
"Aku akan mengirim semua fotonya sekarang Bos," Jawab Fatir dari dalam ponsel.
"Oke," ucap Erfan sebelum memutus panggilan teleponnya.
Hanya butuh waktu beberapa menit, Puluhan Foto pertemuan Rania dengan semua orang yang dia temui masuk ke dalam pesan WA Erfan yang di kirim Fatir.
Belum sempat Erfan membukanya tiba-tiba.....
"Apa kamu sudah benar-benar melupakan Papamu Fan?" Teriak Pak Subrata membuka pintu ruangan Erfan, membuat anaknya terkejut mengarahkan pandangan ke arahnya.
"Ha? kenapa sih Pa? datang-datang kok marah-marah?" Protes Erfan berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya menghampiri Papanya.
"Kok Papa disini?" tanya Erfan lagi berdiri di depan Papanya.
"Kamu itu ya????" ucap Pak Subrata menggantung menatap Erfan.
"Ahh...jengkel Papa sama kamu!" ucap Pak Subrata lagi membuang wajahnya ke sembarang arah sebelum melangkahkan kakinya untuk duduk di atas sofa.
"Kenapa sih Pa?" tanya Erfan tak mengerti dengan sikap Papanya, ikut melangkahkan kakinya duduk di atas sofa sebelah Pak Subrata.
Ctakkkk "Auuu..." pekik Erfan menyentuh reflek Dahinya yang di sentil Pak Subrata.
"Kenapa sih Pa?" protes Erfan menatap Papanya.
"Bagaimana bisa kamu nggak ngasih tahu Papa kalau istrimu hamil? apa kamu sudah lupa kalau masih punya Papa? gila kamu ya?" Omel Pak Subrata runtut membuat Erfan terdiam menahan tawanya.
"Berani kamu tertawa Papa jambak rambut kamu!" Omel Pak Subrata lagi menahan rasa kesalnya.
"Tanpa Erfan kasih tahu juga Papa sudah tahu Pa...!" Jawab Erfan terkekeh.
Ctakkkk "Au.." Pekik Erfan kembali mendapat sentilan Papanya.
"Sakit Pa..." Protes Erfan kembali menyentuh keningnya menatap Pak Subrata.
"Anak durhaka kamu ya...."
"Hahaha.... Baru juga kemarin kami tahunya Pa, tadi pagi baru periksa ke rumah sakit, jadi belum sempat ngasih tahu Papa!"
"Sudah berapa bulan calon cucu Papa?" tanya Pak Subrata sumringah melupakan rasa kesalnya.
"Baru empat minggu, Papa tahu dari mana kalau Dara hamil?"
"Dari mertua kamu, tadi Herman telepon Papa, menceritakan kehamilan istri kamu."
__ADS_1
"Hanya karena itu Papa langsung kesini? kenapa nggak telepon Erfan aja?"
"Kalau lewat telepon Papa nggak bisa nyentil kepalamu," jawab Pak Subrata membuat Erfan kembali tertawa.
"Sebentar Pa," ucap Erfan berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya ke arah meja kerjanya, untuk mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"Mau telepon siapa Fan?" tanya Pak Subrata memandang anaknya yang sedang menggeser-geser layar ponsel.
"Mau cari tahu siapa dalang di balik penyeranganku kemarin Pa," ucap Erfan menoleh ke arah papanya, sebelum melangkahkan kakinya lagi untuk duduk di sebelah Pak Subrata.
"Sudah ketemu orangnya?" tanya Pak Subrata ikut melihat foto yang ada di layar ponsel anaknya, sebelum mengalihkan kembali pandangannya menatap Erfan.
"Kok foto Rania?"
"Aku sudah curiga sama dia Pa, aku suruh orang untuk mengikuti setiap aktifitas dia," jawab Erfan tetap fokus dengan layar ponselnya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Pak Subrata yang terlihat bingung.
"Dan ini foto-foto Rania dengan semua orang yang sudah dia temui," ucap Erfan lagi kembali mengalihkan pandangannya ke arah layar.
Erfan menggeser-geser layarnya ke atas untuk melihat satu persatu foto dari sekian banyak foto yang di kirim Fatir.
Hingga sampai pada foto ke tujuh, Erfan mengepalkan tangan kirinya yang berada di atas pangkuannya, mengeratkan giginya menahan rasa marah yang mulai menguasai dirinya.
"Kenapa Fan? kamu kenal sama orang yang ada di foto ini?" tanya Pak Subrata saat melihat foto Rania dengan ekspresi marahnya berdiri di depan dua orang yang sudah menyerang Erfan.
"Ini dua orang yang menyerangku Pa!" jawab Erfan menatap papanya.
