Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
Ekstra Part. Kebahagiaan Keluarga


__ADS_3

"Assalamualaikum...," Suara Bu Selfi sedikit menggema di dalam ruang perawatan Dara.


"Waalaikum salam..." Jawab Dara dan Erfan kompak menoleh ke arah suara, dengan senyum mengembangnya melihat kedatangan Bu Selfi, Pak Herman dan Dira yang sedang berjalan dari pintu mendekatinya.


"Ulu-ulu... cucunya Kakek..., ganteng banget ya...ucap Pak Herman antusias menggoda Amri yang sedang memejamkan matanya di dalam box bayi sebelah ranjang Dara.


"Ganteng Lo Bu, Dir cucuku....mirip sama Kakeknya..." Ucap Pak Herman semringah menatap Bu Selfi dan Dira yang sedang berdiri di sebelahnya.


"Ya Mirip sama Papanya dong Yah... lihat nih hidungnya mancung sekali kayak Mas Erfan," Protes Dira menunjuk hidung keponakannya.


"Lihat nih hidung Ayah, juga mancung sama kayak cucu Ayah," Pak Herman balik protes menunjukkan hidungnya menatap Dira, sebelum mengarahkan pandangannya menatap Bu Selfi.


"Iya kan Bu?" tanya Pak Herman mencari pembelaan.


Bu Selfi hanya terkekeh menganggukkan kepalanya pelan sebelum melangkah mendekati Dara yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.


"Selamat ya Nak... kamu sudah menjadi ibu sekarang!" Ucap Bu Selfi dengan senyum semringahnya.


"Terimakasih ya Bu..." Jawab Dara memeluk tubuh ibunya.


"Aku minta maaf jika selama ini pernah menyakiti perasaan Ibu," Ucap Dara dengan mata berkaca-kaca kembali mengingat perjuangannya dalam mengandung dan melahirkan Amri.


Muntah di pagi dan sore hari sudah menjadi rutinitas hariannya saat si Amri kecil masih berbentuk daging menuju janin di perutnya yang masih rata.


Hingga muntah berkurang dan berganti dengan rasa mudah lelah, nyeri punggung dan kaki bengkak dengan segala bentuk ketidaknyamanan yang lainnya saat si kecil Amri semakin tumbuh membesar di perutnya yang semakin membuncit.


Rasa sakit yang luar biasa kembali harus dia tahan, antara hidup dan mati perjuangannya, berusaha menikmati setiap kesakitan menjadi sebuah kenikmatan saat si Amri kecil berusaha keras untuk menerobos jalan untuknya keluar menuju terangnya dunia.


Dunia yang akan memenuhinya dengan cinta dan kasih sayang dari seorang mama yang begitu kuat dan dari seorang Papa yang begitu hebat.


"Kamu anak Baik Ra, Ibu bangga sama kamu," Ucap Bu Selfi membelai lembut punggung dan kepala anaknya sebelum melepaskan pelukannya untuk beralih menatap Erfan yang masih berdiri di sisi kanan Dara.


"Selamat ya Fan," Ucap Bu Selfi membuat Erfan melangkah memutari ranjang untuk mendekati mertuanya.


"Terimakasih Bu," jawab Erfan mencium tangan Bu Selfi.


"Selamat ya Mas?" Ucap Dira mengulurkan tangannya ke depan Erfan, membuat Erfan mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Terimakasih Dir," jawab Erfan menatap Dira yang sedang mencium tangannya sebelum melangkah mendekati istrinya.


"Selamat ya Mbak," Ucap Dira lagi memeluk kakaknya.


"Terimakasih Dek," Jawab Dara membalas pelukan hangat Dira.


"Ayah nggak ngasih selamat ke Mas Erfan dan Mbk Dara?" tanya Dira mengalihkan pandangannya ke arah Pak Herman yang sudah menggendong Amri cucu tunggal kesayangannya.


"Terimakasih ya Fan? Ra? terimakasih sudah memberikan cucu yang sangat tampan ini kepada Ayah..." ucap Pak Herman menatap anak dan menantunya bergantian sebelum menoleh ke arah pintu yang terbuka.


"Ya Allah...cucuku sudah lahir..., "Ucap Pak Subrata setengah berlari menghampiri Amri yang ada di gendongan Pak Herman.

__ADS_1


"Hati-hati Pa!" ucap Erfan melihat Papanya.


Pak Subrata terus dengan langkahnya menghampiri Amri tak memperdulikan kalimat Erfan.


"Gantian dong Her, aku juga ingin gendong cucuku...," Ucap Pak Subrata mengulurkan tangannya ingin menggendong cucunya.


Dengan senyum mengembangnya Pak Herman membiarkan besannya mengambil alih Amri dari gendongannya.


"Siapa Fan nama cucu Papa ini?" tanya Pak Subrata setelah mencium lembut pipi Amri yang ada di dalam gendongannya.


"Iya Ayah lupa belum tanya namanya," tambah Pak Herman menatap anak dan menantunys bergantian.


"Amri Nufail Pratama Pa, Yah," jawab Dara sebelum memberitahukan arti nama dari anaknya.


