Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 81. Gangguan Dari Cindy


__ADS_3

Hujan rintik yang ada di luar rumah kini sudah berubah menjadi hujan yang sangat deras, membuat suhu kamar yang tadinya sudah dingin karena AC menjadi semakin dingin, seakan sedang mendukung hubungan pasangan suami istri yang sedang berbaring bersama di atas ranjang itu agar semakin intim.


Erfan memiringkan badannya menghadap Dara, melepaskan masker yang menempel di wajahnya kemudian melemparkannya ke sembarang arah sebelum mengarahkan tangannya ke wajah Dara, untuk membelai lembut wajah istrinya.


"Kamu sudah sangat cantik walaupun tanpa masker Sayang," ucap Erfan lirih sebelum menarik pelan masker yang menempel di wajah istrinya dan melemparkannya lagi ke sembarang arah.


Erfan menggerakkan kepalanya lebih mendekati wajah Dara, melingkarkan tangannya dipinggang Dara sebelum menarik tubuh istrinya agar lebih mendekati tubuhnya.


Saling beradu tatap dengan mata indah Dara sungguh membuat Erfan semakin bergairah, menelan salivanya pelan sebelum menempelkan bibir tebalnya dengan bibir Dara yang terlihat kemerahan, m*lumatnya lembut menikmati tektur lembut yang selalu membuatnya ketagihan.


Dara berusaha mengimbangi ciuman suaminya, dari ciuman lembut Erfan hingga ciuman yang semakin panas sudah tak membuat Dara kuwalahan karena seringnya sang suami meminta jatahnya.


Energi dari dalam tubuh Erfan terasa semakin membesar, gairah yang tadinya hanya setengah sekarang sudah terasa penuh seakan mendorongnya untuk melakukan lebih dari sekedar ciuman.


Erfan mengangkat tubuhnya, memposisikan dirinya berada di atas tubuh Dara, semakin memanaskan ciumannya sebelum menurunkan ciuman bibirnya ke bawah untuk menjelajahi setiap inci leher putih istrinya.


Dara memejamkan matanya menikmati setiap *sapan bibir Erfan di lehernya, menggerakkan kepalanya melawan arah gerakan kepala suaminya agar suaminya bisa melakukan aktifitasnya dengan leluasa.


Gairah dari keduanya semakin meninggi, rasa ingin melakukan permainan yang lebih dari ini menjadi semakin membesar hingga membuat tangan kekar Erfan mulai menyusup ke dalam baju tidur Dara yang mulai terlihat sedikit kusut.


Ting tung ting tung suara bel rumah mereka berbunyi, membuat Dara membuka matanya yang terpejam menatap Erfan yang sudah menghentikan pergerakan bibir dan tangannya dengan raut wajahnya yang terlihat kesal masih berada di atas dirinya.


"Ada tamu Mas," ucap Dara setelah melepaskan tautan bibirnya dengan bibir suaminya.


"Biarin sajalah," ucap Erfan kesal ingin kembali mencium bibir istrinya.


Ting tung Ting tung suara bel pintu terdengar kembali.


"Aaaahhhh," teriak Erfan semakin kesal sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Aku lihat dulu ya Mas?" ucap Dara segera duduk dari tidurnya kemudian merapikan kunciran rambut dan baju tidurnya yang sudah berantakan.


Erfan diam tak menjawab, memejamkan matanya berusaha keras menekan energi yang sudah terlanjur membesar, hingga membuat nafasnya memburu tak beraturan.


"Mas..." Panggil Dara menggoyangkan pelan paha suaminya.


Erfan membuka matanya perlahan sebelum menganggukkan kepalanya lemah menatap Dara.


Dara segera turun dari ranjang, keluar kamarnya untuk menuruni anak tangga sebelum melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


Ting tung Ting tung suara bel kembali terdengar.


"Iya sebentar," ucap Dara sedikit berteriak semakin mempercepat langkahnya untuk membuka pintu.


Cklek Dara membuka pintu utama.


"Cindy? ucap Dara terkejut saat melihat teman kerjanya itu dengan kondisi basah kuyup sedang berdiri di depan pintunya sambil menyendekapkan tangannya di atas dada dengan tubuh yang menggigil berusaha menahan rasa dinginnya.


