Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
Episode 79 Mata-Mata Suruhan Rania


__ADS_3

Flashback


Lowongan pekerjaan sebagai Sekretaris di Pratama Group tertera rapi di salah satu situs lowongan pekerjaan terpercaya dan resmi yang ada di negaranya. Hampir semua orang yang membutuhkan pekerjaan pasti bisa melihatnya termasuk Rania yang kini sedang iseng-iseng membuka situs itu sambil duduk di kursi kebesarannya sebagai GM di Perusahaan Papanya.


"Lowongan sekretaris?" gumam Rania pelan saat melihat layar ponselnya.


Rania segera keluar dari situs lowongan pekerjaan, menggeser-geser kembali layar ponselnya untuk mencari nama "calon mertua" yang ada di dalam kontak sebelum menekan gambar telepon warna biru untuk melakukan panggilan.


"Halo Om," ucap Rania saat panggilannya tersambung.


"Iya Ran? ada apa?" suara Pak Subrata dari dalam ponsel.


"Lagi sibuk nggak Om?"


"Lagi nonton berita artis di TV kenapa?"


"Aku lihat ada lowongan Sekretaris di Perusahaannya Om."


"Iya, Erfan kemarin cerita lagi butuh tambahan Sekretaris untuk membantu pekerjaan istrinya, kenapa memang?"


"Aku kebetulan punya teman yang lagi butuh pekerjaan Om, apa Om bisa bantuin dia? Anaknya masih muda , cantik dan cerdas Om, aku yakin dia bisa memenuhi kualifikasi Sekretaris yang dibutuhkan."


"Kenapa nggak kamu masukin di Perusahaan Papa kamu?"


"Disini lagi nggak ada lowongan Om,"


"Suruh dia naruh lamaran di Perusahaan saja, nanti Om akan bantu bicara ke Erfan."


"Jangan bilang ke Erfan Om, Om tahu kan gimana nggak sukanya Erfan sama aku? aku takut karena rasa nggak sukanya dia jadi berimbas ke temanku, Erfan jadi nggak menerima temanku kerja disana." Ucap Rania mencari alasan.


"Ya sudah nanti Om bantu bilang ke Pak Irwan."


"Terimakasih Om," ucap Rania dengan senyum mengembangnya sebelum memutus panggilan teleponnya.


Tut Rania menekan salah satu tombol telepon kantor yang berada di atas meja kerjanya.


"Iya Ran?" terdengar suara perempuan dari telepon Rania yang di loudspeaker.


"Kamu kesini ya Cin?" ucap Rania sebelum memutus panggilan teleponnya.


Cklek pintu ruangan Rania terbuka, menampakkan Cindy dari balik pintu sebelum berjalan masuk mendekati Rania.


"Ada apa Ran?" tanya Cindy setelah berdiri di depan Rania.


Cindy adalah teman sekaligus Sekretaris Rania yang sudah bekerja selama Rania menjabat sebagai GM di Perusahaan Papanya, Cindy sangat menghormati dan menyayangi Rania, karena bagi Cindy, Rania adalah Dewi penyelamatnya. Rania yang membantu biaya kuliahnya saat kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, dan Rania juga yang memberikan pekerjaan di saat dia butuh sekali biaya untuk membiayai hidupnya dan hidup adiknya yang masih SMA.


"Duduk Cin," ucap Rania menunjuk kursi kosong yang ada di seberangnya.


"Aku butuh bantuan kamu Cin." ucap Rania lagi menatap Cindy yang sudah duduk di depannya.


"Bilang saja Ran,"


"Apa kamu tahu Erfan Pratama mantan tunanganku dulu?"


Cindy menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Kamu juga pasti tahu kalau aku sangat mencintai dia kan?"


Cindy kembali menganggukkan kepalanya menatap Rania, "Aku tahu."


"Dia seorang CEO di Pratama Group, dan sekarang sedang mencari Sekretaris tambahan untuk membantu pekerjaan istrinya yang juga menjadi Sekretarisnya."


"Istri dari perjodohan orang tuanya yang kamu ceritakan dulu?"


Rania menganggukkan kepalanya. "Aku ingin kamu melamar jadi Sekretarisnya dia."

__ADS_1


Cindy tampak terkejut saat mendengar kalimat Rania, "Kamu memecatku?"


