Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 52. Lingerie Merah


__ADS_3

Dara dan Erfan keluar studio bersama, melangkahkan kaki mereka untuk menuruni beberapa lift menuju Departement store yang ada dilantai tiga.


Menahan tawa sambil menggeleng gelengkan kepala tanda tak percaya sudah Dara lakukan sejak film selesai diputar.


"Sepertinya kamu sangat bahagia sekarang Ra?" Sindir Erfan melangkahkan kakinya sambil merangkul pundak Dara, membuat Dara semakin terkekeh.


"Memang benar ya Mas? semua orang itu nggak ada yang sempurna, siapa sangka seorang Erfan Pratama, CEO tampan dan kaya, yang banyak ditaksir para wanita menjerit ketakutan hanya karena film horor, hahahaha" Ucap Dara semakin tertawa.


"Cih, tertawa saja terus kamu," dengus Erfan tetap merangkul Dara.


"Harusnya dari awal Mas Erfan bilang kalau takut," ucap Dara sambil merangkul pinggang Erfan.


"Ya nggak lah, mana mungkin seorang Erfan Pratama takut sama film horor?" ucap Dara lagi menirukan ucapan Erfan, "Hahaha," membuatnya kembali tertawa.


"Aku kan nggak ingin terlihat penakut Dimata kamu Ra, masak kamu nggak bisa ngerti." Bela Erfan.


"Ngerti aku Mas, tapi tetap aja lucu," ucap Dara menahan tawa.


Setelah sampai didepan pintu masuk Departement Store, Erfan dan Dara segera melangkahkan kaki mereka menuju area baju wanita.


"Ini lucu deh Mas," ucap Dara mengambil salah satu piyama lengan pendek berwarna pink yang ada di display.


Erfan menggelengkan kepala sebagai tanda nggak setuju.


"Kalau ini?" ucap Dara lagi sambil mengangkat gantungan piyama warna biru muda.


"Itu kan sama seperti yang tadi Ra, hanya beda warna." Ucap Erfan melihat baju yang diperlihatkan Dara.


"Lagian bukannya semua baju tidur kamu modelnya seperti itu semua? masak mau beli seperti itu lagi?" protes Erfan menatap Dara.


"Namanya juga baju tidur, kan ya seperti ini Mas, Mas Erfan ingin aku beli daster?" ucap Dara meletakkan kembali gantungan piyama ke tempatnya.


"Kok daster sih Ra?" Protes Erfan.


"Terus apa dong Mas? baby doll?" tanya Dara lagi.


"Sebentar, sini aku tunjukkan." Ucap Erfan menggandeng Dara sebelum melangkahkan kakinya ke arah display lingerie.


"Ngapain kita kesini Mas?" tanya Dara bingung.


"Ya Beli baju tidur buat kamu Ra," ucap Erfan sambil memilih-milih lingerie yang ada didepannya.


"Ini Ra, bagus kan? kamu pasti terlihat cantik saat memakainya." Ucap Erfan menunjukkan salah satu lingerie pilihannya.


Dara menelan salivanya kasar saat melihat sebuah lingerie dengan warna merah menyala, yang memiliki bentuk seperti gaun yang pendek dengan bra yang sudah menyatu, kainnya sangat tipis dan transparan.


"Ayolah Mas, jangan bercanda."


"Aku serius Ra, aku ingin kamu pakai baju tidur yang seperti ini," ucap Erfan meyakinkan Dara.


"Kalau kamu nggak suka sama model ini, kamu bisa memilih model yang lainnya." Ucap Erfan menunjuk kumpulan lingerie yang ada didepannya.


Dara menghela nafas sebelum mengulurkan tangannya untuk memilih model lingerie seperti keinginan Erfan.

__ADS_1


"Ihhhhh," ucap Dara bergidik saat melihat lingerie yang lebih tipis dari yang ditunjukkan Erfan.


Menghela nafas lagi sebelum memutuskan untuk menatap suaminya.


"Kita cari yang lainnya aja ya Mas?" ucap Dara memelas.


"Semua baju tidur disini kekurangan kain semua, aku malu memakainya." Bisik Dara ditelinga Erfan.


"Kan pakainya dikamar Ra, hanya didepan aku.


"Ya kan sama aja Mas, aku malu." Ucap Dara memelas.


"Ya sudah Ra terserah kamu," ucap Erfan kecewa.


"Beli apapun yang kamu mau, aku tunggu disana ya," ucap Erfan menunjuk tempat duduk yang tersedia diarea pakaian wanita."


Tanpa menunggu jawaban dari Dara, Erfan segera melangkahkan kakinya menuju sofa.


Sedangkan Dara hanya menghela nafas melihat Erfan yang lebih memilih duduk dan memainkan ponsel daripada menemaninya.


