
Flashback dirumah Rania.
Setelah kepulangan Sahabat-sahabatnya, Pak Subrata memutuskan untuk menunda kepulangannya karena masih ingin berbincang sama Pak Setya papa Rania.
Membicarakan kenangan masa lalu sambil duduk digazebo yang ada dihalaman rumah Pak Setya, dibawah kemerlip bintang bersama sahabatnya sudah cukup membuat Pak Subrata bahagia.
"Sayang kita nggak jadi berbesan ya Ta," Ucap Pak Setya menatap lurus kedepan sambil meletakkan rokok dibibirnya.
"Iya," Ucap Pak Subrata menoleh sekilas ke arah Pak Setya sebelum meluruskan kembali pandangannya. "Takdir kita hanya sebatas teman Ya".
"Andai waktu itu Rania bisa bersikap baik, kita pasti bisa menghabiskan waktu bersama sebagai besan sekarang," Ucap Pak Setya tersenyum sinis menunjukkan ketidakpuasannya. "Aku juga yang salah, karena terlalu memanjakan dia." Ucap Pak Setya penuh kecewa dengan pandangan lurus ke depan sambil meniup asap rokok keluar dari mulutnya.
"Jangan terlalu disesali Ya, semua sudah ada jalannya sendiri," ucap Pak Subrata menatap sahabatnya.
"Assalamualaikum Pa, Om," Terdengar suara wanita memecah obrolan.
"Waalaikum Salam," jawab Pak Subrata dan Pak Setya bersamaan sambil menoleh ke arah suara.
Terlihat Rania berjalan dari arah gerbang sambil mencangklong tas kecil di pundak kirinya menghampiri Pak Subrata dan papanya.
"Darimana Ran?" tanya Pak Subrata.
"Habis jalan sama teman Om," ucap Rania mencium tangan Pak Subrata dan papanya bergantian.
"Mana mobil kamu?" tanya Pak Setya.
"Aku kan nggak bawa mobil Pa, tadi ikut mobilnya Lisa." Jawab Rania sambil duduk didepan Pak Subrata dan papanya.
"Gimana kabar Erfan dan istrinya Om?" tanya Rania kembali menatap Pak Subrata.
"Baik Ran, tadi kan datang ke pesta? kamu nggak ketemu?" Jawab Pak Subrata.
"Aku bertemu Om, tapi nggak ngobrol, aku hanya menyaksikan adu jotosnya Erfan dipesta!"
"Maksud kamu?" tanya Pak Subrata terkejut.
"Papa nggak cerita ke Om Subrata tentang kejadian tadi dipesta?" tanya Rania menatap papanya.
Pak Setya menggelengkan kepalanya sebelum mematikan Putung rokoknya, "Itu kan urusan mereka, ngapain Papa ikut campur, jadi kamu juga jangan ikut campur masalah mereka Ran." Ucap Pak Setya menatap Rania, membuat Rania memanyunkan bibirnya.
"Ada kejadian apa dipesta Ya?" tanya Pak Subrata penasaran menatap Pak Setya.
"Erfan berkelahi sama pacarnya Dara Om." Ucap Rania..
"Ha? pacar?" ucap Pak Subrata semakin terkejut.
"Jangan bicara sembarangan Ran! bagaimana kamu tahu dia pacarnya?" ucap Pak Setya memperingatkan.
"Aku dengar sendiri Pa, laki-laki itu sendiri yang ngomong didepan Erfan." Ucap Rania membela diri, sedangkan Pak Subrata terdiam karena rasa terkejutnya.
"Sudah Ran, lebih baik kamu masuk sekarang, Papa sudah bilang jangan ikut campur urusan orang." Ucap Pak Setya tegas menatap Rania.
__ADS_1
Rania semakin memanyunkan bibirnya, "Papa kapan sih bisa belain aku?" ucap Rania kesal sebelum berdiri, melangkahkan kakinya untuk masuk rumah meninggalkan Pak Subrata dan papanya.
Flashback selesai
***
"Dia mantan kekasihku Pa," Ucap Dara menunduk.
"Apa kalian sudah putus? atau masih menjalin hubungan?" tanya Pak Subrata tajam menatap Dara.
"Kami sudah putus Pa," ucap Dara memberanikan diri menatap Mertuanya.
"Tapi kenapa dia bilang kalau dia kekasih kamu?"
"Karena dia terobsesi sama istriku Pa," Ucap Erfan datar menatap papanya.
"Kami menikah kan karena perjodohan Pa, Papa sendiri yang menjodohkan kami, wajar dong kalau sebelum menikah kami sama-sama punya pacar, sama halnya aku yang harus putus sama Sarah, Dara juga harus putus sama kekasihnya." Ucap Erfan menjelaskan.
