Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 24. Ciuman Pertama


__ADS_3

Erfan membuka perlahan kelopak matanya, kemudian memicingkan matanya karena cahaya lampu kamar Dara yang menyilaukan. Menggerakkan kedua bola matanya ke kanan dan ke kiri berusaha mengingat apa yang sudah terjadi.


"Ahh," rintih Erfan pelan menyentuh kepalanya.


"Mas Erfan sudah bangun?" tanya Dara sambil menaruh minyak kayu putih diatas nakas.


"Aku kenapa Ra?"


"Mas Erfan tadi pingsan."


"Ini di mana? kamar kamu?" tanya Erfan setelah mengedarkan pandangannya.


Dara mengangguk, "Apa yang Mas Erfan rasain sekarang? pusing? Mas Erfan ingin muntah?"


Erfan menggeleng, "Aku nggak papa," ucapnya sambil berusaha untuk bangun.


"ahhh" pekik Erfan lagi menyentuh kepalanya.


"Jangan banyak gerak dulu Mas, kepala Mas Erfan terluka," ucap Dara menyentuh lembut lengan suaminya.


"Bantuin aku duduk Ra," pinta Erfan.


Dara berdiri dan membantu suaminya untuk duduk bersandar disandaran ranjang yang diberi bantal agar suaminya merasa lebih nyaman.


"Kenapa Mas Erfan bisa seperti ini?" tanya Dara lembut duduk ditepi ranjang.


Erfan menyentuh telapak tangan Dara, digenggamnya lembut sebelum dibawa ke pangkuannya.


"Apa kamu segitu marahnya sama aku Ra sampai kamu pulang ke rumah orang tuamu? aku minta maaf sudah menyakitimu."


"Aku minta maaf Mas, karena aku Mas Erfan jadi seperti ini," ucap Dara menunduk.


Erfan membelai lembut pipi istrinya, "Aku begini karena aku kurang hati-hati, bukan karena kamu," ucapnya lembut.


"Aku memang marah sama Mas Erfan tapi bukan itu alasanku pulang kesini," ucap Dara mengangkat kepala menatap Erfan.


"Tadi yang nganterin aku pulang Pak Nathan, kalau aku ngasih alamat apartemen Mas Erfan aku takut Pak Nathan curiga, maaf Mas."


"Apa kamu merasa malu Ra dengan hubungan kita?"


Dara menggeleng, "mana mungkin aku malu Mas, harusnya aku bangga jadi istri seorang CEO, aku hanya ingin dikenal karena kinerjaku Mas, bukan karena istrinya CEO. Apa Mas Erfan keberatan?"


Erfan menggeleng pelan, "Lakukan apapun yang kamu mau Ra."


"Apapun itu?" tanya Dara memastikan.


"Kecuali kembali sama Dewa."


Dara menghela nafas.

__ADS_1


"Apa kamu sebegitu cintanya sama Dewa Ra? apa benar-benar nggak ada kesempatan untukku bisa mengisi ruang dihati kamu?"


Dara terdiam, terkejut dengan ucapan Erfan.


"Beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu Ra, kalaupun sekarang kamu belum bisa mencintaiku aku nggak masalah, aku akan menunggu." Ucap Erfan lembut menatap mata Dara.


"Apa Mas Erfan mencintaiku?"


Erfan mengalihkankan pandangannya lurus kedepan, "Aku nggak tau, aku hanya ingin membahagiakanmu, memilikimu, tanpa membaginya dengan laki-laki lain. Aku marah saat kamu menyebut nama Dewa, aku marah saat kamu tertawa untuknya, aku semakin marah saat Dewa menyentuhmu, dan aku merasa sakit saat melihat kamu menangis.


Dara tersenyum, tangan kirinya mengelus punggung tangan Erfan yang menggenggam lembut tangan kanannya, " Mulai sekarang aku akan berusaha menjaga perasaan kamu Mas."


Erfan menatap Dara lembut, "Terimakasih Ra," ucap Erfan tersenyum.


"Astaghfirullah...," ucap Dara menepuk keningnya pelan.


"Ada apa Ra?"


"Mas Erfan harus minum obat dulu," ucap Dara mengambil Obat diatas nakas.


"Bukannya minum obatnya itu setelah makan ya Ra?"


"Mas Erfan belum makan?" tanya Dara terkejut.


Erfan menggeleng pelan.


"Kenapa tadi nggak makan dulu sih Mas isssss," ucap Dara sedikit kesal.


Dara memanyunkan bibirnya, membuat Erfan terkekeh.


"Aku tinggal ke dapur dulu ya Mas."


Erfan mengangguk dengan senyum semringahnya.


