
Setelah mandi, Erfan dan Dara keluar kamar, menuruni anak tangga sambil bergandengan tangan.
"Sakit ya?" tanya Erfan saat melihat Dara sedikit meringis menahan sakit.
Dara menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Aku gendong ya?" tanya Erfan berhenti melangkah.
"Nggak usah Mas, malu dilihat papa sama yang lainnya."
"Mas.." Pekik Dara pelan setelah Erfan membopongnya kembali tanpa aba-aba.
"Hanya sampai bawah tangga Ra," ucap Erfan pelan.
Dara gelagapan, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan Bawah, takut ada orang yang melihat
"Tenang aja Ra, nggak ada yang lihat." Bisik Erfan pelan ditelinga Dara.
Dara tersenyum kikuk sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Erfan.
Seorang wanita cantik berambut pendek berjalan keluar dari dalam dapur membawa secangkir kopi diatas nampan, dan tiba-tiba menghentikan langkahnya saat menoleh ke arah tangga.
Sorot mata kesal terlihat jelas dimata sipitnya, meremas kuat nampan yang dibawanya berusaha mengontrol rasa marah saat melihat kemesraan Erfan dan Dara.
"Sudah Mas turunin aku," ucap Dara saat sampai di anak tangga yang terakhir.
"Iya iya Ra, sabar.." Ucap Erfan menurunkan Dara.
Erfan menggandeng Dara dan berjalan menuju meja makan.
"Selamat pagi Pa." Sapa Erfan kepada Pak Subrata yang sedang fokus dengan korannya.
"Selamat pagi Fan, Ra" jawab Pak Subrata melipat koran dan meletakkannya diatas meja.
Erfan menarik salah satu kursi sebelum mempersilahkan istrinya duduk. "Duduk sini Ra."
"Terimakasih Mas." Ucap Dara sambil duduk. "Maaf ya Pa kalau kami lama turunnya."
"Nggak papa Ra, Papa Faham" Ucap Pak Subrata sambil menyeruput kopi.
"Faham apa Pa?" tanya Erfan setelah duduk disamping Dara.
"Faham aktifitas suami istri setelah bertengkar," ucap Pak Subrata terkekeh.
Dara menundukkan kepalanya menahan malu, Sedangkan Erfan tertawa senang, seakan membenarkan ucapan papanya.
"Selamat pagi Fan." Sapa Seorang wanita menghampiri Erfan.
Dara dan Erfan menoleh bersama ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Rania?" ucap Erfan terkejut.
"Apa kabar Fan?" Ucap Rania menatap Erfan, "aku buatin kopi kesukaan kamu, satu sendok kopi dengan 1/4 sendok gula." Ucapnya lagi meletakkan kopi yang dibawanya didepan Erfan.
"Siapa Rania? kenapa dia tahu kopi kesukaan Mas Erfan?" tanya Dara dalam hati.
"Ngapain kamu kesini" Tanya Erfan datar setelah Rania duduk disebelahnya.
"Aku dengar dari Om Subrata kalau kamu pulang, aku fikir.... " Ucap Rania terpotong melirik Dara.
Dara diam berusaha mengacuhkan lirikan Rania. "Mas Erfan mau makan apa?" tanya Dara berusaha mengontrol persaannya, saat melihat wanita lain memperhatikan suaminya. "Mungkin saudaranya". Batin Dara berusaha berfikir positif.
"Aku mau roti sama selai nanas aja Ra,"
Dara berdiri mengambil dua potong roti, "Papa juga mau Roti pakai selai lagi Pa?"
"Nggak Ra, ini masih ada."
Dara mengangguk pelan sebelum mengarahkan tangannya ke depan untuk mengambil botol selai. Belum sempat dia menyentuhnya, Rania sudah mengambilnya lebih dulu dan mengoleskan selai ke atas roti yang dibawanya.
Dara kembali duduk, diam menunggu hingga Rania selesai dengan selainya.
"Ini Fan." Ucap Rania meletakkan roti dengan selai nanas didepan Erfan.
Erfan menoleh Rania sekilas, melihat roti yang ada diatas piring, sebelum mengambil botol selai nanas yang ada disamping Rania.
Dara menghela nafas berusaha mengatur emosinya.
"Ini Mas." Ucapnya memberikan roti yang sudah dia olesi dengan selai.
"Terimakasih," ucap Erfan tersenyum menerima roti pemberian Dara.
Rania melihat Erfan dan Dara dengan perasaan kesal. "Diminum Fan kopinya," ucap Rania berusaha tersenyum.
