
"Apa kamu menyuruhku untuk menikah lagi Fan?" ucap Aditya geram menatap Erfan.
Erfan mencebikkan bibirnya semakin menatap sinis Aditya yang tengah menguji kesabarannya. "Menikah atau nggak menikahnya kamu itu bukan urusan ku. Aku hanya nggak suka saat kamu membawa istriku dalam masalah keluargamu." ucap Erfan menatap tajam Aditya.
"Orang bengkelnya sudah datang Mas," ucap Dara menyentuh lengan Erfan, berhasil menghentikan adu tatap antara Erfan dan Aditya.
"Kok kamu sendiri yang datang ke sini Den?" tanya Erfan setelah mengalihkan pandangannya ke arah laki laki yang sedang berjalan mendekatinya sambil membawa beberapa peralatan bengkel ditangannya.
"Jam berapa ini Fan? semua karyawan ku sudah pada pulang, mau nggak mau ya harus aku sendiri yang datang membantu kamu." Ucap Deni setelah meletakkan semua peralatannya disamping ban Erfan yang bermasalah.
Erfan menganggukkan kepalanya, "Cepat kerjain deh, aku tinggal ya? besok suruh karyawanmu nganterin mobilnya ke rumah Papa sama seperti biasanya."
"Apa Kamu nggak lihat aku ke sini juga bawa mobil Fan?" ucap Deni yang tengah berdiri disamping Aditya, sambil menunjuk mobilnya yang terparkir di belakang sedan mewah milik Aditya.
"Itu urusan kamu Den! atur aja bagaimana caranya kamu bisa membawa mobilku pulang, yang jelas aku titip mobilku sama kamu, aku mau pulang dulu naik taksi."
Deni menghela nafas mendengar kalimat Erfan, "Kenapa kamu suka sekali membuatku repot sih Fan?" Protes Deni menatap Erfan, membuat Erfan terkekeh balik menatapnya.
"Terima kasih Bro, nanti aku transfer dua kali lipat ke rekening kamu," ucap Erfan dengan seulas senyumnya menepuk pelan salah satu bahu Deni.
"Ayo Ra,kita cari taksi," ucap Erfan lagi menggandeng tangan istrinya, sebelum menatap dingin Aditya yang tengah diam menatapnya.
"Aku balik ya Kak?" ucap Dara menatap Aditya sebelum tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan ke arah Deni.
Erfan dan Dara berjalan beriringan untuk mencari taksi yang akan mereka tumpangi.
Terimakasih ya Ra?" ucap Erfan menoleh ke arah istrinya yang tengah duduk bersebelahan dengannya dikursi belakang taksi, menepuk-nepuk pelan punggung tangan Dara yang sedang dia genggam diatas pangkuannya.
"Terima kasih untuk apa Mas?" tanya Dara menatap Erfan.
"Karena kamu sudah menjaga perasaanku,q dengan menolak keinginan Aditya," jawab Erfan dengan seulas senyum bahagia nya menatap Dara.
Dara tersenyum balik menatap Erfan sebelum menyandarkan kepalanya di bahu kekar suaminya, "Harusnya kan memang seperti itu Mas? aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang istri. Mulai sekarang aku akan menomor satukan perasaan Mas Erfan, aku akan selalu berusaha menjaga perasaan Mas Erfan, dan aku minta maaf kalau selama ini belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu Mas." Ucap Dara lirih mengarahkan pandangannya lurus kedepan, membuat Erfan semakin berbinar dengan senyumnya yang semakin mengembang.
Erfan Pratama
29 tahun
H-1 sebelum acara syukuran rumah baru Dara dan Erfan, sepasang suami istri itu memilih untuk cuti dari pekerjaannya. Erfan kembali meminta bantuan sahabatnya Nathan untuk menghandle sementara pekerjaannya.
"Pak Irwan belum dapat sekretarisnya ya Ra?" tanya Erfan yang sedang membantu Dara membersihkan rumah baru mereka.
"sudah Mas, tapi baru mulai bekerja Senin depan." jawab Dara tetap fokus dengan kain lap yang dipegangnya, mengelap semua bufet yang ada di ruang tamu beserta hiasannya seperti guci dan vas bunga.
__ADS_1
Adara jelita
22 Tahun.
Erfan menganggukkan kepalanya sebelum mengalihkan kembali pandangannya ke sapu yang sedang dipegangnya, melakukan tugasnya menyapu lantai yang baru pertama kali dilakukannya.
"bisa nggak Mas nyapunya?" tanya Dara ragu mengalihkan pandangannya ke arah Erfan.
"Nyapu gini aja kok nggak bisa Ra," jawab Erfan dengan percaya dirinya, membuat Dara tersenyum sebelum kembali fokus pada aktivitas mengelapnya.
"Kita kan bisa menyewa jasa pembersih rumah Ra? kenapa kita harus repot-repot begini?" protes Erfan tetap melakukan tugas menyapunya.
"Kalau kita bisa mengerjakannya sendiri kenapa harus menyewa jasa orang untuk mengerjakannya Mas?" jawab Dara menghentikan aktivitasnya, menaruh lapnya di atas bufet sebelum membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Erfan.
"Kalau pakai jasa pembersih kita nggak akan bisa mesra-mesraan seperti ini Mas," ucap Dara lagi sambil melingkarkan tangannya ke pinggang laki laki yang dicintainya, memeluk suaminya dari belakang.
