Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 25. Ketidaksiapan Dara


__ADS_3

Sinar matahari di hari Minggu pagi menyusup melewati jendela kamar Dara yang masih tertutup gorden putih bermotif bunga mawar kesukaannya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, terlihat Erfan masih tertidur pulas di atas ranjang, mungkin karena masa penyembuhan pasca kecelakaan kemarin hingga membuat tubuhnya menuntut lebih banyak istirahat.


Sedangkan Dara terlihat sibuk didapur membantu ibunya memasak untuk menu sarapan.


"Suamimu belum bangun Ra?" tanya Pak Herman yang sedang duduk dimeja makan sambil menikmati secangkir kopi buatan Bu Selfi.


"Belum Yah," jawab Dara sambil mengupas bawang.


"Biarin Yah, mantu kita butuh istrihat yang banyak biar cepat sehat," ucap Bu Selfi menimpali.


Pak Herman mengangguk pelan sambil menyeruput kopinya, "kemarin Ayah sama Ibu telepon mertuamu Ra." Ucap Pak Herman.


Dara menoleh, "Ayah cerita kondisi Mas Erfan?"


"Iya, Mas Subrata harus tahu kondisi anaknya, hari ini mungkin kesini." Ucap Pak Herman menoleh ke arah Dara.


Dara mengangguk pelan dan melanjutkan tugasnya memotong bawang.


"ini Bu bawangnya, aku taruh sini ya?" ucap Dara meletakkan wadah yang berisi irisan bawang di sebelah ibunya.


"Iya, taruh situ aja, kamu lihat suamimu dulu dikamar mungkin sudah bangun dan butuh sesuatu," ucap Bu Selfi sambil memasak.


"Aku tinggal ke kamar dulu ya Bu," ucap Dara berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan dan bergegas meninggalkan Dapur.


"Ra, bawa sekalian buburnya," ucap Bu Selfi menunjuk semangkuk bubur yang ada di meja makan.


"Iya Bu," ucap Dara mengambil bubur dan segelas teh hangat yang tadi dibuatnya dan meletakkanya diatas nampan, kemudian bergegas pergi ke kamarnya.


Dara membuka pintu kamarnya, berjalan masuk, meletakkan nampan diatas nakas, kemudian melangkahkan kakinya menuju jendela kamarnya.


Dibukanya gorden putih bermotif bunga, digeser ke samping kanan dan samping kiri hingga membuat sinar matahari lebih leluasa masuk menembus kaca menyinari kamarnya.


Dara menoleh ke arah Erfan, bibirnya tersenyum saat melihat kepala suaminya yang bergerak pelan karena silau sebelum perlahan membuka kedua matanya.


"Mas Erfan sudah bangun?" ucap Dara tersenyum mendekati Erfan.


Erfan tersenyum dengan muka bantalnya, rambut berantakan tetap membuatnya terlihat tampan.


"Selamat pagi istriku," ucap Erfan berusaha bangun dan duduk bersandar pada sandaran ranjang.


Dara terkekeh sambil duduk ditepi ranjang didepan Erfan.


"Bagaimana keadaanya Mas? masih sakit kepalanya?" tanya Dara sambil menyentuh pelan kepala Erfan.

__ADS_1


Erfan menggeleng, "Sudah lebih baik Ra."


"Aku udah bawain bubur sama teh hangat buat sarapan Mas," ucap Dara sambil menunjuk arah nakas dengan kepalanya.


"Hemmm kelihatannya Enak Ra," ucap Erfan setelah menoleh ke arah nakas.


"Kamu yang buat?"


Dara mengangguk, "bubur spesial untuk suami spesial."


Erfan terkekeh, "Yang dibuat oleh istri spesial," ucap Erfan tersenyum membelai kepala Dara. "Aku mau mandi dulu Ra."


Dara mengangguk kemudian membantu suaminya berdiri, menuntunnya masuk ke kamar mandi yang ada didalam kamar.


"Aku tunggu di luar ya Mas," ucap Dara hendak pergi.


"Kamu tega biarin aku mandi sendiri? nanti kalau aku pingsan disini gimana?" ucap Erfan manja.


"Jangan pingsan dong Mas."


"Makanya mandiin," ucap Erfan semakin manja.


Pipi Dara memerah mendengar kalimat Erfan, perasaan gugup mulai menguasai dirinya.


Dara berdiri menghadap Erfan, perlahan membuka kancing baju batik Erfan yang belum sempat diganti sejak tadi malam.


Dara memulainya dengan membuka kancing baju nomor dua dari atas, kemudian menarik nafas dan menghembuskannya pelan untuk mengatur ritme detak jantungnya agar tetap stabil.


