
"Ngapain kamu kesini?" tanya Erfan dengan sinis menatap Rania yang kini sedang berdiri di samping mejanya.
"Terimakasih Mas," ucap Dara memberikan buku menu kepada pelayan sebelum mengalihkan pandangannya lagi ke arah Rania.
"Aku? makan lah Fan," jawab Rania sebelum melangkahkan kakinya untuk duduk di sebelah Erfan.
"Bolehkan aku duduk disini?" ucap Rania lagi menatap Dara dan Erfan bergantian.
"Erfan dan Dara hanya diam tak menjawab pertanyaan Rania, tetap menatap wanita yang selalu menganggu kebahagiaan mereka itu dengan datar.
"Terimakasih," ucap Rania dengan seulas senyum nya sebelum mengangkat tangannya kembali memanggil pelayan restoran.
***
Flasback
Cindy meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerjanya setelah memutus panggilan telepon dari Dara, yang bilang kalau hari ini dia akan pergi kerumah sakit bersama suaminya, jadi akan berangkat ke kantor lebih siang dari biasanya.
"Mungkin ini kesempatanku untuk mencari tahu masalah hubungan mereka." Ucap Cindy sebelum berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Erfan yang terlihat kosong
Cindy mulai menggeledah barang-barang yang ada di meja kerja Erfan, membuka semua laci yang ada di meja, baik laci yang ada di atas, tengah dan bawah, bahkan berkas yang ada di atas tumpukan meja kerja Erfan pun tak luput dari jamahan tangannya.
"Kenapa nggak ada apa-apa disini?" ucap Cindy kesal berkacak pinggang sambil mengedarkan pandangannya mengamati kembali barang-barang yang ada di area meja kerja atasannya.
Pandangan Cindy jatuh pada sebuah buku catatan tebal yang berwarna hitam, yang ada di dalam laci meja paling bawah yang masih terbuka.
"Nota pemesanan?" ucap Cindy pelan setelah membuka buku catatan Erfan dan menemukan sebuah nota pemesanan cincin di toko perhiasan Sinar.
Cindy segera merapikan kembali meja kerja Erfan yang terlihat berantakan agar terlihat kembali rapi sama seperti semula, sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Erfan untuk mengambil ponselnya yang masih berada di atas meja kerjanya.
Cindy segera menggeser-geser layar ponselnya untuk mencari nama Rania yang ada di dalam kontak ponselnya.
"Halo Ran?" ucap Cindy setelah sambungan teleponnya tersambung dengan Rania.
"Iya Cin? ada kabar apa? tanya Rania dari dalam ponsel.
"Hari ini Dara dan suaminya pergi ke rumah sakit, mungkin untuk program kehamilannya, dan saat aku menggeledah ruang kerja Pak Erfan, aku menemukan nota pemesanan cincin di ruangannya Ran."
"Terus apa hubungannya program hamil sama nota pemesanan cincin Cin??" tanya Rania tidak mengerti maksud temannya.
"Bukankah kemarin kamu bilang kalau kamu kangen sama Pak Erfan Ran? aku rasa setelah pulang dari rumah sakit, mereka akan langsung pergi ke toko perhiasan ini, untuk mengambil cincin pesanannya. Kamu bisa kesana untuk bertemu dengan laki-laki pujaan hati kamu."
__ADS_1
"Apa kamu yakin Cin?" tanya Rania memastikan.
"Sangat yakin Ran, karena tanggal pengambilannya hari ini." jawab Cindy meyakinkan.
"Dimana tempatnya?"
"Di toko perhiasan Sinar yang ada di Big mall."
Rania terdiam mendengar jawaban Cindy.
"Ran," panggil Cindy saat tak mendengar suara Rania.
"Iya Cin, aku tahu tempatnya."
"Jangan lupa Dara sangat sensitif masalah kehamilan, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" ucap Cindy dengan senyum menyeringainya menatap tajam ke depan.
Flasback Selesai.
***
"Apa kamu bisa pergi dari sini sekarang? kehadiranmu sangat mengganggu kenyamanan kami." ucap Erfan menahan rasa kesalnya menatap Rania.
"Aku hanya duduk Fan, aku nggak ngapa-ngapain," ucap Rania dengan santainya menatap Erfan sebelum mengalihkan pandangannya ke arah cincin berlian yang melingkar di jari manis Dara.
"Apa kamu yang membelikannya Fan?" tanya Rania mengalihkan pandangannya menatap Erfan.
"Sepertinya iya, dimana kamu membelikannya Fan? di toko kita?" tanya Rania membuat Dara terkejut dan mengalihkan pandangan kembali menatap Rania.
"Apa maksudnya Mas?" tanya Dara menatap suaminya.
