
"Kenapa Mas Erfan harus bersikap seperti itu sih Mas? aku kan jadi nggak enak sama Kak Aditya?" Omel Dara saat masuk ke dalam kamar, mendekati Erfan yang sedang mendengarkan musik menggunakan headset ditelinganya sambil duduk berselonjor diatas ranjang, memejamkan matanya dengan posisi kepala yang menyandar disandaran ranjang.
"Mas...." Panggil Dara dengan nada sedikit tinggi didepan Erfan saat suaminya itu diam tak memperdulikan, entah sengaja pura-pura tak mendengar apa memang benar-benar tak mendengar karena headset yang terselip ditelinganya.
Erfan menghela nafas sebelum melepaskan headset yang sedang dipakainya, menaruh ponsel yang sedari tadi dipegangnya diatas ranjang sebelum mengarahkan kepalanya menatap Istrinya. "Aku hanya ingin mengajari dia untuk memanggil seseorang sesuai dengan silsilahnya, bukan memanggil seseorang sesuka hatinya, seenak jidatnya." jawab Erfan tegas dengan mimik wajah yang menunjukkan ketidaksukaannya.
"El hanya anak kecil Mas, dia belum tahu masalah silsilah seperti itu," sanggah Dara.
"Tapi Bapaknya sudah dewasa Ra, sudah tua, nggak mungkin belum tahu masalah itu," ucap Erfan berdiri dari duduknya, dan berdiri menghadap Dara.
"Apa kamu suka dipanggil Mama sama El Ra? bagaimana bisa kamu menikmati panggilan Mama dari anak laki-laki lain?" Ucap Erfan menatap tajam manik mata istrinya yang sama-sama merasa kesal seperti dirinya.
"Dia anaknya Mitha Mas, teman baikku, dia masih terlalu kecil untuk mengerti artinya kehilangan, El hanya merasa nyaman sama aku, aku juga sayang sama dia, aku hanya bersimpati sama dia, rasa itu yang buat aku membiarkannya memanggilku Mama." ucap Dara dengan nada yang melemah.
"Hahahaha," Erfan tertawa sinis membuang pandangannya ke sembarang arah, "Kamu mau berlindung dibawah kata simpatimu Ra? aku khawatir karena rasa simpati itu juga kamu ingin menjadi Mama El pengganti Mitha." Ucap Erfan kembali menatap Dara.
"Masss," sentak Dara tidak terima dengan ucapan suaminya. "Apa kamu nggak bisa mengontrol sedikit ucapan kamu Mas? bagaimana bisa Mas Erfan mengucapkan kalimat seperti itu?" Ucap Dara semakin kesal, menatap Erfan lekat lekat dengan detak jantungnya yang terasa cepat.
Dara memejamkan matanya sesaat, mengambil nafas dalam berkali-kali berusaha menenangkan dirinya yang sudah dikuasai rasa amarahnya.
Flashback
"Tadi El dikasih Mama Dara Es krim ya?" tanya Aditya menatap Eliana saat mengerti maksud ucapan anaknya, membuat wajah Erfan yang dari tadi datar mulai mengerucutkan bibirnya menatap sinis Aditya yang sedang duduk didepan Dara, menahan rasa kesal saat mendengar panggilan Eliana dan Aditya kepada Istrinya.
"Bagaimana bisa kamu mengajari anak kamu memanggil istriku Mama?" Ucap Erfan sinis membuat Aditya menghilangkan senyumnya,
menatap Erfan sebelum menegakkan duduknya.
"Aku nggak pernah mengajarinya, El sendiri yang ingin memanggil Dara Mama." Jawab Aditya.
"Dan kamu membiarkannya begitu saja? apa itu cara kamu mendidiknya? memanggil wanita lain yang bukan ibunya dengan sebutan Mama? dan kamu Papa?, didikkan macam apa itu?" Ucap Erfan tak mampu menahan amarahnya.
Aditya terdiam, mengeratkan gigi giginya, menahan rasa geramnya, merasa tak terima saat mendengar seseorang meragukan didikannya.
"Kak Aditya sudah mencoba membuat El memanggilku Tante Mas, tapi Elnya nggak mau." ucap Dara mencoba untuk menjelaskan.
"El Masih kecil Fan, dia nggak tau arti nama Mama ataupun Tante," Bu Selfi mencoba untuk bersuara.
"Makanya itu Bu, El harus dikasih tau, bukan malah di biarin begitu saja, bukannya dilarang malah didukung! Bapaknya juga ikut-ikutan manggil Mama, Mama Dara, Cih." Dengus Erfan semakin geram.
"Ajari anak kamu untuk memanggil istriku Tante, karena Dara istriku, bukan istri kamu." Ucap Erfan mengakhiri kalimatnya, menatap tajam Aditya sebelum berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, membuat semua orang yang ada diruang tamu terdiam, meninggalkan Aditya dengan rasa geramnya saat mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
Flashback selesai
__ADS_1
"Ya Allah....Astagfirullahaladzim...." ucap Dara masih menutup matanya sebelum membukanya lagi menatap Erfan yang masih dikuasai rasa marah akibat rasa cemburunya.
"Cemburu kamu berlebihan Mas," ucap Dara dengan nada yang melemah, dengan mata berkaca-kaca menatap suaminya sebelum melangkahkan kakinya naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya memeluk guling sebelum menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Mungkin lebih baik seperti ini, rasanya aku ingin lari dari kamar ini, mengobrol sama Ayah dan Ibu daripada menemani Mas Erfan didalam kamar." Ucap dara dalam hati berusaha mengontrol rasa yang berkecamuk didalam hatinya, rasa marah dengan suaminya, dan rasa malu dengan Aditya.
