Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
Ektra Part Terakhir. Terimakasih Untuk Semua Readers


__ADS_3

"Siapa Mbak namanya?" tanya Afia setelah berdiri di sebelah box tidur Amri, dengan seulas senyum nya menatap bayi mungil yang sedang tidur itu sebelum mengalihkan pandangannya menatap Dara yang sedang berdiri di seberangnya.


"Amri," jawab Dara.


"Aduh...gantengnya Mbak....mirip sekali sama Papanya..." Ucap Afia lagi menciptakan senyum di bibir Dara.


"Iya sekarang kembali mirip Papanya, padahal tadi pagi sempat mirip aku," Jawab Dara terkekeh di ikuti dengan kekehan kecil Afia.


"Mungkin benar Mbak kata orang kalau masih bayi itu wajahnya berubah-ubah,"


"Iya mungkin ya... ibuku juga bilang seperti itu." Jawab Dara menepuk pelan paha Amri yang terlihat terganggu dengan suara tawanya.


"Tapi ya kamu nggak usah panggil Mbak, panggil saja Dara, sepertinya kita seumuran," tambah Dara yang di jawab dengan anggukan pelan Afia.


"Sudah lama kenal Dewa?" tanya Dara membuka obrolan.


"Belum satu tahun," jawab Afia membuat Dara menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti.


"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Afia ragu-ragu.


"Boleh, tanya apa?"


Afia tampak berfikir sebelum berucap. "Nggak jadi deh Ra..." ucap Afia membuat Dara mengernyitkan dahi menatapnya.


"Tanyain aja nggak papa, selama aku bisa jawab pasti aku jawab." ucap Dara yang hanya di jawab dengan kebisuan Afia.


"Lo? kenapa? kok jadi sedih kamu?" tanya Dara bingung menatap mata Afia yang mulai berair.


"Nggak papa Ra, aku hanya terharu, aku juga ingin punya anak yang tampan seperti Amri..." jawab Afia berusaha tersenyum menatap Amri.


Sementara itu di luar rumah, Erfan dan Dewa duduk bersebelahan di atas kursi teras sambil di temani dua cangkir kopi yang ada di atas meja.


Dengan sebatang rokok yang di hisapnya Dewa diam tak bersuara, menikmati suasana malam yang sedikit dingin dengan tatapan yang lurus kedepan seolah mengacuhkan Erfan yang duduk di sebelahnya.


"Sejak kapan kamu merokok?" tanya Erfan dengan tatapan lurus kedepan, tak mengalihkan pandangan Dewa.


"Sejak di khianati kekasihku," jawab Dewa membuat Erfan mengalihkan pandangan menatapnya.


"Kamu mau?" ucap Dewa menyodorkan sebungkus rokok ke depan Erfan, membuat pandangan mereka saling beradu.


"Aku nggak merokok," jawab Erfan mengalihkan kembali pandangannya lurus ke depan.

__ADS_1


Dewa mencebikkan bibirnya sebelum meletakkan kembali sebungkus rokoknya di atas meja.


Menghisap kembali rokoknya yang tinggal sedikit sebelum menekannya di atas asbak.


"Bagaimana bisa kamu melupakan Sarah dan mencintai Dara dengan sangat cepat?" tanya Dewa sebelum mengalihkan pandangannya menatap Erfan.


Erfan mengangkat kedua bahunya tak menatap Dewa, "Mungkin karena Dara lebih baik dari Sarah, atau karena Dara yang terlalu pintar dalam mengambil hati dan membuatku merasa nyaman saat bersamanya," Jawab Erfan dengan tatapan lurus kedepan.


"Kamu belum bisa melupakan istriku?" tanya Erfan mengalihkan pandangannya menatap Dewa.


"Aku hanya belum bisa melupakan rasa sakitnya," jawab Dewa balik menatap Erfan.


"Apa kamu tahu rasanya di tusuk dari belakang oleh wanita yang sangat kamu cintai?" tanya Dewa sebelum melengos dan membuang wajahnya kembali menatap lurus kedepan.


"Kamu nggak akan pernah tahu," tambah Dewa sebelum mengambil sebatang rokok lagi untuk di tempelkan di bibirnya.


"Afia akan menyembuhkan mu,"


Dewa hanya diam tak menjawab kalimat Erfan.


Sepuluh menit berlalu, Erfan dan Dewa hanya duduk bersama tanpa ada yang berbicara, menambah kesunyian suasana malam menjadi semakin sunyi dan sepi.


