Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 16. Putus


__ADS_3

"Maafkan aku Fan, aku nggak bisa menolak keinginan orang tuaku, ayahku nggak merestui hubungan kita."


"Apa kurangnya aku Dimata ayah kamu Sar? kenapa susah sekali memberikan kita restu? "


Kamu sempurna Fan, bahkan aku sendiri nggak menemukan kekurangan kamu, hanya saja ayahku sudah berniat menjodohkanku dengan anak sahabatnya sejak aku kecil."


"Apa kamu akan menyerah begitu saja Sar? aku akan mencoba bicara sama Ayah kamu."


Sarah menggeleng, "Keputusan ayahku sudah bulat Fan, aku nggak mau membuat kamu semakin kecewa."


"Kenyataannya sekarang aku sudah sangat kecewa Sarah, beri aku kesempatan untuk bicara sama Ayahmu." Ucap Erfan memohon sambil meenggenggam kedua tangan Sarah.


"Sudah nggak ada lagi yang bisa kita lakukan Fan, tanggal pernikahanku sudah ditentukan." Ucap Sarah menggenggam balik tangan Erfan.


Perlahan Erfan melepaskan genggaman tangannya, "Bagaimana dengan hubungan kita sekarang? apa kamu sama sekali nggak memikirkan perasaanku Sar?" ucap Erfan menatap sendu Sarah.


"Aku minta maaf Fan, aku benar-benar minta maaf," ucap Sarah menangis sedikit menundukan kepalanya.


Erfan berdiri dari duduknya, melangkah keluar meninggalkan Sarah dengan rasa sakit yang begitu dalam. Erfan berjalan cepat tanpa memperdulikan sekitar, berjalan terus dan masuk kedalam mobil, kemudian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Jalanan yang lenggang waktu malam hari membuat kecepatan mobilnya semakin tinggi, nafasnya memburu menahan emosi hingga Erfan menepikan mobilnya dan berhenti tepat di atas jembatan sungai.


"Aaaaaaaaahhhhhhhh," teriak Erfan memukul mukul stir mobil melampiaskan kemarahan yang bersarang di dadanya, kemudian membenamkan kepalanya diatas stir dengan kedua tangan melingkar memeluk stir.


Air mata menetes dari pelupuk matanya, dibiarkannya terjatuh tanpa ada keinginan untuk menyekanya.


Setelah sepuluh menit berlalu, Erfan melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemennya.


***


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Dara masih belum bisa memejamkan matanya karena sibuk berkirim pesan WA dengan kekasihnya Dewa.


Brakkkk terdengar suara orang menutup pintu dengan keras.


"Mungkin Mas Erfan sudah pulang," gumam Dara pelan sambil merapikan kunciran rambutnya sebelum turun dari ranjang.


Dara keluar dari kamar, mengedarkan pandangan ke setiap ruangan sebelum melangkahkan kaki menuju kamar Erfan.

__ADS_1


Tok tok tok, "Mas...," suara Dara mengetuk pintu kamar Erfan.


Tidak ada suara dari dalam kamar membuat Dara membuka pintu perlahan dan memasukan kepalanya sedikit ke dalam "Massss."


Kosong, Dara nggak melihat Erfan didalam kamar, Dara berjalan masuk dan mendengar suara shower menyala di dalam kamar mandi.


"Masih mandi," gumam Dara pelan.


Dara pergi meninggalkan kamar Erfan kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan suaminya segelas teh jahe.


Setelah teh jahe selesai dibuat, Dara membawanya di atas nampan dan bergegas menuju kamar Erfan.


Tok tok tok** Dara mengetuk pintu, masih tidak ada suara dari dalam kamar, Dara membuka pintu kamar, berjalan masuk kemudian meletakkan segelas teh jahe diatas nakas.


"Kenapa Mas Erfan lama sekali mandinya?" gumam Dara khawatir saat melihat jam dinding.


Dara memutuskan untuk menunggu Erfan dan duduk lagi di tepi ranjang, entah kenapa perasannya terasa tidak enak.


Sudah sepuluh menit berlalu tapi Erfan belum juga keluar, membuat Dara semakin gelisah.


Tok tok tok tok tok, "Mas.. , Mas Erfan .." Dara mengetuk pintu kamar mandi.


