Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 41. Karyawan Penggemar Erfan


__ADS_3

"Hahaha, Bagaimana aku bisa menikmati pelukan wanita lain saat aku sudah memiliki istri secantik kamu." Ucap Erfan tertawa memeluk erat Dara.


" Apa aku cantik Mas?" ucap Dara tersipu menatap Erfan dengan tangannya yang masih melingkar di perut suaminya.


"Lumayan." Jawab Erfan terkekeh.


"Issss", Dengus Dara kesal berusaha melepaskan pelukannya..


"Hahahaha, iya iya kamu cantik," Ucap Erfan tertawa semakin mempererat pelukannya.


"Ra," panggil Erfan lirih di telinga Dara.


" Hemmm, " jawab Dara masih memeluk Erfan.


Erfan menarik sedikit kepalanya untuk menatap Dara sebelum mengedipkan salah satu matanya sebagai kode.


"Ha?" Dara mengernyitkan dahinya karena bingung." Mas Erfan kelilipan?" tanyanya polos.


" Kok kelilipan sih," Ucap Erfan semakin banyak mengedipkan sebelah matanya.


" Hahahaha Mas Erfan mau?" Dara terkekeh melihat tingkah suaminya.


Erfan menganggukkan kepalanya senang karena kepekaan Dara, Dia kembali mengarahkan wajahnya mendekati wajah Dara, tinggal 1 cm lagi sebelum bibir mereka bertemu, Dara sudah menghentikannya dengan menempelkan jari telunjuknya dibibir Erfan.


" Karena hari ini Mas Erfan sudah buat aku marah, Mas Erfan harus puasa selama seminggu." Ucap Dara melepaskan pelukan dan menurunkan telunjuknya dari bibir Erfan.


" Ya, ya, ya, kok gitu Ra?" Protes Erfan menatap Dara yang sedang melangkah menuju Ranjang.


" Ya memang harus begitu Mas," Ucap Dara menahan senyumnya naik ke atas ranjang untuk berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Erfan melirik Dara dengan tajam sebelum melompat ke atas ranjang mendekati istrinya." Kamu sudah berani ya membuat suamimu ini puasa..." Ucap Erfan tertawa sambil menggelitiki perut Dara.


"Hahahaha ampun Mas, Ampun," Dara tertawa menahan rasa geli.


Erfan menghentikan aksinya, menatap Dara lembut sebelum tengkurap menempel pada tubuh Dara dan melingkarkan tangannya didada istrinya. " Aku nggak akan pernah menghianati kamu Ra, aku hanya ingin hidup sama kamu, hari ini , besok, lusa, selamanya." Ucap Erfan menatap lekat manik mata Dara sambil membelai lembut pipi istrinya.


Dara tersenyum, " Aku percaya Mas," Ucap Dara membalas tatapan Erfan.


" Jadi aku nggak jadi puasa dong?" tanya Erfan semringah sambil menaik turunkan alisnya.


Dara terkekeh sebelum memeluk tubuh Erfan, mempersilahkan suaminya untuk melakukan apapun yang diinginkannya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Setelah menyelesaikan sarapannya, Erfan dan Dara segera mencium tangan Pak Subrata yang sedang duduk di meja makan untuk pamit sebelum berangkat kerja.


"Hati-hati Fan,Ra." Ucap Pak Subrata melepas kepergian anak dan menantunya.


" Iya Pa," ucap Erfan dan Dara kompak sebelum melangkahkan kakinya keluar rumah.


"Ayo Ra," Ucap Erfan setelah membuka pintu depan mobilnya.


" Aku naik taksi aja ya Mas?" ucap Dara ragu berjalan pelan menghampiri Erfan.


" Ayo cepat naik, " Ucap Erfan lebih tegas.


Dara menghela nafas sebelum mempercepat langkahnya menuju mobil.