"Mereka suruhan Rania." jawab Erfan membuat Papanya terdiam.
"Dia belum berubah," Ucap Pak Subrata lirih dengan rasa shocknya.
"Dia nggak akan pernah berubah Pa," ucap Erfan kembali menggeser-geser layar ponselnya, melihat lagi foto-foto yang lainnya.
"Cindy?" gumam Erfan lirih saat melihat foto Rania bersama Cindy yang sedang duduk bersama di dalam kafe.
Erfan membesarkan foto yang dilihatnya, saat pandangannya tertuju pada amplop putih dengan kop surat rumah sakit yang dikenalnya ada di tangan Rania.
"Bukankah ini......kenapa bisa? apa jangan jangan....." gumam Erfan lirih sebelum berdiri dari sofa.
"Sebentar Pa," ucap Erfan melangkah mendekati meja kerjanya untuk menekan salah satu tombol telepon yang akan menyambungkanya dengan Pak Irwan.
"Pak tolong ke ruanganku sekarang ya?" ucap Erfan sebelum memutus panggilan intercomnya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari ruangan Erfan. "Masuk," Jawab Erfan.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka, menampakkan Pak Irwan yang sedang berdiri di balik pintu sebelum melangkah mendekati Erfan yang sedang berdiri bersandar di meja kerjanya.
"Mengenai Cindy....apa dia pelamar kerja sama seperti yang lainnya? atau ada yang merekomendasikannya Pak?" tanya Erfan langsung.
"Cindy?" bukan kah dia...?" gumam Pak Subrata menggantung saat mendengar percakapan anaknya.
"Karena rekomendasi Pak, dari Pak Subrata," jawab Pak Irwan membuat Erfan tersentak menatap papanya yang sedang menatapnya, sebelum mengalihkan kembali pandangannya ke arah Pak Irwan yang masih berdiri di depannya.
"Pak Irwan boleh pergi, terimakasih."
"Saya permisi Pak," Pamit Pak Irwan kepada Erfan, sebelum menganggukkan kepalanya pelan memandang Pak Subrata yang masih duduk di atas sofa.
"Memang Papa yang merekomendasikan dia, ada apa?" tanya Pak Subrata bingung menatap Erfan yang hendak duduk di kursi kebesarannya.
"Apa Papa mengenalnya?"
"Papa dapat rekomendasi dari Rania, dia bilang ada temannya yang sedang membutuhkan pekerjaan."
Erfan menghela nafas mendengar jawaban Papanya, "Kenapa Papa nggak bilang sama aku sih?" tanya Erfan menahan rasa kesalnya.
"Bagaimana Papa bisa merekomendasikan orang suruhan Rania untuk jadi sekretarisku sih Pa?" tanya Erfan lagi sebelum...
"Aaaahhhh," Erfan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa dia juga bermasalah?" tanya Pak Subrata berdiri menghampiri anaknya.
"Apa Papa tahu? karena ulah Cindy aku jadi sangat frustasi karena mengira kalau aku ini mandul, aku hampir berpisah sama Dara, dan karena itu juga Papa Mertuaku.....," Ucap Erfan menggantung.
"Papa mertuaku jadi sedih karena takut nggak punya cucu!" omel Erfan melampiaskan rasa kesalnya menatap Pak Subrata yang sudah duduk di seberangnya.
Masih setia dengan ekspresi bingungnya, Pak Subrata balik menatap anaknya. "Bisa kamu jelaskan semuanya ke Papa? bagaimana bisa kamu mandul? Dara hamil kan sekarang?"
"Iya...karena Cindy sudah memalsukan hasil tes kesuburanku," jawab Erfan sebelum menunjukkan foto Rania dan Cindy yang ada di dalam ponselnya.
"Papa lihat amplop yang di pegang Rania ini? ini hasil tes kesuburanku yang asli, karena Nathan sudah kerumah sakit untuk mengecek hasil tes yang diberikan kepadaku itu palsu," ucap Erfan lagi menunjuk foto yang ada di layar ponselnya.
"Dan otak dari semuanya itu Rania Pa...Rania...." Teriak Erfan semakin emosi menatap Papanya yang terlihat shock dengan kebenaran yang baru saja di katakannya.
"Bagaimana...bagaimana bisa...??" ucap Pak Subrata dalam rasa terkejutnya, saat mengetahui anak sahabatnya yang dia kira sudah berubah, yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri, dengan tega melakukan hal buruk kepada anak kandungnya sendiri.
Bersambung
_____________________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.
Dan...silahkan mampir ke karya author yang ke dua ya...... "AIR MATA PERNIKAHAN SIRI"