"Assalamualaikum..." Ucap Nathan dan Clara yang sedang melangkahkan kaki memasuki pintu pagar rumah Erfan.


"Mana Keponakanku?" tanya Nathan antusias melangkahkan kaki mendekati Erfan yang sudah berdiri dari duduknya.


Nathan menyunggingkan senyum tipisnya menjabat tangan Dewa yang masih duduk di tempatnya sebelum menjabat tangan Erfan untuk memeluk sahabatnya.


"Selamat ya... kamu sudah menjadi Ayah Fan..


astaga... rasa frustasimu kemarin sudah terbayar lunas!" ucap Nathan terkekeh melepaskan pelukannya.


"Br*ngs*k kamu," ucap Erfan terkekeh memukul pelan lengan sahabatnya sebelum menjabat tangan Clara yang terulur di depannya.


"Selamat ya Kak?" ucap Clara sebelum mengalihkan pandangannya menatap Dewa yang masih duduk merokok di kursinya.


Dewa mengalihkan pandangan menatap Clara, membuat pandangan mereka saling beradu.


Clara mengulaskan senyum tipisnya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Erfan. "Dara mana Kak?" tanya Clara.


"Ada di dalam sama calon istrinya Dewa,"

__ADS_1


"Kamu mau nikah?" tanya Clara terkejut mengalihkan pandangannya kembali menatap Dewa.


Dewa hanya menganggukkan kepala sambil menekan kembali rokok ketiganya di dalam asbak.


"Akhirnya kamu move on juga..." Jawab Clara sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Dara dan Afia yang sedang melangkah menuju teras.


"Cla, Pak," ucap Dara tersenyum menjabat tangan Nathan sebelum berpelukan dengan Clara.


"Selamat ya Ra," ucap Clara melepaskan pelukannya.


"Terimakasih Cla," jawab Dara sebelum mengedarkan pandangannya ke semua orang.


"Makan malammya sudah siap, kita makan bersama dulu ya?" ucap Dara lagi.


"Aku sama Afia langsung pulang aja, sudah malam," ucap Dewa berdiri dari duduknya sebelum menganggukkan kepala pelan kepada Afia yang sedang berdiri di sebelah Dara.


"Aku sama Mas Dewa pamit dulu ya Ra, terimakasih, aku berdoa semoga si kecil Amri jadi anak yang Sholeh," ucap Afia sebelum bersalaman dengan Dara.


"Kenapa nggak makan bareng aja sih?" protes Dara kepada Afia sebelum mengalihkan pandangannya menatap Dewa.


"Sudah malam, aku harus mengantar Afia pulang." Jawab Dewa.


"Tapi kan..." Ucap Dara terpotong saat Erfan menyentuh lembut lengannya, membuat Dara mengalihkan pandangannya ke arah suaminya yang mengelengkan kepala pelan.


"Kami pergi," ucap Dewa sebelum melangkahkan kakinya keluar pagar, di ikuti dengan Afia yang segera tersenyum tipis ke semua orang sebelum mengikuti langkah calon suaminya.


"Mana ponakannku?" ucap Nathan mengalihkan pandangan semua orang dari Dewa dan Afia.


"Ayo masuk," ucap Erfan menggandeng tangan istrinya, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah di ikuti dengan Nathan dan Clara yang berjalan di belakangnya.


"Astaga...kamu ganteng sekali Nak... kenapa wajahmu mirip sekali denganku...?" ucap Nathan lirih setelah berdiri di dekat box bayi Amri, menatap wajah mungil Amri yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Hidungnya, alisnya, bibirnya...ahhh kenapa semuanya mirip sekali denganku?" tambah Nathan lagi sebelum menerima pukulan ringan dari Erfan.


"Br*ngs*k kamu, dia anakku bukan anakmu," protes Erfan berbisik membuat Dara dan Clara menahan tawa menatapnya.


"Ayo makan dulu saja, kita ngobrol-ngobrol di ruang makan," ucap Dara.


"Ayo," ucap Clara sebelum membelai lembut pipi Amri.


"Tante Clara tinggal makan malam dulu ya Sayang..." Ucap Clara terkekeh sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar, di ikuti dengan Nathan Erfan dan Dara yang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


Mereka bertiga makan dalam suasana yang sangat ramai, tertawa bersama dengan obrolan yang penuh dengan candaan dari Nathan.


Menjadikan tiap suapan yang masuk ke dalam mulut mereka terasa semakin nikmat karena aura kebahagian yang terpancar dari wajah semuanya.


__ADS_2