Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 97. Terbongkar


__ADS_3

"Ayo makan dulu Mas," Ucap Dara melepaskan pelukannya.


"Mas Erfan mau makan apa?" tanya Dara menatap suaminya sebelum mengalihkan pandangannya ke semua makanan yang ada di atas meja.


"Aku bingung Ra, terlalu banyak makanannya, sepertinya cukup buat orang sekomplek," jawab Erfan tersenyum, merangkul pinggang istrinya dari samping.


"Aku juga nggak sadar Mas, bagaimana bisa aku memasak ini semua." Jawab Dara lirih tetap mengedarkan pandangannya, menyapu setiap inci meja makan yang di penuhi masakannya.


"Maaf ya..... ini semua salahku kok, bukan salah kamu," sindir Erfan terkekeh membuat Dara ikut tertawa memandangnya.


"Mas Erfan sih buat aku marah, jadi gini kan hasilnya." Protes Dara.


"Hahaha, nggak papa, kita bisa memakan semuanya bareng Nathan Dan Clara."


"Mereka mau kesini?"


"Iya," jawab Erfan menganggukkan kepalanya.


Ting Tung Ting Tung suara bel rumah berbunyi.


"Tuh kan panjang umur, baru juga di omongin," ucap Erfan menoleh ke arah pintu utama.


"Sebentar ya Mas?" ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


Dara mengembangkan senyumnya saat beradu pandang dengan dua orang yang sedang berdiri di balik pintu. "Ayo silahkan masuk Pak, Cla," ucap Dara sopan mempersilahkan tamunya.


"Mas Erfan ada di meja makan, sekalian kita makan malam bersama ya?" Ucap Dara lagi sebelum berjalan ke dalam rumah, beriringan dengan Clara dan di ikuti dengan Nathan di belakangnya.


"Ya Allah....kalian mau hajatan ya? banyak sekali makanannya" Ucap Clara terkejut, masih berdiri melihat semua makanan yang ada di atas meja makan.


"Dara yang memasaknya Cla, spesial untuk menyambut kedatangan kalian." Goda Erfan tertawa menciptakan senyum kikuk di bibir istrinya.


"Ayo Pak, Cla, silahkan duduk," Ucap Dara.


Clara dan Nathan menganggukkan kepalanya pelan, melangkahkan kaki mereka untuk duduk bersebelahan di kursi seberang Erfan.


"Boleh dimakan nih?" tanya Clara kepada Dara.


"Boleh lah," jawab Dara.


Mas Erfan mau makan apa?" tanya Dara masih berdiri di sebelah suaminya.


"Kamu nggak nanyain aku Ra?" goda Nathan tersenyum memandang istri temannya.


"Jaga ya mata kamu? aku colok nih?" omel Erfan mengarahkan dua jari kanannya kedepan sahabatnya, menciptakan tawa semua orang yang melihatnya.


"Semur daging aja Ra," jawab Erfan mengalihkan pandangannya menatap Dara.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Erfan mengalihkan pandangannya kembali menatap Nathan.

__ADS_1


"Hasil tes kamu di palsukan Fan." Jawab Nathan membuat semua orang tersentak.


"Br*ngsek! berani sekali dia mempermainkan rumah tanggaku." Umpat Erfan mengepalkan tangannya yang ada di atas meja.


"Hasil tes apa Mas?" tanya Dara bingung masih berdiri, menatap suaminya yang terlihat marah, meletakkan kembali centong nasi yang baru saja di pegangnya sebelum mendudukkan dirinya di kursi.


"Hasil tes kesuburan suami kamu Ra, Cindy memalsukannya!" jawab Nathan membuat Dara mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Jadi...?" suara Dara tercekat.


"Suami kamu sehat, nggak ada masalah sama kesuburannya." Jawab Nathan membuat Dara terdiam, memejamkan matanya sesaat untuk menikmati desiran aneh yang terasa menyejukkan hatinya.


Perasaan sesak yang akhir-akhir ini mencengkeram hatinya, seolah mengurai berganti dengan perasaan bahagia, membuat matanya yang sedari tadi bening menjadi berkaca-kaca.


"Kok nangis Ra?" tanya Erfan lembut menggenggam tangan istrinya.


Dara sedikit membalikkan badannya menghadap Erfan, menatap dalam manik mata suaminya dengan bibir yang bergetar menahan tangisnya.


"Kamu sehat Mas....," Ucap Dara lirih sebelum berhambur memeluk suaminya, memecahkan tangisannya di pelukan laki-laki yang sangat di cintainya.


Erfan menganggukkan kepalanya pelan, semakin mengeratkan pelukannya, "Aku bisa memberikanmu anak Ra..." ucap Erfan lirih tak memperdulikan Nathan dan Clara yang sedang memperhatikanya.


"Apa kalian lupa kalau masih ada dua manusia jomblo disini?" ucap Nathan membuyarkan adegan mesra pasangan suami istri yang ada di depannya.


Dara segera menyeka air matanya, menarik tubuhnya dari pelukan suaminya sebelum menegakkan kembali duduknya menghadap Nathan dan Clara.


