
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Erfan menatap tajam Dara.
Dara menggelengkan kepala pelan, "Bukan itu maksudku Mas, sama seperti Mas Erfan yang sudah melupakan Sarah, aku juga sudah melakukannya Mas, aku sudah bisa melupakan Dewa dan beralih mencintai kamu." Ucap Dara menatap dalam manik mata suaminya.
"Apa perasaanku saja masih belum cukup Mas? apa Mas Erfan masih perlu membenci Dewa?" ucap Dara menitikan air mata.
"Apa kamu sekarang menangisinya Ra?"
Dara mengalihkan pandangannya kedepan, menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, berusaha menghentikan air mata yang tiba-tiba keluar. "Kenapa kamu menangis sih Ra!" Ucap Dara dalam hati
"Jawab Ra, apa kamu menangisinya?" ucap Erfan menarik dagu Dara agar menghadap ke arahnya.
Dara menggelengkan kepala pelan. "Aku nggak tau Mas, ada rasa sakit disini saat melihat Mas Erfan memukulnya." Ucap Dara sambil memukul pelan dadanya, membuat air matanya semakin mengalir.
Erfan terdiam menatap Dara, lidahnya terasa kelu, hingga tak mampu untuk mengeluarkan suara.
"Sampai kapan masalah rumah tangga kita selalu berpusat pada Dewa Mas? aku hanya ingin Mas Erfan bisa lebih mengontrol emosi saat bertemu dia, jangan menyakitinya lagi Mas." Ucap Dara berusaha mengatur perasaannya.
"Apa sebenarnya kesalahan Dewa Mas? bukankah selama ini kita yang salah? aku yang menghianatinya, Mas Erfan yang merebut cintanya, tapi kenapa malah Mas Erfan yang membencinya?" ucap Dara memelas menatap Erfan.
"Jadi kamu sekarang menyalahkanku Ra?" ucap Erfan kesal.
"Bukan seperti itu Mas, aku hanya ingin Mas Erfan lebih bersabar saat menghadapinya."
"Apa kamu ingin aku tetap diam saat dia berusaha untuk merebut kamu? saat dia bilang istriku itu kekasihnya? menelan mentah-mentah semua perkataannya? apa itu yang kamu inginkan Ra?" ucap Erfan menatap tajam Dara."
"Yang kena pukul bukan hanya dia Ra, tapi juga aku." Ucap Erfan kesal menunjuk luka dibibirnya.
"Dan kamu malah menangisinya bukan menangisiku?" Ucap Erfan penuh kekecewaan.
"Bukan seperti itu maksudku Mas, aku hanya...." Ucap Dara terpotong.
"Aku ragu sama ucapan kamu yang bilang sudah melupakannya Ra, sikapmu sekarang cukup membuatku tahu siapa yang ada dihati kamu." Ucap Erfan lemah menatap lurus ke depan.
"Mas....bukan seperti itu..." Ucap Dara menatap Erfan.
"Kamu ingin pulang atau turun untuk menemuinya? mungkin kamu ingin tahu keadaannya?" Ucap Erfan menoleh ke arah Dara.
"Pulang Mas." Ucap Dara lirih.
Erfan menyalakan mesin mobil sebelum menjalankan mobilnya keluar dari area parkir.
"Kenapa jadi seperti ini sih? harusnya aku tadi diam, kenapa kamu banyak omong sekali Dara?" Omel Dara dalam hati sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi mobil.
***
__ADS_1
Diballroom hotel
"Kamu minum dulu deh Wa, tenangin diri kamu," ucap Saga sambil menyodorkan air minum ke depan Dewa.
Dewa mengambil minuman yang diberikan Saga, meminumnya hingga habis tak tersisa.
"Apa kamu Dewa mantannya Dara?" Tanya Clara menatap Dewa.
"Apa kamu mengenalku?" Jawab Dewa membalas tatapan Clara.
Clara menggelengkan kepala, "Aku hanya pernah mendengar namamu dalam perdebatan Dara dan suaminya."
"Apa yang mereka perdebatkan? apa Erfan memperdebatkan Dara yang masih mencintaiku?" tanya Dewa antusias.
Apa kamu tahu betapa sakitnya aku saat berusaha menjaga perasaan kamu dan terpaksa menyakiti perasaan Dewa Mas? apa kamu tahu bagaimana sakitnya merelakan orang yang aku cintai Mas? aku menahan semua kesakitan itu untuk kamu Mas, untuk menjaga hubungan kita, rumah tangga kita." (Bab 32.Takdir)
Ucapan Dara masih teringat jelas dikepala Clara.
Dara menggelengkan kepalanya pelan, "Kamu salah." Ucap Clara berbohong.
"Apa maksud kamu?" tanya Dewa mengernyitkan dahinya.
