Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 7 . Sah


__ADS_3

Dara masuk ke dalam rumah untuk mencari sosok Erfan, hingga sampai di satu ruangan besar dan luas dengan dinding yang di  dominasi cat berwarna putih, furniture yang ada di dalamnya juga terlihat sangat mewah dan berkelas.


Mungkin ruang bersantai atau ruang keluarga, karena di dalam ruangan ada tv tipis yang sangat besar dengan banyak sound disamping kanan dan kirinya.


“Ah," rintih Erfan, menahan rasa sakit di dahinya yang memar, tak mengetahui kedatangan calon istrinya mengompres lukanya.


Duduk sendiri di atas sofa di depan tv, sebelum mengalihkan pandangannya, mendengar suara dari Dara.


“Mau ku bantu?”  Tanya Dara menawarkan diri, sudah berdiri di depan calon suaminya beradu pandang.


“Nggak“ jawab Erfan, dengan intonasinya yang begitu dingin, tak menghentikan gerakan tangannya dalam mengompres.


Mencebikkan bibir Dara, membuang pandangannya mengomel pelan.


“Dasar Muka Datar! muka Es! Muka Batu! sombong amat!” gerutu Dara, menahan rasa kesal di hatinya kembali mengalihkan pandangan Erfan.


“Apa kamu bilang?”


"Apa?" sewot Dara, seraya duduk di atas sofa di samping Erfan.


Tak lagi bersuara, hanya terdiam, dengan pandangannya lurus ke depan, mengacuhkan rintihan calon suaminya.


Yang meringis, kembali mengompres mengacuhkannya.


"Mas...," panggil Dara, masih dengan pandangannya lurus ke depan tak mengalihkan pandangan Erfan.


"Hemmm,"


“Masalah wanita kemarin, apa itu pacar kamu Mas?"


"Iya, kenapa?" jawab Erfan, masih tetap mengompres tak mengalihkan pandangannya.


"Cantik,"


"Jelaslah, dia itu model, cantiknya paripurna, memangnya kamu?" sengit Erfan, membulatkan mata Dara.


Spontan mengalihkan pandangannya, menatap kesal calon suaminya merasa tersinggung.

__ADS_1


“Memangnya aku kenapa Mas? kamu buta ya? mata kamu bermasalah? bagaimana bisa? kamu nggak melihat kecantikanku yang tak kalah pari purna ini?" sewot Dara.


Tak bisa menerima kalimat calon suaminya, mengalihkan pandangan Erfan.


"Ngimpi ya kamu? jawab Erfan, semakin memancing emosi di diri Dara bersitatap.


“Ingat ini baik-baik ya? walaupun kita nanti menikah, aku dan kamu, tidak akan pernah menjadi kita, Karena aku, nggak akan pernah mau putus, dan nggak akan pernah putus dari pacarku.“ pesan Erfan, masih bersitatap mengepalkan tangan Dara


Bukan karena hatinya yang cemburu, tapi karena sikap lelaki yang ada di depannya ini, yang terlalu percaya diri.


“Kamu dengar ini ya Mas! yang punya pacar itu bukan hanya kamu! tapi aku juga punya pacar yang sangat aku cintai! dan itu artinya apa? aku nggak akan pernah peduli dengan hubungan percintaan kamu dengan pacar kamu itu!dan aku, sama sekali nggak mengharapkan hubungan aku dan kamu menjadi kita!" balas Dara, dengan sorot mata tajamnya tak ingin kalah.


Menciptakan senyum seringai di bibir Erfan, menyukai kalimat yang baru di dengarnya, menaikkan kedua alisnya.


“Oke! aku sangat suka sama caramu, setidaknya, aku nggak akan pernah menemuimu yang menangis mengemis cinta, hanya untuk bisa bersama dengan ku,"


"Jangan mimpi kamu Mas! aku nggak akan pernah mengemis cinta, kamu pegang saja kata-kataku!"


"Oke! jadi, kita hanya menikah, tak lebih dari sebuah formalitas, dan untuk selanjutnya, kita akan hidup sendiri-sendiri, dan tetap dengan pasangan kita masing masing."


