
Mentari pagi sudah menampakkan sinarnya, jam dinding rumah Dara sudah menunjuk ke angka tujuh, dimana Dara sedang sibuk-sibuknya memasak makanan di dapur untuk dia dan suaminya sarapan.
"Ngapain Sayang?" tanya Erfan dengan muka bantalnya masuk ke dalam dapur, menghampiri istrinya yang tengah sibuk mencuci piring.
"Cuci piring Mas," jawab Dara menoleh ke arah suaminya tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Sini kasih aku saja biar aku yang cuci," ucap Erfan mengambil alih piring dari tangan istrinya.
"Eh? tumben?" tanya Dara masih berdiri di depan suaminya.
"Kamu lagi hamil Sayang....nggak boleh capek-capek." Ucap Erfan mendorong pelan Dara agar duduk di kursi meja makan.
"Tapi aku masih belum selesai Mas, aku masih goreng ayam!" jawab Dara menunjuk Ayam yang masih ada di dalam wajan.
"Serahin semua sama aku ya.... kamu duduk saja, lihat bagaimana hebatnya suamimu ini dalam memasak." Jawab Erfan segera berbalik dan berdiri menghadap kompor.
"Ini sudah bisa di balik ya Ra?" tanya Erfan melihat gorengan Ayam yang sudah kecoklatan.
"Iya Mas, Mas Erfan balik sekarang." Jawab Dara masih berdiri menjauhi Erfan, seakan tidak percaya kalau Erfan bisa mengatasi semuanya.
"Astaga.....ayo dong kenapa susah sekali sih...." Gumam Erfan berusaha membalik gorengan ayamnya, sebelum....
"Aaa.."
"Aaaaa....."
Teriak Erfan menghindari letupan minyak panas yang terbang tinggi hampir mengenai tubuhnya.
Membuat Dara tertawa dan segera melangkah mendekati suaminya.
"Mas Erfan bener-bener hebat ..."Sindir Dara tertawa, mengambil alih kembali Sutil di tangan suaminya untuk mengambil alih lagi tugas menggorengnya.
"Kenapa minyaknya meletup-letup sih Ra?" protes Erfan berdiri di belakang istrinya, memperhatikan Dara yang dengan mudahnya membalik ayam di atas wajan.
"Minyaknya mungkin marah karena di buat mainan sama Mas Erfan." Jawab Dara asal kembali terkekeh.
"Bener-bener nggak bakat aku jadi koki," ucap Erfan memeluk istrinya dari belakang, mengecup lembut leher Dara yang terbuka membuat istrinya menggeliat menahan geli.
"Ihhh...aku lagi masak Mas, geli tahu.." Protes Dara mengangkat ayam dari penggorengan.
"Tolong ambilin piring itu dong Mas," ucap Dara lagi menunjuk piring saji yang ada di dalam rak piring.
"Ini?" tanya Erfan memastikan, yang di jawab dengan anggukan kepala oleh istrinya.
__ADS_1
"Oke siap! ayo makan Mas," ucap Dara setelah meletakkan ayam gorengnya di atas piring saji, untuk segera dibawanya ke meja makan.
"Hembbbb," Dara menutup mulutnya saat dirinya merasa mual karena bau ayam goreng matang yang di bawanya.
"Kenapa Ra?" tanya Erfan panik, mengambil alih piring di tangan Dara sebelum mengelus lembut punggung istrinya.
"Hemmmbbb," rasa mualnya kembali menyerang, Dara segera berlari menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tamu, di ikuti dengan Erfan yang berlari di belakangnya.
"Hoeeekkkk..."
"Hoekkk...."
Dara memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.
"Kamu nggak papa Ra?" tanya Erfan semakin panik, mengelus lembut punggung istrinya yang sedang jongkok di depan kloset kamar mandinya.
"Nggak papa Mas, wanita hamil sudah biasa kayak begini." jawab Dara sebelum berdiri dan mencuci wajahnya dengan air di wastafel.
"Aku juga bacanya gitu Ra, tapi tetap saja aku...." Ucap Erfan terpotong saat istrinya kembali jongkok di depan kloset, memuntahkan lagi isi perutnya yang belum terisi.
dengan lembut Erfan terus mengelus punggung istrinya, wajah tenangnya sudah di penuhi dengan kekhawatiran.
"Sudah?" tanya Erfan lembut saat rasa mual Dara berhenti dan di jawab dengan anggukan kepala istrinya.
"Aku buatin teh hangat dulu ya? kamu mau makan apa? ayam goreng tadi apa beli yang lainnya?" tanya Erfan lembut menggenggam tangan isterinya.
