
"Ada apa ya Pak Nathan?" tanya Dara.
Erfan beranjak duduk dari tidurnya ketika Dara menyebut nama Nathan.
"Nathan?" tanya Erfan tanpa suara.
Dara menganggukkan kepala menatap Erfan.
Erfan segera mengambil ponsel dari tangan Dara, kemudian menekan tombol loudspeaker.
"Halo Ra "
"Iya Pak."
"Aku ngganggu kamu nggak?"
"Ini lagi mau tidur Pak, ada apa Pak?"
"Nggak papa, hanya ingin telepon aja siapa tahu kamu lagi butuh teman curhat, biar ngga nangis sendiri seperti kemarin."
Erfan menatap Dara penuh tanya, tangannya sudah siap untuk menggambil ponsel dari tangan Dara.
Dara segera menghentikan tangan suaminya, menggelengkan kepalanya sebelum menggenggam tangan Erfan dan membawanya ke dalam pangkuannya.
"Kemarin hanya ada sedikit masalah keluarga Pak, tapi sekarang sudah selesai, terimakasih atas perhatiannya."
"Kalau nanti ada masalah keluarga lagi, jangan sungkan hubungi aku ya, aku serius dengan ucapanku kemarin."
"Ucapan yang mana ya Pak?"
"Kalau aku bersedia meminjamkan bahuku untuk kamu."
Dara terdiam dan menoleh ke arah Erfan, terlihat jelas wajah kesal suaminya.
"Terimakasih Pak atas perhatiannya."
"Sudah malam, selamat istirahat ya, sampai bertemu di kantor."
"Selamat malam Pak" ucap Dara mematikan panggilan teleponnya.
"Kenapa kamu melarangku bicara?" ucap Erfan kesal melepaskan tangannya dari genggaman Dara.
Dara menghela nafas pelan, "Jangan memberitahu Pak Nathan dengan cara seperti ini Mas, besok aja sesuai rencana Mas Erfan. Jangan membuatnya malu, karena merasa kepergok telepon istri temannya."
Erfan menghela nafas sebelum membaringkan tubuhnya, "Apa sesusah ini Ra untuk mencintai kamu?" Ucap Erfan menatap langit-langit kamar.
Dara membaringkan badannya disebelah Erfan.
"Apa kamu lelah Mas?" tanyanya lembut setelah memiringkan badannya menghadap Erfan.
Erfan menoleh sebelum ikut memiringkan badannya menghadap Dara, hingga membuat mata mereka saling beradu. "Aku nggak akan mungkin lelah untuk memperjuangkan kamu Ra." Ucapnya lembut menatap Dara.
"Aku hanya takut kamu akan menutup kembali hatimu sebelum aku berhasil masuk." Ucap Erfan sambil menyibakkan dengan lembut rambut kecil Dara ke belakang telinga.
"Aku nggak akan menutupnya Mas," ucap Dara tersenyum menatap suaminya.
Mata Erfan terpaku pada bibir ranum istrinya fikirannya bergerilya hingga memancing g*irah yang sedari tadi di tahannya.
"Ayo tidur Ra, aku takut melewati batas kesopananku." Ucap Erfan membalikkan tubuhnya, mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, berusaha menekan energi yang membuatnya gelisah.
Selamat malam Mas," ucap Dara tersenyum kemudian membalikan tubuhnya membelakangi Erfan.
"Mas," ucap Dara terkejut saat Erfan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Hanya sebatas seperti ini Ra," ucap Erfan lirih di telinga Dara.
Dara terdiam, detak jantungnya berpacu dengan cepat. "Bagaimana aku bisa tidur dengan jantung seperti ini?" batin Dara.
__ADS_1
Dara berusaha memejamkan matanya, membiarkan punggungnya menyentuh Dada suaminya.
***
Hari Senin, waktunya Erfan dan Dara memulai
aktifitasnya kembali sebagai CEO dan Secretaris di perusahaannya.
"Segini cukup Mas?" tanya Dara menunjukkan banyaknya nasi diatas piring.
"Cukup Ra," jawab Erfan.
Dara segera mengambil lauk dan meletakkannya disisi nasi sebelum memberikannya kepada Erfan.
"Terimakasih," ucap Erfan sambil menerima sepiring nasi.
"Kamu berangkat ke kantor bareng aku aja Ra" ucap Erfan sambil menyendok makanan.
"Aku naik taksi aja Mas, seperti biasanya." Ucap Dara mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri, kemudian duduk di
depan Erfan.
"Kenapa?"
"Aku nggak mau jadi bahan gibahan karyawan kantor karena naik mobil CEO." Jawab Dara sebelum menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
Erfan diam melanjutkan makannya.
"Nggak papa kan Mas?"
Erfan mengangguk walaupun hatinya sedikit berat.
Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka segera keluar apartemen.
"Apa Dewa sudah berangkat kerja ya?" tanya Dara Dalam hati ketika melihat pintu apartemen Dewa.
Dara menoleh ke arah Erfan, sebelum mengikuti langkah suaminya.
***
Tringgg lift yang dinaiki Erfan dan Dara terbuka dilantai satu.
"Mas Erfan hati-hati ya," ucap Dara mencium tangan Erfan setelah keluar dari lift.
Erfan menganggukkan kepala, "Aku antar sampai kamu dapat taksi ya?"
Dara menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak usah Mas, Mas Erfan langsung berangkat aja, taksinya sudah menunggu diluar."
"Ya sudah, kamu hati hati ya."
Dara menganggukkan kepalanya, sebelum berjalan menuju loby, berpisah dengan Erfan yang berjalan menuju basement.
