Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 26. Pelan - Pelan


__ADS_3

Dara keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai menuju ranjang, jari kanannya terus menyentuh bibir, mengingat ciuman yang baru saja dia lakukan.


"Bodoh sekali kamu Dara, bodoh bodoh bodoh," ucapnya memukul pelan bibirnya sebelum duduk ditepi ranjang.


"Apa kamu sudah gila Ra?bagaimana bisa kamu menikmati ciuman Mas Erfan saat kamu menyakiti Dewa?" omelnya dalam hati sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannnya.


"Apa kita sudah benar-benar berpisah Wa?" air matanya kembali menggenangi pelupuk mata, hatinya kembali sakit mengingat perpisahannya dengan Dewa.


"Apa yang sudah kamu lakukan Ra? apa kamu benar-benar bisa menjaga hati Mas Erfan disaat hatimu masih milik Dewa?" ucap Dara menyeka air matanya.


Tok tok tok suara ketukan pintu kamar Dara.


Dara mengusap air matanya sebelum berdiri dan mengambil syal yang ada didalam almari kemudian memakainya dileher untuk menutupi warna merah yang ada dilehernya.


"Ada apa Dek?" tanya Dara pada Dira setelah membuka pintu.


"Mbak Dara nangis?"


Dara menggeleng, "Tadi kelilipan, ada apa?"


"Didepan ada Papanya Mas Erfan Mbak," jawab Dira dengan mimik wajah yang ragu dengan jawaban kakaknya.


Dara mengangguk pelan, "Iya, sebentar lagi aku sama Mas Erfan keluar, Mas Erfannya masih mandi."


Dira mengangguk pelan, "Aku tinggal ke kamar ya Mbak."


Dara mengangguk, "Terimakasih ya Dek," ucap Dara tersenyum sambil menutup pintu.


Cklekk pintu kamar mandi terbuka, Erfan keluar hanya menggunakan handuk yang dililitkan dipinggang.


"Mas, Papa datang kesini," ucap Dara sambil mangambil pakaian Erfan yang ada dialmari kamarnya.


"Kapan?"


"Sekarang, sudah ada didepan," jawab Dara menghampiri Erfan dan memberikan kaos, celana pendek beserta perangkatnya.


Erfan mengangguk, "Kok ada bajuku disini?" tanya Erfan mengambil alih baju dari tangan istrinya.


Dara berjalan menuju meja rias untuk mengambil sisir, "Itu baju yang Mas Erfan bawa saat akad nikah dulu," ucap Dara sambil menyisir rambutnya.


Erfan masih berdiri di belakang Dara, menatap istrinya dengan penuh tanya.


"Aku mau kedepan dulu Mas, mau nemuin Papa," ucap Dara meletakkan sisir dan bergegas keluar tanpa melihat Erfan yang masih berdiri dibelakangnya.


"Ra," ucap Erfan menahan tangan Dara.


"Apa kamu marah sama aku?" tanya Erfan.


Dara menggeleng, "Mas Erfan cepat ganti baju, sudah ditunggu Papa," ucap Dara datar sambil melepaskan pelan tangan Erfan dari pergelangan tangannya sebelum melangkah pergi keluar kamar.


Erfan tetap mematung menatap kepergian istrinya, setelah itu memakai pakaian yang sudah diberikan Dara, berusaha mengacuhkan perasaan aneh saat melihat sikap Dara.


***


Diruang tamu sudah ada Pak Subrata sedang berbincang dengan Bu Selfi dan Pak Herman.


"Pa, sudah lama datangnya?" tanya Dara mencium tangan Pak Subrata kemudian duduk disebelah ibunya.


"Barusan Ra, Erfannya mana?" tanya Pak Subrata karena tidak melihat keberadaan anaknya.


"Mas Erfan baru selesai mandi Pa, masih ganti baju."


"Bagaimana kondisinya sekarang Ra?"

__ADS_1


"Kondisi Mas Erfan sudah baik Pa, hanya luka disini," ucap Dara sambil menunjuk dahinya.


