
"Mas," Ucap Dara menahan lengan suaminya.
Erfan menghentikan aksinya , berusaha mengatur emosi dan nafasnya yang menggebu.
"Jangan memukul perempuan Mas." Ucap Dara mencoba untuk menenangkan Erfan.
Dara melangkahkan kakinya lebih mendekati Rania.
"Apa kamu puas bisa menamparku Ran?, aku hanya berkata- kata tapi kamu sudah sakit hati, bagaimana denganku saat mendengar setiap kalimat kamu yang ingin merebut suamiku?, dan itu nggak hanya sekedar kata tapi juga dengan tindakanmu yang nggak beretika." Ucap Dara tegas menatap Rania.
"CTaHari ini aku akan memaafkanmu, tapi ingat, jangan pernah berfikir aku wanita lemah yang bisa kamu sakiti semau kamu." Ucap Dara lagi sebelum membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menjauhi Rania.
"Ayo Mas," Ucap Dara menggandeng tangan Erfan untuk pergi meninggalkan restoran rooftop
"Awas kamu Dara, tunggu pembalasan dariku." Ucap Rania mengepalkan tangan kanannya menahan emosi dengan
menatap kepergian Erfan Dan Dara.
Dara tetap mengandeng tangan Erfan saat menuruni anak tangga dan melepaskannya saat berada di pertengahan anak tangga. Sedikit berlari meninggalkan suaminya.
"Ra," Panggil Erfan sebelum ikut berlari mengejar langkah istrinya.
Dara tidak memperdulikan panggilan Erfan, dia tetap berlari, melangkahkan kakinya menuju parkiran tempat Erfan memarkir mobilnya, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh,berusaha untuk menguatkan hatinya yang terasa sakit.
"Ra," panggil Erfan lagi mendekati Dara. Erfan menatap mata Dara yang sudah berair sebelum menyentuh lembut pipi istrinya yang memerah akibat tamparan Rania.
"Maaf, ucap Erfan merengkuh bahu Dara berusaha membawa Dara dalam pelukannya.
"Ayo pulang Mas." Ucap Dara menolak pelukan Erfan.
Erfan terdiam sesaat karena penolakan Dara.
"Tolong buka kunci mobilnya Mas," ucap Dara datar menoleh ke arah Erfan.
Bib Erfan menekan remote mobil setelah mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.
Dara segera membuka pintu depan mobil.
"Dara," panggil Erfan pelan.
Dara menoleh ke arah Erfan dengan tangan kanan masih menyentuh handle pintu mobil suaminya.
"Apa kamu marah?" tanya Erfan menatap Dara.
Dara menggelengkan kepalanya pelan, "Aku hanya ingin pulang." Ucap Dara sebelum membuka pintu dan masuk kedalam mobil untuk duduk di sebelah kemudi.
Erfan menghela nafas pelan sebelum berjalan memutari bagian depan mobil dan masuk kedalam mobilnya.
"Harusnya kamu keluarin semua kekesalan kamu Ra," ucap Erfan dalam hati menatap istrinya yang sedang menatap keluar jendela.
__ADS_1
"Ra," panggil Erfan lagi setelah melajukan mobilnya.
Dara hanya diam tak menyauti panggilan Erfan, fikirannya masih dikuasi oleh kejadian yang baru saja terjadi, dia masih mengingat bagaimana cara Rania memeluk suaminya. Dia juga masih mengingat rasa sakitnya tamparan Rania.
"Bagaimana bisa mereka berpelukan seperti itu?, apa benar karena dress Rania? tapi kenapa Mas Erfan hanya diam tak menolaknya?" ucap Dara dalam hati sambil menatap jalanan malam dibalik kaca mobil.
"Dara," panggil Erfan lagi menggenggam tangan Dara yang ada dipangkuan, pandangannya sesekali menatap Dara dan jalanan yang ada di depannya.
Dara menoleh menatap Erfan.
"Aku tahu kamu marah, aku minta maaf, tapi jangan diamin aku seperti ini." Ucap Erfan memelas tetap fokus dengan setirnya.
Dara melepaskan tangan suaminya dengan pelan. "Mas Erfan harus fokus saat menyetir." Ucap Dara datar.
"Bahkan sentuhan tanganku saja kamu menolaknya Ra." Ucap Erfan dalam hati.
Mobil Erfan sudah sampai dihalaman depan rumah Pak Subrata. Setelah Erfan memakirkan mobilnya Dara segera turun dan berjalan masuk tanpa menunggu suaminya.
Sedangkan Erfan hanya menghela nafas sebelum turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk kedalam dapur untuk mengambil minuman dingin.
"Tuan Erfan butuh sesuatu?" tanya Bi Minah menghampiri Erfan.
"Nggak Bi, Papa sudah tidur?" tanya Erfan setelah meminum setengah botol kecil air dingin.
"Bapak barusan masuk kamar Tuan." jawab Bi Minah sopan.
Erfan menganggukkan kepala sebelum mengambil satu botol air dingin lagi dari dalam kulkas. "Sudah malam, Bi Minah istirahat saja."
Erfan berjalan menuju kamarnya dengan membawa dua botol air dingin, melangkahkan kakinya menaiki anak tangga sebelum membuka pintu kamarnya.
Erfan berjalan ke arah ranjang, menaruh dua botol air dingin diatas nakas sebelum membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Kenapa aku harus mengenal wanita seperti kamu Ran." Ucap Erfan lirih memejamkan matanya dengan lengan yang ditekuk ke atas menutupi wajahnya.