"Bagaimana bisa Cindy melakukan itu kepada kita Mas? aku sama sekali nggak menyangka kalau Cindy Setega itu sama kita." Ucap Dara kembali menyeka air matanya.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya Nathan kepada Erfan.


"Aku akan memberikan imbalan yang setimpal untuk setiap perbuatan yang sudah dia lakukan." Jawab Erfan sebelum mengalihkan pandangan ke arah istrinya.


"Dia akan membayar dengan mahal untuk setiap tetes air mata yang di keluarkan istriku!" Ucap Erfan lagi membelai lembut pipi istrinya.


"Baguslah...aku menantikannya." Jawab Nathan menyunggingkan senyum sinisnya sebelum menyendok nasi dan lauk yang ada di depannya.


Sedangkan Dara hanya tersenyum, menyentuh tangan Erfan yang masih ada di atas pipinya.


"Ayo makan dulu Mas," ucap Dara mengalihkan pandangannya dari Erfan, menyendok nasi dan lauk untuk suaminya, sebelum menyendok kembali untuk dirinya sendiri.


"Kenapa hanya aku disini yang nggak mengerti permasalahnya?" ucap Clara tiba-tiba di sela-sela kunyahannya.


"Kamu masih kecil Dek, makan saja yang banyak ya..." Jawab Nathan tertawa menepuk lembut puncak kepala adiknya.


"Cih," Dengus Clara memanyunkan bibirnya, membuat semua orang tertawa.


***


Keesokan harinya.

__ADS_1


Jam dinding yang ada di loby sudah menunjuk ke angka sembilan, semua karyawan sudah terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing.


Berbeda dengan Cindy yang baru memasuki loby Pratama Group, mengedarkan pandangannya ke segala arah sambil bertegur sapa dengan semua karyawan yang di jumpainya.


Hatinya terasa senang penuh bunga saat sahabatnya sekaligus bos besarnya Rania telah memberikan sebagian bonus untuk pekerjaannya yang di nilai memuaskan.


"Hanya tinggal menunggu waktu aku menuntaskan pekerjaanku, aku harus bisa memastikan perpisahan Dara dan Pak Erfan, agar aku bisa menikmati sisa bonus yang Rania janjikan," Gumam Cindy mengembangkan senyumnya masuk ke dalam lift.


Tring lift terbuka di lantai ruangannya berada, Cindy kembali melangkahkan kakinya keluar dari lift sebelum berjalan menyusuri lorong kantornya untuk menuju meja kerjanya.


Langkahnya terhenti saat beradu pandang dengan Erfan yang tengah berdiri menyilangkan kedua tangannya di atas dada sambil bersandar di meja kerjanya.


"Dari mana saja kamu? kenapa jam segini baru datang?" tanya Erfan dengan tatapan tajamnya, seolah bersiap untuk memangsa wanita yang sangat di bencinya.


"Maaf Pak saya terlambat..., saya ada keperluan keluarga yang mendesak," jawab Cindy menundukkan kepalanya, tak berani menatap balik atasannya yang terlihat gusar.


"Br*ngsek aku kira dia masih cuti." Umpat Cindy dalam hati.


"Masuk," Ucap Erfan dingin, menyuruh wanita yang sudah membuat darahnya mendidih agar masuk ke dalam ruangannya.


Cindy mengangkat kepalanya, merasakan aura negatif dari mimik wajah atasannya, hingga membuatnya merinding.


Dengan perasaan ragunya, Cindy melangkahkan kakinya, mengikuti Erfan yang sudah berjalan di depannya.


Cindy terpaku di balik pintu ruangan Erfan yang terbuka, perasannya semakin tidak enak saat melihat Dara dan Nathan yang sudah ada di dalam ruangan dengan wajah yang tak bersahabat.


"Kenapa mereka menatapku seperti itu? Rasanya aku sedang di sidang!" Batin Cindy memandang semua orang yang sedang menatapnya.


Dengan sisa keberaniannya Cindy melangkah kan kakinya lagi, mendekati Erfan yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Apa ada masalah Pak?" tanya Cindy menatap Erfan sebelum mengalihkan pandangannya ke Dara yang sedang berdiri di samping suaminya.


Sedangkan Nathan hanya mengembangkan senyum sinisnya, duduk manis di atas sofa, menantikan adegan istimewa yang kan terjadi di depannya.


Dara melangkahkan kakinya mendekati Cindy, menatap tajam wanita yang begitu tega menciptakan skenario agar suaminya terluka.


"Apa aku ada salah sama kamu Cin?" tanya Dara kepada Cindy.


"Apa maksud kamu Ra?" tanya Cindy bingung.


"Kenapa kamu memalsukan hasil tes suamiku?" tanya Dara berusaha menahan emosinya, membuat Cindy terkejut balik menatapnya.


"Hasil tes apa? aku nggak ngerti maksud kamu." jawab Cindy pura-pura.


Plakkkk tamparan keras dari luapan Emosi Dara melayang di pipi kanan Cindy, membuat wanita licik itu memejamkan mata efek dari rasa terkejutnya.


Bersambung.


__________________

__ADS_1


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up


__ADS_2