
Erfan masuk ke dalam kamar, melepaskan jas kerja dan dasinya dengan kasar sebelum melemparkannya asal ke atas Ranjang,
"Br*ngs*k." Pekik Erfan melepaskan kancing atas kemejanya dengan kasar sebelum beralih ke kancing yang ada dikedua tangan kamejanya.
Erfan menghela nafas kasar sebelum duduk diujung ranjang, menyingsingkan kedua lengan kemejanya berusaha mengatur emosinya.
Cklek pintu kamar terbuka, Dara berjalan pelan menghampiri suaminya.
"Mas.." Panggil Dara ragu-ragu saat didepan Erfan.
Erfan hanya menoleh sekilas sebelum berdiri dari duduknya, "Aku mau ke ruang kerja." Ucap Erfan dingin tanpa menatap istrinya lalu berjalan keluar kamar.
Dara menghela nafas menatap kepergian suaminya, "Maaf Mas," ucap Dara lirih sebelum menggantung tasnya dan membereskan jas kerja dan dasi Erfan yang berserakan diatas ranjang.
Setelah mandi dan mengganti bajunya Dara segera keluar kamar, menuruni anak tangga dan berjalan lagi menuju dapur.
"Bi, masih ada makanan nggak Bi?" tanya Dara menghampiri Bi Minah yang sedang mencuci piring.
"Masih Non, masih ada bebek goreng sama sambal dilemari es," ucap Bi Minah sambil mencuci tangannya.
"Non Dara mau Bibi siapin makanan?" tanya Bi Minah menghampiri Dara.
"Tolong dipanasin ya Bi? 2 porsi buat aku sama Mas Erfan."
"Sebentar ya Non." Ucap Bi Minah sebelum mengambil makanan dari dalam lemari es.
Sedangkan Dara merebus air untuk membuatkan suaminya kopi.
"Bi, ruang kerja Mas Erfan dimana ya Bi?" tanya Dara sambil menunggu air mendidih.
"Diruangan sebelah kanan kamar Tuan Erfan Non."
"Kalau ruangan yang disebelah kiri itu apa Bi?"
"Tempat fitnesnya Tuan Erfan Non, banyak alat olahraga didalamnya.
Dara menganggukkan kepala pelan tanda mengerti.
***
Erfan duduk diruang kerjanya, tatapannya fokus melihat layar laptop yang ada didepannya.
Trrrttt trrrtt ponsel Erfan yang ada diatas meja berbunyi.
Erfan segera menggeser warna hijau sebelum menekan tombol loudspeaker membiarkan ponsel tetap berada diatas meja
"Halo Fan!" suara Nathan dari dalam ponsel.
"Hemmm." Jawab Erfan datar.
"Kamu dimana?"
__ADS_1
"Dirumah, hari ini aku sama Dara nggak ke kantor, jadi kamu handle dulu urusan yang ada dikantor." Ucap Erfan masih fokus sama layar laptopnya
"Apa kalian baik-baik saja?"
"Hemmm,"
"Tapi kenapa aku merasa ragu ya kalau kalian sedang baik2 saja?"
"Kerjakan saja pekerjaanmu dengan baik, aku tutup dulu." Ucap Erfan mengakhiri panggilan.
Tok tok tok terdengar suara ketukan dipintu ruang kerja Erfan.
Erfan mengalihkan pandangannya ke arah pintu tanpa bersuara.
Cklek pintu terbuka, tampak Dara masuk dari balik pintu, melangkahkan kakinya menghapiri Erfan sambil membawa nampan yang berisi dua porsi nasi dan secangkir kopi.
Erfan menatap sekilas sebelum mengalihkan pandangannya lagi ke layar laptopnya, berusaha mengacuhkan keberadaan Dara.
"Mas, makan dulu Mas, dari pagi Mas Erfan kan belum makan." Ucap Dara meletakkan nampan diatas meja sofa yang ada diruang kerja Erfan.
"Aku nggak lapar, kamu makan sendiri aja." Ucap Erfan dingin tanpa menatap Dara.
Dara menghela nafas sebelum mengambil secangkir kopi dan meletakkannya diatas meja kerja Erfan. "Aku minta maaf Mas, aku nggak ada maksud untuk menyakiti perasaan kamu." Ucap Dara duduk didepan Erfan.
Erfan hanya diam, sekilas melirik Dara dan menatap laptopnya kembali.
"Jangan diam saja dong Mas," Ucap Dara memelas.
Erfan menghela nafas sebelum menatap tajam dan dingin manik mata istrinya.