"Syukurlah kalau sudah membaik, Papa sangat khawatir saat mendengar kabar Erfan pingsan."


"Pa." Panggil Erfan menghampiri Pak Subrata dari dalam rumah, dengan rambut yang masih basah karena belum sempat mengeringkannya.


"Papa sudah lama disini?" tanya Erfan mencium tangan papanya kemudian duduk disamping Pak Subrata.


"Bagaimana kondisi kamu sekarang Nak?" tanya Bu Selfi.


"Sudah enakan Bu."


"Apa kamu masih pusing? atau sempat muntah tadi?" tanya Bu Selfi lagi.


Erfan menggeleng, hanya sedikit pusing Bu, nggak sampai muntah.


"Alhamdulillah," ucap Bu Selfi tersenyum.


"Kamu jam segini kok sudah basah-basahan Fan? dalam keadaan begini kamu masih sempat buatin Papa cucu?" Goda Pak Subrata membuat tertawa orang yang ada diruang tamu, kecuali Dara.


"Papa ini harusnya tanyain kondisiku, bagaimana keadaanku, bukan malah ngomongin yang begituan."


"Tadikan sudah ditanyain sama Ibu mertuamu, kamu bilangnya baik-baik saja, apa harus Papa tanya lagi sekarang? lagian wajar dong kalau Papa bahas tentang cucu, iya nggak Her?"


Pak Herman tertawa, "Iya bener Mas, kita semua kan juga ingin segera punya cucu Fan, hampir semua teman Ayah sudah punya cucu."


"Pa, Dara tinggal masuk ke dalam dulu ya Pa?" ucap Dara ingin meninggalkan obrolan para orang tua.


"Mau kemana Nak?" tanya Bu Selfi.


"Mau ke kamarnya Dira sebentar Bu."


Bu Selfi mengangguk.


"Nggak papa Ra," jawab Pak Subrata tersenyum.


Dara beranjak Dari duduknya, melemparkan senyum tipis kepada semua orang kemudian pergi meninggalkan ruang tamu dan menaiki tangga menuju kamar Dira.


Erfan hanya diam memperhatikan punggung istrinya hingga punggung istrinya hilang dari pandangan matanya.


***


Tok tok tok Dara mengetuk pintu kamar Dira.


"Mbak," ucap Dira ketika membuka pintu.


Dara berhambur memeluk adiknya, air mata yang dari tadi ditahan sudah tumpah membasahi pipi mulusnya.


"Mbak Dara kenapa?" tanya Dira bingung.


"Aku pinjam tubuhmu sebentar Dek," ucap Dara memeluk Dira.


Dira hanya diam, tangannya sibuk membelai punggung kakaknya, walaupun dia nggak tau masalah kakaknya, dia tahu kalau kakaknya sedang terluka.


"Mbak Dara kenapa? kita masuk dulu Mbak," ucap Dira masih memeluk Dara.


Dara melepaskan pelukannya, menyeka air matanya sebelum berjalan masuk dan duduk di ranjang Dira.


Dira menutup pintu kamar sebelum menghampiri kakaknya dan ikut duduk didepan Dara.


"Kenapa Ayah sama Ibu sama sekali nggak memikirkan perasaanku ya Dek? apa mereka lupa kalau anaknya ini manusia? bukan boneka. Aku juga punya perasaan, punya keinginan," ucap Dara menatap kosong ke depan.


"Mbak Dara bisa cerita ke aku, walaupun aku nggak bisa bantu tapi paling tidak bisa mengurangi beban dihati kamu Mbak," ucap Dira menyentuh lengan Dara.

__ADS_1


Dara menatap Dira sebelum menaikkan tubuhnya diranjang, menyandarkankan punggungnya disandaran ranjang dan mengambil satu bantal untuk dibawa ke pangkuannya.


"Aku baru putus sama Dewa kemarin Dek," ucap Dara menatap Dira.


