Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 57. Eliana


__ADS_3

Setelah menuntaskan hasrat suaminya dengan melakukan hubungan suami istri, Dara masih berbaring dibawah selimut dengan menggunakan Lengan Erfan sebagai bantalan kepalanya.


"Mas...." Panggil Dara lirih sambil memainkan telunjuknya didada bidang Erfan yang t*lanjang.


"Hemm," Jawab Erfan lembut menatap Dara sambil memainkan anak rambut istrinya yang ada didekat telinga.


"Kita sudah hampir lima bulan menikah, tapi aku kok masih belum hamil juga ya Mas?" ucap Dara mendongakkan sedikit kepalanya menatap Erfan.


"Itu acara pernikahan kita Ra, bukan hubungan suami istri kita, kamu kan baru memperbolehkan aku menyentuhmu setelah dua bulan menikah." Ucap Erfan menatap Dara.


"Iya ya?" jawab Dara terkekeh memeluk perut Erfan.


"Kamu ingin cepat punya anak?" tanya Erfan lagi menatap Dara sebelum mengalihkan pandangannya lurus kedepan menatap langit-langit kamar.


Dara menganggukkan kepala, "Aku kan suka anak kecil Mas, lucu-lucu gemas gitu."


"Ya kamu sabar aja, nanti kalau sudah waktunya kan pasti hamil sendiri."


"Mas Erfan nggak ada keinginan untuk program ke dokter gitu?"


"Buat apa?" tanya Erfan menatap Dara.


"Ya biar cepat punya dedek bayi." Jawab Dara balik menatap Erfan, membuat Erfan terkekeh.


"Kok ketawa sih?" protes Dara.


"Kamu sih lucu pakai program ke dokter segala, baru juga beberapa bulan menikah Ra!" ucap Erfan masih terkekeh sambil mencubit pipi istrinya.


"Gak perlu terburu-buru Ra, sedikasihnya aja, yang penting kan kita selalu berusaha." Ucap Erfan sebelum mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya, m*lum*tnya dengan lembut hingga membuat barangnya kembali menegang.


***


H-8 sebelum acara syukuran.


Hari ini Dara cuti bekerja karena ingin membeli beberapa furniture untuk rumah barunya, karena Erfan memiliki jadwal meeting penting yang nggak bisa ditinggal, Dara meminta bantuan Mama Eri untuk menemaninya belanja.


"Kamu nanti berangkat jam berapa?" tanya Erfan menatap Dara yang sedang berdiri didepannya.


"Jam 10 Mas, jemput Mama Eri dulu." Jawab Dara sambil memasangkan Dasi dikrah kemeja Erfan.


"Yakin nggak mau diantar Pak Anton?"


Dara menganggukkan kepala sebelum melangkahkan kakinya menuju almari, "Yakin Mas, aku naik taksi online aja, kasihan Pak Anton kalau harus nungguin," Ucap Dara mengambil jas kerja Erfan sebelum melangkahkan kakinya kembali mendekati Erfan yang sedang memakai jam tangan.


"Jam berapa pulangnya?"


"Belum juga berangkat Mas, kok sudah ditanya pulangnya kapan," ucap Dara terkekeh sambil membantu Erfan memakai jas.


"Ya kan aku harus tahu Ra, istriku ini pulangnya jam berapa," Ucap Erfan setelah melingkarkan tangannya dipinggang Dara.


"Aku nggak tahu Mas, yang pasti aku pulang sebelum Mas Erfan pulang." Ucap Dara tersenyum menatap Erfan.

__ADS_1


Cup Erfan mendaratkan kecupannya dibibir Dara. "Jangan menatapku dengan senyum seperti itu Ra, membuat aku jadi nggak ingin berangkat kerja," ucap Erfan manja memeluk Dara.


Dara tertawa membalas pelukan Erfan, membelai lembut punggung suaminya sebelum menepuknya pelan, "Sudah Mas, berangkat sana, nanti telat."


Erfan melepaskan pelukannya, dengan tangan masih melingkar dipinggang Dara. "Aku kan bosnya Ra, nggak akan ada yang berani marahin aku," ucap Erfan menatap Dara sebelum mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya, "Kita buat dedek bayi sekarang juga bisa," bisik Erfan pelan ditelinga Dara.


"Ihhh," Dara memukul pelan lengan Erfan, membuat Erfan tertawa dan melepaskan tangannya dari pinggang Dara.


Erfan segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti, diikuti oleh Dara yang berjalan dibelakangnya.


"Aku berangkat ya?" ucap Erfan mencium lembut kening Dara sebelum membuka pintu kamar.


Dara menganggukkan kepalanya pelan, "Hati-hati Mas," ucap Dara mencium tangan Erfan.


"Kamu hati-hati ya? kalau ada apa-apa segera hubungi aku."


"Iya Mas." Ucap Dara sebelum melihat Erfan keluar kamar.


***


Mama Eri dan Dara masuk ke dalam salah satu Mall terbesar yang ada dikotanya, melangkahkan kaki mereka menuju lift untuk naik ke lantai enam tempat toko furniture berada.


"Kamu mau cari apa aja Ra?" tanya Mama Eri setelah memasuki toko.


