
Flashback di rumah Mama Eri
Pukul satu siang mobil Dewa baru memasuki pintu pagar rumah orang tuanya. Setelah memarkir mobilnya dengan baik, Dewa segera turun, masuk kedalam rumah dengan benak yang dipenuhi rasa penasaran karena Mamanya tiba-tiba menelepon dan menyuruhnya datang secepat mungkin.
"Assalamualaikum," ucap Dewa mengetuk pintu utama.
"Waalaikum salam, jawab Bi Leha, ART Mama Eri buru-buru keluar untuk membuka pintu.
"Mama mana Bi?" tanya Dewa setelah pintu terbuka.
"Ibu sedang istirahat dikamar sama Bapak Mas,"
Dewa menganggukkan kepala sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Mama Eri.
Tok tok tok, Dewa mengetuk pintu Kamar.
Cklek pintu kamar terbuka, terlihat seorang laki-laki berkaca mata membukakan pintu.
"Kamu sudah datang Wa?" Ucap Pak Ghani ayah Dewa.
"Mama mana Pa?" tanya Dewa.
"Mamamu didalam," ucap Pak Gani lagi untuk mempersilahkan Dewa Masuk.
Dewa segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, mendekati mamanya yang sedang duduk bersandar diatas ranjang.
"Ada apa Ma? kenapa tiba-tiba memanggilku kesini?" tanya Dewa sambil duduk ditepi ranjang didepan Mama Eri.
"Bagaimana kabar hubunganmu sama Dara?" tanya Mama Eri menatap Dewa.
Dewa terdiam, sejenak memikirkan jawaban untuk pertanyaan mamanya.
"Kenapa kamu diam Wa?" tanya Mama Eri lagi.
"Kami baik-baik saja Ma," jawab Dewa berbohong.
"Kenapa Dara nggak pernah kesini lagi?" tanya Mama Eri sedikit kesal dengan kebohongan Dewa.
"Ya.... karena..." Dewa bingung harus menjawab apa.
"Karena Dara sudah menikah?" Potong Mama Eri.
"Darimana mana Mama tahu?" tanya Dewa terkejut menatap Mama Eri.
"Sampai kapan kamu akan membohongi Mama Wa?"
"Aku nggak ada maksud untuk membohongi Mama," ucap Dewa mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Apapun maksud kamu, nyatanya kamu sudah berbohong sama Mama." Ucap Mama Eri mulai kesal.
"Apa kamu masih mencintainya?" timpal Pak Ghani yang sedang duduk dikursi meja rias Mama Eri.
Dewa mengarahkan pandangannya ke arah Pak Gani, menatapnya lekat tanpa menjawab pertanyaan Papanya.
"Sepertinya Papa tahu alasan Dewa menyembunyikannya dari kita Ma," ucap Pak Ghani menatap Mama Eri.
"Dia masih mengharapkan Dara." Ucap Pak Ghani lagi menatap Dewa.
"Apa itu benar Wa?" tanya Mama Eri memastikan.
Dewa hanya menganggukkan kepalanya pelan sebelum mengarahkan kembali pandangannya lurus ke depan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu mengharapkan istri orang Wa?"
"Dia kekasihku Ma," ucap Dewa menatap Mama Eri.
"Dia istri orang Wa! dia sudah menikah, kamu sudah dewasa sekarang, harusnya kamu bisa memahami apa itu pernikahan." Sentak Mama Eri menatap Dewa.
"Dosa itu Wa....dosa...." Ucap mama Eri lirih tak kuasa menahan aliran air matanya .
"Aku hanya ingin mengambil kekasihku yang sudah direbut Erfan Ma, apa aku salah?"
"Salah." Ucap mama Eri tegas menatap Dewa.
"Apa Mama membesarkanmu hanya untuk menjadi perebut istri orang?"
"Aku mencintainya Ma," Ucap Dewa semakin memelas.
"Kamu hanya mengatasnamakan cinta untuk membela obsesimu Wa!" ucap Pak Ghani.
"Bagaimana bisa Papa bilang kalau aku hanya terobsesi? Apa Papa tahu bagaimana rasanya dikhianati Pa? Ma?" ucap Dewa menatap orang tuanya bergantian.
Sakit Ma, rasanya sakit sekali." ucap Dewa memelas menatap Mama Eri.
"Bagaimana bisa dia menikah saat hubungan kami baik baik saja Ma? saat aku sangat mencintainya, dan karena rasa cinta itu juga aku bisa memaafkannya, dia berjanji akan bercerai setelah satu tahun menikah, tapi apa sekarang? yang terjadi malah mereka saling mencintai, Dara melupakan aku dan kesakitanku, melupakan semua janji yang pernah keluar dari mulutnya." Ucap Dewa sedih.
Dewa menceritakan semua permasalahannya dengan Dara, bagaimana cara Dara menghianatinya, termasuk janji-janji Dara tentang perjanjian pernikahan yang ternyata hanya sebuah kebohongan.
Mama Eri yang mendengarkan cerita Dewa semakin tak kuasa menahan air mata, hatinya terasa sakit, seakan ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan anaknya.
"Aku harus bagaimana Ma?" tanya Dewa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu harus bahagia Wa, walaupun tanpa dia." Ucap Mama Eri menyentuh lembut tangan Dewa.
"Relakan Dara," ucap Mama Eri lagi membelai lembut pipi anaknya.