Erfan masih terpaku ditempatnya berdiri, menatap Istrinya yang tertutup selimut sebelum duduk diatas ranjang, memikirkan setiap kalimat yang baru saja keluar dari bibir istrinya. Melirik sekilas lagi sebelum membaringkan tubuhnya membelakangi Dara.
Suasana kamar sangat hening, membuat atmosfer kamar menjadi dingin, baik Dara maupun Erfan nggak ada yang mengeluarkan suara, dua duanya sibuk dengan kemarahannya masing-masing, tanpa mau peduli dengan kemarahan yang lain.
Tok tok tok terdengar suara ketukan kamar Dara, Dara segera bangun dari tidurnya, melangkahkan kaki menuju pintu melewati Erfan begitu saja tanpa mau menolehnya.
"Ada apa Dek?" ucap Dara setelah membuka pintu, saat melihat adiknya sudah berdiri didepan pintu.
"Ayo makan Mbak, sudah ditunggu Ayah sama Ibu dimeja makan."
Dara menganggukkan kepalanya, "Kamu sudah pulang? kata Ibu kamu jalan sama teman-teman kamu." tanya Dara masih berdiri didepan pintu.
"Sudah Mbak, barusan aja pulang, aku beli sate ayam kesukaan Mbak Dara," Jawab Dira tersenyum.
"Bubur ayam kamu beli juga nggak?"
"Iya aku beliin satu porsi buat Mas Erfan." jawab Dira.
Dira menganggukkan kepala sebelum pergi meninggalkan kamar Dara, sedangkan Dara segera menutup pintu dan berjalan menghampiri Erfan yang tengah memejamkan matanya diatas ranjang, berusaha menekan egonya sebelum berbicara kepada suaminya.
"Ayo makan dulu Mas, Dira sudah beliin Mas Erfan bubur ayam." Ucap Dara berdiri didekat Erfan.
"Mas..." ucap Dara lagi duduk diranjang disamping suaminya, saat suaminya diam tak menggubris kalimatnya.
"Marahnya dilanjut nanti aja, ayo makan dulu, Mas Erfan masih sakit jangan telat makan lagi." Ucap Dara lembut menyentuh lengan Erfan.
"Aku lagi gak nafsu makan," ucap Erfan lirih tetap memejamkan matanya.
Dara menghela nafas sejenak, berusaha lebih menekan egonya lagi, agar bisa berkomunikasi dengan baik.
"Mas Erfan harus tetap makan walaupun nggak ada nafsu makan, aku bawa ke kamar ya buburnya?" ucap Dara lagi menatap wajah suaminya yang masih terpejam.
Sunyi, tidak ada suara yang keluar dari bibir Erfan.
Dara memilih untuk keluar kamar sendiri, makan malam bersama keluarganya, dengan rencana akan membawa makanan suaminya ke dalam kamar.
"Erfan mana Ra?" Tanya Pak Herman saat melihat Dara keluar kamar sendiri tanpa suaminya.
__ADS_1
Dara hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban sebelum duduk dikursi makan sebelah Dira.
"Apa kalian bertengkar Nak?" tanya Bu Selfi menatap Dara yang terlihat murung.
Dara menggelengkan kepalanya pelan sebelum mengambil nasi dan lauk yang ada didepannya. "Aku nggak enak sama Kak Aditya Bu," ucap Dara dengan wajah sendunya sebelum menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Suami kamu begitu karena rasa cemburunya Ra," ucap Pak Herman menatap anak sulungnya.
"Cemburu Mas Erfan berlebihan Yah."
"Kalau Ayah diposisi Erfan, mungkin Ayah juga akan marah, Ayah nggak mungkin terima saat istri ayah dipanggil Mama, dan laki-laki lain dipanggil Papa, didepan mata kepala ayah sendiri." Ucap Pak Herman lagi.
"Apa menurut Ibu seperti itu?" Tanya Dara menatap Bu Selfi yang sedang makan didepannya.
"Rasa marahnya suami kamu itu wajar Nak, yang salah cara menyalurkan emosinya aja, harusnya nggak mencaci Aditya seperti tadi."
Kalimat Bu Selfi membuat rasa nggak enak hati Dara semakin besar.
"Tapi kamu juga salah kalau ikut kebawa emosi, makan sendiri tanpa memperdulikan suami kamu yang menahan lapar didalam kamar." Tambah Bu Selfi menatap Dara.
"Ada masalah apa memangnya Bu?" tanya Dira penasaran.
"Suami Mbakmu ini Marah karena El memanggil Mbakmu Mama."
"El anak Mbak Mitha yang ibu ceritakan tadi siang?" tanya Dira menatap Ibunya.
Bu Selfi menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Pffftttt Dira menahan tawanya.
"Kenapa tertawa Dek? apanya yang lucu?"
"Mbak Dara yang lucu, kok bisa dipanggil Mama didepan suami sendiri, Mama dari anak laki-laki lain lagi, hahaha" Ejek Dira tertawa sebelum mengambil satu tusuk sate yang ada didepannya.
"Ya aku fikir nggak akan ada masalah Dek, aku kasihan sama El, sampai nggak memikirkan dampaknya ke Mas Erfan, apalagi El itu anaknya Mitha teman baikku, aku fikirnya Mas Erfan akan mengerti." Ucap Dara memelas.
"Sudah Ra, cepat habiskan makanan kamu, kasihan suami kamu belum makan, nanti maagnya kambuh lagi kalau sampai telat makan." Ucap Bu Selfi menatap Dara.
Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum menghabiskan sisa nasi yang ada dipiringnya.
_________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up..
__ADS_1