Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 22. Perkelahian Erfan Dan Dewa


__ADS_3

Dara dan Erfan berjalan ke arah pintu keluar ballroom, mereka melewati banyak tamu dan saung-saung makanan.


"Dara," terdengar suara laki-laki sudah berdiri didepan Dara.


"Dewa," ucap Dara terkejut, dan rekflek melepaskan genggaman tangannya ditangan Erfan.


"Aku mau bicara sama kamu," ucap Dewa melirik sekilas tangan Dara.


Dara menoleh ke arah Erfan, belum sempat Erfan berucap, tangan Dara sudah ditarik Dewa keluar dari ballroom. Mereka berjalan menjauhi keramaian, diikuti Erfan dibelakangnya dengan tatapan tajam penuh ketidak sukaan.


"Apa dia suami kamu?" tanya Dewa setelah berada dikoridor hotel yang sepi dari tamu.


Dara menganggukkan kepala, "Dia Mas Erfan."


"Kenapa kamu menggandeng tangannya?"


Dara diam menunduk tanpa menjawab membuat Dewa semakin kesal.


"Tatap aku Ra, lihat mataku," sentak Dewa membuat Dara menegakkan kepalanya menatap Dewa, air mata terlihat berkumpul dipelupuk mata cantiknya membuatnya berkaca-kaca.


"Apa kamu mulai menyukainya Ra?" tanya Dewa semakin kesal.


Lagi lagi Dara diam membisu, bibirnya mengatup rapat, hanya air mata yang terus mengalir tanpa bisa dia tahan. Dia juga nggak tau, yang dia tahu hanya dia merasa sakit jika melihat suaminya itu terluka.


"Aaaaaahhh," teriak Dewa frustasi.


"Apa kamu menyukainya Ra? please jawab aku," tanya Dewa memelas sambil menyentuh kedua bahu Dara.


"Dia ingin aku mengakhiri hubungan kita Wa,"


ucap Dara menangis.


"Apa?" tanya Dewa terkejut.


"Dia ingin mempertahankan pernikahan ini Wa, aku harus bagaimana sekarang Wa?" ucap Dara masih menangis.


"Br* ngs**k," ucap Dewa pelan mengeratkan giginya.


"Kalau aku tidak mengakhiri hubungan kita dia akan bilang ke ayah ibuku Wa, aku takut," tangis Dara semakin pecah hingga membuat tubuhnya bergetar.


Dewa merengkuh kedua bahu Dara dibawanya dalam pelukannya, diusapnya lembut kepala Dara, "Jangan menangis, semua akan baik-baik saja," ucap Dewa dengan mata yang memerah menahan emosi.


Disisi lain ada Erfan yang melihat dan mendengar semuanya, tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras mengeratkan gigi giginya menatap Dara dan Dewa dengan sorot mata yang mematikan.


Sebuah tangan kuat tiba-tiba menarik kasar lengan Dara hingga membuatnya terlepas dari pelukan Dewa.


BUG sebuah tinju tiba-tiba mendarat dipipi Dewa hingga membuat Dewa tersungkur ke lantai.


"Mas Erfan," pekik Dara terkejut.


Dewa menyentuh pinggir bibirnya yang berdarah, mengeratkan giginya menahan amarah.


"Br* ngs*k," BUG Dewa meninju balik Erfan hingga membuat tubuh Erfan terhuyung menabrak dinding, ditekannya krah baju Erfan dengan kuat untuk mengunci ruang gerak Erfan.


"Apakah kamu si laki-laki plin plan itu?, aku minta kamu segera menceraikan Dara, karena dia kekasihku," ucap Dewa marah.

__ADS_1


"Wa hentikan Wa," teriak Dara menangis.


JDUK Erfan menendang perut Dewa hingga membuat Dewa terhuyung ke belakang, BUG Meninju Dewa lagi sampai jatuh tersungkur ke lantai.


"Masssss," teriak Dara berusaha menahan lengan Erfan.


"Jangan sebut istriku kekasihmu, dia istriku, camkan itu, selamanya akan menjadi istriku."


Erfan mengibaskan tangan yang ditahan Dara, kemudian menarik kerah baju Dewa hingga membuat Dewa berdiri dan bersiap melayangkan tinjunya lagi.


"Masssss stop Masss aku mohon jangan pukul Dewa lagi, aku akan mengakhiri hubunganku dengannya sekarang," teriak Dara untuk menghentikan Erfan.


Erfan melepaskan cengkraman tangannya pada tubuh Dewa.


"Ra," ucap Dewa menatap Dara dengan suara yang tercekat.


"Maafkan aku Wa," ucap Dara menangis menatap Dewa.


"Kamu dengar kan? kalian sudah berakhir," ucap Erfan dengan senyum kemenangannya kemudian merapikan kerah baju Dewa dan menepuk dua kali pundak Dewa sebagai bentuk ejekan.


Erfan menarik lengan Dara membawanya keluar dari hotel, sedangkan Dewa bersandar lemas didinding sambil menatap kepergian Dara, berusaha mencerna ucapan kekasihnya.