"Ha? tapi kan kamu sudah lama menikah sama Mas Erfan Mbak? kok baru putus kemarin?"


Dara mengalihkan pandangannya lurus ke depan, "Kami menikah karena terpaksa, sama sekali nggak ada cinta, Mas Erfan sendiri yang bilang walaupun kami menikah, aku tetap boleh menjalin hubungan dengan Dewa, sebaliknya dia juga tetap menjalin hubungan dengan kekasihnya." Ucap Dara menghela nafas, kemudian mengalihkan pandangannya menatap Dira.


"Tapi apa yang terjadi sekarang? saat dia ditinggal nikah sama kekasihnya, dia memaksaku untuk memutuskan hubungan dengan Dewa. Aku dipaksa menyakiti lagi perasaan Dewa." Ucap Dara menangis.


"Dan sekarang Ayah, Ibu, dan Papa diluar sana dengan entengnya membahas masalah cucu, apa nggak cukup dengan memaksaku menikah? kenapa harus membebaniku lagi masalah cucu? aku yang sakit disini Dek, tangis Dara semakin pecah.


Dira memeluk kakaknya, menepuk- nepuk pelan punggung kakaknya, "Mbak Dara kemarin terlihat begitu cemas saat melihat kondisi Mas Erfan, aku fikir kalian saling mencintai."


Dara melepaskan pelukan kemudian menyeka air matanya, "itu karena aku takut terjadi sesuatu sama Mas Erfan."


"Artinya Mbak Dara juga takut kehilangan Mas Erfan," ucap Dira tersenyum.


"Berikan kesempatan untuk hati kamu bisa lebih mengenal Mas Erfan mbak, pelan-pelan semoga Mbak Dara bisa melupakan Mas Dewa, aku berharap mbak Dara bisa bahagia." Ucap Dira menyentuh tangan Dara.


Dara kembali menyeka air matanya, "Dek, kamu kelas berapa sekarang " tanya Dara menatap Dira dari atas sampai bawah.


"Dua SMP Mbak, kenapa?" tanya Dira bingung.


"Sudah berapa kali kamu pacaran?"


"Hahahaha." Dira tertawa mendengar pertanyaan kakaknya, "empat," jawab Dira sambil mengangkat empat jarinya, "tapi jangan bilang-bilang Ayah sama Ibu ya Mbak?" bisik Dira.


Dara terkekeh kemudian menggeleng pelan,


"Asal kamu bisa jaga diri."


"Pasti Mbak," ucap Dira yakin.


Dara tersenyum sambil membelai kepala adiknya, perasaannya terasa lega sekarang,


"Mungkin benar kata Dira, aku harus belajar menerima kenyataan yang ada, pelan-pelan aku harus bisa melupakan Dewa, dan memberikan kesempatan untuk mas Erfan,


iya pelan pelan." Ucap Dara dalam hati.


"Terimakasih ya Dek," ucap Dara memeluk Dira.


***


Pak Subrata ikut sarapan bersama dirumah orang tua Dara, dan pamit pulang sekitar pukul sebelas siang, bersamaan dengan Erfan dan Dara kembali ke apartemen mereka.


Matahari sudah naik tepat berada diatas kepala, Dara dan Erfan baru sampai digedung apartemennya, Erfan mengendarai mobilnya menuju basement. Setelah memarkir mobilnya dengan baik mereka segera turun dari mobil.


Erfan meraih tangan Dara, menggenggam tangan istrinya berjalan bersama menuju lift.


Ting lift terbuka


Erfan dan Dara masuk ke dalam lift, Erfan memencet tombol panah agar lift segera menutup.


baru setengah pintu lift akan tertutup tiba-tiba tangan seseorang menahan pintu, membuat pintu kembali terbuka.


"Dewa," ucap Dara terkejut dan reflek melepaskan genggaman tangan Erfan.


_____________________________________________


Kalau suka dengan karya saya, mohon dukung dengan like,komentar dan favorit ya.....


Terimakasih.....

__ADS_1


__ADS_2