Tok tok tok tok, "Masss buka Masss..." Dara mengetuk pintu semakin keras.


Diputarnya gagang pintu dengan kuat, ternyata tidak terkunci.


"Maassssss," pekik Dara setelah membuka pintu kamar mandi, kedua telapak tangannya saling menumpuk menutupi mulutnya yang menganga kaget.


Dilihatnya Erfan duduk bersandar ditembok memejamkan mata dengan kaki ditekuk dan kedua tangan melingkar diatas lutut dibawah guyuran shower.


Dara segera berlari mematikan shower dan bergegas mengambil handuk yang ada di gantungan kamar mandi.


"Kamu gila ya Mas?" sentak Dara panik sambil berusaha mengeringkan rambut Erfan.


Erfan membuka mata pelan, mengatupkan mulutnya rapat seolah enggan untuk membuka suara.


"Sebentar Mas, aku ambilkan baju ganti dulu," ucap Dara sambil berdiri, belum sempat kakinya melangkah genggaman tangan Erfan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Apa kamu bisa memelukku? sebentar saja." Ucap Erfan memelas, sorot mata yang biasanya tajam dan dingin kini tak terlihat, yang ada hanya mata kemerahan entah karena menangis atau karena guyuran air. Sorot matanya seakan mengatakan bahwa dia sedang terluka.


Dara berdiri diatas lutut mensejajarkan tingginya dengan tinggi Erfan saat ini, direngkuhnya kepala Erfan dibawanya dalam pelukan, entah kenapa hati Dara terasa sakit melihat kondisi suaminya seperti ini.


"Jangan seperti ini lagi Mas, ini benar-benar membuatku takut," ucap Dara membelai lembut kepala Erfan.


Erfan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dara, membenamkan wajahnya dalam dada Dara, berusaha mengontrol perasan sesak yang bersarang di dadanya dan membuatnya menangis tanpa suara kecuali beberapa suara senggukan.


Setelah beberapa menit mendekap lembut Erfan, Dara segera melepaskan pelukan dan mencakup lembut kedua pipi suaminya, "Mas Erfan ganti baju dulu ya, biar nggak sakit," ucap Dara lembut sambil mengusap sisa air mata dipipi suaminya.


Erfan menganggukkan kepala membiarkan Dara keluar kamar mandi untuk mengambil baju ganti.


"Ini Mas, ganti baju dulu, aku tunggu di kamar ya?" ucap Dara sambil memberikan kaos warna biru, celana pendek beserta dalamannya.


Dara segera keluar dari kamar mandi, kemudian mencari jaket didalam almari Erfan.


"Sudah selesai Mas?" tanya Dara menghampiri Erfan saat melihat suaminya keluar dari kamar mandi, lalu memakaikan jaket tebal warna abu abu. "Biar nggak kedinginan," ucap Dara tersenyum sambil menaikkan resleting jaket.


Dara menggandeng tangan Erfan dan membantunnya duduk di tepi ranjang,


"Minum dulu Mas," ucap Dara sambil memberikan teh jahe hangat yang dibuatnya tadi.


Erfan menerima dan meminum teh jahe dan menyisakan setengah sebelum diberikan lagi kepada Dara, kemudian membaringkan tubuhnya diatas kasur.


"Mas Erfan istirahat ya," ucap Dara menyelimuti tubuh Erfan.


"Apa kamu nggak penasaran Ra?" tanya Erfan menghentikan aktifitas Dara.


Dara menoleh menatap Erfan sebelum duduk ditepi ranjang disamping Erfan. "Aku penasaran Mas, aku ingin tahu kenapa kamu bisa seperti ini, tapi aku juga takut itu akan membuat Mas Erfan nggak nyaman."


"Apa aku boleh membaginya denganmu Ra?"


"Tentu saja Mas, kalau kamu tidak keberatan," ucap Dara tersenyum menatap lembut Erfan.


Erfan duduk dari tidurnya, menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang, kemudian menghela nafas pelan sebelum berkata.


"Sarah akan menikah Minggu depan Ra, dan hari ini aku sudah di campakkan sama dia." Ucap Erfan lirih, membuat perasaannya kembali sesak, kemudian mengatupkan bibirnya untuk menahan bulir air mata agar tidak sampai jatuh."

__ADS_1


_____________________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2