
Dua hari setelah acara pernikahan, Erfan mengajak Dara pindah ke apartemen miliknya yang berada di unit 604 di lantai enam.
Apartemen yang terlihat cukup luas, dengan dua kamar tidur dan juga kamar mandi dalam. Dapur, meja makan, ruang tengah dan juga ruang tamu.
Hingga mempermudah pasangan pengantin baru itu untuk menjaga jarak, tak ingin tidur di dalam satu kamar, dan lebih memilih untuk tidur terpisah.
Erfan di kamar utama, sedangkan Dara, istri yang baru di nikahinya, telah di titahkan nya untuk tidur di kamar tamu.
"Sarapan dulu Mas," ucap Dara, telah menyiapkan sarapan hasil masakannya sendiri di meja makan di pagi hari, beradu pandang dengan Erfan yang terdiam, baru keluar dari kamar tak menjawab tawarannya.
Hanya membisu, dengan tatapan tajam, sudah terlihat rapi dan juga tampan, mengenakan setelan jas kerja berwarna abu-abu. Kembali mengayunkan langkah melewatinya.
"Kamu makan saja, aku nggak lapar,"
"Kenapa nggak lapar? apa kamu sudah makan?" sewot Dara.
Sama sekali tak bisa bersabar dengan sikap dingin suaminya. Yang terus saja mengacuhkan dan tak menghargainya, menghentikan langkah Erfan.
"Sebenci apa kamu sama aku Mas? sebesar apa kebencian kamu sama aku?" lanjut Dara, seraya mengayunkan langkahnya cepat, untuk berdiri di depan suaminya menatap tajam.
"Sungguh Mas! yang terluka di sini itu bukan hanya kamu! tapi juga Aku! aku sangat terluka dengan perjodohan dan pernikahan ini,"
"Tapi kenapa? kenapa sikapmu ini seolah menjadikanku tersangka utama di pernikahan kita?" lanjut Dara, dengan deru nafasnya yang memburu, ingin meluapkan segala rasa kesal yang ada di hati.
Namun sayang, masih tak membuat suaminya itu bersuara, masih membisu menatapnya tajam.
"Kamu nggak ada rasa sama aku kan? oke nggak papa! aku juga nggak ada rasa sama kamu! tapi setidaknya hargai aku, anggap aku, bukan sebagai seorang istri Mas, tapi sebagai teman.
"Kita bisa saling menguatkan kan? selama perjanjian ini berjalan. Karena yang jadi korban di disini itu bukan hanya kamu, tapi juga aku! Aku! Adara Jelita yang telah di paksa menikah dan menjadi istri kamu!" lanjut Dara, semakin emosional, menepuk dadanya kesal.
Sebelum membuang pandangannya ke sembarang arah meraup wajahnya pelan.
"Ya Allah...," dengus Dara, berusaha menahan buliran bening di balik kelopak matanya yang telah berkaca-kaca.
Hanya bisa berusaha menekan rasa kesalnya, kembali bersitatap dengan suaminya.
__ADS_1
"Bisa lunak sedikit nggak sih itu hatinya? sedikit saja! hanya agar aku bisa nyaman tinggal seatap dengan kamu," imbuh Dara
Sebelum tersenyum begitu getirnya, ingin sekali mencabik-cabik wajah dingin yang terus saja membisu, sama sekali tak bersuara untuk menimpali kalimat dan omelannya.
"Bodoh sekali kamu Ra, benar benar bodoh! nggak seharusnya kamu bicara dan meminta sama orang berhati batu Ra." lanjut Dara, semakin mempertajam tatapannya, mengeratkan deretan giginya.
"Ayo makan," kata Erfan akhirnya, masih dengan gurat wajah dinginnya, segera membalikkan badannya untuk melangkah dan duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan.
"Hahaha," tawa getir Dara, hanya bisa menertawakan kehidupan barunya, bersama dengan lelaki yang tak punya hati, menggelengkan kepalan nya.
Akibat rasa marahnya yang membuncah, hanya bisa menutup matanya dalam, mencoba untuk mengontrol perasaannya sendiri, menarik nafasnya panjang, untuk di hembuskannya perlahan.
"Kenapa? ayo makan," kata Erfan.
Namun tak membuat Dara bersuara, sama sekali tak ingin melanjutkan interaksinya, lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar. Meninggalkan suaminya yang terdiam memperhatikan.
***
Drrt drrt drrt
Untuk membuat CV dan juga surat lamaran kerja di perusahaan X, sebuah perusahaan property yang sedang membuka lowongan kerja. Sesuai dengan informasi yang baru di dapatkannya.
"Dewa," gumam Dara, mengulaskan senyum termanisnya, sesaat setelah meraih ponselnya membaca nama kekasihnya.
"Halo Wa,"
"Aku tunggu kamu di apartemenku sekarang Ra!" kata Dewa, dengan nada bicara yang tak sama seperti biasanya, terdengar begitu marah, mengerutkan keningnya.
"Apartemen? sudah pulang? kok nggak ngasih kabar?"
"Kamu yang kesini apa aku yang ke sana ke rumah suami kamu!" sengit Dewa, membulatkan mata Dara, sama sekali tak menyangka.
"Mati! bagaimana bisa?" batin Dara, dengan degup jantungnya yang tak karuan, seraya meletakkan laptopnya di atas kasur, menegakkan duduknya.
"Kamu... kamu tahu Wa...,"
__ADS_1
"Ya Allah...," batin Dara, menutup mulutnya, sama sekali tak berani membayangkan kemarahan kekasihnya.
"Tiga puluh menit untuk kamu sampai di apartemenku Ra, hanya tiga puluh menit! atau kita akan bertemu di apartemen suami kamu!"
Semakin mempercepat degup jantung Alira, hingga membuatnya spontan, berdiri dari duduknya meremas jemarinya.
"A... aku yang kesana Wa, aku bisa jelasin semuanya....a..aku..." ucap Dara terbata dan...
tuttttttttt
Panggilan terputus, membuatnya semakin bingung dan frustasi. Lebih memilih untuk melangkahkan kakinya cepat, hendak meraih tas selempangnya yang menggantung keluar dari kamar.
***
Di Apartemen Dewa
Pyarrrrr
Suara bantingan ponsel yang begitu keras di kamar Dewa, hingga terpental di atas lantai dan membentur dinding.
Sesaat setelah mematikan panggilan teleponnya, tak bisa mengontrol rasa marahnya sendiri.
Yang telah membumbung tinggi, tak bisa lagi terkendali merasa sakit hati, akibat dikhianati oleh kekasih hatinya yang begitu amat di cintai, sama sekali tak bisa membuatnya mengerti, bagaimana bisa? bagaimana bisa?
"Aaaaaaaaaaaaaaahhhh," teriak Dewa, dengan berbagai umpatan yang keluar dari mulutnya, semakin mengeraskan rahangnya dan...
Pyarrrrrr
Suara pecahan kaca almari yang di tinju Dewa, dengan begitu kerasnya hingga pecah dan berserakan di atas lantai.
Berhasil melukai punggung tangannya, namun tak di hiraukan nya.
Demi untuk melampiaskan kemarahannya. Akibat rasa kecewanya yang mendalam, sama sekali tak bisa menyangka, bahwa wanita yang begitu di cintainya, kekasih yang telah lama di pacarinya bisa diam diam menikah di belakangnya.
_____________________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.