Setelah memastikan istrinya masuk ke dalam mobil, Erfan segera masuk dan menghidupkan mesin mobil, menginjak gas untuk menjalankan mobilnya keluar dari kediaman Pak Subrata.

__ADS_1


Dara hanya duduk diam menatap kedepan sambil memainkan jari-jari yang ada dipangkuannya.


" Apa kamu malu menjadi seorang istri Erfan Pratama?", tanya Erfan tetap fokus pada setirnya.


Dara menggelengkan kepalanya pelan," Nggak mungkin lah Mas, " Jawab Dara menatap Erfan.


" Kenapa kamu ragu saat ingin menunjukkan status kamu di Perusahaan?"


" Aku hanya memikirkan bagaimana reaksi karyawan nanti, saat mengetahui aku sebagai istri CEO mereka!.


" Jangan terlalu memikirkan hal- hal yang nggak penting Ra, " ucap Erfan mengusap lembut kepala Dara.


***


Hanya butuh waktu 30 menit mobil Erfan sudah sampai di depan gedung perusahaanya. Erfan segera turun dari. mobil sebelum membukakan pintu untuk istrinya.


Dara turun dari mobil, hingga membuat perhatian semua karyawan Erfan tertuju padanya.


" Kenapa dia bisa naik mobil Pak Erfan?" bisik karyawan perempuan kepada temanya.


" Wajarlah, dia kan sekretarisnya." timpal karyawan satunya.


" Masak CEO membukakan pintu mobil untuk sekretarisnya." Bisik karyawan perempuan lagi.


" Ayo Ra," ucap Erfan menggandeng tangan Dara setelah memberikan kunci mobil kepada petugas valet.


Dara berjalan mengikuti langkah Erfan melewati banyak pasang mata yang sedang menatapnya sambil menyapa suaminya.


" Selamat pagi Pak," Sapa Sinta sedikit terkejut melihat gandengan tangan Dara dan CEOnya.


" Pagi," jawab Erfan datar tetap melangkahkan kakinya menuju lift.


" Hah, Hahahahaha," Dara membuang nafas sebelum tertawa, "apa kamu lihat tatapan mereka Mas?" ucap Dara lagi terkekeh.


" Mereka menatap aku seperti seorang tersangka, hahahaha," ucap Dara tertawa lagi.


" Apa kau senang dengan tatapan mereka?"


Dara tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya." Aku serasa jadi artis sekaligus tersangka hari ini, jadi pusat perhatian semua orang, ada rasa bangga juga karena bisa mendapatkan laki-laki yang banyak disukai karyawan wanita."


" Apa kamu ingin lebih menjadi pusat perhatian lagi Ra?"


" Bagaimana caranya?"


"Caranya seperti ini," Ucap Erfan mendekati Dara, membuat Dara mundur kebelakang hingga menempelkan punggungnya ke dinding lift." Apa yang Mas Erfan lakukan?" tanya Dara mengerutkan keningnya menatap Erfan.


" Bayangkan kalau kita ciuman disini, bukankah akan lebih menjadikanmu pusat perhatian saat lift ini terbuka?" Ucap Erfan lirih ke telinga Dara.


" Dara membekap mulutnya sendiri, menggelengkan kepalanya kuat tanda tak setuju.


Triinggg pintu lift terbuka.


" Hahahaha ayo ," ucap Erfan tertawa sambil menggandeng tangan Dara keluar dari lift dan berjalan menuju ruang kerjanya.


Dara tampak sibuk dengan layar komputer yang ada didepannya, tangannya juga sibuk membalik-balikkan dokumen yang ada di atas meja, hingga suara telepon yang ada dimejanya berbunyi.


" Iya Pak." Jawab Dara menjawab telepon intercom dari Erfan. Erfan memang suaminya, tapi itu dirumah, kalau di kantor Erfan tetap atasannya, dia akan memanggil suaminya dengan sebutan Pak Erfan.


