Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 87. Saling Mencintai


__ADS_3

Erfan berdiri dari duduknya untuk melangkahkan kakinya mendekati Dara.


"Apa kamu benar-benar yakin ingin memberikan Cindy kesempatan Ra?" tanya Erfan setelah berdiri di depan Dara, menatap wajah istrinya yang terlihat ragu.


Dara menggelengkan kepalanya pelan, "Aku nggak tahu Mas, aku juga merasa ragu dengan ketulusan Cindy, tapi aku juga merasa iba saat dia menceritakan tentang keluarganya," ucap Dara menatap suaminya sebelum mengalihkan pandangannya ke lain arah.


"Bagaimana kalau dia susah mendapatkan pekerjaan lagi setelah berhenti dari sini? bagaimana cara dia menghidupi adiknya nanti? bagaimana cara dia membayar sekolah adiknya? pemikiran itu yang membuatku memberikan dia kesempatan lagi." ucap Dara kembali mengalihkan pandangannya menatap Erfan.


Erfan menghela nafas sebelum merengkuh pundak Dara, membawa wanita yang di cintainya itu ke dalam pelukannya. "Sungguh aku tidak ingin peduli dengan semua itu Ra, yang aku pedulikan hanya kebahagiaan kamu Sayang." ucap Erfan membelai lembut puncak kepala istrinya.


Erfan menarik tubuhnya dari pelukan Dara, "Jangan terlalu dekat dengan Cindy, jangan terlalu banyak bicara sama dia, kecuali masalah pekerjaan, oke?" ucap Erfan menatap Dara.


Dara menganggukkan kepalanya pelan, "iya Mas," Ucap Dara sebelum kembali ke dalam pelukan suaminya.


Cindy keluar dari ruangan Erfan dengan perasaan yang sangat kesal, melangkahkahkan kakinya lurus ke depan melewati meja kerjanya untuk berjalan menuju toilet kantor yang ada di lantai ruangannya.


"Br*ngsek," umpat Cindy sebelum membasuh wajahnya di wastafel yang ada di dalam area toilet wanita.


"Kalau bukan demi kamu aku nggak akan sudi memohon-mohon seperti itu di depan mereka Ran..." Ucap Cindy dengan tatapan penuh amarah menatap dirinya sendiri dari pantulan kaca yang ada di depannya, sambil meremas keras wastafel yang menjadi tumpuan kedua tangannya.


"Aaaahhhh," teriak Cindy di depan kaca melampiaskan rasa amarahnya.


Cklek salah satu bilik toilet terbuka menampakkan seorang perempuan dengan sepatu high heelsnya melangkah keluar toilet mendekati Cindy.


"Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?" tanya Clara tiba-tiba membuat Cindy terkejut dan membalikkan tubuhnya menatap Clara.


"Bukankah kamu Secretaris barunya Kak Erfan?" tanya Clara menatap Cindy membuat Cindy semakin gelagapan.


"Iya, saya Sekretarisnya Pak Erfan, saya minta maaf kalau saya membuat keributan, karena saya...saya lagi ada masalah keluarga, sekali lagi saya minta maaf." Ucap Cindy menunduk sebelum melangkahkan kakinya keluar dari toilet melewati Clara yang masih memperhatikannya.


"Kenapa kamu nggak bisa mengontrol emosi kamu sih Cin, untung saja aku masih bisa mengontrol ucapannya, nggak sampai menyebut nama Rania, Dara dan Pak Erfan." umpat Cindy dalam hati tetap melangkahkan kakinya kembali ke mejanya.


***


Tiga bulan kemudian.


Kehidupan pernikahan Erfan dan Dara berjalan dengan indah penuh keromantisan sama seperti dengan biasanya.


Cindy pun bersikap tenang layaknya Sekretaris yang baik, hanya fokus dengan setiap pekerjaan yang di berikan atasannya, dan tak mencampuri urusan pribadi Erfan dan Dara.

__ADS_1


Setelah makan malam bersama suaminya, Dara segera melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga menuju kamar, meninggalkan Erfan yang sedang menerima telepon dari Nathan di meja makan.


Dara mengambil sesuatu dari dalam laci almari kamarnya sebelum melangkahkan kakinya lagi masuk ke dalam kamar mandi.


Pluk Dara membuang tespek yang baru saja dia gunakan ke dalam tempat sampah dengan wajah yang sendu penuh kekecewaan sebelum melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi.


"Kenapa Sayang?" tanya Erfan yang baru membuka pintu kamarnya melihat ke arah Dara yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sendu.


Dara hanya diam tak menjawab pertanyaan Erfan, melangkahkan kakinya ke atas ranjang untuk membaringkan tubuhnya di bawah selimut.