"Kenapa kamu bisa basah kuyup seperti ini?" tanya Dara khawatir mendekati Cindy.


"Ayo masuk," ucap Dara merangkul pundak Cindy, segera menuntunnya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Aku basah semua Ra, nanti sofa kamu basah." Ucap Cindy menahan tubuhnya yang akan di arahkan Dara untuk duduk di atas sofa.


"Nggak papa Cin, masalah sofa nanti bisa di keringkan," jawab Dara kembali menuntun Cindy dan menudukkanya di atas sofa.


"Sebentar ya? aku ambilkan bajuku dulu, biar kamu bisa mengganti pakaian kamu." Ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Setelah memastikan kepergian Dara, Cindy segera menurunkan tangannya yang sedari tadi bersendekap di atas dadanya, meregangkan kedua tangannya ke depan sebelum memijit kedua lengannya bergantian. "Capek juga kalau harus akting kedinginan seperti ini." ucap Cindy dengan seulas senyum liciknya.


***


Flashback


Taksi yang Cindy tumpangi berhenti tepat di depan pagar rumah Erfan dan Dara.


"Terimakasih Pak, kembaliannya ambil saja," ucap Cindy memberikan satu lembar uang berwarna merah kepada supir taksi.


"Terimakasih Nona, tapi diluar Hujan deras, saya ada payung, silahkan dipakai dulu," ucap Supir paruh baya menoleh ke belakang menatap Cindy.


"Nggak usah Pak, terimakasih, tugas ini mengharuskan saya untuk hujan-hujan." jawab Cindy dengan senyum liciknya saat melihat rumah Dara dan Erfan dari balik kaca pintu taksi.


"Terimakasih Pak," ucap Cindy lagi segera turun dari taksi, mengacuhkan mimik wajah supir taksi yang terlihat bingung dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan.


Cindy berdiri ditengah tengah hujan, membentangkan kedua tangannya kesamping sebelum memutarkan tubuhnya pelan dengan posisi kepala menghadap ke atas langit, membiarkan air hujan jatuh dan membasahi seluruh tubuhnya hingga tidak menyisakan sedikitpun bagian tubuh yang kering.


Setelah memastikan tubuhnya basah kuyup Cindy segera memasuki pintu gerbang Erfan yang tidak terkunci sebelum melangkahkan kakinya kembali menuju pintu utama.


Flashback selesai.


***


"Kenapa baju kamu basah begitu?" tanyanya lagi berdiri dari duduknya, menghampiri Dara yang berjalan menuju almari.


"Yang datang Cindy Mas, bajunya basah kuyup kena air hujan, jadi aku meminjamkan bajuku untuk dia ganti baju." Jawab Dara mengambil salah satu kaos lengan panjangnya beserta celana jeansnya. Tidak lupa dengan perangkatnya yang masih baru, belum pernah dia pakai.


"Cindy? ngapain dia ke sini?" tanya Erfan bingung.


"Aku juga nggak tau Mas, aku belum tanya tadi." jawab Dara menatap Erfan.


"Ayo turun dulu Mas," ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya kembali keluar dari kamar.


Erfan menganggukkan kepalanya pelan sebelum mengikuti langkah Dara untuk keluar dari kamar.


Sedangkan di ruang tamu terlihat Cindy yang sedang mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut ruang tamu, hingga pandangannya berhenti pada sebuah foto kebersamaan Dara dan Erfan yang ada di dalam pigora besar bermotif bunga yang sedang menggantung di dinding sisi kiri ruang tamu.


Cindy segera berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya untuk mendekati foto yang dilihatnya sebelum mencebikkan bibirnya, "Bagaimana kamu bisa tersenyum seperti itu Ra? saat Dewi penyelamatku merasa patah hati dan bersedih karena kamu yang sudah berhasil merebut Erfan laki-laki pujaannya?" gumam Cindy pelan menatap foto Dara yang ada di depannya dengan tatapan kebenciannya.


"Cin!" panggil Dara sudah berdiri di belakang Cindy membuat Cindy terkejut dan segera mengalihkan pandangannya menatap Dara.


