Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 49. Sweet Morning


__ADS_3

"Kalau kamu menginginkan, aku akan langsung beli Fan," Ucap Rania antusias menatap Erfan.


"Uhuk uhuk," Dara tiba-tiba tersedak karena mendengar ucapan Rania.


"Pelan-pelan Ra," ucap Erfan memberikan segelas air putih sebelum menepuk-nepuk pelan punggung istrinya.


"Apa uangmu sebanyak itu Ran?" Tanya Dara menoleh ke arah Rania, setelah mengelap sisa air dibibirnya dengan tisu.


"Banyak sekali, bahkan jauh lebih banyak dari perkiraanmu." Ucap Rania menyombongkan diri.


Dara tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya pelan, "Sayang sekali, kamu tidak mempunyai harga diri sebanyak uang yang kamu miliki." Ucap Dara menahan kesal menatap Rania.


"Jaga ucapanmu ya?" sentak Rania menatap Dara.


"Kamu yang seharusnya menjaga sikap Ran." Sentak balik Erfan menatap Rania.


Rania terdiam mendengar sentakan Erfan, hatinya semakin kesal, sorot matanya semakin tajam menatap Dara yang ada disebelah Erfan.


"Apa Om nggak ingin membelaku sekarang?" tanya Rania menatap Pak Subrata mencari pembelaan.


"Apa yang harus Om bela? kamu memang salah." Ucap Pak Subrata datar setelah menelan makanannya.


"Om nggak pernah melarangmu kesini Ran, karena kamu sudah Om anggap seperti anak sendiri, tapi bukan berarti kamu bisa bersikap semau kamu disini." Ucap Pak Subrata menatap Rania.


"Suka nggak suka kamu harus bisa menerima pernikahan Erfan sama Dara Ran." Lanjut Pak Subrata lagi.


Rania terdiam, berusaha menahan rasa kesal sambil mengaduk-aduk makanannya dengan sendok.


"Apa kamu mengerti Ran?" tanya Pak Subrata menatap Rania.


"Aku mau pulang dulu Om," ucap Rania berdiri sebelum melangkahkan kakinya keluar.


"Kamu nggak salim sama Om?" Ucap Pak Subrata menghentikan langkah Rania.


"Rania pamit Om," Ucap Rania setelah mencium tangan Pak Subrata, menatap sinis ke arah Erfan dan Dara sebelum melangkahkan kakinya keluar meninggalkan meja makan.


"Hati-hati Ran," ucap Pak Subrata menatap kepergian Rania.


"Apapun ucapan Rania jangan diambil hati ya Ra?" ucap Pak Subrata setelah mengalihkan pandangannya menatap Dara.


"Iya Pa, Dara juga minta maaf kalau tadi nggak bisa mengontrol emosi Dara."


"Nggak papa Ra, Papa faham, Papa ke kamar duluan ya?" Ucap Pak Subrata berdiri, dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan.


"Iya Pa," Ucap Erfan dan Dara kompak.


"Mas Erfan mau tambah lagi makannya?" tanya Dara menatap Erfan.


"Nggak Ra, sudah kenyang." Ucap Erfan sebelum meminum air yang ada disebelahnya.


Trrrrt trrrtttt ponsel Erfan yang ada diatas meja bergetar.


"Nathan," ucap Erfan sambil menunjukkan layar ponselnya pada Dara.

__ADS_1


"Halo," Ucap Erfan mengangkat telepon.


"Aku kekamar dulu ya Mas," ucap Dara lirih didepan Erfan.


Erfan hanya mengangguk tetap fokus dengan teleponnya.


***


Hari ini hari Minggu, dimana Erfan dan Dara akan melakukan banyak kegiatan dihari libur kerjanya, dari melihat-lihat rumah baru yang akan dibeli hingga belanja dan nonton film bersama dibioskop yang ada disalah satu mall terbesar dikotanya.


"Ra?" Panggil Erfan lirih baru bangun tidur, mencari keberadaan istrinya,


Erfan mengucek matanya pelan, berusaha untuk duduk bersandar disandaran ranjang. "Masih jam tujuh pagi, kemana dia?" ucap Erfan setelah melihat jam dinding.


Cklek pintu kamar terbuka, terlihat Dara dari balik pintu, masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas air lemon hangat diatas nampan.


"Sudah bangun Mas?" Ucap Dara tersenyum dan berjalan menghampiri Erfan sebelum meletakkan nampannya diatas nakas.


Erfan hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan, menatap Istrinya dengan tatapan yang sangat lembut.


"Aku sudah buatin air lemon buat Mas Erfan." ucap Dara duduk ditepi ranjang disebelah Erfan.


"Terimakasih Sayang..." Ucap Erfan manja memeluk Dara dengan suaranya yang masih terdengar serak.