"Semuanya Ma, Sofa, meja makan,kasur, almari." jawab Dara sambil mengedarkan pandangannya kesetiap sudut toko.


"Cuma itu?" tanya Mama Eri memastikan.


Dara menganggukkan kepalanya, "Untuk perlengkapan dapur dan lainnya nanti Mas Erfan yang mengurusnya, dibantu sama ARTnya Papa." Ucap Dara menatap Mama Eri tetap melangkahkan kakinya.


"Jati ini Ra, bagus, sederhana tapi tetap mewah." Ucap Mama Eri sambil menyentuh dan meneliti sofa, "kainnya juga lembut Ra."


"Iya Ma, ukurannya juga pas sama ukuran ruang tamu rumah."


"Mas kita ambil yang ini Ya?" ucap Dara pada karyawan toko yang baru saja menghampirinya.


"Baik Bu," jawab karyawan toko sopan.


Dara dan Mama Eri kembali melangkahkan kakinya untuk memilih beberapa furniture yang dibutuhkan, sambil ditemani sama salah satu karyawan toko yang berjalan didepannya.


Satu jam sudah Dara dan Mama Eri habiskan untuk memilih barang-barang yang akan dibelinya, setelah merasa sudah mendapatkan semuanya, Dara dan Mama Eri segera melangkahkan kaki mereka menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


"Nanti kirimnya ke alamat ini ya Mas," Ucap Dara menunjukkan alamat rumah barunya ke karyawan toko.


Setelah selesai dengan transaksinya, Dara dan Mama Eri segera keluar dari toko,


"Cari makan dulu ya Ma?" tanya Dara sambil menggandeng lengan Mama Eri.


"Ayo Ra, perut Mama juga sudah lapar minta diisi,"


"Mau makan apa Ma?" tanya Dara.

__ADS_1


Belum sempat Mama Eri menjawab tiba-tiba...


"Mama.....Mama....Mama....terdengar suara balita perempuan menangis menghampiri Dara dan Mama Eri.


"Adek kenapa? Mamanya mana?" tanya Dara berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan balita yang ada didepannya.


"Mama...." Ucap Balita tetap menangis didepan Dara, membuat Dara merasa nggak tega dan berinisiatif untuk menggendongnya.


"Bagaimana ini Ma?" tanya Dara menatap Mama Eri sebelum mengedarkan pandangannya kesetiap sudut mall mencari seseorang yang mungkin sedang mencari anaknya.


"Anak ini tadi datangnya dari sana Ra, coba kita jalan aja kesana, mungkin bisa ketemu sama orang tuanya," Ucap Mama Eri menunjuk ke arah balita tadi datang.


Dara menganggukkan kepala tanda setuju, "Ayo Ma," ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya ke arah barat diikuti dengan Mama Eri yang berjalan disampingnya.


Baru berjalan sekitar 50 meter, Dara melihat seorang perempuan berbaju baby sitter berteriak memanggil nama Eliana, melangkahkan kakinya kedepan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri berharap dapat melihat seseorang yang dicarinya.


"Mbak..." Panggil Dara setengah berteriak mendekati wanita muda berbaju baby sitter.


"Ya Allah...Non El.." Ucap Wanita itu berlari mendekati Dara setelah melihat Eliana yang berada digendongan Dara.


"Kamu kemana aja sayang..,"ucap Wanita itu mengambil alih Eliana dari gendongan Dara.


"Mama....Mama...." Ucap Eliana kembali menangis saat berada digendongan wanita yang berbaju baby sitter.


"Terima kasih ya Mbak, Bu, terimakasih banyak," ucap Wanita itu menatap Dara dan Mama Eri bergantian, sambil menimang nimang Eliana berusaha menghentikan tangisannya.


"Nggak papa Mbak, tadi kita melihatnya menangis disana," ucap Mama Eri.


"Iya Bu, Saya Mega baby sitternya Non Eliana, tadi saya tinggal terima telepon sebentar, pas saya menoleh, Non Elnya sudah hilang." ucap Mega masih berusaha menenangkan Eliana yang masih menangis.


"Kasihan anaknya nangis terus, boleh nggak saya gendong?" ucap Dara kepada Mega.


"Silahkan Mbak," ucap Mega memberikan Eliana kepada Dara.


"Mama....Mama...Mama....Eliana masih menangis memanggil mamanya.


"Sayang....cup cup, jangan menangis ya," ucap Dara setelah menggendong El, membuat Eliana menghentikan tangisannya.


"Anak cantik," ucap Dara menghapus sisa air mata dipipi El.


"El....," teriak seorang laki-laki berlari menghampiri Eliana.


"Ya Allah El...Papa sangat khawatir sayang,..."Ucap laki-laki itu mengambil alih El dari gendongan Dara.


"Papa....Papa..." Ucap El tersenyum dipelukan Papanya.


"Maaf Pak, tadi Non El ditemukan Sama ibu dan Mbak ini," ucap Mega menatap Papa Eliana.


"Terimakasih Bu, Mbak..." Ucap Laki-laki itu mengalihkan pandangannya menatap Mama Eri,


"Dara?" ucap Laki-laki itu lagi setelah mengalihkan pandangannya menatap Dara.

__ADS_1


_______________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2