Erfan menghentikan aktivitasnya, terdiam sesaat sebelum mengusap lembut tangan istrinya yang tengah melingkar di perutnya. "Apa ini salah satu cara kamu untuk merayu ku menjadi tukang bersih-bersih di rumahku sendiri Ra?" tanya Erfan sedikit menoleh ke belakang menatap istrinya.
"Kamu terlalu pintar dalam menebak Mas."
ucap Dara terkekeh mendongakkan sedikit kepalanya menatap Erfan.
Trrrttt trrrtttttt ponsel Erfan yang berada di atas meja ruang tamu bergetar, membuat Dara melepaskan pelukannya sebelum mengambil alih sapu yang dibawa suaminya.
"Siapa Mas?" tanya Dara ikut mendekati Erfan setelah menyandarkan sapunya ke dinding ruang tamu
"Nathan Ra," jawab Erfan sebelum mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo Than?" ucap Efan menerima panggilan.
"Ada kabar buruk untuk kamu Fan," jawab Nathan dari dalam ponsel.
"Berita buruk apa?" tanya Erfan mengernyitkan dahinya menatap Dara yang tengah berdiri menatapnya.
"Masalah sengketa tanah itu hasilnya sangat merugikan Perusahaan Fan."
"Apa maksud kamu? bicara yang jelas langsung ke intinya." ucap Erfan tidak sabar sambil melangkahkan kakinya untuk duduk di sofa, diikuti Dara yang akan duduk disofa seberangnya.
"Setelah melakukan berbagai evaluasi dengan BPN, ternyata sertifikat yang dibawa Permana grup lebih dulu terbit dari pada sertifikat yang ada di perusahaan kita Fan. Ditambah lagi ada kecacatan data fisik yang ada disertifikat kita membuat pengadilan memutuskan untuk membatalkan sertifikat punya kita Fan."
Erfan terdiam sesaat berusaha mencerna setiap kalimat Nathan.
"Fan! apa kamu mendengar ku?" tanya Nathan memastikan saat tidak mendengar suara jawaban dari sahabatnya.
__ADS_1
"Tugaskan Pak Irwan untuk memecat semua karyawan yang bertanggung jawab dengan masalah ini, dan untuk masalah penjual tanah, tuntut dia atas tuduhan penipuan." titah Erfan tegas.
"Oke Fan."
"Bagaimana dengan uang yang sudah kita bayarkan untuk membeli tanah itu Than?" tanya Erfan lagi.
"Pihak penjual akan mengembalikan penuh uang pembelian, tapi masalahnya sekarang ada di bangunan outlet baru kita yang hampir berdiri di tanah itu Fan." jawab Nathan.
"Sudah berapa persen progres pembangunannya?"
"70% Fan."
"Br*ngsek! bagaimana bisa kita kecolongan sampai sefatal ini Than?" Ucap Erfan semakin geram.
"Kemarin aku sudah mencoba bernegosiasi sama pimpinan Permana grup, tapi dia hanya ingin bernegosiasi sama kamu Fan."
Erfan terdiam sesaat mendengar kalimat Nathan. "Siapa pimpinannya?" tanya Erfan untuk memastikan nama yang ada di fikirannya.
"Aditya Permana," jawab Nathan tak membuat Erfan terkejut. "Sesuai dengan dugaanku." Batin Erfan.
"Apa kamu bisa menemuinya Fan? mungkin kalian bisa menemukan solusi yang bisa membuat perusahaan kita tidak terlalu merugi." Ucap Nathan lagi.
"Aku akan memikirkan dulu masalah itu Than, nanti aku kabari kamu," ucap Erfan sebelum memutuskan panggilan teleponnya.
"Kenapa Mas? ada masalah apa?" tanya Dara penasaran saat melihat wajah gusar suaminya.
"Masalah sengketa tanah yang kemarin aku ceritakan Ra," jawab Erfan menatap Dara sebelum menceritakan semua permasalahan kepada istrinya.
"Ya Allah.... kok bisa sampai seperti itu Mas?"
ucap Dara terkejut.
Erfan menggelengkan kepalanya pelan sebelum mengusap kasar wajahnya membuat Dara berdiri dan berpindah duduk ditepi sofa tempat suaminya duduk. "Mas Erfan coba bicara saja sama Kak Aditya, benar kata Pak Nathan mungkin ada solusi terbaik setelah kalian bernegosiasi." Ucap Dara membelai lembut punggung suaminya.
Erfan berfikir sejenak menatap lurus kedepan sebelum menolehkan kepalanya menatap Dara. "Aku nggak yakin Ra," ucap Erfan ragu sebelum mengalihkan pandangannya lagi lurus ke depan. "Kamu tahu sendiri bagaimana perseteruan ku kemarin dengan dia, aku juga nggak ingin memohon seakan aku membutuhkan bantuannya."
"Bukan memohon Mas, tapi bernegosiasi, aku yakin Kak Aditya orang baik, tidak akan mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan." Ucap Dara mencoba untuk meyakinkan suaminya.
Erfan terdiam tidak menanggapi kalimat istrinya.
"Mas Erfan pikirkan aja dulu baik-baik, aku percaya kamu pasti bisa mengatasi masalah ini dengan baik Mas," ucap Dara sebelum merangkul bahu suaminya, menempelkan salah satu pipinya ke puncak kepala suaminya.
________________
**Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up..
__ADS_1
Sudah saya sertakan juga foto dari pemeran si tampan Erfan dan si cantik Dara ya? semoga kalian suka dengan pemeran pilihan saya.... happy reading**.......