
Setelah menyelesaikan makan malamnya Dara segera masuk kedalam kamar sambil membawa sebungkus bubur ayam untuk suaminya.
Cklek Dara membuka pintu kamar, terdiam sesaat dibalik pintu saat manik matanya menatap Erfan yang tertidur pulas diatas ranjang. Dara segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, berjalan mendekati ranjang sebelum meletakkan sebungkus bubur yang dibawanya diatas nakas.
Dara duduk ditepi ranjang disamping Erfan, menatap lekat wajah tampan suaminya yang terlihat tenang didalam lelapnya.
Hatinya terenyuh hingga mengeluarkan butiran bening yang keluar dari sudut matanya, menghilangkan rasa marah yang tadi sempat bersarang dihatinya, menyesali setiap kalimat yang tadi diucapkannya, menyesali nada tinggi yang sempat terlontar untuk suaminya.
Dara mengulurkan tangan kanannya ke depan, menyentuh pipi suaminya dengan pelan sebelum menggerakkan jari jari lentiknya, membelai lembut wajah laki-laki yang berkali kali dia sakiti perasaannya. "Maafkan aku Mas, sebagai istri aku masih terlalu bodoh, belum mampu menjaga perasaan kamu." Batin Dara.
Dara segera menghapus sisa air matanya yang sudah jatuh menetes ke atas kasur, saat melihat wajah suaminya sedikit bergerak karena belaian lembut dari tangannya. "Makan dulu ya Mas?" ucap Dara lembut setelah melihat Erfan membuka perlahan kelopak matanya.
Erfan menatap Dara sesaat sebelum menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari tidurnya, menyandarkan kepalanya diranjang dengan kaki yang diselonjorkan ke depan sebelum menatap kembali Dara yang sedari tadi menatapnya.
"Makan dulu Mas," ucap Dara lagi mengambil bubur ayam yang ada diatas nakas.
Erfan segera memakan makanannya setelah mengambil alih bubur dari tangan istrinya, diam membisu, hanya menikmati tiap suapan bubur yang masuk ke dalam mulutnya.
"Bagaimana caraku meminta maaf sekarang?" Batin Dara menatap lekat suaminya yang sedang menunduk menikmati makanannya.
"Jangan menatapku seperti itu, langsung katakan saja apa yang ingin kamu katakan!" Ucap Erfan mengalihkan pandangannya menatap Dara sambil mengunyah makanannya.
Dara menghela nafas sebentar sebelum membuka suaranya, "Aku....aku....." ucap Dara terbata barusaha menata hatinya.
"Aku apa?" potong Erfan tidak sabar dengan kalimat Dara.
"Aku....mau tanya kita pulang jam berapa?" ucap Dara.
"Aku minta maaf Mas," ucap Dara dalam hati,
"Terserah kamu." jawab Erfan datar mengalihkan pandangannya dari Dara. kembali menikmati makanan yang ada ditangannya.
"Aku ingin menginap semalam disini Mas, besok kita pulang pagi-pagi sekali, bagaimana menurut Mas Erfan?"
"Terserah kamu, aku mau ke kamar mandi dulu." Ucap Erfan turun dari ranjangnya, meletakkan bungkus buburnya yang tinggal setengah diatas nakas.
"Kok nggak dihabisin Mas buburnya?"
"Kenyang," jawab Erfan berlalu meninggalkan Dara.
Dara menghela nafas menatap sendu punggung suaminya yang menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Sepuluh menit berlalu..
Erfan keluar dari kamar mandi, dan Dara masih setia duduk ditempatnya tadi.
"Sampai kapan kamu duduk disitu? apa kamu nggak ingin tidur? tanya Erfan berjalan menuju ranjang.
Dara menggelengkan kepala pelan menatap suaminya, berusaha menata hatinya lagi agar lebih berani untuk mengucapkan kata maaf.
Dara berdiri dari duduknya sebelum melangkahkan kakinya gontai mendekati Erfan.
"Ada apa?" tanya Erfan mulai bingung dengan sikap istrinya.
__ADS_1
Dara diam tak bersuara, berhenti sejenak sebelum berhambur memeluk Erfan yang sudah berdiri didepannya. "Apa aku masih bisa dimaafkan Mas?" ucap Dara didalam pelukan Erfan.
"Kenapa nggak bisa?" jawab Erfan bingung sebelum membalas pelukan istrinya
"Baru kemarin aku meminta maaf, tapi sekarang aku sudah melakukan kesalahan yang sama lagi," ucap Dara menangis.
"Apa kamu sudah bisa mengerti perasaanku Ra? Bagaimana rasanya jika berada diposisiku?" tanya Erfan membelai lembut kepala Dara.
Dara menganggukkan kepalanya pelan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku minta maaf Mas, sungguh aku belum bisa menjadi istri yang baik buat Mas Erfan.
"Aku juga belum bisa menjadi suami yang baik Ra, aku masih belum bisa mengendalikan emosiku, terutama kalimatku saat marah, aku minta maaf,"
"Apa Mas Erfan memaafkan aku?" tanya Dara menarik kepalanya menatap Erfan dengan tetap melingkarkan tangannya dipinggang suaminya.
"Bagaimana bisa aku nggak memaafkan kamu Ra?" ucap Erfan sebelum memindahkan tangan kanannya ke tengkuk Dara, dengan perlahan mendekatkan wajahnya mendekati wajah istrinya, untuk mempertemukan bibirnya dengan bibir istrinya. M*lum*tnya lembut dan semakin memperdalam ciumannya disaat Dara mulai berhasil mengikuti irama ciumannya.
***
Pagi hari setelah sholat Subuh Dara dan Erfan pamit kepada orang tua dan adiknya untuk pulang kembali ke rumah mertuanya, melakukan aktifitasnya kembali sebagai Pimpinan dan Secretaris Di perusahaan.