" Tolong buatin aku kopi Ra,"

__ADS_1


" Astaghfirullah, maaf Pak saya lupa, saya akan buatkan sekarang." Ucap Dara sebelum menutup telepon.


Dara Segera berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pantry, dia berusaha acuh tak memperdulikan saat para karyawan menatapnya sambil berbisik membicarakannya.


" Apa istimewanya dia sih sampai berani deketin pak Erfan." Ucap salah satu karyawan wanita yang tertangkap oleh gendang telinga Dara.


" Dia kan Secretaris Pak Erfan, mungkin dia memanfaatkan jabatannya. " Jawab temannnya.


" Sayang ya, cantik-cantik ganjen."


Dara terus berjalan, mengacuhkan setiap suara yang dia dengar ." Kamu itu yang keganjenan." Batin Dara menahan kesal.


Sampai di pantry Dara segera merebus air untuk membuat kopi, dia mengambil cangkir dari raknya sebelum meracik kopi dan gula sesuai dengan selera suaminya.


"Aaaaa, " pekik Dara saat tangannya tersiram air panas yang ingin dituangkan ke dalam cangkir. Mengalihkan semua perhatian karyawan yang sedang ada di pantry, termasuk Sinta.


"Upsss sorry, " ucap salah satu karyawan perempuan yang dengan sengaja menyenggol Dara saat ingin menuangkan air panas.


Dara merintih menahan sakit, menatap sekilas perempuan yang ada di depannya.


"Siska, Dept.Keuangan." Batin Dara saat membaca tanda pengenal yang menggantung di lehernya.


" Kamu nggak papa Ra?" tanya Sinta panik menghampiri Dara.


" Sakit ya? Maaf ya, aku sengaja sih, makanya jangan kecentilan jadi perempuan. Berani-beraninya kamu godain laki-laki impianku." Ucap Siska menatap Dara.


" Gila kamu ya? " Sentak Sari


" Apa maksud kamu?" Tanya Dara sambil memegangi tangannya yang memerah.


" Aku hanya ingin mengingatkan kamu untuk tidak kecentilan didepan Pak Erfan, apa kamu tahu sudah berapa tahun aku menyukainya?, dan kamu bocah ingusan yang baru bekerja kemarin saja sudah berani mendekatinya."


Dara mencebikkan bibirnya, "Apa kamu iri sama aku?" tanya Dara menatap tajam Siska.


" Kamu ya, berani-beraninya kamu sama senior." Ucap Siska marah ingin melayangkan tamparan diwajah Dara, membuat Dara menutup mata sambil memiringkan wajahnya kesamping.


" Ada apa ini?" terdengar suara perempuan tiba - tiba datang karena melihat keributan didalam pantry, menghentikan tangan Siska yang sudah melayang diudara.


Semua karyawan mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara termasuk Dara, Sinta dan Siska.


" Kenapa tanganmu Ra?" tanya Clara panik melihat tangan Dara yang memerah.


" Disiram air panas sama Siska Mbak Cla," ucap Sinta mengadukan.


" Benar kamu melakukannya Sis?" tanya Clara menatap tajam Siska.


" Dia kesiram air Panas , bukan disiram." Ucap Siska membela diri.


" Bagaimana dia nggak kesiram kalau kamu dengan sengaja menyenggolnya." Jawab Sinta nggak mau kalah.


" Dia cemburu karena Kedekatan Pak Erfan sama Dara Mbak." Ucap Sinta lagi.


" Isss," Dengus Siska menatap Sinta sambil menahan rasa kesalnya.


" Saya nggak suka dia terlalu kecentilan sama CEO kita Mbak, dia hanya karyawan baru tapi sudah berani mendekati Pak Erfan." Ucap Siska menjelaskan kepada Clara yang baru saja menjabat sebagai Manager Keuangan di Departemennya.


"Gila kamu Siska, habis kamu sekarang, apa kamu tau siapa Dara? ", Ucap Clara marah menatap tajam Siska.


______________________________

__ADS_1


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2