
"Ayo Ra," Ucap Erfan berdiri dari tempat duduknya.
"Kemana?" tanya Dara ikut berdiri.
"Ganti baju, kan suamimu ini harus kerja, atau kamu mau nunggu disini?"
Dara menggeleng, "Aku ikut."
Erfan dan Dara berjalan mendekati Pak Subrata dan Rania.
"Pa, kita tinggal ke atas dulu ya?" ucap Erfan setelah menggandeng tangan Dara.
Pak Subrata menganggukkan kepala pelan menatap Erfan.
"Dara tinggal ke atas dulu ya Pa," ucap Dara.
"Iya Ra."
Dara dan Erfan berjalan menuju tangga.
"Rania pamit Om." ucap Rania mencium tangan Pak Subrata.
"Hati-hati Ran." ucap Pak Subrata.
Rania berjalan menuju pintu utama, tatapan mata kesalnya tetap menuju ke arah Erfan dan Dara, sebelum melangkahkan kaki untuk keluar dari Rumah Pak Subrata.
"Mau aku gendong lagi?" tanya Erfan saat ingin menaiki tangga.
Dara menggelengkan kepala cepat, "Jangan coba-coba menggendongku sekarang Mas, ada Papa, sama ...," ucapan Dara terpotong.
"Sama siapa?" goda Erfan.
Dara mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban, dan terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
Erfan terkekeh, "Kamu cemburu?"
Dara terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan Erfan.
"Siapa dia Mas?" tanya Dara menyelidik saat sampai didalam kamar.
"Rania." Jawab Erfan datar sambil berjalan menuju ruang ganti.
"Aku tahu dia Rania, tapi siapa Rania itu? apa kamu pernah bertunangan dengan dia?" tanya Dara mengikuti Erfan.
Erfan mengangguk sambil melepaskan kaos yang di pakainya, mengambil kemeja yang ada didalam almari dan memakainya tanpa mengancingkannya.
"Ha? kok Mas Erfan nggak pernah cerita ke aku?"
Erfan menatap lembut Dara, menikmati wajah cemburu istrinya.
"Kenapa Mas Erfan malah ngeliatin aku?" tanya Dara menjauhkan wajahnya dari Erfan.
Erfan tekekeh, "Bantuin aku Ra," ucapnya sambil mengancingkan kemejanya.
Dara menatap Erfan sebelum membantu mengancingkan kemeja suaminya, "Kapan Mas Erfan akan menjawab pertanyaanku?"
"Sekarang," ucap Erfan melingkarkan tangannya pada pinggang Dara.
__ADS_1
"Rania anak Om Setya, sahabatnya Papa, dia sudah menyukaiku sejak kuliah."
"Kalian satu kuliah?" tanya Dara setelah selasai dengan kancing Erfan.
Erfan menganggukkan kepala pelan, "Dia Adik kelasku, setelah aku lulus kuliah dan kerja diPerusahaan Papa, Om Setya menawari Papa untuk menjodohkan anaknya dengan suamimu ini." Ucap Erfan masih memeluk pinggang Dara.
"Terus?" tanya Dara penasaran.
"Terus bantu aku pakai dasi," ucap Erfan mengambil salah satu dasi yang ada dilaci dan memberikannya kepada Dara.
"Issss," ucap Dara kesal memukul pelan lengan Erfan.
"Hahahaha, sabar dong sayang."
Dara mengambil alih dasi dari tangan Erfan, "Bisa nggak sih Mas kalau cerita itu yang cepat, jangan dipotong-potong." Omel Dara sambil memasangkan dasi ke leher Erfan.
"Papa setuju dengan tawaran Om Setya, sama seperti kita dulu, Papa memaksaku untuk berjodoh Sama Rania, tapi berhubung usiaku masih muda, aku dan dia hanya bertunangan."
"Kenapa pertunangan kalian putus?"
"Karena aku nggak suka sama dia, dia terlalu agresif dan mengekang, dia hanya tahu cara mengambil hati Papa, sama sekali nggak tahu cara mengambil hatiku, seperti kamu." Ucap Erfan tersenyum menatap Dara.
"Memangnya aku bisa mengambil hati Mas Erfan?" tanya Dara tersipu malu.
"Sangat bisa," ucap Erfan sebelum mendaratkan bibirnya kebibir istrinya, Erfan melepaskan tangan kanannya dari pinggang Dara, dan mengarahkannya pada tengkuk Dara, untuk memperdalam C*umannya.
"Mas." Dara melepaskan c*uman Erfan saat paru-parunya membutuhkan udara untuk bernafas. "Sudah siang, Mas Erfan nanti telat."
