Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 106. Perhatian Erfan


__ADS_3

Setelah mengantar mertuanya pulang ke rumah, Erfan kembali melajukan mobilnya, menembus jalanan kota yang terlihat lenggang menuju rumah pribadinya.


Erfan tak bisa fokus dengan jalanan yang ada di depannya, karena pandangan matanya sering tertuju kepada Dara yang sedang memejamkan mata, bersandar lemah di sandaran kursi mobil di sebelahnya.


"Kamu benar-benar ingin pulang Ra? nggak ingin menginap di rumah ibu?" tanya Erfan lembut menggenggam tangan istrinya, membuat Dara membuka mata menatapnya.


"Iya Mas," Jawab Dara lemah.


"Ya sudah...kamu tidur aja lagi," ucap Erfan menyunggingkan senyum termanisnya membelai lembut puncak kepala istrinya.


Dara menganggukkan kepalanya pelan, kembali memejamkan matanya duduk bersandar menghadap suaminya.


Tiga puluh menit sudah Erfan lalui di perjalanan sebelum melajukan mobilnya pelan untuk berhenti tepat di pintu pagar rumah pribadinya.


Erfan segera turun dari mobil, setengah berlari untuk membuka pintu pagarnya sebelum kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya lagi untuk parkir di halaman rumahnya.


Erfan menatap wajah istrinya yang masih terlelap di dalam mobil, "Maaf ya Ra, karena aku, kamu yang jadi korban Rania," batin Erfan membelai lembut pipi istrinya, membuat Dara membuka matanya perlahan.


"Sudah sampai ya Mas?" tanya Dara mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Sudah, maaf ya...aku membangunkanmu ya?" ucap Erfan yang dijawab dengan gelengan kepala Dara pelan masih memicingkan matanya.


"Memang harus bangun aku Mas...," Jawab Dara menegakkan duduknya hendak membuka pintu mobil.


"Tunggu Ra," ucap Erfan menghentikan tangan Dara.


"Kenapa Mas?" tanya Dara menoleh menatap suaminya."


"Tunggu sebentar, jangan turun dulu ya?" ucap Erfan lagi segera keluar dari mobil, berjalan memutar untuk membuka pintu mobil depan penumpang tempat istrinya duduk.


"Ada apa Mas?" tanya Dara lagi semakin bingung yang hanya di jawab dengan kedipan satu mata suaminya sebelum membopong tubuh lemahnya.


"Hahaha centil sekali sih Mas, lagian aku masih kuat Mas...masih bisa jalan sendiri!" ucap Dara melingkarkan kedua tangannya di leher Erfan.


"Ya nggak papa dong Ra, aku kan ingin menggondongmu, biar sama seperti pengantin baru!" Jawab Erfan menutup pintu mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Pengantin baru apa Mas? pengantin barunya kita kan bertengkar terus." ucap Dara menciptakan tawa di bibir suaminya.


"Iya ya...hahaha," jawab Erfan kembali tertawa tetap melangkahkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


Menurunkan pelan tubuh istrinya di atas ranjang sebelum membenarkan selimut yang menyelimuti tubuh Dara.


"Kamu ingin makan apa? biar aku masakin," tanya Erfan duduk di tepi ranjang samping Dara.

__ADS_1


"Beli aja deh Mas, aku nggak yakin kalau Mas Erfan yang masak."


"Ih....ngremehin kamu ya...," dengus Erfan mencubit pipi istrinya.


"Memang benar sih, aku sendiri juga nggak yakin Ra," jawab Erfan membuat Dara tertawa menatapnya.


"Cantik," ucap Erfan lirih menatap lembut wajah istrinya, menghentikan tawa Dara untuk beradu pandang denganya.


"Kamu harus terus tertawa seperti ini Ra, terlihat sangat cantik hingga membuatku semakin tergila-gila sama kamu!" ucap Erfan lagi membuat Dara tersipu dan memukul pelan pahanya.


"Hahaha kok jadi merah wajahmu Ra?" goda Erfan menekan lembut pipi Dara dengan jari telunjuknya, membuat Dara kembali terkekeh menutupi pipinya dengan tangan.


"Jadi kamu mau makan apa?" tanya Erfan lagi mengambil ponselnya di atas nakas.


"Sate ayam Mas,"


Erfan menganggukkan kepala pelan segera menggeser-geser layar ponselnya untuk membeli sate ayam secara online.


"Aku tinggal ke bawah ya? masih ada pekerjaan yang harus aku urus." Pamit Erfan yang hanya di jawab dengan anggukan kepala Dara pelan.


