Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 96. Penyesalan


__ADS_3

Dara duduk termenung di depan teras rumahnya, membiarkan hembusan angin mengeringkan sisa air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya.


Mengarahkan pandangannya lurus kedepan, memikirkan masalah yang menimpa rumah tangganya, berusaha menghilangkan rasa sakit yang sudah menjalar di hatinya.


Sedangkan Erfan masih duduk bersandar di atas ranjangnya, dengan tatapan kosongnya memikirkan kembali setiap kalimat yang baru saja dia ucapkannya.


Apa aku benar-benar bisa melepaskan istriku? Apa aku bisa melihatnya pergi dengan laki-laki lain? semua pertanyaan itu seakan terus berputar di kepalanya, membuatnya semakin tertekan.


"Aahhhhh" Teriak Erfan frustasi mencengkeram rambut dengan kedua tangannya.


"Aahhh," rintih Erfan menyentuh perutnya yang terluka, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya yang bergetar di atas nakas.


Erfan mengulurkan tangannya, berusaha meraih ponselnya.


"Halo," jawab Erfan menerima panggilan dari Nathan.


"Bagaimana kondisi kamu? nanti malam aku sama Clara akan menjengukmu ke rumah." Suara Nathan dari dalam ponsel.


"Buruk," jawab Erfan datar.


"Kenapa? apa lukanya memburuk?"


"Sewaktu kamu mengambil hasil tes kemarin? apa ada pesan dari Dokter Nisa untukku?" tanya Erfan tak menjawab pertanyaan Nathan.


"Cindy sih bilangnya nggak ada pesan untuk kalian."


"Sebentar.... sebentar....kamu bilang siapa? Cindy?" tanya Erfan memastikan.


"Iya Cindy, aku meminta Cindy untuk mengambil hasil tes kalian."


"B*doh sekali kamu, kenapa kamu meminta dia yang mengambilnya?" sentak Erfan membuat Nathan terkejut.


"Aku lupa kalau aku ada meeting penting jam sepuluh, kenapa? ada masalah apa sih kamu? kok sampai marah begitu?" tanya Nathan bingung.


"Cindy itu wanita licik, harusnya kamu mengabari aku kalau kamu nggak bisa datang ke rumah sakit!" omel Erfan semakin kesal.


"Mana aku tahu kalau dia wanita licik, Kamu itu yang b*doh! sudah tahu wanita licik kenapa kamu pekerjakan dia di Perusahaan?"


"Dara yang memintanya, kalau bukan karena Dara aku pasti sudah membuangnya dari dulu." Jawab Erfan kesal.


"Apa ada masalah sama hasil tesnya?" tanya Nathan.


"Spermaku bermasalah, apa kamu tahu betapa tertekannya aku sekarang?"


"Kok bisa?" tanya Nathan terkejut.


"Apa kamu sudah melakukan tes ulang? mungkin saja ada kesalahan." tanya Nathan lagi.


"Aku terlalu takut Than, aku takut semakin meyakinkan diriku sendiri kalau aku ini lemah." Jawab Erfan lirih.


"Apa menurutmu aku harus merelakan Dara untuk Dewa ya Than? mungkin istriku bisa bahagia, karena Dewa sehat, tidak sepertiku yang nggak bisa memberikannya keturunan." Ucap Erfan lagi.

__ADS_1


"Gila kamu ya? kenapa nggak kamu relakan saja Dara untukku? aku juga sehat." jawab Nathan tersentak mendengar kalimat sahabatnya.


"Br*ngsek kamu ya? apa kamu ingin merebut istriku?" ucap Erfan kembali kesal.


"Astaga....kenapa b*doh sekali sih kamu Fan....kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu ingin merelakan Dara? daripada kamu memberikan Dara kepada Dewa, mending kamu berikan kepadaku, kamu nggak perlu mempermalukan dirimu sendiri.".


Erfan terdiam mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir sahabatnya.


"Apa kamu nggak ingat bagaimana kamu memperjuangkan Dara dulu? adu jotos di pesta hanya karena dia bilang kalau Dara kekasihnya! dan sekarang kamu mau merelakan Dara kepadanya? hanya karena kelemahanmu ini? Ya Tuhan.......aku nggak menyangka kamu seb*doh ini Fan..." Tambah Nathan lagi panjang lebar.


Erfan masih diam, semakin menyesali perbuatannya. "Aku terlalu frustasi Than, rasanya hampir gila saat mendengar mertuaku sendiri bilang menyesal telah menikahkan anaknya denganku! aku di banding-bandingkan sama Dewa, harga diriku terluka, semakin membuatku merasa lemah seolah-olah aku laki-laki yang tak berguna di mata mertuaku.


"Hampir saja aku ingin menelepon Dewa karena kegilaanku, bahkan aku sudah bilang ke istriku kalau Dewa akan menjemputnya." Ucap Erfan dengan perasaan menyesalnya.


"Masih hampir kan? belum kamu telepon kan si Dewa?" tanya Nathan memastikan.


"Belum,"


"Syukurlah, setidaknya kamu nggak mempermalukan dirimu sendiri di depan laki-laki itu."


"Tapi Dara marah sama aku."


"Ya jelas lah, kamu kira Dara itu bola, kamu oper kesana kemari! kalau kamu sudah nggak menginginkannya kamu bisa kok memberikannya ke aku."


"Br*ngsek kamu ya..." umpat Erfan membuat Nathan tertawa.