Mandi bersama saling menggoda dengan tawa yang keluar dari bibir keduanya sangat bisa menghilangkan atmosfer dingin yang sempat tercipta diantara keduanya, menggantinya dengan moment yang penuh kehangatan, membuat rasa cinta keduanya yang sudah besar semakin tumbuh membesar.
"Sepertinya aku harus cari Secretaris tambahan Ra," Ucap Erfan masih fokus dengan stirnya, saat perjalanan mereka menuju kantor.
"Kenapa Mas?" tanya Dara bingung menatap suaminya. "Apa pekerjaanku kurang maksimal diPerusahaan?"
"Bukan seperti itu Ra, selain bisa meringankan pekerjaan kamu, aku juga butuh seseorang yang bisa menghandle pekerjaanku saat aku dan kamu cuti, aku nggak enak kalau minta tolong sama Nathan terus, bisa-bisa minta resign dia," ucap Erfan terkekeh.
"Ngapain kita cuti?" tanya Dara semakin bingung.
Dara tertawa mengikuti tawa suaminya, "Ya terserah Mas Erfan aja, laki-laki atau perempuan Secretarisnya?" tanya Dara kembali menatap Erfan.
"Perempuan lah Ra,"
"Kok perempuan sih Mas? Mas Erfan suka ya dekat-dekat dengan perempuan lain?" ucap Dara memanyunkan bibirnya.
"Kok gitu?" tanya Erfan sekilas melirik Dara.
"Laki-laki aja Mas, aku nggak akan khawatir saat melihat Mas Erfan berinteraksi dengan Secretaris baru."
"Aku yang khawatir kalau Secretarisnya laki-laki Ra, dia kan lebih sering berinteraksi sama kamu daripada sama aku."
"Benar juga ya?" ucap Dara terkekeh.
"Kalau gitu cari Secretaris yang cantiknya nggak melebihi kecantikanku Mas!"
"Nggak ada yang bisa melebihi kecantikan kamu Sayang," ucap Erfan membelai lembut puncak kepala Dara," dimataku kamu yang paling cantik." Tambah Erfan lagi membuat Dara tertawa.
"Kok tertawa sih?"
"Aku geli tahu dengar ucapan kamu Mas, hahaha,"
***
__ADS_1
Di Perusahaan
Dara memasuki ruangan Erfan sambil membawa nampan yang berisi segelas air putih hangat untuk Erfan yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
"Diminum dulu Mas," ucap Dara meletakkan nampannya diatas meja.
"Kok air putih Ra? kopinya mana?" tanya Erfan setelah menutup berkas yang pegangnya.
"Kopinya cuti dulu, sekarang minum air hangat dulu Mas."
Erfan mengerucutkan bibirnya sebelum mengambil alih air putih yang sudah Dara sodorkan didepannya.
"Kalau air putih mah banyak Ra disini," ucap Erfan melirik dispenser yang ada disudut ruangannya.
"Ini beda Mas, air putih ini pakai cinta dari aku Adara jelita untuk suamiku Erfan Pratama." Ucap Dara membuat Erfan terkekeh.
"Kamu nggak geli ngomong begitu?" tanya Erfan disela-sela tawanya.
"Geli sih hahaha," jawab Dara tertawa.
"Kamu sudah Bilang ke Pak Irwan belum soal Secretaris barunya?" tanya Erfan setelah menghabiskan air minumnya.
"Sudah," ucap Dara sambil duduk dikursi depan Erfan.
"Ngapain kamu duduk disitu?" tanya Erfan membuat Dara bingung.
"Sini duduk sini," ucap Erfan menepuk pahanya setelah mendorong kursinya kebelakang.
"Ih, ini kantor Mas,"
"Nggak papa Ra, kan nggak ada orang disini, nggak akan ada yang berani masuk keruanganku.
Dara menoleh ke arah pintu sebelum mendekati tempat duduk Erfan, dengan cepat Erfan menarik tangan Dara hingga membuat istrinya jatuh diatas pangkuannya.
"Aku kangen sekali sama kamu Ra...." ucap Erfan memeluk Erat perut Dara, menempelkan kepalanya didada Dara, hingga menciptakan seulas senyum dibibir istrinya.
"Kangen gimana Mas? kita kan ketemu terus?"
"Akhir-akhir ini kita kan sering sekali bertengkar Ra, aku kangen saat-saat manis seperti ini." Ucap Erfan sedikit mendongakkan kepalanya menatap Dara.
Dara tersenyum membelai lembut pipi Erfan sebelum mencakup kedua pipi laki-laki yang sedang ingin bermanja dengannya, hingga membuat bibir suaminya maju kedepan. "Aku juga kangen sikap manja kamu yang seperti ini Mas," ucap Dara menatap dalam manik mata Erfan sebelum mendaratkan kecupan bibirnya dibibir suaminya.
"Apa kamu sedang berusaha menggoda atasan kamu sekarang Ra?" goda Erfan menjauhkan wajahnya dari wajah istrinya.
"Cih" dengus Dara tertawa membuang pandangannya kesembarang arah.
Dengan gerakan lembut Erfan menarik dagu Dara agar lebih mendekat ke arahnya, menyentuh tengkuk Dara dengan tangan kanannya bersiap untuk m****** habis bibir merah istrinya.
Dara membuka sedikit mulutnya untuk menyambut kedatangan bibir Erfan yang tinggal beberapa cm lagi sudah mendarat indah dibibirnya.
"Fan." panggil Nathan dengan nada tingginya yang tiba-tiba masuk membuat Dara terkejut dan melompat dari pangkuan Erfan.
"Astaghfirullah...." ucap Nathan terkejut membalikkan badannya cepat.
__ADS_1
_________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up..