"Kamu istirahat ya Sayang..." Ucap Erfan lembut mengecup kening istrinya sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar.


Erfan menutup pintu kamarnya, berhenti sejenak untuk menghela nafas, mengeluarkan kembali rasa gusarnya yang sudah dia tahan selama berjam-jam untuk menjaga perasaan istrinya.


Erfan kembali melangkahkan kaki menuruni anak tangga sambil menggeser-geser layar ponsel untuk mencari kontak pengacara pribadinya.


"Rania masih menjadi ODP Pak, karena dia berhasil melarikan diri." Jawab Pengacara membuat rahang tegas Erfan menegang.


"Pantau terus perkembangannya, urus semuanya dan pastikan wanita itu membusuk di penjara!" ucap Erfan sebelum memutus panggilan teleponnya.


***


Langit semakin gelap, sang bintang pun sudah berlomba menunjukkan sinarnya.


Dara berdiri di depan pintu jendela kamarnya yang terbuka, menikmati tiap hembusan angin sepoi malam yang menggoyangkan sedikit anak rambut di dekat telinganya.


Menyendekapkan tangannya diatas perut menatap lurus ke depan, kembali mengingat amukan Rania yang hampir mencelakai calon anaknya.


"Terimakasih karena masih mempercayakan anak ini kepada kami Ya Allah...," Batin Dara menurunkan tangannya dan mengalihkannya untuk mengelus lembut perutnya yang masih rata.


Cklek pintu kamarnya terbuka, tampak Erfan dari balik pintu sebelum melangkah masuk ke dalam kamar, mendekati Dara yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Ngapain berdiri di sini Ra? anginnya dingin Sayang..." Ucap Erfan segera menutup pintu jendela kamarnya.

__ADS_1


"Ayo turun....kita makan malam di bawah," ucap Erfan tersenyum menatap istrinya.


Dara hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai bentuk persetujuan untuk ajakan suaminya.


Erfan segera menggandeng tangan Dara, berjalan beriringan keluar dari kamar.


"Kok gelap Mas?" tanya Dara bingung setelah keluar dari kamarnya, saat melihat lantai bawah rumahnya gelap tak ada cahaya lampu yang menyala.


Erfan hanya tersenyum Tak menjawab pertanyaan istrinya.


"Ehh" Dara terkejut saat Erfan tiba-tiba membopongnya untuk menuruni anak tangga.


"Aku masih bisa jalan sendiri Mas...." ucap Dara mengalungkan tangannya ke leher Erfan.


"Ya nggak papa Sayang....kata Dokter aku kan harus jagain kamu," jawab Erfan sebelum menurunkan tubuh istrinya.


"Kok gelap sih Mas," tanya Dara setelah berdiri hendak menyalakan saklar lampunya.


Cklek Dara berhasil menyalakan saklar lampu, membalikkan tubuhnya kembali sebelum tertegun saat pandangannya tertuju pada meja makan yang ada di hadapannya.


"Kamu suka?" tanya Erfan dengan seulas senyumnya melangkah untuk menarik salah satu kursi dari dua kursi yang ada di ujung kanan dan kiri meja makan.


Dara masih tertegun, menatap suaminya sebelum mengalihkan kembali pandangannya ke atas meja makan.


Meja makan yang biasanya kosong kini telah penuh dengan taburan mawar merah dengan tiga tangkai mawar yang ditata tidur di tengahnya.


Dengan lilin romantis berbentuk love yang ada di sisi kanan dan kirinya tiga tangkai mawar, dan hidangan steik beserta minumannya yang sudah tertata rapi di ujung kanan dan kiri meja tepat di depan dua kursi yang sudah di siapkan.


"Ayo duduk Ra!" ucap Erfan yang masih berdiri di belakang kursi yang baru saja dia tarik, membuat Dara mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Mas Erfan yang menyiapkannya?" tanya Dara melangkah untuk duduk di atas kursi.


"Iya, apa kamu suka?" jawab Erfan ikut melangkah untuk menyalakan lilinnya yang masih mati sebelum duduk di kursi seberang istrinya.


"Sangat suka Mas... terimakasih," jawab Dara mengulas kan senyum bahagianya menatap Erfan.


Bersambung.


_______________________________________


Jangan lupa LIKE, KOMEN DAN FAVORIT ya...biar authornya lebih semangat lagi untuk up.


Dan kalau ada lebihan poin mohon dukung Author dengan itu....

__ADS_1


Sekalian jangan lupa mampir ke karya author yang kedua ya...."AIR MATA PERNIKAHAN SIRI"


Terimakasih.


__ADS_2