Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 100. Calon Ayah Yang Baik


__ADS_3

Di Kediaman Pak Herman.


"Kenapa sendoknya cuma di puter-puter aja Yah?" tanya Bu Selfi kepada suaminya yang terlihat melamun saat makan malam.


"Iya Yah, Ayah kenapa sih? kok sering melamun?" tanya Dira yang duduk di kursi makan seberang ayahnya.


"Sepertinya keputusan kita menjodohkan Dara dengan Erfan salah Bu," ucap Pak Herman meletakkan sendok di piring sebelum memutar sedikit duduknya menatap Bu Selfi yang sedang menikmati makanan di sebelahnya.


"Mereka sudah menikah Yah, sudah bahagia jangan di usik dengan pemikiran aneh Ayah ini," jawab Bu Selfi tetap menikmati makanannya.


"Apa Ibu nggak khawatir? kita nggak bisa punya cucu loh Bu? Apa ibu nggak ingin gendong cucu?" ucap Pak Herman membuat istrinya menghela nafas, meletakkan sendok yang di pegangnya di atas piring sebelum mengalihkan pandangannya ke Pak Herman.


"Ibu lebih Khawatir kalau anak-anak Ibu nggak bahagia Yah! Ibu juga ingin gendong cucu, tapi Ibu lebih menginginkan kebahagiaan Dara, di mata Ibu, Erfan itu suami yang baik, jadi nggak ada alasan buat Ibu untuk berfikir kalau perjodohan mereka salah." Jawab Bu Selfi membuat Pak Herman melengos kembali menghadap depan.


"Ada apa sih Yah? Bu?" tanya Dira penasaran memandang ayah ibunya bergantian.


"Suami Mbakmu mandul!" jawab Pak Herman kesal tak menatap anaknya, membuat Dira terkejut membulatkan matanya.


"Bukan mandul Pak....., hanya spermanya aja yang bermasalah!" ucap Bu Selfi meluruskan.


"Ya sama aja Bu, kan ****** itu bibitnya bayi, kalau bibitnya aja bermasalah bagaimana bisa bayinya tumbuh?" protes Pak Herman menatap istrinya.


"Masih bisa di obati Yah, sekarang jamannya serba canggih, menantu kita juga orang berada, tinggal mengikuti proses penyembuhan saja, sebagai orang tua kita tinggal menunggu dan berdoa," jawab Bu Selfi.


"Sampai kapan Ayah harus menunggunya? iya kalau sembuh? kalau nggak gimana?"


"Ya tunggu sampai aku menikah aja Yah, nanti aku akan bikinin cucu sepuluh buat Ayah," jawab Dira santai mengalihkan pandangan orang tua kepadanya.


"Apa aku harus menikah besok? agar Ayah bisa cepat dapat cucu?" tanya Dira menatap Ayahnya.


"Gila ya kamu?" sentak Pak Herman kesal.


"Ayo lah Yah, jangan mentingin ego Ayah sendiri, bagaimana jika posisinya di balik? Mbak Dara yang bermasalah? apa Ayah Rela melihat Mbak Dara di bully sama mertuanya sendiri?" ucap Dira membuat Ayahnya terdiam.


"Kemana kamu Dir?" tanya Bu Selfi saat melihat anaknya berdiri dari duduknya.


"Ke kamar Bu," Jawab Dira


"Tapi makanan kamu belum habis,"


"Sudah hilang nafsu makanku Bu," Jawab Dira melirik ayahnya yang terdiam, sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Bu Selfi hanya menghela nafas melihat kepergian anaknya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Pak Herman.


"Tolong jangan membahas cucu lagi Yah!" ucap Bu Selfi kembali menikmati makanannya.


Sementara itu di balik jeruji besi, Cindy terduduk lemas di sudut sel, menyandarkan kepalanya di jeruji besi yang terlihat sangat kokoh dan kuat.


Dengan perasaannya yang semakin pilu, membiarkan air matanya menetes membasahi wajahnya yang sudah tak berias.


"Sampai kapan kamu menangis?" Sentak narapidana wanita yang sedang duduk dipertengahan sel tempat Cindy terpenjara.


Membuat Cindy terkejut dan segera menghapus kasar air matanya.


Ada perasaan takut di hatinya saat beradu pandang dengan narapidana yang seolah berkuasa di selnya.


Dengan rambut keriting dan badan bongsornya yang sedang di pijat bahunya oleh narapidana yang lainnya, menciptakan kesan negatif yang sangat kuat di wajahnya.


***


Jam dinding kamar Dara sudah menunjuk ke angka sembilan, waktu sudah semakin malam, namun sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu belum juga memejamkan mata mereka.


