
Hari H acara syukuran rumah baru Erfan dan Dara.
Jam dinding ruang tamu di rumah baru mereka sudah menunjuk ke angka sembilan, sinar mentari pagi mulai menyeruak masuk menyinari halaman rumah mereka yang terlihat sangat asri.
Pak Subrata sudah datang sejak pagi buta dengan membawa Bi Minah untuk bantu-bantu kesibukan menantu dan anaknya dalam menyiapkan acara syukurannya.
Kedua orang tua Dara beserta adiknya Dira pun juga sudah datang hampir berbarengan dengan kedatangan Pak Subrata.
Terdengar suara lantunan ayat suci Alquran yang sedang dibacakan oleh wanita paruh baya yang sedang duduk di ruang tamu yang sudah dialasi karpet merah bermotif bunga, ditemani Dara, Bu Selfi dan adiknya Dira sambil menunggu datangnya para tamu.
Sedangkan Erfan, Pak Subrata dan Pak Herman memilih untuk menyambut kedatangan tamu di teras rumah, duduk bersama diantara banyaknya kursi yang sudah disiapkan sambil mengobrol ringan menikmati camilan yang sudah tertata diatas meja.
"Assalamualaikum." ucap Clara dan Nathan kompak saat memasuki pagar rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Erfan, Pak Subrata dan Pak Herman kompak sebelum berdiri dari duduk mereka untuk menyambut kedatangan Nathan dan Clara.
Nathan dan Clara mencium tangan Pak Subrata sebelum menjabat tangan Erfan dan Pak Herman.
"Selamat ya Fan, aku senang akhirnya kamu bisa membeli rumah." Ucap Nathan menggoda sahabatnya.
"Ngejek kamu? mau aku beli sekalian rumah kamu?" jawab Erfan menciptakan tawa Pak Subrata dan yang lainnya.
"Apa kabar kamu Than? Cla?" tanya Pak Subrata di sela-sela tawanya menatap Clara dan Nathan bergantian.
"Baik Om, Alhamdulillah. Nggak tahu kalau Kak Nathan, mungkin buruk." jawab Clara sedikit melirik kakaknya.
"Kamu sakit Than? tanya Pak Subrata menatap Nathan.
"Iya Om sakit hati karena jomblo terus," jawab Nathan tertawa memancing kembali tawa yang lainnya.
"Kamu itu Than dari dulu nggak pernah berubah, tetap aja sablengnya nggak ilang-ilang." Ucap Pak Subrata lagi menahan tawanya.
"Kenalin Than, Cla, Ini mertuaku Pak Herman." Ucap Erfan memperkenalkan mertuanya diikuti anggukan sopan Nathan dan Clara menatap Pak Herman.
"Dara mana Kak?" tanya Clara menatap Erfan.
"Dara di dalam masuk aja," jawab Erfan.
"Saya tinggal masuk dulu ya Om? pamit Clara menatap Pak Subrata dan Pak Herman bergantian sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Kamu nggak ikut masuk Than?" tanya Erfan kepada Nathan.
"Aku disini aja deh, siapa tahu ada cewek cantik lewat di depan pagar." ucap Nathan sebelum duduk dikursi diikuti Erfan dan yang lainnya.
__ADS_1
Sementara itu diruang tamu Dara beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan Clara.
"Selamat ya Ra?" ucap Clara menjabat tangan Dara sebelum memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri perempuan yang pernah ditaksir kakaknya.
"Terima kasih Cla, ayo silakan duduk." Ucap Dara mempersilakan Clara untuk duduk di karpet, berkumpul dengan yang lainnya.
Lima belas menit telah berlalu, semua tamu undangan banyak yang sudah datang. Ruang tamu yang tadinya sepi kini terlihat ramai dipenuhi teman, saudara dan tetangga dari Erfan dan Dara.
"Assalamualaikum," ucap Mama Eri menghampiri Erfan Pak Herman dan yang lainnya yang masih duduk di teras rumah.
"Waalaikumsalam," jawab kompak semua orang yang mendengar salam dari Mama Eri.
Erfan memberikan seulas senyumnya sebelum berdiri dan menyambut kedatangan Mama Eri, menjabat tangan wanita yang sangat dekat dengan istrinya.
"Om Gani nggak ikut Tante?" tanya Erfan melihat Mama Eri yang sedang bersalaman dengan semua orang yang ada disekitarnya.
"Papanya Dewa lagi ada acara di kantornya jadi nggak bisa ikut. Tante ke sini juga diantar sama Dewa karena supir Tante sedang libur." jawab Mama Eri menatap Erfan.
"Tante masuk dulu ya Fan? "ucap Mama Eri sebelum mengangguk kan kepala dengan senyum menatap semua orang yang ada disekitar Erfan.
"Iya Tante silahkan masuk ada Dara di dalam." ucap Erfan mempersilahkan Mama Eri, melihat kepergian Mama Eri sebelum mengalihkan pandangannya ke arah pagar.