"Aku rasa mereka sudah saling mencintai. Apa bagimu sudah nggak ada stok wanita lagi didunia ini? sampai segitunya kamu mengganggu rumah tangga wanita yang bukan jodohmu?"
"Cla, jangan ikut campur." bisik Nathan ditelinga Clara."
"Apa yang kamu ketahui tentang hubungan kami Nona? bahkan kita saja baru bertemu hari ini. Aku jadi penasaran sejauh apa Dara menceritakan masalah kami kepadamu." Ucap Dewa sinis menatap Clara.
"Aku memang nggak begitu tahu tentang hubungan kalian Tuan, sejauh apapun hubungan kalian dulu, status kalian sekarang tetap mantan karena Dara sekarang sudah menjadi istri orang." Ucap Clara balik menatap Dewa.
"Apa kamu ingin mencari masalah denganku?" Ucap Dewa kesal.
"Aku nggak ingin mencari masalah dengan siapapun, aku hanya ingin melihat Dara dan suaminya bahagia, bukankah kamu mencintainya? setahuku orang yang tulus mencintai ingin orang yang dicintai merasa bahagia. Bukankah seperti itu Tuan?"
Dewa mencebikkan bibirnya, "Tadinya aku berfikir sudah tidak ada stok lagi wanita didunia ini, tapi aku salah, ternyata masih ada satu stok lagi. Apakah kamu mau menjadi jodohku Nona? biar aku nggak mengganggu lagi wanita yang bukan jodohku!" Goda Dewa mengejek Clara.
"Anda terlalu luar biasa dalam mencari jodoh Tuan." Ucap Clara sebelum meminum minumannya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Sudah Wa, apa kamu akan melanjutkan pertengkaranmu dengan wanita?" Ucap Sarah melerai.
"Kamu juga Cla, diam jangan diteruskan lagi." Ucap Nathan kepada Clara.
Setelah MC mengucapkan kalimat penutup, Clara dan Nathan segera pergi meninggalkan ballroom, Saga dan Sarah masih sibuk berbincang dengan salah satu tamu dipinggir panggung. Sedangkan Dewa tetap duduk ditempatnya enggan beranjak sambil menunggu sahabatnya Saga.
"Apa aku bisa duduk disini?" Ucap seorang wanita menghampiri Dewa.
__ADS_1
"Silahkan." Ucap Dewa Datar.
"Rania." Ucap Rania mengulurkan tangan setelah duduk dikursi samping Dewa.
"Dewa." Jawab Dewa menjabat tangan Rania.
"Aku lihat gelasmu sudah kosong, jadi aku berinisiatif membawakanmu minuman." Ucap Rania memberikan satu gelas dari dua gelas minuman soda yang dibawanya, dan meletakkannya didepan meja Dewa.
"Terima kasih." Ucap Dewa menoleh sekilas untuk menatap Rania, sebelum meminum minumannya.
"Aku tadi melihat pertengkaranmu dengan Erfan." Ucap Rania datar tanpa menatap Dewa.
"Apa kamu ada masalah dengan itu?" ucap Dewa menatap Rania. "kenapa banyak sekali wanita yang ikut campur dengan masalahku." Omel Dewa dalam hati.
Rania menggelengkan kepala pelan sebelum meminum minumannya. "Justru aku senang karena bukan hanya aku yang bermasalah sama mereka." Ucap Rania tersenyum.
"Apa maksud kamu?"
"Aku tadi mendengar sedikit pembicaraan kalian, apa kamu mencintai Dara?" tanya Rania menatap Dewa.
"Aku rasa itu bukan urusanmu." Ucap Dewa Datar menggoyang-goyangkan gelas yang ada ditangannya.
"Aku mencintai Erfan, mungkin kita bisa bekerja sama untuk memisahkan mereka."
"Bagaimana caranya?" ucap Dewa menatap Rania.
***
Dirumah Pak Subrata
Erfan turun dari mobil, melangkahkan kakinya cepat masuk ke dalam rumah.
"Kok sudah pulang Fan?" tanya Pak Subrata yang baru keluar dari ruang keluarga.
"Erfan capek Pa, ingin cepat pulang biar bisa istirahat." Jawab Erfan berbohong.
"Kamu kenapa Ra? kok lesu gitu?" tanya Pak Subrata saat melihat Dara masuk ke dalam rumah.
"Erfan istirahat ke kamar dulu Pa." Ucap Erfan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga setelah menoleh ke arah Dara.
Pak Subrata hanya menatap punggung anaknya dengan rasa penasaran. "Apa kalian bertengkar Ra?" tanya Pak Subrata menatap Dara.
Dara menggelengkan kepala menatap mertuanya, "Kami baik-baik saja Pa." Ucap Dara berusaha tersenyum.
______________________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up