Dara keluar kamar menuju dapur, membuka kulkas mencari makanan yang bisa dimakan suaminya. Dara tersenyum ketika menemukan sambal goreng hati yang tersimpan dalam wadah plastik.


Dara segera mengambil dan memanaskannya diatas kompor, Dara juga menggoreng telur untuk tambahan lauk, setelah semuanya siap Dara segera membawa sepiring nasi beserta lauk dan segelas air putih diatas nampan.


Dara membuka pintu kamar, dilihatnya Erfan sudah tertidur diatas ranjang.


Dara berjalan pelan menghampiri suaminya, meletakkan nampan dengan pelan diatas nakas kemudian berjongkok disamping ranjang tempat Erfan tidur, matanya menatap lekat melisik setiap inci wajah suaminya.


"Tampan" ucap Dara lirih mendekatkan wajahnya ke wajah Erfan sambil mengarahkan telunjuknya ke dahi Erfan turun ke bawah menyusuri lembut hidung suaminya yang mancung hingga penyusuran telunjuknya sampai ke atas bibir Erfan yang tebal. Dara terdiam sesaat, pipinya merona membayangkan bagaimana jika bibirnya bertemu dengan bibir Erfan.


"Tidak tidak," ucap Dara lirih menggelengkan kepala kuat untuk menghilangkan pemikiran anehnya itu, dan berniat menarik telunjuknya dari bibir Erfan.


Dara terkejut saat melihat tangan Erfan tiba-tiba bergerak dan menahan pergelangan tangannya, Erfan membuka matanya pelan, membuat mata mereka saling beradu.


Dara meneguk salivanya kasar, jantungnya berdetak melebihi batas normal saat tangan Erfan berpindah ke tengkuk lehernya dan mulai menarik pelan wajahnya mendekati wajah Erfan.

__ADS_1


Dara memejamkan mata dan membuka matanya kembali saat bibir mereka saling bertemu, saat Erfan m*ncium bibir ranum Dara dengan lembut.


Erfan menghentikan C*umannya pada bibir Dara, ingin melihat reaksi istrinya. Melihat Dara memejamkan mata nggak menolak membuat Erfan tersenyum tipis dan kembali melakukan aksinya dibibir Dara.


Mereka saling melepaskan c*uman saat merasa kehabisan nafas, mengambil nafas bersama saling menatap membuat pipi Dara memerah kemudian menunduk menahan malu, sedangkan Erfan malah tertawa merasa gemas dengan sikap istrinya.


"Jangan tertawa Mas," ucap Dara memukul pelan lengan Erfan.


Erfan semakin tertawa melihat reaksi istrinya, membuat Dara semakin malu.


"Males ah aku sama Mas Erfan," ucap Dara ngambek.


"Hahaha maaf maaf," ucap Erfan membelai lembut pipi Dara yang memerah.


"Ayo makan dulu Mas," ucap Dara membantu Erfan duduk bersandar disandaran ranjang.


Dara mengambil nasi diatas nakas kemudian memberikannya ke pada Erfan.


"Aaahh," pekik Erfan memegangi lengan tangannya saat menerima piring dari Dara.


"Kenapa Mas?" tanya Dara terkejut.


"Tanganku sakit gak kuat bawa piring," ucap Erfan tersenyum.


"Ihhhhh yang sakit kan kepalanya bukan tangannya," ucap Dara memukul pelan lengan Erfan.


Erfan kembali tertawa, "Aku ingin disuapin kamu"


"Kenapa kamu jadi manja begini sih Mas?" ucap Dara sambil duduk ditepi ranjang didepan Erfan.


"Gak boleh manja ya aku?"


"Boleh asal hanya sama aku," ucap Dara tersenyum kemudian menyuapkan satu sendok nasi ke mulut Erfan.


Erfan menghabiskan sepiring nasi tanpa sisa, sorot matanya penuh dengan binar-binar kebahagiaan, begitupun dengan Dara.


"Minum obatnya dulu Mas," ucap Dara meberikan beberapa obat yang sudah dia siapkan diatas piring kecil.


Erfan meminum satu persatu obat yang ada dipiring sebelum membaringkan tubuhnya diatas kasur.


"Mas Erfan istirahat dulu ya," ucap Dara sambil menyelimuti tubuh suaminya, kemudiaan mengambil piring kotor diatas nakas untuk dibawa ke dapur.


"Jangan lama-lama," ucap Erfan menahan pergelangan tangan Dara.


Dara menganggukkan kepala pelan dan tersenyum menatap Erfan sebelum melangkah pergi keluar kamar.


______________________________________________


Kalau suka dengan karya saya, mohon dukung dengan like,komentar dan favorit ya.....

__ADS_1


Terimakasih.....


__ADS_2