Dara menurunkan lagi tangannya ke bawah untuk membuka kancing ketiga dan keempat hingga menampakkan sebagian otot dada atletis suaminya.


Dara menelan salivanya pelan, "Apa aku yang harus melakukan ini Mas? membuka baju sepertinya nggak akan membuat Mas Erfan pingsan," ucap Dara dengan pipi merona.


"Mungkin aku yang pingsan Mas," batin Dara.


Erfan mengangguk pelan sebelum melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang Dara, "Tinggal beberapa kancing lagi." Goda Erfan sambil menaikkan alisnya.


Dara menggela Nafas pelan sebelum membuka sisa kancing yang ada di bagian bawah, dan membantu melepaskan baju Erfan dengan pelan dan hati-hati.


Bahu lebar, dada bidang dan perut dengan bentuk sempurna suaminya kini terpampang jelas dimatanya, membuat jantungnya berdetak sangat cepat dan tak terkendali, pipinya memerah karena malu.


Dara menundukkan kepalanya membuat Erfan tersenyum.


"Apa kamu malu?" tanya Erfan sambil mengangkat dagu Dara pelan, "baru juga atas Ra, belum sampai yang dibawah." Goda Erfan berbisik pelan ditelinga Dara.

__ADS_1


"Isssss, Mas Erfan ini ngomong apa," ucap Dara mendorong pelan bahu suaminya. Pipinya semakin memerah.


"Udah Mas aku tunggu diluar aja," ucap Dara melangkah pergi, namun langkahnya terhenti ketika Erfan menahan pergelangan tangannya dan menariknya hingga menabrak pelan dada suaminya.


Kini Dara sudah ada dipelukan Erfan, tubuh mereka saling menempel bersamaan dengan mata mereka yang saling beradu.


Erfan memiringkan wajahnya mendekati wajah Dara kemudian mendaratkan lembut bibirnya ke bibir istrinya.


Dara memejamkan matanya menikmati c*uman bibir suaminya, kemudian mengangkat kedua tangannya dan mengalungkannya pada leher Erfan, setelah itu mengikuti irama permainan yang dberikan suaminya.


G*irah semakin membuat Erfan memperdalam c*umannya, tangan yang tadinya di pinggang Dara kini beralih ke kedua pipi istrinya , membiarkan l*dahnya tergelincir masuk ke dalam mulut Dara, memainkan dan melepaskannya ketika paru-paru mereka membutuhkan waktu untuk bernafas.


Erfan mulai menurunkan ciumannya pada leher putih Dara hingga meninggalkan warna merah yang terlihat jelas pada kulit putih istrinya.


"Mas," ucap Dara berusaha melepaskan c*uman dan menahan tangan Erfan yang berada diatas dadanya, karena wajah Dewa tiba-tiba terlintas difikirannya.


"Kenapa?" tanya Erfan menghentikan aksinya, nafasnya masih memburu karena g*irah yang sudah berada diubun-ubun.


"Maaf Mas, aku belum bisa," ucap Dara menangis menundukkan kepala.


Erfan menarik nafas dan menghembuskannya pelan berusaha untuk mengontrol dirinya, setelah itu merengkuh bahu istrinya dan dibawa dalam pelukannya.


"Maaf Ra, maafkan aku, aku nggak bisa mengontrol diriku," ucap Erfan memeluk Dara.


Dara menggeleng pelan dalam pelukan Erfan, "Aku yang harusnya minta maaf Mas, karena belum bisa melakukan kewajibanku." Ucap Dara menangis.


Erfan membelai lembut kepala dan punggung Dara sebelum mendorong pelan tubuh istrinya, "Jangan menangis," ucap Erfan menghapus air mata Dara.


"Aku nggak akan memaksamu, aku akan menunggu sampai kamu sendiri yang memberikannya ke aku." Ucap Erfan lembut sambil menatap Dara.


Dara memeluk tubuh suaminya, "Terimakasih Mas atas pengertian kamu. "


Erfan membalas pelukan istrinya, "Kamu keluar dulu ya, aku mau mandi sebentar." Ucap Erfan sambil melepaskan pelukan Dara.


Dara mengangguk kemudian pergi keluar kamar mandi.


Erfan terdiam melihat kepergian istrinya, setelah itu menyalakan shower dan berdiri dibawah guyuran air showeer untuk menghilangkan g*irah yang sudah menguasai dirinya.


_____________________________________________


Kalau suka dengan karya saya, mohon dukung dengan like,komentar dan favorit ya.....


Terimakasih.....

__ADS_1


__ADS_2