"Amri....." Kudang Pak Subrata memanggil cucunya yang masih terpejam.


***


Dua hari berlalu, Dara dan juga Amri sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter.


Meninggalkan sementara kamar utamanya untuk menempati kamar tamu yang ada di lantai satu sampai kesembuhan Dara selepas melahirkan.


Menjadikan kamar yang tadinya sepi kini berubah ramai dengan tangisan Amri yang ingin minum susu ataupun sekedar ingin bermanja di dalam gendongan mamanya.


Dara menolak adanya baby sitter yang diberikan Erfan karena ingin sepenuhnya menangani Amri, memberikan ASI-nya secara ekslusif untuk memastikan tumbuh kembang anak pertamanya yang sudah dinanti-nantikannya dengan tetesan air mata.


"Amri tidur ya?" tanya Erfan melihat wajah mungil anaknya yang terlelap, membuat Dara menghentikan pemberian ASI-nya.


"Tidur Mas,"


"Sini kasih aku, biar aku tidurkan di tempat tidurnya," Ucap Erfan mengambil Alih Amri, menggendongnya hati-hati untuk di tidurkan di dalam box bayi yang ada di dekat ranjang kamarnya.


Dara mengulaskan senyumnya menatap Erfan yang terlihat lihai dalam menggendong anaknya.


Pintu kamar terketuk, mengalihkan pandangan Erfan dan Dara ke arah pintu.


"Biar aku saja Ra, kamu santai saja, istirahat." Ucap Erfan menghentikan Dara yang hendak turun dari ranjangnya.


Dara hanya menganggukkan kepala, kembali bersandar menatap suaminya yang sedang melangkah untuk membuka pintu.


"Maaf Tuan, Ada tamu di depan." Ucap Art. Erfan sopan berdiri di balik pintu kamar yang sudah terbuka.


"Siapa?"


"Dewa." Jawab Art. membuat Erfan menganggukkan kepalanya pelan.


"Suruh nunggu sebentar ya? dan tolong buatin minum sekalian," Jawab Erfan yang di jawab dengan anggukam kepala Art. nya sebelum menutup pintu kamar dan melangkah mendekati istrinya.


"Ada Dewa di luar," ucap Erfan lagi setelah berdiri di depan Dara.

__ADS_1


"Dewa?" ucap Dara lirih berusaha turun dari ranjang.


"Hati-hati, mau aku gendong?" ucap Erfan merangkul pundak istrinya untuk berjalan bersama keluar kamar.


"Aku nggak selemah itu Mas," Jawab Dara terkekeh menatap suaminya, tetap melangkah menuju ruang tamu.


Dara mengulaskan senyumnya kepada Dewa yang sedang duduk bersebelahan dengan wanita cantik berjilbab putih di atas sofa.


"Dari mana Wa?" tanya Dara basa-basi menatap Dewa sebelum mengangguk senyum menatap wanita yang ada di sebelahnya.


"Dari rumah Mama langsung mampir kesini," jawab Dewa datar menatap Dara yang sudah duduk di seberangnya bersama Erfan.


"Ini dari Mama buat anak kamu, Mama minta maaf karena belum bisa kesini," ucap Dewa lagi meletakkan sebungkus kado yang ada di dalam paper bag di atas meja.


"Terimakasih ya...nanti kalau Amri agak besar aku bawa main ke rumah Mama Eri," Jawab Dara mengambil paper bag dan meletakkannya di atas sofa sebelahnya.


"Calon istri kamu?" tanya Erfan kepada Dewa, menatap sekilas wanita cantik yang sedari tadi duduk diam di sebelah Dewa sebelum mengalihkan pandangannya lagi menatap Dewa.


Dewa hanya menganggukkan kepalanya pelan," Ini Afia calon istriku," Jawab Dewa tetap datar tak menunjukkan ekpresi apapun layaknya ekpresi kebahagiaan laki-laki yang akan menikah.


Afia segera berdiri, dengan senyum ramahnya segera menjabat tangan Dara dan Erfan bergantian.


"Saya Afia," ucap Afia sebelum duduk kembali di tempatnya.


"Saya Erfan," jawab Erfan.


"Saya Dara," jawab Dara.


"Kamu ingin lihat bayi kami?" tanya Dara menatap Afia.


"Boleh, jika di izinkan."


"Ayo, Amri ada di kamar," ajak Dara berdiri dari duduknya, di ikuti Afia yang ikut berdiri.


"Kamu nggak ikut Wa?" tanya Erfan yang melihat Dewa bergeming di tempatnya, membuat Afia dan Dara mengalihkan pandangan menatapnya.


"Nggak, biar Afia aja yang masuk," jawab Dewa.


"Ayo...," Ucap Dara kepada Afia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah menuju kamarnya, di ikuti dengan Afia yang melangkah di belakangnya.


______________________________________


Jangan lupa LIKE, KOMEN DAN FAVORIT ya...biar authornya lebih semangat lagi untuk up.


Dan kalau ada lebihan poin mohon dukung Author dengan itu....


Sekalian jangan lupa mampir ke karya author yang kedua ya...."AIR MATA PERNIKAHAN SIRI"


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2