Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 55. Perasaan Lega


__ADS_3

Erfan melajukan mobilnya masuk melewati pintu gerbang perumahan XXY Residence, bukan untuk mengunjungi rumah barunya melainkan untuk mengunjungi rumah Mama Eri yang berada diperumahan yang sama dengannya.


"Dimana rumahnya Ra" tanya Erfan setelah memasuki pintu gerbang perumahan.


"lurus aja Mas, belok kanan dipersimpangan depan itu, terus lurus lagi," ucap Dara memberi pengarahan.


Erfan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Jauh ya dari rumah baru kita!"


"Iya ,lumayan jauh."


Mobil Erfan berhenti didepan rumah pagar minimalis dengan aksen bunga yang berwarna abu-abu.


"Ini rumahnya?" tanya Erfan memastikan.


"Dara menganggukkan kepala,"


"Ayo turun," ucap Erfan sambil melepaskan seat belt yang melingkar ditubuhnya.


"Kok diam?" tanya Erfan melihat Dara yang masih duduk tak bergeming.


"Aku takut Mas," ucap Dara lirih menatap Erfan.


"Nggak perlu takut, ada aku," ucap Erfan tersenyum sambil membantu melepaskan seat belt yang melingkar ditubuh istrinya.


"Ayo!" ucap Erfan sebelum turun dari mobil, mengambil buah tangan yang ada di kursi belakang sebelum melangkahkan kakinya menuju pintu pagar diikuti oleh Dara yang keluar dari pintu depan penumpang.


"Pagarnya nggak ditutup Mas," ucap Dara setelah berdiri didepan pintu pagar Mama Eri.


"Masuk aja Ra," ucap Erfan menggandeng tangan Dara untuk melangkahkan kaki mereka menuju pintu utama.


Tok tok tok, " Assalamualaikum," ucap Dara mengetuk pintu.


"Waalaikum salam," terdengar jawaban dari dalam rumah.


Jantung Dara semakin berdebar saat mengenali suara Wanita yang menjawab salamnya.


Cklek pintu utama terbuka, terlihat Mama Eri berdiri dibalik pintu.


"Ada urusan apa kalian kesini?" tanya Mama Eri dengan tatapan dinginnya.


Tubuh Dara semakin membeku, matanya mulai berair saat menatap manik mata Mama Eri, sangat dingin, seakan menyiratkan sebuah kebencian.


"Apa Mama sangat membenciku sekarang?" tanya Dara masih berdiri menatap Mama Eri.


Sedangkan Mama Eri hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan Dara.

__ADS_1


"Bisakah kami masuk Tante?" ucap Erfan sopan.


Tanpa mengeluarkan suara Mama Eri segera membalikkan badannya untuk melangkah masuk ke dalam rumah.


"Ayo Ra," ucap Erfan lirih menatap Dara yang masih terpaku disampingnya.


Erfan dan Dara segera memasuki ruang tamu untuk mengikuti langkah Mama Eri.


"Kami bawakan apel buat Tante, Dara bilang Tante sangat menyukainya." Ucap Erfan sambil meletakkan sekeranjang apel diatas meja.


Mama Eri tetap diam tanpa suara, menatap Dara dan Erfan secara bergantian. "Langsung saja, ada urusan apa kalian kesini?" tanya Mama Eri tanpa basa basi.


"Aku ingin meminta maaf sama Mama," ucap Dara menunduk setelah duduk disofa seberang Mama Eri.


"Untuk kesalahan apa kamu meminta maaf?" ucap Mama Eri lagi, membuat Dara menegakkan kepalanya,menatap balik wanita yang pernah menyanyanginya seperti anak kandungnya sendiri.


"Untuk kesalahanmu yang sudah mempermainkan anak Mama? atau kesalahanmu yang sudah menghianati anak Mama?"


Air mata Dara semakin mengalir saat mendengar ucapan Mama Eri, "Aku akui kalau aku salah Ma, aku terlalu menyakiti Dewa, tapi aku nggak bermaksud seperti itu Ma, keadaan yang memaksaku untuk menghianati cinta kami." Ucap Dara berusaha mengontrol perasaannya.


"Keadaan apa? perjodohan yang dilakukan orang tuamu hanya karena ingin membalas Budi ke keluarga suamimu?"


Dara menganggukkan kepala pelan diantara tangisannya.


“Kita bisa membatalkan sekarang, Ibu akan bicara sama Ayah. Untuk urusan dengan Om Subrata biar nanti Ibu sama Ayah yang menanggungnya.”


Dara kembali menundukkan kepalanya saat mengingat kembali ucapan ibunya sebelum acara lamaran dimulai. "Benar, aku yang salah Ma, aku nggak ada keberanian dan usaha untuk mempertahankan hubunganku dengan Dewa," ucap Dara lirih tetap menunduk.