"Waktu yang akan menyembuhkan perasaan kamu Wa, Papa tahu itu berat, tapi Dara bukan jodoh kamu, kamu harus bisa menerima itu," Timpal Pak Ghani.
"Apa Mama bisa merelakanya Ma? bukankah Mama juga sangat mengharapkan Dara untuk menjadi menantu dikeluarga ini?" ucap Dewa menatap Mama Eri.
Mama Eri menggelengkan kepalanya pelan, "Mama hanya mengharapkan kebahagiaanmu Wa," ucap Mama Eri menatap lekat manik mata anaknya.
Flashback selesai.
***
Setelah memantapkan hati untuk belajar dan berusaha merelakan wanita yang dicintainya hidup bahagia, Dewa segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung tinggi tempat Dara bekerja dibawah pimpinan suaminya.
"Saya ada janji ketemu sama Erfan Pratama." Ucap Dewa saat berada didepan meja resipsionis.
"Dengan Bapak Dewa?" tanya Sinta sopan.
"Iya," Jawab Dewa.
"Silahkan Pak, saya antar keruangan Pak Erfan." Ucap Sinta sebelum melangkahkan kakinya mengantar Dewa ke ruangan Erfan.
"Bukankah dia laki-laki yang dulu aku kira pacarnya Dara?" Batin Sinta mengingat kembali saat Dewa berteriak tentang perjuangan cinta ke Dara.
"Ah, bukan urusanku." Batin Sinta lagi tetap melangkahkan kakinya.
"Ra, tamu Pak Erfan sudah datang." Ucap Sinta saat sampai didepan meja Dara.
Dara yang sedang sibuk membuat laporan dilayar komputernya segera mengalihkan pandangannya menatap Sinta. "Terimakasih Shin." Ucap Dara berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Shinta menganggukkan kepalanya, sebelum melangkahkan kakinya untuk kembali ke loby.
"Apa kabar Wa?" tanya Dara masih berdiri menatap Dewa.
"Apa kita bisa masuk sekarang?" ucap Dewa berusaha mengontrol persaannya.
Dara menganggukkan kepalanya, "Ayo masuk Wa," ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Erfan.
"Mas, Dewa sudah datang," ucap Dara saat berada didepan meja Erfan.
Erfan mengalihkan pandangannya menatap Dewa yang berdiri disamping Dara. "Suruh dia duduk Ra," ucap Erfan datar kembali menatap layar laptopnya.
"Apa begitu caramu memperlakukan tamu?" sindir Dewa, sebelum melangkahkan kakinya untuk duduk diatas sofa.
Dara menghela nafas menatap suaminya sebelum mengikuti langkah Dewa menuju sofa.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sama aku Wa?" tanya Dara setelah duduk disofa disebelah Erfan.
"Apa kamu bisa menggeser sedikit badanmu Ra? dudukmu terlalu dekat." Protes Erfan saat melihat duduk Dewa dan Dara hanya berjarak satu meter setengah.
Dara menghela nafas kembali sebelum pindah ke sofa bundar yang jaraknya lebih jauh dari tempat duduk Dewa.
"Secemburu itukah kamu sama aku Fan?" ejek Dewa menatap Erfan yang masih duduk dikursi kebesarannya.
"Apa kamu datang kesini hanya untuk mencari gara-gara denganku Wa?" ucap Erfan sinis.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku Wa? tanya Dara lagi untuk menghentikan pertengkaran antara Dewa dan suaminya.
Dewa menatap lekat manik mata Dara, berusaha lebih memantapkan hatinya untuk belajar merelakan wanita yang sudah lima tahun dicintainya.
"Turunkan matamu, jangan menatap istriku seperti itu." Protes Erfan lagi merasa tidak suka dengan tatapan Dewa.
"Apa kamu bisa diam walaupun cuma sebentar?" ucap Dewa kesal menatap Erfan.
"Mass...." ucap Dara menggelengkan kepala pelan menoleh ke arah Erfan.
Erfan hanya menghela nafas menatap Dara sebelum menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Oke lanjutkan." Ucap Erfan datar.
"Apa kamu bahagia Ra hidup sama dia?" tanya Dewa memulai percakapan.
Dara menganggukkan kepalanya pelan, "Aku bahagia Wa."
Dewa menutup matanya sesaat, "Apa aku masih punya kesempatan untuk memperjuangkanmu Ra?"
Dara menggelengkan kepalanya pelan, "Jangan berjuang untuk wanita sepertiku Wa, Aku nggak pantas menerima perjuanganmu," ucap Dara dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa kamu mencintainya Ra?" tanya Dewa lagi menahan rasa sakit yang menjalar dihatinya.
Dara kembali menganggukkan kepala, "Iya." ucap Dara lirih.
Dewa menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti, "Aku mencintaimu Ra, aku akan merelakanmu untuk bahagia, aku akan belajar melupakanmu." ucap Dewa dengan mata yang sedikit berair menatap Dara.
"Apa kita masih bisa berteman Wa?" Ucap Dara menatap Dewa.
"Nggak bisa," ucap Erfan memotong pembicaraan Dara.
"Jangan menumbuhkan perasaan kalian lagi hanya karena alasan pertemanan." ucap Erfan tegas.
"Pertanyaanmu sudah dijawab sama dia Ra, hatiku masih belum kuat untuk menerima pertemanaman darimu." Ucap Dewa menatap Dara.
___________________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.