"Sejak kapan dia berdiri disini? apa dia mendengar ucapanku barusan?" tanya Cindy dalam hati menatap Dara yang sedang menatapmya.


"Aku bawain bajuku Cin, kamu ganti baju dulu ya?" ucap Dara dengan seulas senyumnya menatap Cindy, "kamu bisa ganti pakaian di kamar tamu, atau sekalian mandi juga nggak papa." Ucap Dara memberikan baju yang baru saja dia ambil setelah menunjuk kamar tamu yang letaknya tidak jauh dengan ruang tamu.

__ADS_1


"Terimakasih Ra," jawab Cindy mengambil alih baju dari tangan Dara, "Sepertinya dia tidak mendengarnya." Batin Cindy dengan perasaan leganya melangkahkan kakinya menuju kamar tamu.


"Permisi Pak," ucap Cindy sopan menganggukkan kepalanya pelan saat melihat ke arah Erfan yang sedang berjalan mendekati istrinya.


"Kenapa sih dia Ra? kok aneh sekali malam malam kesini dengan kondisi seperti itu?" tanya Erfan melihat ke arah Cindy sebelum mengalihkan pandangannya menatap Dara.


Dara mengangkat kedua bahunya, "Nggak tahu Mas, Mas Erfan bawa ponsel nggak? aku mau pesan makan malam." tanya Dara menatap Erfan.


"Nggak bawa Ra, ada di kamar, "


"Ponselku juga ada di atas ranjang Mas, sebentar ya? aku ambil ponselku dulu ke kamar. mas Erfan mau makan apa?"


"Terserah kamu Ra, kalau bisa yang berkuah,"


Dara menganggukkan kepalanya sebelum melangkahkan kakinya kembali menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamar.


Erfan segera duduk di atas sofa, mengambil majalah yang ada di bawah meja sebelum menyandarkan punggungnya untuk membaca majalah yang baru saja dia ambil.


Cklek, pintu kamar tamu terbuka, menampakkan Cindy yang sudah selesai mengganti pakaiannya, berjalan keluar dari kamar menuju ruang tamu mendekati Erfan.


"Maaf Pak, saya menganggu Pak Erfan malam-malam begini." Ucap Cindy setelah duduk sofa di dekat Erfan.


"Kamu memang sudah sangat mengganggu," jawab Erfan datar tetap membaca majalahnya.


Cindy terdiam sesaat mendengar kalimat atasannya.


"Saya mohon maaf Pak," ucap Cindy lagi.


"Ada keperluan apa kamu datang kesini?" tanya Erfan dengan tatapan dinginnya.


"Maaf Pak, mobil saya mogok saat saya pulang dari kafe yang berada di dalam area perumahan ini, ponsel saya juga mati jadi saya nggak bisa menghubungi siapapun Pak, saat itu saya ingat kalau rumah Dara ada di daerah sini, jadi saya berinisiatif untuk berlari kesini menembus hujan ingin mencari bantuan, karena saya takut sendirian di tengah malam Pak, apalagi hujannya juga sangat Deras, membuat rasa takut saya semakin besar. "Jawab Cindy dengan wajah melasnya.


"Saya minta maaf Pak, saya nggak ada niat untuk menganggu Bapak," ucap Cindy lagi sedikit menundukkan kepalanya tidak menatap Erfan.


"Lupakan saja, kamu nggak perlu meminta maaf," ucap Erfan Datar kembali membaca majalah yang ada di tangannya.


"Maaf Pak," ucap Cindy tiba-tiba berdiri dari duduknya.


Plakk Cindy menepuk pelan nyamuk yang sedang hinggap di pipi putih Erfan, membuat Erfan terkejut dan dengan refleknya menoleh ke arah Cindy, hingga membuat pandangan mereka saling beradu.


"Mas," panggil Dara lirih baru menuruni anak tangga, merasa terkejut dengan posisi tangan Cindy yang menyentuh pipi suaminya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Dara lagi membuat Cindy segera menurunkan tangannya, sedangkan Erfan terlihat gelagapan segera berdiri, merasa cemas dengan kesalah fahaman yang baru saja terjadi.


Bersambung.


********


TOLONG BANTU dan DUKUNG AUTHOR YA? dengan VOTE VOTE VOTE LIKE DAN KOMEN.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2