"Aku bisa saja melawan keinginan orang tuaku Ma, memaksakan keinginanku untuk mempertahankan kebahagiaanku, tapi bagaimana dengan perasaan mereka? aku nggak punya keberanian untuk itu Ma! bagaimana bisa aku bahagia saat melihat orang tuaku kecewa." Ucap Dara menangis.


"Aku harap Tante Eri bisa mengerti posisi Dara, jangan terlalu menyudutkan Dara karena nggak semuanya salah istri saya, dia hanya berusaha untuk menjaga perasaan orang tuanya, keadaan benar-benar memaksanya untuk menyakiti perasaan Dewa dan perasaannya sendiri." Ucap Erfan mencoba untuk bersuara.


"Apa kamu kesini untuk memaksa Mama mengerti posisi kamu Ra? dan membenarkan semua tindakanmu yang menyakiti anak Mama seolah semuanya baik-baik saja?" ucap Mama Eri menatap Dara.


Dara menggelengkan kepala, "Bukan seperti itu Ma," ucap Dara semakin menangis.


"Bagaimana kamu bisa meminta pengertian seperti itu kepada Ibu dari orang yang kamu sakiti Ra? Apa menurutmu Mama bisa mengerti posisimu disaat mama melihat anak Mama menangis karenamu?" Ucap Mama ikut menangis saat mengingat anaknya.


"Aku sama sekali nggak meminta Mama Eri untuk mengerti posisiku Ma," ucap Dara sebelum berdiri dan mengubah posisi duduknya disamping Mama Eri.


"Aku hanya ingin meminta Maaf karena sudah mengecewakan Mama," Ucap Dara menggengam tangan Mama Eri.


"Jangan menganggap semuanya baik-baik saja Ma, marahi aku, maki aku Ma, aku lebih baik menerima semua itu dari Mama, tapi jangan diamkan aku, jangan menatapku seolah-olah Mama membenciku." Ucap Dara semakin menangis seraya menundukkan kepalanya dipangkuan Mama Eri, diatas tangan Mama Eri yang masih dia genggam.


Mama Eri terdiam melihat tangis Dara yang semakin pecah.

__ADS_1


"Lihat Mama, Ra," ucap Mama Eri membuat Dara mengangkat kepalanya menatap Mama Eri.


"Apa kamu bahagia sekarang?" tanya Mama Eri menatap dalam manik mata Dara.


"Maaf Ma...."


"Mama nggak ingin permintaan maafmu Ra, Mama hanya ingin tahu apakah kamu bahagia?" tanya Mama Eri lagi menatap Dara.


Dara menganggukkan kepalanya pelan semakin merasa bersalah.


Mama Eri segera merengkuh pundak Dara sebelum membawanya ke dalam pelukannya. "Mama ikut senang karena pengorbanan kamu untuk orang tuamu membuahkan hasil yang manis dikehidupanmu," ucap Mama Eri sambil membelai lembut kepala Dara.


Dara semakin menangis dipelukan Mama Eri, beban yang dari kemarin dibawanya seakan hilang karena kalimat yang baru saja dia dengar, membuat perasaannya terasa lega.


Erfan tersenyum lega sebelum memilih keluar dan meninggalkan Dara dan Mama Eri diruang tamu.


Mama Eri mendorong pelan tubuh Dara dari pelukannya, menatap dalam manik mata Dara sebelum menyeka sisa air mata yang ada dipipi mantan kekasih anaknya. "Kamu tahu kan kalau Mama sangat menyayangimu? Mama sudah menganggap kamu seperti anak Mama sendiri, Mama memang kecewa dan marah sama keadaan ini, tapi Mama nggak mungkin bisa membenci anak baik seperti kamu." Ucap Mama Eri dengan seulas senyum dibibirnya.


"Terimakasih Ma...terimakasih karena tidak membenciku," ucap Dara kembali memeluk Mama Eri.


Mama Eri membalas pelukan Dara, sebelum membelai lembut punggung Dara.


"Apa aku masih boleh main kesini Ma?" tanya Dara setelah melepaskan pelukannya.


"Boleh," ucap Mama Eri menganggukkan kepalanya.


"Aku sangat senang sekali Ma, aku bahagia karena masih bisa menjadi sahabat dan anak Mama" Ucap Dara tersenyum sambil menyeka sisa air matanya.


"Dua Minggu lagi aku pindah ke perumahan ini Ma, akan ada syukuran kecil-kecilan, apa Mama bersedia untuk datang?" Ucap Dara lagi.


"Ke rumah tempat kita bertemu kemarin?'


"Iya," jawab Dara menganggukkan kepalanya pelan.


"Kita lihat nanti aja ya? Mama usahakan datang, apa kamu juga mengundang Dewa Ra?"


"Mas Erfan terlalu cemburu sama Dewa Ma, apa Mama keberatan kalau aku nggak mengundangnya?" ucap Dara ragu.


"Kamu memang lebih baik nggak mengundangnya Ra, jangan membuat hatinya semakin terluka."


Dara menganggukkan kepala tanda mengerti.


_________________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.

__ADS_1


__ADS_2