Cklek pintu kamar mandi terbuka, Dara keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk ditubuh dan kepalanya yang basah setelah keramas.
"Kenapa disaat situasi seperti ini kamu malah menggoda aku Ra?" Batin Erfan setelah menurunkan tangannya dan menatap Dara.
Dara berjalan ke ruang ganti untuk mengambil bajunya yang ada dialmari tanpa menghiraukan Erfan yang sedang menatapnya.
"Jangan marah terus dong Ra," Ucap Erfan memeluk Dara dari belakang saat istrinya sedang membuka pintu almari.
"Aku mau ganti baju dulu Mas," ucap Dara berusaha melepaskan pelukan Erfan.
"Apa kamu cemburu Ra?" tanya Erfan lebih mengeratkan pelukannya dan mengecup beberapa kali bahu Dara yang terbuka, membuat Dara merasa geli.
"Bagaimana aku nggak cemburu Mas, saat melihat suamiku menikmati pelukan wanita lain." Ucap Dara datar mengambil setelan piyamanya
"Astaga Dara...aku nggak menikmatinya," Ucap Erfan membalikkan tubuh Dara untuk menghadap dirinya." Sumpah!" Ucap Erfan lagi dengan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya menatap Dara.
__ADS_1
"Buktinya Mas Erfan nggak menolak saat dipeluk Rania, Mas Erfan hanya diam, apa itu namanya kalau nggak lagi menikmati?"
"Aku terkejut sayang, aku shock, kamu sih datangnya kecepetan, jadi kamu lihatnya aku hanya diam." Ucap Erfan berusaha menjelaskan.
"Oooo jadi Mas Erfan berharapnya aku ke toiletnya lama, biar bisa pelukannya lama?, gitu?" Ucap Dara berlalu meninggalkan Erfan menuju ranjang sambil membawa piyamanya.
"Astaga...salah lagi aku," ucap Erfan kesal menggaruk kepalanya yang nggak gatal.
"Bukan seperti itu maksudku Ra, kalau kamu Datangnya lima menit lagi kan pasti aku sudah melepaskan pelukanya." Ucap Erfan lagi berjalan mengikuti langkah Dara.
"Jadi Mas Erfan inginnya dipeluk Rania selama lima menit?, ucap Dara menatap Erfan.
Erfan menghela nafasnya kasar. "Kenapa setiap kalimat yang aku keluarkan jadinya salah dipemahaman kamu sih Ra?" Batin Erfan.
"Aku mau ganti baju dulu," Ucap Dara sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa harus dikamar mandi ganti bajunya Ra?, disini kan bisa?" Ucap Erfan berusaha menghentikan Dara.
Dara hanya diam dan tetap melangkah masuk tak memperdulikan ucapan suaminya.
Hanya butuh waktu lima menit untuk Dara mengganti bajunya, Dara keluar kamar mandi dengan setelan piyamanya yang berwarna biru.
"Mas Erfan nggak mandi?" tanya Dara menghampiri Erfan yang sedang duduk ditepi ranjang.
"Kamu minum dulu deh Ra," Ucap Erfan memberikan satu botol air dingin yang tadi dibawanya.
"Aku nggak haus Mas," Ucap Dara tetap mengambil alih botol dari tangan Erfan.
"Nggak papa, minum aja, itu air dingin, biar kepala kamu ikut dingin, nggak marah- marah lagi, dan bisa menerima semua penjelasanku.
Dara menuruti perintah suaminya untuk minum, "Terimakasih Mas, tapi kenapa kepalaku tetap nggak dingin ya? terutama hatiku ini kenapa masih panas?" Ucap Dara sambil meletakkan botol air diatas nakas, dan melangkahkan kakinya untuk tidur ditepi ranjang seberang Erfan.
"Aaaaaa," pekik Dara saat Erfan tiba-tiba menarik tangannya hingga membuatnya menabrak tubuh tegap suaminya yang sudah berdiri dari duduknya. Erfan segera memeluk pinggang Dara untuk mengunci ruang gerak istrinya.
"Aku ingin menunjukkan cara paling ampuh untuk mendinginkan kepala dan hati kamu Ra." Ucap Erfan dengan suara beratnya menatap lekat wajah Dara yang kini hanya berjarak lima CM , hingga membuat wajah Dara bersemu merah.
Erfan mendekatkan lagi wajahnya pada wajah Dara, hingga menghilangkan jarak antar keduanya, menempelkan bibirnya untuk bertemu dengan bibir Dara, m*nciumnya lembut sambil memindahkan tangan kanannya pada tengkuk Dara.
Erfan memperdalam c*umannya, memainkan l*dahnya pada mulut istrinya, membuat Dara susah nafas saat mengikuti permainan suaminya.
Erfan dan Dara sama-sama melepaskan tautan bibirnya, saling berebut oksigen untuk mengisi paru-parunya.
"Apa hati kamu sudah dingin Ra?" Ucap Erfan tersenyum menatap Dara.
Dara memukul pelan dada Erfan, memanyunkan bibirnya manja menatap suaminya.
"Hahaha, Bagaimana aku bisa menikmati pelukan wanita lain saat aku sudah memiliki istri secantik kamu." Ucap Erfan tertawa memeluk erat Dara.
______________________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.