"Kirim saja Foto hasil tes kamu, aku akan mengeceknya di rumah sakit." ucap Nathan lagi.


Erfan berusaha turun dari ranjang menyentuh perutnya yang masih terasa nyeri untuk menggambil hasil tes yang masih ada di dalam tas isterinya.


Ckrek Erfan memfoto hasil tesnya sebelum mengirimkannya kepada Nathan.


***


Sementara itu di sebuah kafe, Cindy sedang menunggu Rania di meja paling belakang yang ada di sisi barat kafe, meminum jus yang baru saja di pesannya sambil memainkan ponsel di tangannya.


"Maaf Cin, jalanannya macet," ucap Rania baru datang sebelum duduk di kursi seberang Cindy.


"Apa nggak ada masalah kalau kamu keluar Jam segini?" tanya Rania.


"Pak Erfan sama Dara kan cuti, nggak ngantor, jadi aman." Jawab Cindy sebelum mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Ini hasil tesnya Pak Erfan yang asli," Ucap Cindy lagi memberikan amplop putih dengan kop amplop rumah sakit.


Rania mengambil alih amplop dari tangan Cindy. "Sebagai laki-laki kamu sangat sempurna Fan." ucap Rania dengan senyum mengembangnya membaca isi dari hasil tes laki-laki yang di cintainya.


"Kenapa kamu tidak memalsukan hasil tes Dara? kenapa malah hasil tes Erfan?" tanya Rania penasaran melipat kertas yang dipegangnya sebelum memasukkannya kembali ke dalam amplop.


"Aku lihat Pak Erfan sangat mencintai Dara, dia pasti tertekan saat mendapati dirinya bermasalah, karena istrinya sangat menginginkan anak, belum tentu juga Dara mau menerima kelemahan suaminya, sedangkan Pak Erfan, aku yakin pasti bisa menerima kekurangan istrinya."


Rania semakin mengembangkan senyumnya menatap Cindy, "Kamu memang sahabat terbaikku Cin, aku harap akan mendengar kabar baik mengenai perpisahan mereka." Ucap Rania senang.

__ADS_1


***


Jarum jam dinding kamar Dara sudah menunjuk ke angka tujuh, langit sudah terlihat gelap dengan hiasan sinar rembulannya.


Setelah menyelesaikan Sholat Isya' nya Dara kembali ke dapur, melanjutkan acara memasaknya yang sudah dia lakukannya dari pukul tiga sore.


Dara ingin melampiaskan rasa marah dan kecewanya di dapur, dengan memasak semua bahan makanan yang ada di dalam kulkas, dari ayam, udang, daging, ikan sudah habis dia masak semua.


Erfan keluar kamar, menuruni anak tangga mencari keberadaan istrinya yang belum masuk ke dalam kamar.


Pandangan Erfan jatuh ke arah meja makan, menatap berbagai macam menu makanan yang sangat banyak dan melimpah dan tertata rapi di atas meja makan, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah istrinya yang masih berkutat di dalam dapur.


"Sudah habis," ucap Dara lirih dengan tatapan sendunya melihat kulkas frezeernya yang terlihat kosong.


Dara menutupnya perlahan sebelum terkejut dengan keberadaan suaminya yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Maaf," ucap Erfan lirih di telinga istrinya, membuat Dara terpaku di tempatnya.


Dara hanya diam, tak menyauti permintaan maaf suaminya.


Erfan melepaskan pelukannya, memutar tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya.


"Aku salah Ra, aku minta maaf," Ucap Erfan lirih membuat air mata Dara kembali berlinang sebelum membuang mukanya ke samping, menghindari tatapan suaminya.


"Lebih baik kita makan sekarang." Ucap Dara datar melangkah mendekati meja makan.


"Ya Allah banyak sekali makanannya...." Batin Dara berhenti mekangkah, saat memandang semua makanan yang ada di atas meja makannya.


Erfan kembali memeluk istrinya dari belakang, membenamkan wajahnya di bahu istrinya,


membuat Dara memejamkan matanya.


"Aku salah Ra, aku nggak seharusnya melepaskan kamu, aku mencintai kamu, aku akan melakukan segala cara untuk sembuh, aku hanya ingin mencintai kamu dan hidup bersama kamu." Ucap Erfan semakin memperlancar aliran air mata istrinya.


"Mas Erfan sendiri yang membuatku berjanji, jangan pernah mengucap kata pisah saat menghadapi masalah apapun di dalam rumah tangga kita." Jawab Dara menyeka air matanya.


"Nyatanya kamu sendiri yang mengingkarinya Mas, Mas Erfan mempermainkan perasaanku, seakan aku ini barang yang bisa di berikan dan di ambil alih sama siapapun yang menginginkanku." Tambah Dara semakin memecahkan tangisannya.


"Aku minta maaf Sayang,..." Ucap Erfan lagi semakin mengeratkan pelukannya, memejamkan matanya sesaat untuk menahan rasa sakit yang ada di luka perutnya.


Dara kembali menyeka air matanya, melepaskan pelukan suaminya dengan lembut. "Duduk dulu Mas," ucap Dara membantu Erfan duduk di kursi meja makan.


"Apa kamu memaafkanku?" tanya Erfan setelah duduk di kursi menatap dalam istrinya.


Dara menganggukkan kepalanya pelan, "Aku hanya ingin hidup bahagia bersama kamu Mas, aku akan menemani perjuangan Mas Erfan untuk sembuh." Ucap Dara memeluk suaminya.


Bersambung.


___________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up

__ADS_1


__ADS_2