Pandangan mata Erfan tertuju pada sebuah mobil sedan hitam yang masih berhenti di depan pagar rumahnya, "Sebentar ya Pa, Yah!" ucap Erfan Masih berdiri sebelum melangkahkan kakinya keluar menuju pagar rumah.
Tampak seorang laki-laki yang dia kenal, laki-laki yang pernah menghuni ruang hati istrinya tengah duduk di kursi kemudi dengan tatapan datar ke arahnya.
"Kamu nggak masuk?" ucap Erfan dengan tatapan datarnya.
"Apa kamu ingin pamer rumah barumu?" ucap Dewa sambil mematikan mesin mobilnya yang masih menyala.
Erfan mengangkat kedua alisnya dengan kedua tangan yang bersedekap didepan dada "Apa kamu nggak ingin melihat kondisi didalam rumah ku? mungkin kamu juga ingin membeli rumah disini? disamping rumah kami." sindir Erfan.
"Cih." Dengus Dewa mencebikan bibirnya sebelum menutup kaca mobilnya, setelah itu membuka pintu mobilnya dan berjalan keluar mendekati Erfan.
Erfan kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan diikuti Dewa yang berjalan dibelakangnya.
Dewa terdiam sesaat saat manik matanya beradu pandang dengan Pak Herman, Ayah Dara yang dulu sangat baik kepadanya tapi tidak merestui percintaannya. "Apakah kabar Wa?" tanya Pak Herman tetap duduk ditempatnya, menatap Dewa yang sedang menunduk mencium tangannya.
"Baik Om, Alhamdulillah," jawab Dewa sopan sebelum menjabat tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Ayo silahkan duduk," ucap Pak Subrata menunjuk kursi kosong yang ada di sebelah Nathan.
Dengan seulas senyumnya Dewa menganggukkan kepala sebelum duduk disebelah Nathan, mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman rumah yang terlihat sangat Asri dengan arsitektur yang sangat sesuai dengan kesukaannya.
__ADS_1
"Bukankah dia...," ucap Dewa dalam hati saat melihat kearah wanita dengan dress biru laut selutut yang tengah berjalan masuk pagar beriringan dengan laki-laki paruh baya.
"Assalamualaikum" ucap Pak setya setelah memasuki pagar rumah, melemparkan senyum tulusnya ke semua orang yang sudah menoleh ke arahnya.
"Waalaikumsalam," jawab Pak Subrata dan yang lainnya kompak.
"Akhirnya kamu datang juga Ya, ayo sini duduk disini," ucap Pak subrata berdiri dan mempersilakan sahabatnya untuk duduk.
"Hai Fan," sapa Rania melambaikan tangannya menatap Erfan.
"Kamu nggak ingin menyambut kedatanganku Fan?" ucap Rania manja sebelum duduk di kursi dekat Erfan, membuat semua orang menatap risih kepadanya, terutama Pak Herman yang tidak tahu siapa Rania ikut merasa aneh dengan sikap Rania yang cenderung genit ke menantunya.
"Ran! masuk sana!" kata pak Setya kepada Rania, membuat Rania memanyunkan bibirnya menatap papanya yang sangat tidak mengerti perasaannya.
"Apa kamu?" sentak sewot Rania mendelik kan matanya menatap Nathan yang sedang menertawakannya.
"Bukankah kamu.....," kalimat Rania terpotong menunjuk Dewa.
"Sudah sana masuk." ucap setya lagi.
"Ihh" Dengus Rania kesal, menyentakkan kakinya ke lantai sebelum berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Dara yang sedang duduk manis sambil mendengarkan lantunan ayat suci Alquran terkejut dengan senggolan Clara yang duduk disampingnya.
"Lihat tuh Ra," ucap Clara pelan saat Dara menoleh menatapnya.
Dara menghela nafas sejenak saat menoleh ke arah pandangan Clara. "Ngapain dia datang kesini?" ucap Dara dalam hati.
Dengan hatinya yang terasa berat Dara memaksakan dirinya untuk berdiri dan menghampiri Rania yang sedang berdiri di depan pintu utama sambil mengedarkan pandangannya melihat suasana rumah barunya.
"Silahkan masuk Ran," ucap Dara setelah berdiri di depan Rania.
"Bagus juga rumah kalian Ra!" ucap Rania tetap mengedarkan pandangannya.
Harusnya rumah ini jadi rumahku sama Erfan," ucap Rania lagi mengalihkan pandangannya untuk menatap sinis Dara.
"Apa perlu kita adu jotos di sini Ran?" ucap Dara pelan tidak kalah sinisnya menatap perempuan ulat bulu yang selalu ingin mengganggu suaminya.
Rania tersenyum sinis menanggapi kalimat Dara, "Apa begini cara kamu menyambut tamu Ra? mengajaknya adu jotos di tengah-tengah banyaknya tamu kamu yang lain?"
"Ya Allah....beri kesabaran berlebih untukku." Batin Dara saat beradu tatap dengan Rania, berusaha menahan rasa kesal yang sudah bersarang di hatinya.
________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up..