"Aku sendiri nggak tau Ra harus bicara apa? seperti apa? apa kamu tahu bagaimana perasaanku sekarang saat melihat istriku lebih mengkhawatirkan laki-laki lain daripada suaminya sendiri? saat istriku menangisi laki-laki lain didepan mataku sediri?" Ucap Erfan menatap Dara.
"Aku nggak bermaksud seperti itu Mas." Ucap Dara memelas.
"Apa selama ini aku kurang membahagiakanmu Ra? kenapa susah sekali kamu melupakan laki-laki br*ngs*k itu?" Ucap Erfan kesal.
"Mas...." Sentak Dara kesal karena ucapan Erfan.
"Apa kamu marah karena aku menyebutnya br*ngs*k Ra?" Sentak Erfan semakin kesal.
"Rasa bersalahku ke Dewa terlalu besar Mas, apa kamu tidak bisa mengerti itu?" Ucap Dara penuh emosi, hingga membuatnya menangis.
"Aku sangat bahagia Mas hidup sama kamu, Mas Erfan memberikanku kebahagiaan yang berlebih, aku mencintai kamu Mas, bukan hanya ragaku tapi hatiku juga sudah sepenuhnya milik kamu." Ucap Dara menatap Erfan.
Krucuk krucuk terdengar bunyi dari perut Dara.
"Tuh kan aku lapar, aku juga belum makan dari tadi pagi." Ucap Dara lagi menyeka air matanya.
Erfan hanya diam berusaha menahan tawanya.
"Terserah Mas Erfan lah, aku mau makan dulu." Ucap Dara berdiri dan melangkahkan kakinya menuju sofa.
__ADS_1
Dara memakan makanannya sendiri tanpa menunggu Erfan, berusaha mengacuhkan Erfan yang daritadi menatapnya dari balik meja kerja.
"Pelan-pelan makannya," Ucap Erfan duduk disebelah Dara sambil mengambil sebutir nasi yang ada disudut bibir istrinya.
Dara terdiam, mengunyah makanannya sambil menatap suaminya.
"Aku akan berusaha mengontrol emosiku, sebisa mungkin aku nggak akan memukulnya lagi. Apa itu yang kamu mau?" Ucap Erfan lembut.
Dara menganggukkan kepalanya menatap Erfan dengan air mata yang kembali menetes.
"Jangan menangis," ucap Erfan mengusap lembut air mata Dara sebelum membawa Dara ke dalam pelukannya.
"Terimakasih Mas..." Ucap Dara menangis didalam pelukan Erfan.
"Ayo makan lagi." Ucap Erfan setelah menarik tubuhnya dari pelukan Dara.
Dara manganggukan kepalanya lagi sambil mengusap sisa air mata yang ada dipipinya, sebelum mengambil seporsi nasi yang ada diatas meja untuk diberikan kepada Erfan.
"Apa hatimu sudah sepenuhnya milikku Ra?" Goda Erfan tersenyum mengambil alih piring nasi dari tangan Dara, membuat pipi Dara bersemu merah.
***
Dewa dalam perjalanan pulang menuju rumahnya,
Ciiitttttttt Dewa tiba-tiba menghentikan mobilnya ditepi jalan. "Br*ngs*k" ucap Dewa kesal sambil memukul stir mobilnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Dewa sambil membentur-benturkan pelan dahinya ke stir
Flashback
"Aku mencintai Erfan, mungkin kita bisa bekerja sama untuk memisahkan mereka."
"Bagaimana caranya?" ucap Dewa menatap Rania.
"Banyak sekali caranya."
"Salah satunya?"
"Sepertinya Rasa cemburu Erfan terlalu besar kepadamu, mungkin kita bisa memanfaatkan itu untuk membuatnya salah faham dan membenci Dara." Ucap Rania setelah meminum dan menghabiskan minuman yang ada digelasnya.
"Apa aku terlihat selicik itu?"
"Bukankah untuk mendapatkan cinta kita memang harus berjuang? apa kamu hanya akan duduk disini meratapi nasib sambil melihat kebahagiaan mereka?" Ucap Rania menatap Dewa.
Dewa hanya diam, meminum minumannya yang tinggal setengah gelas dalam sekali minum.
"Kamu fikirkan saja dulu," ucap Rania sambil menyodorkan kartu namanya didepan Dewa.
"Aku harap ada kabar baik darimu" ucap Rania berdiri dan tersenyum menatap Dewa yang sedang menatapnya sambil menyentuh kartu nama yang diberikannya.
Flasback selesai
__ADS_1
______________________
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, FAVORITE DAN VOTE YA BIAR AUTHOR LEBIH SEMANGAT LAGI UP NYA.