengan anggukan kepala Erfan yang berada dipelukannya.
____________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.
__ADS_1