“Oke deal ,“ jawab Dara penuh penekanan, segera mengulurkan tangan kanannya kedepan, sebagai bentuk dari sebuah perjanjian.


"Ingat Ra! jangan sampai, ada satu orangpun yang tau mengenai pernikahan kita, terutama Sarah pacarku, kecuali keluarga kita." tambah Erfan, dengan tatapan tajamnya.


Masih bersitatap dengan Dara yang mengangguk mantap.


"Dewa juga nggak boleh mengetahuinya!" sahut Dara, tak ingin menyakiti hati kekasihnya, tak ingin kehilangan Dewa.


****


Hari pernikahan Dara dan Erfan pun tiba, akad akan di laksanakan di rumah Dara pada pukul delapan pagi, dan acara itu hanya akan dihadiri oleh anggota keluarga dan saudara, tidak ada acara resepsi, karena kedua pengantin yang menolaknya.


Di dalam kamarnya yang bercat putih, terlihat Dara, hanya duduk diam di atas kursi meja riasnya, menatap penampilannya sendiri, dari pantulan kaca yang ada di depannya.


Membuatnya tertegun, oleh kesempurnaan make up di wajahnya, membuatnya semakin cantik, anggun dan mempesona.


“Kamu cantik sekali Ra,“ gumamnya pelan, menahan rasa sesak yang menyeruak, meratapi pernikahan yang tak di inginkannya.

__ADS_1


"Kamu berdandan cantik seperti ini untuk siapa Dara?“ lanjutnya lagi, masih dengan wajah memelasnya, menahan buliran bening di balik kelopak matanya.


Kembali mengigat Dewa, kekasih hatinya. Hingga membuatnya berandai-andai, jika saja, pasangannya itu Dewa, betapa bahagia hatinya, membayangkan Dewa yang tersenyum memuji kecantikannya, sama seperti biasanya.


Membuatnya membuang muka, menundukkan kepalanya menahan rasa perih di hati dan perasannya.


“Kamu cantik sekali sayang,“ puji Bu Selfi, sesaat setelah masuk ke dalam kamar putrinya, mendekati Dara.


Yang sedang menahan tangis mengangkat kepala beradu pandang.


“Erfan sama rombongannya sudah datang Ra, akad nikah akan segera dimulai, dan kamu, nanti akan keluar kamar setelah sah menjadi istri Erfan ya,“ lanjut Bu Selfi, membelai lembut pipi putrinya.


Tak membuat Dara bersuara, hanya membisu mengangguk pelan.


Karena hatinya, hanya bisa berusaha, dalam menerima kenyataan, dengan pemikiran positifnya, yang di tanamkan di dalam hati dan pikirannya, bahwa semuanya akan baik baik saja.


Sementara itu diruang tamu, sudah di penuhi dengan banyaknya tamu undangan.


Terlihat Erfan, duduk bersila di hadapan Pak Herman, memakai kemeja putih beserta jas hitamnya, tanpa rasa gugup menundukkan kepala.


“Silahkan dimulai pak,“ titah penghulu, duduk di samping pak Herman, mengalihkan pandangan Ayah dari Alira mengangguk pelan.


"Kita mulai ya Sat?" kata Pak Herman, mengulurkan tangannya ke depan, hendak menjabat tangan calon menantunya.


“Saya nikahkan dan kawinkan kamu, Erfan Pratama bin Subrata dengan putri saya Adara Jelita binti Herman Santoso, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan seberat dua puluh gram dibayar tunai.“


“Saya terima nikah dan kawinnya Adara Jelita binti Herman Santoso dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,“ jawab Erfan dalam satu tarikan nafas.


Masih beradu pandang dengan ayah mertuanya yang tersenyum begitu lega.


“Gimana sah?” suara penghulu.


"Sah,“ jawab semua tamu kompak.


“Alhamdulillah,“ lanjut penghulu, segera menengadahkan kedua tangannya untuk membaca doa.


_____________________________

__ADS_1


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2