"Kamu belum tahu ya kalau toko itu adalah bentuk dari cintaku dan Erfan? ucap Rania menatap Dara, membuat Dara mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Jaga mulut kamu, sejak kapan aku mencintai kamu? menyimpan cinta di hatiku untuk kamu saja aku nggak berselera, apalagi membuat toko sebagai bentuk cinta yang nggak pernah ada." ucap Erfan datar menatap Rania sebelum mengalihkan pandangannya menatap Dara.
"Aku hanya menjalin kerja sama sama Rania untuk mendirikan toko perhiasan itu Ra, itupun dulu sebelum aku tahu kelakuan buruknya, dan setelah aku tahu, aku mengambil alih sepenuhnya kepemilikan toko, aku mengembalikan semua modal yang sudah dia keluarkan beserta setengah keuntungan dari toko." Ucap Erfan lagi menjelaskan membuat Rania semakin mempertajam lirikan menatapnya.
Sedangkan Dara hanya memberikan senyum tipisnya menatap Rania sebelum mengalihkan pandangannya ke arah pelayan yang baru datang membawa pesanan mereka.
"Terima kasih Mas," Ucap Dara kepada pelayan restoran yang sudah meletakkan semua pesanannya di atas meja.
"Silahkan dimakan Mas Erfan, makanannya sudah datang di anterin sama Mas pelayan." Sindir Rania memberikan makanan Erfan dengan lirikan mata mengejek kepada Dara.
__ADS_1
Dara dan Erfan makan dalam diam, berusaha menahan rasa kesal yang ada di hati mereka, berusaha tidak memperdulikan keberadaan Rania ataupun semua kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Apa kamu sudah hamil Ra? bukankah kalian akan merayakan anniversary kalian yang ke satu tahun ya? kenapa kamu belum juga menunjukkan tanda tanda akan punya anak?" tanya Rania tiba-tiba membuat Dara menghentikan makannya untuk menatap Rania yang sedang mengembangkan senyumnya sebelum menyeruput minumannya menatap Dara.
"Ya Allah Ya Tuhanku, kuatkan kesabaranku." doa Dara dalam hati balik menatap Rania yang terlihat menjengkelkan hatinya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu Ra? atau jangan jangan.... apa kamu tidak bisa punya anak?" tanya Rania dengan wajah mengejeknya menyondongkan badannya ke depan menatap Dara.
"Jaga mulut kamu Ran," sentak Erfan mengalihkan pandangan Rania ke arahnya.
"Apa kamu ingin melihatku menampar wanita?" Ucap Erfan lagi dengan sorot mata yang berapi, berusaha menahan rasa kesalnya kepada Rania.
"Dia hanya terlalu putus asa Mas," Ucap Dara membuat dua orang yang saling beradu tatap di depannya beralih kompak menatapnya.
"Dia terlalu cemburu sama kebahagiaan kita Mas, bukankah kita harus merasa prihatin dengan dia? dia hanya butuh telinga kita untuk mendengarkannya agar rasa putus asanya tidak berkembang menjadi depresi yang membahayakan hidupnya."
"Apa maksudmu aku akan bunuh diri?" tanya Rania kesal mendengar kalimat Dara.
"Mungkin." Jawab Dara mengangkat kedua alisnya yang di ikuti dengan senyum mengejeknya menatap Rania.
"Br*ngsek," ucap Rania mengepalkan tangannya semakin kesal sebelum berdiri untuk menghampiri Dara.
"Jangan pernah berani kamu menyentuh istriku!" ucap Erfan menahan pergelangan tangan Rania, mencengkeramya sedikit keras hingga membuat tangan putihnya memerah.
"Sakit Fan," ucap Rania kembali duduk ikut menyentuh pergelangan tangannya yang masih berada di cengkraman Erfan, menatap balik Erfan yang sedang menatapnya.
"Aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini jika kamu berani menyentuh istriku." Ucap Erfan berusaha menahan emosi yang sudah menguasainya.
"Ayo pulang Sayang," ucap Erfan melepaskan cengkraman tangannya sebelum berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya ke depan Dara.
Dara hanya diam menatap Rania sebelum berdiri dan menyambut uluran tangan Suaminya, meninggalkan Rania yang sedang duduk menatapnya dengan sorot mata yang dipenuhi dengan kemarahan.
"Berani kamu menyakitiku Fan," Batin Rania menyentuh pergelangan tangannya yang terasa sakit menatap kepergian Dara dan Erfan.
Rania segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya sebelum menggeser layarnya untuk melakukan sambungan telepon dengan seseorang.
"Lakukan hari ini, beri dia pelajaran, dan ingat hanya sebatas luka memar di tubuhnya!" ucap Rania saat panggilan teleponnya tersambung.
"Jangan pernah menganggapku lemah Fan," Ucap Rania setelah menyelesaikan panggilannya, meremas kuat ponselnya dengan sorot mata tajam penuh dendam menatap lurus ke depan.
Bersambung.
__ADS_1
_____________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.