Dara mengambil beberapa potong celana jeans, blus beserta rok dan celana formal untuknya bekerja, beberapa blazer dan juga pakaian santai yang bisa dia pakai saat berada dirumah.


Setelah merasa lengkap, Dara segera melangkahkan kakinya menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


Namun langkah Dara tiba-tiba berhenti saat pandangan matanya tertuju pada kumpulan lingerie yang diinginkan suaminya.


"Mbak," Ucap Dara meletakkan semua belanjaannya diatas meja kasir, termasuk lingerie warna merah menyala yang dipilih suaminya tadi.


"Sudah Ra?" tanya Erfan menghampiri Dara.


"Berapa?" tanya Erfan kepada petugas kasir.


Setelah membayar sesuai jumlah yang disebutkan kasir, Erfan segera menenteng semua belanjaan Dara yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik.


"Mas Erfan nggak beli apa-apa? tanya Dara menatap Erfan.


Erfan hanya menggelengkan kepala sebagai bentuk jawabannya, "Kita pulang? atau makan dulu Ra?" tanya Erfan sambil membawa beberapa kantong belanjaan ditangan kanan dan kirinya.


"Pulang aja deh Mas," ucap Dara menggandeng lengan Erfan.


Erfan menganggukkan kepala pelan sebelum melangkahkan kaki mereka menuju mobil.


***


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Setelah makan malam bersama Pak Subrata Dara memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya, memainkan ponselnya menunggu Erfan yang sedang menyelesaikan sedikit pekerjaan diruang kerja.


Trrrttt trrrrttt ponsel yang sedang dimainkan Dara berbunyi.


"Dewa!" Ucap Dara lirih.


"Mungkin dia ingin ngomongin masalah Mama Eri," ucap Dara lagi sebelum memutuskan untuk menggeser warna hijau yang ada dilayar ponselnya.


"Halo," ucap Dara setelah mengangkat telepon.

__ADS_1


"Halo Ra," jawab Dewa.


Suasana menjadi hening, tak ada yang mengeluarkan suara.


"Bagaimana keadaan Mama Eri Wa?" tanya Dara membuka percakapan.


"Boleh aku ke kantormu besok Ra? ada yang ingin aku bicarakan sama kamu dan Erfan." Ucap Dewa tak menjawab pertanyaan Dara.


"Aku harus ngomong dulu sama Mas Erfan Wa."


"Oke, aku tunggu kabar dari kamu."


Suasana kembali hening.


"Aku tutup dulu ya Ra," ucap Dewa akan mengakhiri panggilan.


"Wa..." Ucap Dara ragu menahan panggilan.


"Apa?" tanya Dewa datar.


"Bagaimana keadaan Mama Eri?"


"Mama baik, kamu nggak perlu mengkhawatirkannya."


"Apa Mama masih marah sama aku Wa?" tanya Dara, membuat matanya berkaca-kaca.


"Mama hanya shock, butuh waktu untuk menerima semuanya.


"Apa besok aku bisa kerumahnya Wa? aku belum sempat menjelaskan apapun ke Mama." Ucap Dara menyeka air matanya.


"Apa yang ingin kamu jelaskan Ra? penjelasan kalau kamu sudah mempermainkanku?" ucap Dewa membuat Dara terdiam.


"Kamu bisa datang ke rumah untuk menemui Mama." Ucap Dewa lagi.


"Aku minta maaf Wa, seumur hidupku aku akan terus meminta maaf kepadamu."


"Sudahlah Ra, permintaan maafmu nggak akan pernah ada artinya buatku." Ucap Dewa setelah menghela nafasnya.


Cklek pintu kamar terbuka, Dara terkejut melihat Erfan dari balik pintu dan berjalan memasuki kamar.


"Telepon Dari siapa Ra? kenapa kamu menangis?" tanya Erfan mendekati Dara.


"Dewa Mas," jawab Dara ragu takut suaminya marah.


"Dewa? ngapain dia telepon kamu?" tanya Erfan masih berdiri didepan Dara.


"Apa itu Erfan Ra? bisa kamu serahkan ponselnya ke dia?" ucap Dewa dari dalam telepon.


Dara segera turun dari ranjang untuk berdiri didepan Erfan. "Dia ingin bicara sama Mas Erfan," ucap Dara menyerahkan ponselnya ke arah Erfan.


Erfan segera mengambil alih ponsel dari tangan istrinya. "Apa mau kamu?" Ucap Erfan setelah menempelkan ponsel ditelinganya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu sama Dara, bisakah aku datang ke kantormu besok? kamu juga bisa mendengarkannya."

__ADS_1


"Apa lagi yang perlu kalian bicarakan?" tanya Erfan ketus.


"Aku ingin mengakhiri hubungan kami dengan baik." Ucap Dewa datar.


__ADS_2