Dara membalas pelukan Erfan, "Sepertinya jenggot Mas Erfan sudah waktunya dicukur deh." Ucap Dara saat jenggot Erfan menyentuh bahu dara yang sedikit terbuka.


Bukannya melepaskan pelukannya Erfan malah dengan sengaja menggerak-gerakkan dagunya ke bahu dan leher Dara, hingga membuat Dara tertawa menahan rasa gelinya.


"Geli tau Mas.." Protes Dara tertawa berusaha melepaskan pelukan Erfan.


"Tolong ambilin pisau cukurku sama krimnya dong Ra, ada dilaci paling bawah diruang ganti." Ucap Erfan masih terkekeh turun dari ranjang, meminum air lemon buatan istrinya sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.


"Iya Mas," ucap Dara turun Dari ranjang, berjalan menuju ruang ganti, berusaha untuk mencari barang yang dimaksud suaminya.


"Ini dia," ucap Dara lirih saat menemukannya.


Dara segera masuk ke dalam kamar mandi, melangkahkan kakinya mendekati Erfan yang sedang berdiri didepan cermin yang sangat lebar dan panjang.


"Ini Mas," ucap Dara memberikan alat cukurnya.


"Masss" Pekik Dara terkejut saat Erfan tiba-tiba mengangkat dan mendudukkannya diatas bufet yang ada didepannya.


"Bantuin aku Ra," ucap Erfan sambil memajukan wajahnya mendekati Dara.


"Tapi aku nggak bisa Lo Mas, nanti berdarah gimana?"


"Makanya belajar, mulai sekarang aku nggak akan cukur jenggotku kalau bukan kamu yang mencukur." Ucap Erfan tersenyum menatap Dara.


"Pffffftttt, aku terharu lo Mas..." Ucap Dara menahan tawa.


"Terharu ya kamu? hahaha." Ucap Erfan tertawa.


Dara segera membuka krim cukur yang ada ditangannya, mengeluarkan krim ke tangannya sebelum mengoleskan merata pada dagu dan atas bibir suaminya.

__ADS_1


"Yakin nih Mas aku yang nglakuin?" ucap Dara sambil membawa pisau cukur ditangannya.


Erfan menganggukkan kepalanya pelan.


"Hati hati ya Ra, jangan sampai menggores wajah tampan suamimu ini," ucap Erfan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Dara.


"Aku usahakan Mas," jawab Dara tegang.


"Aaaa," pekik Erfan saat Dara menempelkan pisau cukur ke pipinya.


"Belum." ucap Dara terkejut.


"Hahahaha," Erfan semakin tertawa melihat ketegangan diwajah istrinya.


"Jangan gerak dong Mas," protes Dara.


Dara mulai menempelkan pisau cukurnya ke atas pipi kanan Erfan, menggerakkannya perlahan, turun kebawah menyusuri dagu, mengangkatnya lagi ke pipi kiri, menurun sampai ke dagu sebelum bergerak memutar menuju bagian atas bibir suaminya.


"Hati-hati Ra," gumam Erfan.


"Ini sudah hati-hati Mas," ucap Dara berusaha tetap fokus dengan aktifitasnya.


sepuluh menit sudah Dara berjibaku dengan jenggot dan kumis Erfan, busa krim yang tadinya menumpuk kini sudah terlihat bersih.


Sepertinya sudah bersih Mas," ucap Dara menatap jenggot Erfan.


Erfan segera melepaskan pelukannya, menggeser tubuhnya sedikit untuk melihat pantulan wajahnya didepan kaca.


"Kerja bagus sayang," Ucap Erfan menepuk lembut puncak kepala Dara.


"Cepat mandi Mas, keburu siang." Ucap Dara berusaha turun dari buffet.


"Mau kemana kamu?"


"Aku tunggu dikamar."


"Tugasmu kan belum selesai Ra,"


"Ha? tugas apa?" tanya Dara bingung.


"Mandi bersamaku," ucap Erfan tertawa sambil membopong tubuh Dara ke arah Bathup.


***


Setelah sarapan bersama Pak Subrata, Dara dan Erfan segera pamit untuk pergi ke perumahan XXY.


"Bantu aku Ya Allah, semoga nggak ada masalah." Doa Dara dalam hati saat akan masuk kedalam mobil, berusaha menenangkan hatinya yang kembali gelisah.


"Kamu kenapa Ra? kok kelihatan gelisah gitu?" tanya Erfan setelah melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Pak Subrata.


"Nggak papa Mas, aku nggak gelisah." Ucap Dara berbohong, berusaha tersenyum didepan Erfan.


_________________

__ADS_1


HAI READERS JANGAN LUPA LIKE, KOMEN FAVORIT DAN VOTENYA YA....BIAR AUTHORNYA LEBIH SEMANGAT UNTUK UP


__ADS_2