
"Kenapa kamu nggak bisa menjawabnya Mas?" tanya Dara menahan rasa sesak.
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan konyol dari Nathan Ra?" jawab Erfan menatap Dara.
"Mungkin konyol buat kamu Mas, tapi itu penting buatku," ucap Dara dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kamu tahu betapa sakitnya aku saat berusaha menjaga perasaan kamu dan terpaksa menyakiti perasaan Dewa Mas? apa kamu tahu bagaimana sakitnya merelakan orang yang aku cintai Mas? aku menahan semua kesakitan itu untuk kamu Mas, untuk menjaga hubungan kita, rumah tangga kita." ucap Dara menangis menatap Erfan.
"Ra," ucap Erfan sambil berusaha menyentuh tangan Dara.
Dara menepis tangan suaminya, "Tapi ternyata aku nggak lebih dari seorang wanita yang kamu jadikan sebagai penutup luka disaat Sarah menyakitimu."
"Nggak seperti itu Ra," ucap Erfan menatap Dara.
"Apa kamu tetap memaksaku berpisah dengan Dewa jika Sarah tidak menikah Mas?"
"Iya," jawab Erfan tegas. "Apa kamu tau apa itu takdir Ra? walaupun Sarah tidak menikah, jika takdirku untuk mencintai kamu, aku akan tetap mencintai kamu bagaimanapun jalannya," ucap Erfan lagi menatap tajam Dara sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Nathan.
"Dan kamu Than, apa kamu benar-benar sahabatku? aku memang egois karena mempertahankan Dara di saat kehilangan Sarah, tapi aku nggak sebr*Ng**k kamu yang mencoba untuk merebut istri sahabatnya sendiri," ucap Erfan kesal menatap Nathan.
"Dan satu lagi," ucap Erfan menunjuk wajah Nathan.
"Apa yang kamu tahu tentang perasaanku? jangan mencoba menghancurkan pernikahanku, kamu bahkan nggak tahu betapa berat perjuanganku untuk mendapatkan dia," ucap Erfan berusaha menahan tumpukan emosi yang menyesakkan dadanya.
"Cla, bawa kakakmu pergi dari sini sebelum aku menghajarnya," ucap Erfan lagi menatap Clara.
"Apa kamu sudah gila Kak?" ucap Clara pelan ditelingan Nathan.
"Ayo keluar," ucap Clara lagi menggandeng lengan Nathan sebelum berjalan keluar dan meninggalkan Dara dan Erfan berdua di ruangan.
"Apa begitu besar rasa sakitnya saat kamu bersamaku Ra? apa begitu tersiksanya kamu saat bersamaku?" tanya Erfan menatap sendu Dara.
Dara diam tak berani menatap wajah suaminya.
"Kalau memang itu mau kamu, aku akan menceraikanmu saat pernikahan kita berumur satu tahun," ucap Erfan lagi membuat Dara menoleh menatapnya.
"Kamu bisa kembali lagi bersama Dewa, aku minta maaf jika terlalu menyiksamu," ucap Erfan menatap Dara, berusaha menahan rasa sesak karena harus merelakan wanita yang dicintainya pergi kepada laki-laki lain.
Erfan keluar dari ruangannya, meninggalkan Dara yang sedang duduk lemas di atas sofa
"Harusnya kamu bahagia sekarang Ra," ucap Dara menyeka air matanya.
***
Nathan masuk kedalam ruangannya
kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
"Apa kamu sudah gila Kak?" ucap Clara kesal mendekati Nathan.
"Setan apa yang membuatmu bersikap seperti itu?" ucapnya lagi duduk didekat Nathan.
Nathan menghela nafas pelan sebelum menyandarkan punggung dan kepalanya disandaran sofa, "Aku juga nggak tau Cla," ucap Nathan pelan menatap langit- langit ruangannya.
"Apa kamu serius akan mendekati Dara Kak?"
Nathan menegakkan kepalanya menatap Clara, "Apa menurutmu aku sebr*Ng**k itu Cla?"
"Kamu sendiri yang mengatakannya Kak."
Nathan berdiri dan berjalan menuju kulkas mini disebelah sofa, mengambil satu botol soda.
__ADS_1
"Aku terlalu terkejut Cla," ucapnya berdiri membuka tutup soda dan meminumnya.
"Aku sudah berharap banyak ke Dara, bahkan aku pernah menelepon dia pada jam malam sebelum dia tidur," ucap Nathan mencebikkan bibirnya.
"Kamu tau itu artinya apa Cla? aku menelfon istri sahabatku saat dia bersama sahabatku, bahkan aku mengucapkan kata -kata yang membuatku geli saat aku mengingatnya," ucap Nathan lagi kembali duduk.
"Aku tahu bagaimana perasaan kamu kak, tapi nggak seharusnya kamu berbicara seperti tadi, memancing kemarahan kak Erfan, apa kamu nggak memikirkan hubungan persahabatan kalian?"
Nathan mengangkat kedua bahunya dan meminum kembali minumannya, "Aku terlalu malu, aku juga marah sama Erfan kenapa dia
membuatku malu, jika saja dia menceritakan semuanya sejak Dara masuk sini, aku nggak mungkin melakukan tindakan bodoh dengan menaksir dan berusaha mendekati istrinya." Ucapnya lagi dengan pandangan lurus ke depan.
"Kamu kembali saja ke ruangan kamu," ucap Nathan menatap Clara.
"Kamu nggak papa aku tinggal sendirian?"
"Nggak papa," ucap Nathan tersenyum menggosok pelan rambut Clara.
"Aku pergi ya Kak, kamu harus minta maaf sama kak Erfan," ucap Clara berdiri.
"Iya iya."