Erfan tersenyum sebelum mengecup kening Dara, "Tolong ambilkan jas kerjaku Ra."
" Aku penasaran Mas, bagaimana caranya Mas Erfan bisa merubah fikiran Papa agar setuju dengan pemutusan pertunangan?" Tanya Dara sambil memakaikan jas dibadan Erfan.
"Sudah nggak perlu dibahas lagi Ra, itu hanya masa lalu, sama sekali nggak ada hubungannya dengan masa depan kita." Ucap Erfan mengambil tas kerja.
"Aku berangkat ya?"
Dara menganggukkan kepalanya pelan, "Aku antar kebawah Mas."
"Kamu disini saja, istirahat, persiapkan dirimu untuk nanti malam." Ucap Erfan mengedipkan mata kanannya.
Dara memukul pelan dada suaminya, sebelum mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Erfan. "Hati-hati Mas."
Erfan tersenyum menganggukkan kepala sebelum keluar dari ruang ganti, diikuti Dara dibelakangnya.
"Mas." Panggil Dara saat Erfan akan membuka pintu kamar.
"Ada apa?" tanya Erfan menoleh.
"Aku harap hubungan Mas Erfan dan Pak Nathan baik- baik saja."
Erfan terdiam sebentar menatap Dara, "Jangan terlalu difikirkan Ra, aku akan mengurusnya." Ucap Erfan sebelum membuka pintu dan keluar kamar untuk berangkat kerja.
***
Erfan sedang duduk dikursi kebesarannya, pandangannya fokus ke layar laptop dan sesekali melihat berkas yang ada ditangan kirinya.
Tok tok tok suara ketukan pintu terdengar dipintu ruangan Erfan.
__ADS_1
"Masuk," ucap Erfan tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Pintu ruangan terbuka, Nathan berjalan ragu-ragu masuk mendekati meja Erfan.
Erfan hanya melihat sekilas dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Bagaimana hubungan kamu sama Dara?" tanya Nathan saat duduk didepan Erfan.
"Bukan urusanmu." Ucap Erfan datar tanpa menatap Nathan.
"Apa kamu masih marah Fan?"
Erfan hanya diam tak memperdulikan pertanyaan Nathan.
"Aku tahu aku Salah, aku marah karena aku terlalu malu."
Erfan terdiam sebelum mengalihkan pandangannya menatap Nathan.
"Apa kamu tahu bagaimana rasanya kepergok menaksir istri sahabat sendiri Fan? kenapa kamu menyembunyikan pernikahanmu dariku?"
Erfan menghela nafas pelan sebelum menutup dan meletakkan berkas diatas meja. "Karena Dara nggak ingin dikenal sebagai istri CEO, dia hanya ingin dikenal karena kinerjanya."
"Harusnya kamu tetap menceritakan semuanya ke aku Fan, apa kamu merasa aku nggak bisa dipercaya untuk menjaga rahasiamu?"
"Oke, aku salah, harusnya aku menceritakan semuanya ke kamu."
"Aku minta maaf jika sikapku kemarin membuat hubungan kalian merenggang."
Erfan menggelengkan kepala, "Mungkin aku harus berterimakasih sama kamu, karena tindakanmu kemarin aku sama Dara menjadi semakin dekat." Erfan tersenyum tipis.
"Oh ya?" tanya Nathan antusias.
Erfan menaikkan alisnya sambil tersenyum senang.
"Hahahaha menyesal aku sudah merasa bersalah."
"Tapi tetap kamu salah Than, untung saja hubungan kami membaik, kalau sampai pisah, aku hajar kamu."
"Sorry Fan, aku nggak bisa mengontrol diri kemarin."
"Lupain aja, tadi Rania ke rumah."
"Ngapain lagi dia?"
Erfan mengangkat kedua bahunya untuk menjawab pertanyaan Nathan.
"Kamu harus lebih hati- hati sekarang Fan. Dia wanita gila, kamu masih ingat kan apa yang dia lakukan dulu ke wanita yang dekat sama kamu?"
Erfan menganggukkan kepalanya, "Aku nggak akan pernah membiarkannya menyentuh Dara."
"Besok lusa kita ada undangan pesta ulang tahun Perusahaan Pak Setya Fan, apa kamu akan mengajak Dara? Rania pasti ada disana."
"Aku nggak mungkin datang tanpa Dara kan? selain istriku dia juga Secretarisku."
_____________________________________
Mohon dukung Author dengan like, favorite dan vote.
__ADS_1