"Aku lagi nggak ingin minum kopi." Ucap Erfan datar tetap memakan roti.
Pak Subrata meminum teh hangatnya sambil melirik ke arah Rania. "Apa kamu nggak telat kerjanya Ran?" Tanya Pak Subrata menatap Rania.
Rania melihat jam tangannya, "Masih ada waktu Om." Jawabnya sambil mengunyah makanannya.
"Aku berangkat kerja nebeng kamu ya Fan?"
Dara menoleh ke arah Suaminya yang sedang makan, berharap-harap cemas dengan jawaban Erfan. "Bagaimana kalau mas Erfan bilang iya?" ucapnya dalam hati.
Erfan hanya diam, mengambil segelas air putih yang ada disebelahnya, meminumnya sampai habis, dan meletakkannya kembali diatas meja.
"Kamu tadi kesini naik apa?" tanya Erfan menatap Rania.
"Taksi."
__ADS_1
"Kamu kerja juga naik itu." Ucap Erfan dingin melukai perasaan Rania.
"Apa kamu takut dengan istrimu Fan?" tanya Rania sedikit menaikkan nada bicaranya .
"Ran, jaga sikapmu." Sentak Pak Subrata.
"Maaf Om."
"Kamu harus menghargai Dara sebagai istri Erfan, jangan berbuat semau kamu." Ucap Pak Subrata merasa nggak nyaman dengan tingkah Rania.
Rania diam, berusaha mengatur perasaan kesalnya.
"Jika kamu tanya apa aku takut sama istriku? jawabanku iya Ran," ucap Erfan setelah mengusap sudut bibirnya dengan tisu. Membuat Dara dan Rania menoleh ke arahnya.
"Aku takut kehilangannya." Ucap Erfan tersenyum menatap Dara sebelum menggenggam lembut tangan kiri istrinya. "Aku yakin kamu wanita cerdas, dan kamu pasti tau itu artinya apa," ucap Erfan menatap Rania.
Rania berusaha menegarkan hatinya, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Erfan. Berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Seperti ucapan Papa, jaga sikapmu didepan istriku, dari dulu sampai sekarang aku nggak pernah menyukaimu, jadi jangan bersikap seolah-olah kamu dekat denganku.
"Fan, kamu terlalu kasar." Ucap Pak Subrata menghentikan Erfan, sedangkan Dara hanya diam memperhatikan, berusaha mencerna setiap kalimat suaminya. "Siapa sebenarnya Rania?" tanya Dara dalam hati semakin penasaran.
"Aku tahu Pa, aku hanya ingin dia sadar diri, agar berhenti melakukan sesuatu yang sia sia." Ucap Erfan menatap papanya.
Hati Rania semakin hancur mendengar setiap kalimat dari Erfan. Air mata yang dari tadi dia tahan kini sudah mengalir membasahi pipi putihnya.
"Yang aku tahu kamu menikah karena perjodohan. Sama seperti kita dulu yang pernah dijodohkan, mana mungkin kamu bisa mencintai dia secepat itu? sama seperti kamu dulu yang sangat susah untuk bisa mencintai aku."
Kalimat Rania sungguh membuat Dara terkejut, "Jadi Mas Erfan juga pernah dijodohkan sama dia?" batin Dara.
Erfan menghela nafas pelan. "Terserah kamu mau berfikir seperti apa. Aku nggak ingin menjelaskan apapun, aku hanya ingin kamu lebih bisa menjaga sikapmu." Ucap Erfan menatap tajam Rania.
"Rania permisi pulang dulu Om." Ucap Rania berdiri sambil menyeka air matanya.
Pak Subrata menganggukkan kepalanya pelan menatap Rania.
Rania melangkahkan kakinya hendak meninggalkan meja makan. "Ran." Panggil Pak Subrata menghentikan langkah Rania.
Pak Subrata berdiri dari duduknya, dan berjalan mendekati Rania. "Kamu harus melupakan Erfan." Ucap Pak Subrata menyentuh pundak Rania.
Rania menatap Pak Subrata lekat-lekat "Harusnya aku yang jadi menantu disini Om." Ucap Rania memecahkan tangisannya.
"Kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang 10x lipat lebih baik dari Erfan." Ucap Pak Subrata membelai lembut kepala Rania.
_____________________________
AUTHOR JUGA BUTUH DUKUNGAN BIAR UP NYA TAMBAH SEMANGAT.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN FAVORIT YA ......
__ADS_1