Clara berdiri kemudian berjalan keluar dari ruangan Nathan.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul enam petang, Dara turun dari taksi tepat didepan gedung apartemennya, berjalan gontai menuju loby sambil memikirkan ucapan Erfan.
"Harusnya kamu bahagia sekarang Ra, bukankah ini yang kamu mau Ra?" ucapnya dalam hati.
Dara berjalan masuk menuju lift sebelum berdiri di depan pintunya.
"Apa benar ini yang kamu mau Ra?" ucap Dara memukul pelan dadanya berusaha mengusir rasa sesak dihatinya.
"Kenapa kamu menangis Ra?" gumam Dara pelan menyeka air matanya saat menyandarkan kepalanya ke dinding lift.
Ting pintu lift terbuka dilantai apartemennya berada, Dara keluar tetap dengan langkah gontainya.
"Ra," terdengar suara laki-laki memanggil dari arah depannya.
Dara menghentikan langkahnya, mengalihkan pandangannya pada Dewa yang berjalan menghampirinya.
"Kamu kenapa?" tanya Dewa saat melihat bekas air mata dipipi Dara, "apa Erfan menyakitimu?" tanya Dewa lagi menyentuh kedua bahu Dara.
Dara menatap sendu wajah Dewa, "Kita harus mengakhiri permainan ini Wa."
"Apa maksud kamu?" tanya Dewa menurunkan tangannya dari pundak Dara.
"Aku sangat lelah Wa, apa kamu bisa memberiku jalan? aku ingin istirahat," ucap Dara memelas.
Dewa menggeser tubuhnya kesamping memberikan jalan untuk Dara.
"Apa Erfan menyakitimu Ra?" ucap Dewa menghentikan langkah Dara, "bilang sama aku, aku akan menghajarnya untuk kamu."
Dara menghela nafas pelan sebelum membalikkan badannya menghadap Dewa, "Jangan pernah berani kamu menyentuh suamiku, atau aku nggak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku." Ucap Dara tajam menatap Dewa.
"Apa kamu sudah mencintainya Ra?" tanya Dewa terkejut.
"Iya." Sentak Dara sebelum pergi meninggalkan Dewa dan berjalan menuju pintu apartemennya, tak memperdulikan lagi wajah sendu Dewa yang terdiam di belakangnya.
Tut Tut Tut Tut Dara menekan kode akses pintu apartemennya.
__ADS_1
"Mas Erfan belum pulang?" ucap Dara masuk dan menekan tombol saklar, menyalakan lampu yang padam.
Dara melihat jam dinding, "Sudah jam enam , kamu kemana Mas?" ucapnya pelan sebelum melangkahkan kaki masuk menuju kamarnya.
Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat ke arah meja makan, mengingat kembali kebersamaannya dengan Erfan. Bagaimana dia melayani suaminya saat makan, mengobrol dan bercanda disela-sela makan.
Dara kembali memukul dadanya pelan untuk menghilangkan rasa sesak dihatinya, kemudian berjalan lagi dan membuka pintu kamarnya.
Pandangannya fokus pada ranjangnya yang bersprei biru muda, dia mengigat kembali kebersamaannya tadi malam bersama Erfan, mengingat kembali setiap ucapan suaminya, bagaimana dia tidur dalam pelukan suaminya.
"Bisakah kamu memberiku satu kesempatan lagi Mas?" ucap Dara menyeka air matanya.
Ting tung suara bel pintu apartemen Dara berbunyi.
Dara menoleh dan menyeka air matanya kasar, menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan menuju pintu utama.
"Clara," ucap Dara setelah membuka pintu.
"Apa aku boleh masuk Ra?"
Dara mengangguk, "Masuk Cla," ucap Dara mempersilahkan Clara duduk di sofa.
"Bagaimana kamu tahu apartemen ini?" tanya Dara sambil duduk disofa.
"Dulu aku sama Kak Nathan sering main kesini," ucap Clara setelah duduk di depan Dara.
"Ngomong-ngomong masalah Kak Nathan aku minta maaf Ra."
Dara menggeleng, "Nggak usah dibahas lagi Cla, ada apa kamu kesini?"
"Tadi Kak Erfan meneleponku."
"Mas Erfan?"
Clara mengangguk, "Dia menyuruhku menemanimu disini, karena malam ini dia akan menginap dirumah papanya."
"Apa kamu mau membantuku Cla?"
Clara mengangguk, "Selama aku bisa Ra."
"Bisakah kamu mengantarku kerumah Papa Cla? hari ini aku ingin pindah kesana."
"Oke," ucap Clara menganggukkan kepala pelan.
"Tolong tunggu sebentar ya Cla, aku mau berkemas dulu," ucap Dara berdiri.
"Aku ikut ya," ucap Clara ikut berdiri.
Dara tersenyum kemudian berjalan masuk menuju kamar diikuti Clara di belakangnya.
"Apa kamu nggak akan balik lagi kesini Ra?" tanya Clara duduk di tepi ranjang menunggu Dara mengeluarkan kopernya.
"Mungkin balik Cla, tapi nanti nunggu kondisinya tenang, "ucap Dara mengeluarkan beberapa baju dari almarinya dan memasukkannya ke dalam koper.
"Ayo Cla," ucap Dara menarik handle koper.
"Sudah? baju Kak Erfan?" tanya Clara karena nggak melihat Dara mengemas baju suaminya.
"Nggak perlu, dirumah Papa pasti Mas Erfan punya banyak baju."
"Oooh," Clara mengangguk-anggukkan kepala sambil berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Dara dan Clara keluar dari apartemen menuju basement tempat Clara memarkir mobilnya.
Setelah memasukkan koper kedalam bagasi Dara masuk ke dalam mobil menyusul Clara yang sudah masuk lebih dulu.