"Nggak Cin, kamu tetap Sekretarisku, anggap saja pekerjaan tambahan untuk memata matai aktifitas Erfan dan Istrinya, untuk mencari celah agar bisa memisahkan mereka. Apa kamu mau Cin?"


Cindy tampak berfikir, terdiam sesaat sebelum menjawab Rania, "Oke, kamu tahu sendiri aku nggak akan mungkin bisa menolak setiap permintaan kamu."


Rania mengembangkan senyumnya menatap Cindy, "Aku minta kamu bantu aku untuk mendapatkan Erfan Cin," ucap Rania lagi.


"Akan aku usahakan semaksimal mungkin Ran, akku ingin melihat kamu bahagia." Jawab Cindy dengan seulas senyum di bibirnya..


Flasback selesai


***


"Aku balik dulu ya Ran? Dara sama laki-laki pujaan kamu sudah ada di kantor." ucap Cindy mengambil ponselnya yang berada di atas meja untuk dimasukkan ke dalam tas jinjingnya yang ada di kursi kosong di sebelahnya,


Rania menganggukkan kepalanya, "Segera cari cara untuk memisahkan mereka Cin,"


"Seperti ucapan kamu tadi, aku harus mencari celah dulu Ran, jangan terburu-buru, bisa-bisa rencana kita ketahuan." jawab Cindy sebelum berdiri dari duduknya diikuti dengan Rania yang ikut berdiri.


"Terimakasih ya Cin, kamu memang teman terbaikku." ucap Rania sambil cium pipi kanan dan pipi kiri Cindy.


Cindy menganggukkan kepalanya, "Aku balik Ran," pamit Cindy sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kafe.


***


Di Perusahaan.


"Aku balik dulu Fan," ucap Aditya sebelum berdiri dari duduknya.


"Sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bareng, aku yang traktir." ucap Erfan ikut berdiri di ikuti dengan Nathan yang terlihat akan berdiri.


"Untuk tanda terimakasih kamu?" jawab Aditya.


"Cih, dengus Aditya mencebikkan bibirnya, "Oke lah, aku juga ingin tahu seberapa kayanya kamu." ucap Aditya sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan di ikuti dengan Nathan dan Erfan di belakangnya.


"Kami mau makan siang di luar Ra, ayo ikut." ucap Erfan setelah berdiri di samping meja Dara.


"Nggak jadi survei tanah Mas?" tanya Dara berdiri dari duduknya.


"Nggak jadi, Aditya sudah menjual tanah kemarin kepada kita,"


"Alhamdulillah..." ucap Dara mengembangkan senyumnya.


"Apa kamu nggak ingin berterima kasih ke aku Ra? karena kebaikan hatiku laki-laki dingin ini bisa menyelesaikan masalah Perusahaannya." ucap Aditya yang sedang berdiri di antara Erfan dan Nathan, menatap Dara setelah melirik sekilas ke arah Erfan.


"Kenapa kamu sangat haus sekali sih dengan ucapan terima kasih?" ucap Erfan membuat semua orang terkekeh.


"Terima kasih Kak, dari dulu aku sudah yakin kalau Kak Aditya memang orang baik," ucap Dara tersenyum menatap Aditya.


"Ayo pergi sekarang," ucap Nathan menghentikan obrolan orang orang yang ada di depannya.


Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum mengambil tasnya, kemudian melangkahkan kakinya untuk berjalan di sebelah Nathan mengikuti langkah Erfan dan Aditya yang sudah berjalan di depannya.


Mereka berempat berjalan bersama, masuk ke dalam lift khusus petinggi untuk turun ke lobi.


"Itu Cindy Mas," ucap Dara saat melihat Cindy berjalan memasuki pintu lobi.


"Dari mana kamu?" tanya Erfan datar setelah berdiri di depan Cindy, menatap karyawannya itu dengan tatapan dinginnya.


"Maaf Pak, saya tadi keluar sebentar karena ada urusan." jawab Cindy sedikit menundukkan kepalanya.


"Ayo ikut Cin, kami semua mau makan siang bersama," ucap Dara menatap Cindy.


Cindy menganggukkan kepalanya sebelum melangkahkan kakinya ke sebelah Dara,mengikuti langkah atasannya yang sudah berjalan melewati kembali pintu keluar yang baru saja dia lewati.

__ADS_1


***


Di Restoran.


