Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 62. Keturunan


__ADS_3

Setelah makan siang bersama, Keluarga Pak Herman memilih untuk berbincang hangat dimeja makan sambil menikmati puding susu buatan Bu Selfi.


"Ibu memang jagonya buat puding." Puji Dara disela-sela mengunyah pudingnya.


"Aku juga jago Mbak, kamu aja yang nggak bisa buatnya." Ejek Dira menatap Dara.


Pffffttttt suara Erfan menahan tawanya, membuat Dara tersenyum kikuk.


"Aku juga bisa Dek, cuma ya memang nggak seenak kamu sama Ibu." ucap Dara menatap Dira yang sedang menikmati pudingnya.


"Aku itu heran sama kamu Dek," ucap Dara lagi sambil menunjuk adiknya dengan irisan puding yang dipegangnya.


"Kamu itu kan masih kecil, tapi kok sudah pinter dalam semua hal, pinter masak iya, pinter sekolah iya, pinter ngaji iya, cantik iya, bahkan pinter cari pacarpun iya." Ucap Dara tertawa sebelum menutup mulutnya saat melihat mata Dira yang mendelik ke arahnya.


"Kamu sudah punya pacar Dir?" tanya Pak Herman menyelidik menatap Dira, membuat Dira menunduk tetap memakan pudingnya.


"Biarin lah Yah, Dira kan sudah besar, yang penting bisa jaga diri," ucap Bu Selfi menengahi.


"Besar gimana Bu? anak masih SMP kok dibilang sudah besar." Ucap Pak Herman menatap Bu Selfi dan Dira bergantian.


"Sudah Yah biarin aja," ucap Bu Selfi menatap Pak Herman sebelum mengalihkan pandangannya menatap Dara. "Kamu sudah ada tanda-tanda isi belum Ra? ayah kamu ini tiap malam ngomongin cucu terus, sampai kebawa mimpi." Ucap Bu Selfi menatap Dara.


"Belum Bu, doain aja semoga cepat diberi kepercayaan." Ucap Dara setelah melirik sekilas suaminya.


"Sudah hampir setengah tahun lo Ra kamu menikah, apa kamu nggak ingin coba cek kedokter kandungan?" Tambah Pak Herman menatap Dara.


"Belum setengah tahun Yah, Masih lima bulan." Ucap Dara meluruskan.


"Anak-anak teman Ayah baru menikah dua tiga bulan sudah hamil Ra,"


"Ya kan tiap orang beda-beda Yah, jangan disama-samain gitu dong, anak itu kan titipan, hanya bisa diusahakan dan dipasrahkan." Ucap Bu Selfi.


"Sekedar periksa aja kan nggak papa Bu, Ayah hanya khawatir karena ada saudara kandung Ayah yang...."


"Yah," ucap Bu Selfi menghentikan kalimat suaminya, membuat Dara dan Erfan terdiam saling menatap.


"Ibu tadi kan sudah bilang, jangan sama-samain anak kita sama yang lain, kita doakan aja yang terbaik buat anak kita." Ucap Bu Selfi sedikit kesal menatap Pak Herman.

__ADS_1


Suasana menjadi hening, tidak ada lagi yang mengeluarkan suara, terutama Dara, walaupun ucapan ayahnya terpotong, Dara bisa menebak kalimat lanjutan yang akan diucapkan ayahnya, membuat perasaannya terganggu, ada rasa takut yang mulai mengisi hati dan fikirannya.


"Sudah Ra, jangan terlalu memikirkan ucapan Ayah kamu, Ayah kamu hanya tidak sabar saja kepingin gendong cucu."


Dara masih terdiam, menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban dari kalimat Bu Selfi. "Aku ke kamar dulu ya Bu? Yah?" ucap Dara bediri dari duduknya, sebelum melangkahkan kakinya menuju kamar.


Erfan menatap bingung sikap Dara sebelum ikut pamit mengikuti langkah Dara masuk ke dalam kamar.


"Kalau aku sudah besar nanti jangan memperlakukanku seperti Mbak Dara Yah," Ucap Dira tiba-tiba membuat Pak Herman dan Bu Selfi kompak menoleh ke arah anak bungsunya.


"Apa maksud kamu?" tanya Pak Herman bingung.


"Kenapa Ayah selalu memaksakan kehendak Ayah sih? Mbak Dara itu manusia Yah, punya perasaan, apa nggak bisa sebagai orang tua, Ayah hanya sekedar melihat dan memantau saja? yang pentingkan melihat anak Ayah bahagia?"


"Dir, jaga ucapan kamu," ucap Bu Selfi memperingatkan.


"Bukan begitu Bu, aku hanya heran aja sama Ayah, apa sih kurangnya Mbak Dara sebagai anak? dipaksa putus sama pacarnya mau, dipaksa menikah sama orang yang nggak dikenalnya mau, baru juga Mbak Dara bahagia sekarang sudah dituntut lagi untuk hamil, hanya karena ayah ingin cepat-cepat punya cucu seperti teman-temannya yang lain," Ucap Dira berusaha menahan rasa kesalnya.


