
Jam tangan Erfan sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih sepuluh menit, tapi mobil Erfan baru memasuki area hotel.
Setelah memarkirkan mobilnya, Dara dan Erfan segera turun dan melangkahkan kaki mereka menuju pintu masuk hotel sebelum menaiki lift ke lantai lima tempat Acara dilangsungkan.
"Sudah ramai Mas," ucap Dara setelah sampai didepan area ballroom.
"Iya, kita kan datangnya telat Ra, acaranya juga sudah dimulai," ucap Erfan menoleh ke arah Dara.
"Ayo..." Ucap Erfan lagi tetap menggandeng tangan istrinya menuju penerima tamu yang ada di depan pintu Ballroom.
"Pratama Group, silahkan sebelah sini Pak." Ucap penerima tamu saat Erfan menunjukkan kartu undanganya.
Erfan Dan Dara berjalan masuk mengikuti langkah penerima tamu yang sudah lebih dulu berjalan didepannya.
"Cari siapa Mas?" tanya Dara saat melihat Erfan mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
"Cari Nathan sama Clara." Jawab Erfan tetap melangkah.
"Mungkin sudah duduk Mas."
Erfan hanya menganggukkan kepala sambil terus melangkah mengikuti penerima tamu.
"Disini Pak, silahkan." Ucap penerima tamu sambil menunjuk sopan meja bundar dengan tujuh kursi yang ada didepannya.
"Terimakasih," Ucap Erfan datar kepada penerima tamu.
Dara tersenyum menatap Clara dan Nathan yang sudah sampai terlebih dahulu.
Deg, Dara terdiam seketika, senyumnya tiba-tiba menghilang saat menatap tiga pasang mata yang sedang duduk di kursi seberangnya.
"Ayo duduk Ra," Ucap Clara menyentuh lengan Dara, membuat Dara mengalihkan pandangannya menatap Clara
"Kenapa Ra?" Tanya Erfan masih belum menyadari kehadiran orang yang Dara lihat.
Dara hanya diam sedikit mengkode suaminya untuk melihat kearah pandangannya.
"Sarah, Dewa." Ucap Erfan terkejut.
Erfan dan Dara tidak menyangka akan satu meja dengan Dewa, Sarah dan suami Sarah.
"Ayo duduk Mas," ucap Dara menyentuh lengan Erfan.
"Apa kabar Fan?" tanya Sarah menatap Erfan yang baru saja duduk di kursinya.
Erfan hanya diam, tak ingin menjawab pertanyaan Sarah.
"Kenapa Kak Erfan terlihat nggak suka dengan ketiga orang didepan kita Ra?" Bisik Clara pada telinga Dara.
Dara hanya menggelengkan kepala menatap Clara. "Nanti aku jelasin, tapi nggak disini." Dara balik berbisik ditelinga Clara.
"Apa kamu masih marah sama istriku karena meninggalkanmu dan menikah denganku?" Saga membuka suara.
__ADS_1
"Apa aku terlihat seperti itu?, sepertinya ada yang salah dengan penglihatan anda." Ucap Erfan menatap Saga.
"Bagaimana mungkin dia masih mengingat Sarah Ga, saat dia sudah berhasil merebut kekasihku." Timpal Dewa memancing kemarahan Erfan.
"Wa." Sentak Dara menatap Dewa. "Aku mohon jangan membuat keributan disini." Ucap Dara lagi membuat Clara dan Nathan sedikit terkejut.
Erfan berusaha menahan rasa kesalnya. "Kamu benar, bagaimana aku bisa mengingat istri orang saat aku sendiri sudah mempunyai istri secantik dan sebaik ini." Ucap Erfan sebelum meminum minumannya.
"Mungkin kamu juga harus segera menikah agar kamu bisa berhenti mengingat istriku." Ucap Erfan menatap Dewa.
"Br*ngs*k kamu." Ucap Dewa berdiri sambil menggebrak meja, membuat keributan dan mengalihkan pandangan semua tamu yang ada di Ballroom menuju ke arahnya, termasuk Rania yang duduk di meja sebelahnya.
"Dewa, kendalikan diri kamu." Ucap Saga ikut berdiri berusaha untuk menenangkan Dewa.
Dewa duduk kembali, berusaha mengontrol emosi yang membuat nafasnya menggebu.
"Tolong jangan memancing keributan Mas." Ucap Dara memelas.
"Kamu tahu sendiri bukan aku yang memulai, aku dari tadi diam, tapi dia yang mencari gara-gara." Ucap Erfan kesal menatap Dara.
Dara mengusap lembut lengan Erfan, "Iya Mas Erfan juga sabar jangan ikut kepancing." Ucap Dara berusaha menenangkan suaminya.