Bib tangan kiri Erfan menekan remote mobil hingga terdengar bunyi sirine dan membuat lampu mobil berkedip dua kali, sedangkan tangan kanannya tetap setia menggengam erat lengan Dara.


Dara mengibaskan kasar tangannya untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Erfan, sebelum menyentuh lengan tangannya yang kemerahan.


"Puas kamu Mas? puas?" ucap Dara menangis histeris.


"Sudah puas kamu mempermainkan perasaanku Mas? Mas Erfan sendiri yang bilang aku boleh tetap menjalin hubungan dengan Dewa walaupun kita menikah, Mas Erfan sendiri yang bilang nggak akan ikut campur dalam hubunganku dengan Dewa, tapi kenapa kamu mengingkari semuanya Mas? kenapa?" sentak Dara histeris.


Dara mengibaskan tangannya tidak mau di sentuh Erfan, "Apa karena kamu sudah kehilangan Sarah Mas? jadi kamu juga nggak mau kehilangan aku? jahat sekali kamu Mas," ucap Dara sendu.


"Ayo masuk mobil dulu, kita bicarakan ini dirumah."


"Aku mau sendiri Mas, hatiku semakin sakit saat melihat wajah Mas Erfan," ucap Dara pergi meninggalkan Erfan.


"Ra," panggil Erfan.


Dara terus berjalan tak memperdulikan Erfan yang memanggilnya.


Erfan hanya bisa menatap punggung Dara hingga menghilang dari pandangan matanya.


***


Dara berjalan pelan diatas trotoar, semakin jauh meninggalkan hotel bintang lima tempatnya mengakhiri hubungannya dengan Dewa, menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan disela-sela langkahnya menyusuri jalan, sesekali mengusap air mata yang terus menerus jatuh.


lima belas menit sudah Dara berjalan diatas trotoar, air mata sudah mengering, hanya menyisakan mata yang memerah.


Hawa dinginnya malam seakan menusuk tulang, hingga membuat tangannya bersendekap diatas dada sambil mengusap- usap lengannya pelan berusaha untuk menetralisir hawa yang dingin.


"Dara," suara laki-laki memanggil dari dalam kemudi mobil.


Dara menoleh ke sumber suara, "Pak Nathan!"


"Ngapain kamu disitu? ayo masuk," ucap Nathan setengah berteriak.

__ADS_1


Dara diam, wajahnya terlihat ragu.


"Ayo cepat masuk, diluar dingin."


Dara menganggukkan kepala dan membuka pintu depan mobil, kemudian duduk disebelah Nathan.


"Kamu kok bisa ada disana Ra? Erfannya mana?" Tanya Nathan setelah menjalankan mobilnya.


"Pak Erfannya sudah pulang duluan Pak."


"Ha? kamu ditinggalin begitu aja sama dia?"


"Nggak Pak, nggak seperti itu, saya yang minta Pak Erfan pulang duluan, karena saya ada keperluan," ucap Dara menjelaskan.


Nathan mengangguk mengerti, "Kamu sekarang mau kemana?"


"Pulang aja Pak."


"Rumah kamu dimana?"


Dara diam dan berfikir sebelum memberitahu alamat lengkap orang tuanya, Dara tidak ingin membuat Nathan curiga jika dia memberikan alamat apartemen Erfan sebagai tujuan.


"Oke, saya akan mengantarmu dengan selamat," jawab Nathan tersenyum sambil menatap Dara.


"Terimakasih Pak," ucap Dara tersenyum tipis.


"Kita kan nggak lagi di kantor Ra, jadi jangan panggil aku Pak," ucap Erfan sambil menyetir.


"Saya harus panggil apa ya Pak?"


"Panggil Nathan aja."


"Tapi nggak sopan Pak, Bapak kan lebih tua dari saya."


"Saya terlihat tua ya? tanya Nathan melihat kaca spion yang ada di depannya, sambil menyentuh pipi kanan dan kirinya bergantian.


Dara terkekeh, Bukan itu maksud saya Pak."


"Nah itu, tertawa seperti itu cantik, jangan sedih seperti tadi," ucap Nathan menghentikan tawa Dara.


"Kelihatan ya Pak?"


Nathan mengangguk pelan "sangat kelihatan," Ucap Nathan tersenyum.


"Jangan menangis sendirian dijalanan, kalau butuh bahu untuk di pinjam, saya bersedia meminjamkan bahu saya," ucap Nathan menepuk nepuk bahu kirinya, "tapi sewa Lo ya," ucapnya menggoda.


"Hahahahaha, saya yakin nggak mampu bayar sewanya Pak," ucap Dara tertawa.


mereka mengobrol di dalam mobil, Dara banyak tertawa mendengar candaan dari Nathan, membuatnya sejenak bisa melupakan permasalahannya.


______________________________________________


Kalau suka dengan karya saya, mohon dukung dengan cara like,komentar dan favorit ya.....


Terimakasih.....

__ADS_1


__ADS_2