"Apa dia mantan pacar kamu yang baru kamu putuskan karena pernikahanmu dengan Erfan Ra?" Tanya Pak Subrata menatap Dara.
"Iya Pa", Jawab Dara menganggukkan kepalanya.
"Apa kalian sudah benar-benar putus Ra?"
"Sudah Pa,"
Pak Subrata menganggukkan kepala, merasa lega dengan jawaban Dara. "Papa harap rumah tangga kalian selalu bahagia Fan, Ra." Ucap Pak Subrata menatap Erfan dan Dara bergantian.
"Amin." Ucap Dara lirih.
***
"Berkas-berkasnya sudah siap Ra?" tanya Erfan berdiri dari kursi kebesarannya.
"Sudah Mas," jawab Dara setelah selesai menyusun semua berkas dan mendekapnya dalam pelukan.
Erfan segera berjalan keluar ruangannya diikuti dengan Dara dibelakangnya.
"Ehemm." Erfan tiba-tiba berhenti dan berdehem saat menyentuh handle pintu ruangannya.
"Kenapa Mas?" tanya Dara ikut berhenti.
"Sepertinya ada yang ketinggalan Ra." Ucap Erfan menatap Dara.
"Oh ya? apa Mas?" ucap Dara sambil memeriksa file yang ada ditangannya.
"Nggak ada yang ketinggalan kok, lengkap Semua." ucap Dara menatap Erfan.
"Kissnya ketinggalan Ra," ucap Erfan sambil menyentuh bibirnya, membuat Dara menahan tawanya.
Cup kecupan singkat dari Dara berhasil mendarat dibibir Erfan.
__ADS_1
"Oke, sudah lengkap sekarang," Ucap Erfan tersenyum membuka pintu ruangannya, diikuti oleh Dara, melangkahkan kaki mereka menuju ruang meeting untuk bertemu tamu dari Surabaya.
***
Diruang meeting
"Terimakasih atas kerja samanya Pak," Ucap Erfan berdiri menjabat tangan tamunya setelah menyelesaikan meetingnya.
"Sama-sama Pak Erfan, semoga kerja sama kita bisa berjalan dengan lancar." Ucap Laki-laki setengah baya tersenyum penuh harap.
Erfan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sebagai bentuk jawabannya.
"Saya permisi dulu," Ucap tamu Erfan sambil menatap Erfan dan Dara bergantian, diikuti dengan Secretaris perempuannya.
"Silahkan Pak saya antar." Ucap Dara sebelum mengantar tamu Erfan sampai depan pintu.
"Apa aku ada jadwal meeting lagi Ra hari ini?" tanya Erfan kembali duduk saat melihat Dara menghampirinya.
"Sebentar Mas," Ucap Dara berdiri didepan Erfan sambil melihat jadwal pada layar ponselnnya.
"Ngga ada Mas, jadwal meeting selanjutnya besok jam 11 siang." Ucap Dara lagi menggelengkan kepalanya pelan tetap menatap layar ponselnya.
"Syukurlah, capek sekali aku hari ini." Ucap Erfan memeluk pinggang Dara sebelum membenamkan wajahnya pada dada istrinya.
"Kita kembali keruangan sekarang Mas? biar Mas Erfan bisa istirahat disofa." Ucap Dara membelai lembut kepala suaminya, membuat Erfan mendongakkan kepala menatapnya.
"Apa aku perlu membangun sebuah kamar diruanganku ya Ra?"
"Ha? buat apa Mas?" Ucap Dara menatap balik Erfan.
"Biar kita bisa tidur bersama. "Ucap Erfan terkekeh.
"Ya Allah Ya Tuhanku......kenapa dikepala suamiku ini isinya hanya tidur...." Ucap Dara ikut terkekeh sambil mencakup kedua pipi Erfan, hingga membuat bibir suaminya manyun kedepan.
"Ya nggak papa dong Ra," ucap Erfan tertawa.
"Sudah Mas, ayo kembali ke ruangan dulu." Ucap Dara kembali membelai kepala suaminya.
Erfan menganggukkan kepala pelan sebelum melepaskan pelukannya pada Dara.
"Ayo Ra," ucap Erfan berdiri dari duduknya sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruang meeting diikuti oleh Dara dibelakangnya.
***
Pukul 17:30 Dara dan Erfan dalam perjalanan pulang kerumah Pak Subrata.
"Apa kita akan terus tinggal dirumah Papa Ra?" tanya Erfan memecah keheningan didalam mobil.
"Aku sih ikut Mas Erfan aja," Ucap Dara menatap suaminya.
"Apa kamu nyaman tinggal dirumah Papa Ra? atau kita perlu membeli rumah baru?" Ucap Erfan sambil menatap jalan dan Dara bergantian.
__ADS_1
__________________________
HAI READERS, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, FAVORITE DAN VOTE NYA YA......