Dara berbaring di atas ranjangnya, bersebelahan dengan Erfan yang masih duduk bersila di atas ranjang sambil memangku laptopnya.


Mencari tahu semua informasi seputar kehamilan, apa yang akan di rasakan istrinya saat hamil, sampai tugas apa saja yang harus dilakukannya sebagai suami.


"Jangan tidur miring gitu Ra, nanti anak kita kegencet gimana?" ucap Erfan khawatir, meletakkan laptopnya di atas nakas sebelum membalikkan tubuh istrinya, membuat Dara terkekeh menatapnya.


"Cuma miring Mas, nggak mungkin kegencet juga....,"


"Ya tetap aja, kamu harus hati-hati," bela Erfan.


"Kamu nggak pusing Ra? nggak ingin muntah? di artikel yang aku baca kalau wanita hamil itu akan muntah," tanya Erfan lagi menatap istrinya.


Dara menggelengkan kepalanya, masih berbaring menatap suaminya yang masih duduk menghadapnya.


"Setiap wanita yang hamil kan bawaannya beda-beda Mas, Mas Erfan ingin aku muntah-muntah?"


"Ya nggak gitu Ra, aku kan nggak tahu, besok kita ke Dokter Nisa ya?" ucap Erfan membuat Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum beranjak duduk dari tidurnya.


"Kapan kita memberitahukan kabar ini ke orang tua kita Mas? terutama Ayah, aku ingin segera memberitahukan kabar ini kepada Ayah." ucap Dara beradu pandang dengan suaminya.


"Besok sepulang kerja kita kerumah orang tua kamu ya?" jawab Erfan menciptakan senyum di bibir istrinya.

__ADS_1


"Aku minta maaf ya Mas? sikap Ayah kemarin sangat keterlaluan," ucap Dara lirih menundukkan sedikit kepalanya.


"Nggak ada yang perlu di maafkan Sayang, Ayah begitu karena keinginannya untuk mempunyai cucu sangat besar." Jawab Erfan mengangkat lembut dagu istrinya.


"Apa Mas Erfan nggak sakit hati?" tanya Dara yang di jawab dengan gelengan kepala suaminya.


"Hanya sedikit frustasi karena aku dibandingkan dengan mantan kamu." Jawab Erfan.


"Maaf ya Mas?" ucap Dara memeluk suaminya.


Erfan balik memeluk istrinya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Ayo tidur," ucap Erfan melepaskan pelukannya, menatap Lembut manik wajah istrinya sebelum membantu membaringkan tubuh Dara.


"Selamat malam anaknya Papa, Papa akan membuat Mama kamu bahagia, biar kamu bisa ikut bahagia di perut Mama ya?" ucap Erfan lirih mengelus perut istrinya yang masih datar, membuat Dara tersentuh menatapnya.


"Selamat malam Sayang..." ucap Erfan lagi mengecup kening Dara, mengecup pipi kanan dan kiri istrinya sebelum menurunkan kecupannya ke bibir ranum istrinya.


M*lumatnya perlahan, membuat Dara memejamkan matanya saat terbuai dengan permainan suaminya.


Beberapa menit berlalu dengan aksi mereka yang saling m****** bibir pasangannya.


Erfan segera melepaskan tautan bibirnya saat adik kecil yang dia punya mulai menegang mencari sarangnya.


"Astaga......maafkan Papa Nak....hampir saja kebablasan..." ucap Erfan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


Membuat Dara tertawa menatapnya. "Kenapa Mas?"


"Aku tadi baca, kalau istri lagi hamil muda itu nggak boleh di ajak berhubungan badan dulu sebelum konsultasi dengan Dokter, kita kan masih belum tahu kondisi kehamilan kamu Ra," jawab Erfan dengan nafasnya yang memburu, berusaha menahan energi yang ingin menerobos benteng pertahanannya.


Dara menatap Erfan dengan matanya yang berbinar, "Terimakasih Ya Allah... Mas Erfan bukan hanya suami yang baik, tapi juga calon ayah yang baik, terimakasih telah menjodohkannya denganku," Batin Dara dengan perasaannya yang terenyuh, sebelum merangkul tubuh Erfan yang sedang berbaring di sebelahnya.


"Kenapa kamu malah memelukku Ra? apa kamu nggak tau gimana susahnya aku sekarang?" Protes Erfan membuat Dara terkekeh semakin mengeratkan pelukannya.


"Ihhh," dengus Erfan ikut tertawa balik memeluk istrinya.


Bersambung.


___________________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.

__ADS_1


Dan...silahkan mampir ke karya author yang ke dua ya...... "AIR MATA PERNIKAHAN SIRI"


__ADS_2