"Baru juga berapa bulan menikah Yah, sudah main paksa aja nyuruh periksa ke dokter, pakai disama-samain sama Tante Leny" Ucap Dira lagi membuat Pak Herman dan Bu Selfi terdiam.


"Intinya Yah, aku nggak ingin kehidupanku nanti diatur, seperti Ayah yang mengatur kehidupan Mbak Dara," ucap Dira berdiri dari duduknya sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.


"Kenapa kamu Ra?" tanya Erfan sebelum duduk disebelah Dara.


Dara terdiam masih dengan fikiran negatifnya.


"Terganggu sama ucapan Ayah." Tanya Erfan lagi menatap Dara.


Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum menatap balik suaminya, "Bagaimana kalau aku......" Ucap Dara menggantung kalimatnya saat bibirnya tak kuasa meneruskan kalimatnya.


"Jangan berfikiran yang negatif Ra," ucap Erfan menggenggam telapak tangan Dara.


"Kita kan baru beberapa bulan menikah Ra! diluaran sana juga banyak yang baru dikasih anak setelah satu tahun menikah, bahkan ada yang lebih juga, seperti kata Ibu kamu, anak itu titipan, hanya bisa diusahakan dan dipasrahkan." Ucap Erfan berusaha menenangkan istrinya.


"Tapi diketurunan Kakek dari Ayah ada yang nggak bisa punya anak Mas," ucap Dara menatap Erfan.


"Siapa?"

__ADS_1


"Tante Leny adiknya Ayah." Ucap Dara menundukkan kepalanya.


"Kamu kan keturunan dari Pak Herman Sayang? bukan Tante Leny. Jangan membuat beban difikiran kamu hanya karena ketakutan kamu sendiri Ra!" Ucap Erfan membelai punggung tangan Dara yang digenggamnya.


"Aku pernah dengar, salah satu cara agar bisa cepat hamil itu nggak boleh stres." Tambah Erfan menatap Dara


"Aku ingin ke Dokter Kandungan Mas," ucap Dara menatap Erfan.


"Bulan depan Ya? kalau masih belum ada tanda-tanda kita ke Dokter."


Dara tersenyum menatap Suaminya, "Terimakasih Mas...." Ucap Dara menghamburkan tubuhnya memeluk Erfan.


Tok tok tok terdengar suara ketukan pintu dikamar Dara, membuat Dara melepaskan pelukannya sebelum berdiri dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


"Kamu nggak papa Nak?" tanya Bu Selfi setelah Dara membuka pintu.


"Nggak papa Bu," ucap Dara menggelengkan kepalanya Pelan. "Ayo masuk Bu,"


Bu Selfi melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Dara. "Maafkan Ayah kamu ya Ra? Fan?" Ucap Bu Selfi setelah duduk dikursi meja rias Dara, menatap anak dan menantunya bergantian.


Dara tersenyum menatap Ibu yang selalu mengerti perasaannya, "Nggak ada yang perlu dimaafkan Bu, aku mengerti perasaan Ayah."


"Terimakasih Ra, selama ini kamu selalu berusaha mengerti perasaan orang tua kamu, kamu anak baik, Ibu bangga punya anak seperti kamu," Ucap Bu Selfi dengan air mata yang mulai mengalir.


"Jangan menangis Bu, nggak ada hal yang perlu Ibu tangisi," ucap Dara menyeka lembut air mata ibunya.


"Ibu sama Ayah minta maaf karena selalu memaksakan kehendak kami untuk mengatur kehidupan kamu." Ucap Bu Selfi menunduk.


Dara menggelengkan kepalanya pelan sebelum menggenggam kedua tangan indah Ibunya, tangan yang dipenuhi kasih sayang untuknya. "Apa ibu tahu? pegaturan Ibu dan Ayahlah yang membuat aku bahagia," ucap Dara pelan menatap Ibunya.


"Selain tampan Mas Erfan juga suami yang baik Bu, terimakasih sudah memilihkanku suami yang sedap dipandang mata," Ucap Dara berusaha tersenyum disela tangisannya, diikuti dengan senyum Bu Selfi yang menatapnya.


"Ibu jangan pernah merasa bersalah karena sudah mengatur kehidupanku." ucap Dara lagi menyeka air mata Ibunya,"


"Ibu bahagia Nak, karena semua doa doa Ibu untuk kebahagiaan kamu sudah dikabulkan." Ucap Bu Selfi sambil menyeka air mata Dara, membuat Dara semakin menangis sebelum menghamburkan tubuhnya ke pelukan wanita yang paling berjasa disetiap perjalanan hidupnya.


__________________

__ADS_1


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up..


__ADS_2