Dara berjalan keluar untuk mendekati taksi yang berhenti di depan gedung apartemennya.
"Dewa," ucap Dara terkejut saat melihat tangan Dewa menahannya membuka pintu taksi.
"Selamat pagi Dara," ucap Dewa tersenyum menatap mata Dara.
Dara terdiam menatap Dewa, hatinya berbunga hingga menyunggingkan sedikit senyum diwajahnya, wajah yang dirindunya dalam diam kini berada didepan matanya.
"Aku ingin nganterin kamu," ucap Dewa sambil membuka pintu taksi kemudian masuk kedalamnya tanpa menunggu jawaban dari Dara.
Dara membelalakkan mata terkejut dengan tindakan Dewa.
"Ayo," ucap Dewa dari dalam taksi
"Tapi Wa!"
__ADS_1
"Udah ayo nggak pakai tapi-tapian," ucap Dewa menggeser duduknya sebelum menarik tangan Dara masuk ke dalam taksi.
Dara masuk ke dalam taksi dan duduk disebelah Dewa, diam tak bersuara, hanya memainkan jari-jari yang ada dipangkuannya.
"Aku kangen kamu Ra," ucap Dewa lirih dengan pandangan lurus ke depan setelah taksi berjalan.
Dara menoleh menatap Dewa, laki-laki yang masih menjadi penghuni hatinya.
"Apa kamu sadar sudah sangat melukai perasaanku Ra?" ucap Dewa menatap mata Dara hingga membuat mata mereka saling beradu.
"Aku sadar Wa," ucap Dara mengalihkan pandangannya ke bawah, "aku minta maaf Wa, aku sudah nggak bisa lagi menjaga hati kamu."
"Apa kamu sudah melupakan aku Ra?"
"Dara menggeleng," Sekarang aku seorang istri Wa, aku harus menjaga perasaan suamiku."
"Kamu bisa bercerai Ra, aku akan menikahimu, aku ingin menjadi suami kamu."
Dara menoleh menatap Dewa.
"Kita saling mencintai Ra, kamu kekasihku sebelum bertemu dia, tapi kenapa kamu menikahnya sama dia Ra? harusnya aku yang jadi suami kamu, bukan dia." Ucap Dewa menatap Dara.
"Aku terlalu takut mengecewakan orang tuaku Wa," ucap Dara menunduk lagi berusaha menahan air mata yang keluar karena rasa sesak dihatinya.
"Kamu bisa mencari wanita lain yang lebih baik dari aku Wa," ucap Dara kembali menatap Dewa.
"Apa kamu bisa melihatku bersanding dengan wanita lain Ra?"
"Kenapa rasanya sakit sekali Ya Allah," batin Dara menatap Dewa, air mata jatuh membasahi pipi mulusnya, sudah tidak bisa dia tahan lagi.
Dara segera menyeka air matanya dan mengalihkan pandangannya dari wajah Dewa.
Dara mengangguk, "kamu harus menemukan wanita yang bisa menjaga perasaan kamu Wa, bukan aku yang selalu menyakiti kamu." Ucap Dara menahan rasa sakit hatinya.
"Aku akan menunggumu Ra, menagih janji kamu bercerai setelah satu tahun menikah."
"Jangan seperti ini Wa, jangan menyia nyiakan hidup kamu," ucap Dara menatap Dewa.
"Aku ingin berusaha mempertahankan cinta kita disaat kamu ingin membuangnya Ra," ucap Dewa menyandarkan punggungnya ke kursi mobil.
Taksi berhenti tepat di depan pintu masuk gedung Perusahaan Erfan, Dara segera menyeka air matanya sebelum membuka pintu taksi.
Dara segera berjalan menjauhi taksi yang ditumpanginya.
"Ra," panggil Dewa menghentikan langkah Dara.
"Aku akan selalu berjuang untuk cinta kita." Teriak Dewa berdiri disamping taksi, hingga mengundang perhatian karyawan yang mendengarnya, termasuk Erfan yang sedang menunggu Dara diloby.
Dara menengok kanan kiri melihat keadaan disekitarnya, begitu banyak karyawan yang kini melihat ke arahnya.
"Issss," ucap Dara pelan menatap Dewa sambil menaikkan tangannya ke atas seperti hendak memukul Dewa.
Dara segera membalikkan badannya dan berjalan masuk ke loby, berusaha mengacuhkan banyak pasang mata yang sedang memperhatikannya, sedangkan Dewa masuk lagi ke dalam taksi.
"Cie cie, yang lagi diperjuangkan," goda Sinta resepsionis perusahaan Erfan berjalan menghampiri Dara.
Dara tersenyum kikuk mendengar godaan Sinta, "Baru datang Sin?"
Sinta mengangguk, "iya, ayo masuk Ra," ucap Sinta sambil melangkahkan kaki menuju loby diikuti Dara di sebelahnya.
"Manis sekali pacar kamu Ra, aku merinding tau mendengar teriakannya tadi," ucap Sinta tertawa sambil menyentuh pergelangan tangannya.
"Ihhh apasih Sin," ucap Dara tertawa menyenggol lengan Sinta dan tiba-tiba langkahnya berhenti setelah memasuki pintu loby, senyum yang tadinya mengembang kini menghilang saat melihat pria yang ada didepannya.
"Kenapa Ra? tanya Sinta ikut berhenti kemudian menoleh ke arah pandangan Dara.
"Selamat pagi Pak," sapa Sinta sedikit menundukkan badannya menyapa Erfan yang berdiri di depannya.
__ADS_1