"Makan masakanku tadi Mas, tapi Dinginin dulu,"
Erfan menganggukkan kepala pelan sebelum berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kamar menuju dapur.
Sepuluh menit berlalu, Erfan kembali masuk kedalam kamar, dengan membawa sepiring nasi dan teh hangat buatannya di atas nampan untuk menu sarapan istrinya.
"Bangun dulu Ra, makan dulu ya?" ucap Erfan lembut kepada istrinya.
Erfan membantu istrinya meminum teh hangat buatannya, sebelum dengan telaten nya menyuapkan beberapa sendok nasi beserta lauk kepada istrinya.
Hanya empat sendok, Dara sudah menggelengkan kepalanya, dan Erfan hanya menganggukkan kepalanya pelan, karena menurut artikel yang dibaca kemarin istrinya tidak boleh makan terlalu banyak karena bisa memicu muntahnya kembali.
Makan sedikit tapi sering, kalimat itu yang membuat Erfan membiarkan istrinya kembali berbaring tak menghabiskan sisa nasi yang sudah di siapkannya.
"Aku mandi dulu ya Ra? setelah itu kita pergi ke Dokter."
Dara menganggukkan kepalanya pelan tetap memejamkan matanya di bawah selimut, "Aku mau tidur sebentar Mas, baru mandi."
__ADS_1
"Iya," jawab Erfan sebelum berdiri dari duduknya, mengecup lembut kening istrinya sebelum keluar kamar membawa nampan dan piring bekas makan istrinya.
Satu jam berlalu, Erfan sudah siap dengan pakaian kerjanya, duduk di tepi ranjang kamarnya di lantai dua menunggu istrinya yang sedang bersolek di meja rias.
"Ayo Mas," ucap Dara berdiri dari duduknya.
"Sudah?" tanya Erfan ikut berdiri yang di jawab dengan anggukan kepala istrinya.
Erfan segera menggandeng tangan istrinya untuk melangkah keluar dari dalam kamar.
"Hari ini aku harus ke kantor, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, setelah dari rumah sakit, aku akan mengantarkanmu ke rumah Orang tuamu, kamu bisa istirahat disana selama aku bekerja, dan aku akan segera mencarikan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaanmu di rumah." Ucap Erfan runtut yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh istrinya.
"Kamu pusing?" tanya Erfan tetap melangkahkan kaki keluar dari rumah.
"Nggak Mas," jawab Dara singkat memberikan seulas senyum menatap suaminya.
Tiga puluh menit berlalu, mobil Erfan sudah berbelok masuk ke dalam halaman parkir rumah sakit.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan Baik, Erfan segera turun dari mobil dan menggandeng kembali tangan istrinya untuk memasuki pintu utama rumah sakit.
Seperti biasanya, pasangan suami istri itu langsung duduk di kursi tunggu menunggu panggilan nomor yang sudah dia ambil dari penggambilan nomor secara online.
Sepuluh menit mereka habiskan untuk menunggu antrian nomor, dan lima belas menit yang mereka habiskan untuk menunggu di depan poly kandungan setelah nama Dara di panggil perawat untuk melakukan cek tensi darah, timbang berat badan dan tinggi badannya.
Nama Ny. Adara jelita kembali dipanggil perawat yang bertugas di depan poly, kini waktunya pasangan suami istri itu melangkah masuk untuk bertemu Dokter Nisa, dokter yang sudah berjasa dalam membantu program kehamilan Dara.
Setelah melakukan sesi tanya jawab seputar terakhir masa haid dan keluhan apa saja yang di rasakannya, Dokter Nisa segera mengarahkan Dara untuk melakukan USG.
Sesuai dengan arahan dari Dokter Nisa, Dara segera berbaring di ranjang tempat dia bisa melakukan USG, di temani Erfan yang berdiri di samping kirinya.
"Janinnya baru empat Minggu, Pak, Bu," ucap Dokter Nisa meemperhatikan layar yang ada di depannya, dengan tangan kanannya yang sedikit bergerak memegang alat di atas perut Dara yang sudah diolesi gel dingin.
"Mana bayi kita Dok?" tanya Erfan antusias mengalihkan pandangan Dokter Nisa kepadanya sebelum kembali menatap layar.
"Warna hitam ini kantung cairan ketuban yang melindungi bayinya Pak, dan titik putih di dalamnya ini calon bayi Bapak sama Ibu, masih sebesar biji kacang hijau." Jawab Dokter Nisa menunjuk layar yang ada didepannya sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke arah Erfan dan Dara yang terlihat semringah."
Bersambung.
________________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.
Dan...silahkan mampir ke karya author yang ke dua ya...... "AIR MATA PERNIKAHAN SIRI"
__ADS_1