Dewa mencebikkan bibirnya dengan tatapan sinis ke arah Erfan dan Dara. "Kamu bahkan sudah berani menyentuh dia didepanku Ra, apa kamu nggak memperdulikan perasaanku?" ucap Dewa menatap Dara.
"Kita sudah berakhir Wa." jawab Dara pelan menatap Dewa.
"Apa aku setuju putus denganmu Ra?" ucap Dewa sebelum menggelengkan kepalanya, "nggak, bukankah itu artinya kamu masih kekasihku?" Ucap Dewa menatap Dara.
" Mas." Pekik Dara tak berhasil menghentikan Erfan.
BUG Erfan melayangkan tinjunya pada bibir Dewa, hingga membuat tubuh Dewa terhuyung ke belakang.
"Br*ngs*k. BUG Dewa membalas pukulan Erfan hingga membuat darah segar sedikit mengalir disudut bibir Erfan.
Erfan sudah bersiap melayangkan tinjunya lagi di wajah Dewa, namun tertahan oleh tangan kekar Nathan yang memegang tubuhnya kuat-kuat, berusaha untuk melerai perkelahiannya.
"Fan, jangan membuat keributan disini." Ucap Nathan berusaha menahan tubuh Erfan yang nggak mau tenang.
"Apa kamu ingin mempermalukan dirimu disini Wa?" Sentak Saga yang berusaha menahan tubuh Dewa.
Sedangkan Clara dan Sarah hanya bisa melihat sambil membekap mulut mereka karena terkejut.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Ucap salah satu Security yang baru datang menghampiri.
" Tolong Pak jangan membuat keributan disini." Ucap Security lagi.
Erfan melepaskan tubuhnya dari tangan Nathan, merapikan kembali setelan jasnya sebelum mengedarkan pandanganya melihat sekelilingnya.
Kini mereka sudah menjadi pusat perhatian dari semua tamu yang ada di ballroom.
"Lebih baik kita pergi dari sini Mas," ucap Dara menghampiri Erfan.
__ADS_1
"Atas nama suami saya, saya mohon maaf Pak." Ucap Dara kepada tiga Security yang ada didepannya.
"Kami pulang dulu ya Cla, Pak." Ucap Dara lagi menoleh ke arah Clara dan Nathan.
Clara Dan Nathan menganggukkan kepala kompak. "Hati-hati Ra." Ucap Clara.
Dara menganggukkan kepalanya pelan sebelum menatap sekilas ke arah Dewa. "Ayo Mas." Ucap Dara menggandeng tangan Erfan dan melangkahkan kakinya keluar dari ballroom.
***
"Aaahh." Pekik Erfan didalam mobil saat Dara mengobati sudut bibirnya yang terluka, "sakit Ra, pelan-pelan." Ucap Erfan menyentuh sudut bibirnya.
Dara hanya diam tetap mengoleskan salep antibiotik pada bibir suaminya.
"Apa kamu marah Ra?"
"Aku hanya sedikit kesal." Ucap Dara tetap pada olesan salepnya.
"Kenapa?"
"Apa Mas Erfan harus adu jotos seperti itu?" ucap Dara menatap Erfan.
"Harus, agar dia tahu diri. Apa kamu marah karena aku memukulnya?"
Dara menghela nafas sebelum menutup salep yang ada ditangannya. "Didalam banyak tamu Mas, bahkan banyak klien Perusahaan Mas Erfan juga, tapi Mas Erfan nggak bisa mengontrol emosi dan malah membuat keributan. Bagaimana dengan nama baik Mas Erfan dan Perusahaan?" ucap Dara menatap Erfan.
"Sudah terlanjur Ra, perkelahian seperti itu juga nggak akan terlalu banyak menurunkan imageku. Semua orang punya masalah pribadi kan? klien kita juga pasti mengerti dan nggak akan mencampur adukkan masalah kerja degan masalah pribadi."
"Sampai kapan Mas Erfan akan bertikai sama Dewa?"
"Sampai dia bisa menerima kenyataan dan berhenti mengganggu hubungan kita."
"Apa kamu nggak bisa lebih memaklumi tindakan Dewa Mas?"
"Maksud kamu apa?" ucap Erfan mengerutkan keningnya.
"Aku rasa wajar jika dia bersikap seperti itu, karena kenyataannya kita sudah sangat menyakiti perasaannya. Dia hanya butuh waktu Mas." Ucap Dara menatap lembut Erfan.
"Dan...." Ucap Dara menggantung karena ragu untuk mengatakannya.
"Dan apa?" tanya Erfan menyelidik.
"Dan... berhenti bertengkar dengan dia!"
Erfan hanya diam menatap Dara.
"Bagaimanapun juga aku pernah mencintainya, dan karena rasa cinta itu aku sudah sangat menyakiti perasaannya.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Erfan menatap tajam Dara.
______________________________
__ADS_1
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up