Erfan membelokkan mobilnya ke dalam halaman salah satu restoran mewah yang ada di kotanya, Mereka berlima segera turun dari mobil.


"Sepertinya kamu benar-benar kaya Fan," ucap Aditya melihat Erfan yang sedang memberikan kunci mobilnya kepada petugas valet sebelum mengedarkan pandanganya melihat suasana mewah restoran yang Erfan pilih.


"Apa kamu baru pertama kali masuk ke restoran model begini Dit? kenapa pandangan kamu norak sekali," ejek Erfan melihat Aditya yang sedang berjalan disebelahnya diikuti dengan Nathan, Dara dan Cindy yang berjalan dibelakangnya.


Aditya mencebikkan bibirnya sebelum mengalihkan pandangannya menatap Erfan. "Jangan salah kamu, dari bayi aku sudah sering keluar masuk restoran model begini." Jawab Aditya membuat Nathan dan Dara menggelengkan kepala, karena selalu melihat perseteruan dua laki laki di depannya yang nggak pernah selesai.


Terlihat seorang pelayan wanita sedang berjalan menghampiri mereka berlima, menyambut kedatangan mereka sebelum mengantarkan mereka ke dalam ruangan private dengan enam kursi yang terlihat sangat antik dan mewah.


Dara duduk di kursi tengah antara Erfan dan Nathan, sedangkan Aditya duduk di seberangnya bersama Cindy.


Mereka  segera memesan makanan sesuai dengan buku menu yang ada di atas meja di masing masing kursi mereka kepada pelayan yang sedang berdiri di dekat mereka.


"Bagaimana kondisi El Kak?" tanya Dara setelah kepergian pelayan.


"Sudah membaik Ra, besok baru boleh pulang, terima kasih karena kedatangan kamu kemarin El jadi lebih kuat." jawab Aditya.


Dara tersenyum mendengar jawaban Aditya. "Hari minggu aku ingin ke rumah Kak Aditya Mas, aku ingin main sama El, boleh kan? tanya Dara menoleh ke arah Erfan.


"Boleh." jawab Erfan datar.


"Boleh ya Kak?" tanya Dara mengalihkan pandangannya menatap Aditya.


"Boleh lah Ra, aku malah senang kalau kamu main ke rumah."


"Bukan kamu, tapi kalian, karena aku juga akan ikut, aku nggak akan membiarkan istriku main sendiri kerumah kamu." Protes Erfan menatap Aditya.


"Astaga Ra...kenapa kamu bisa menikahi laki-laki seperti ini sih?" ucap Aditya meenggeleng gelengkan kepalanya pelan menatap Erfan, membuat Dara dan Nathan tertawa.


"Apa kamu tahu Kak? kamu bukan orang pertama yang mengatakan itu kepadaku." ucap Dara disela -sela tawanya membuat Erfan menoleh menatapnya.


"Oh iya? siapa?" tanya Aditya antusias.


"Aku nggak ingin menjawabnya Kak, takut kena masalah..." jawab Dara terkekeh.


"Mantannya." Ucap Erfan datar.


"Mantan yang nomornya kamu ingat di luar kepala itu????" ucap reflek Aditya menatap Dara, membuat wajah Dara memerah karena cemas dengan reaksi suaminya.


"Kamu masih ingat nomor dia?" tanya Erfan terkejut menatap istrinya.


Dara hanya diam tak berani menatap suaminya.


"Hahahahaha, sepertinya sakit Fan saat tahu kalau istri kamu lebih hafal nomor mantannya daripada nomor suaminya." Aditya tertawa puas saat mengejek Erfan, yang disambut dengan tatapan sinis laki laki yang di ejeknya.


"Permisi," terdengar suara pelayan menghentikan tawa Aditya.


Terlihat dua pelayan sedang berjalan memasuki ruang makan sambil mendorong meja dorong yang berisi makanan pesanan mereka.


"Terimakasih," ucap Dara pelan kepada pelayan yang sudah selesai melakukan tugasnya untuk menata makanan di atas meja.


"Ayo makan Cin," ucap Dara lagi menatap Cindy yang sedang sibuk dengan layar ponselnya.


"Iya Ra," jawab Cindy segera menutup pesan WAnya nya untuk Rania.


Bersambung.


______________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.

__ADS_1


__ADS_2