"Kenapa sedih gitu mukanya?" tanya Erfan lagi melangkahkan kakinya mendekati Dara sebelum duduk di tepi ranjang di samping istrinya.


"Masih negatif Mas," ucap Dara pelan duduk Dari tidurnya menatap Erfan.


Erfan menghela nafas menatap istrinya. "Tunggu lagi sampai bulan depan Ra, siapa tahu positif." ucap Erfan dengan seulas senyum nya menatap Dara.


"Apa karena kondisi Tante Leny jadi membuat kamu tertekan seperti ini Ra?" Batin Erfan membelai lembut pipi Dara sebelum membawa istrinya ke dalam pelukannya.


"Kenapa Mas? Mas Erfan juga kecewa ya?" tanya Dara membalas pelukan suaminya.


Erfan menggelengkan kepalanya, "Kamu tahu aku sangat mencintai kamu Ra, dalam keadaan apapun aku akan selalu mencintai kamu, aku nggak akan pernah menuntut kamu untuk buru-buru memberikanku keturunan." ucap Erfan semakin mengeratkan pelukannya.


"Kemarin saat kita kerumah Papa, Papa cerita ke aku tentang mimpinya, Papa bermain dengan cucu laki-lakinya di taman rumah Mas," ucap Dara dengan air mata yang mengumpul di pelupuk matanya.


"Bulan ini kita akan merayakan anniversary pernikahan kita yang ke satu tahun, tapi aku belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan Mas," ucap Dara lagi dengan air mata yang berlinang.


"Jangan menangis," ucap Erfan menyeka lembut air mata istrinya.


"Aku sudah bilang hatiku sakit saat melihat kamu menangis." Ucap Erfan membuat air mata Dara semakin mengalir.


"Aku hanya ingin membahagiakan kalian semua Mas," ucap Dara kembali ke dalam pelukan suaminya.


Setelah merasa puas dengan tangisan dan pelukannya, Dara segera menarik tubuhnya keluar dari pelukan Erfan untuk menatap lekat manik mata suaminya.


"Bagaimana kalau kita berdua tes kesuburan Mas? selama ini kan aku hanya meminum vitamin dari dokter, belum tes apapun kecuali USG, " tanya Dara menyeka kasar air matanya membuat Erfan mengernyitkan dahi balik menatapnya.


"Mas Erfan mau kan?" tanya Dara lagi menunggu jawaban suaminya.


Erfan kembali menghela nafas sebelum menganggukkan kepalanya. "Besok kita tes ke rumah sakit." ucap Erfan menciptakan senyum di bibir istrinya.

__ADS_1


"Terimakasih Mas.....,terimakasih karena selalu mengerti aku." Ucap Dara kembali memeluk suaminya.


***


Sesuai dengan rencana kemarin, Erfan menyerahkan pekerjaan kantornya hari ini kepada Cindy karena ingin melakukan tes kesuburan bersama Dara di rumah sakit.


Jam tangan Erfan sudah menunjuk ke angka sembilan Pagi, Erfan segera menunjukkan nomor antrian onlinenya ke petugas CS sebelum di arahkan untuk menunggu di depan poly kandungan.


"Apa kamu takut?" tanya Erfan setelah duduk di kursi tunggu, menggenggam tangan Dara yang duduk di sebelahnya.


Dara hanya menganggukkan kepalanya pelan semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Jangan takut, ada aku yang selalu bersama kamu," ucap Erfan berusaha mengurangi rasa takut dan gugup istrinya.


"Bagaimana kalau hasilnya aku yang abnormal Ra? apa kamu akan tetap mencintaiku?" tanya Erfan lagi dengan seulas senyumnya menatap Dara.


"Mas!" ucap Dara mengibaskan pelan tangan yang di genggam suaminya.


"Aku hanya bercanda sayang..., jangan marah gitu dong," ucap Erfan terkekeh kembali menggenggam tangan istrinya.


"Seandainya saja itu terjadi apa kamu akan meninggalkanku Ra?" tanya Erfan dengan wajah seriusnya menatap Dara.


Dara menggelengkan kepalanya pelan balik menatap dalam manik mata suaminya "Aku nggak akan mampu untuk meninggalkan kamu Mas, Aku sudah terlanjur sangat mencintai Mas Erfan, aku sudah terbiasa bernafas di sebelah Mas Erfan, aku juga sudah terbiasa bernafas dipelukan Mas Erfan, bagaimana bisa aku bernafas jika tanpa Mas Erfan? sama seperti ikan yang sangat membutuhkan air untuk bernafas, aku juga sangat membutuhkan Mas Erfan untuk bisa bernafas," jawab Dara semakin mengeratkan genggamannya.


Erfan menitikan setetes air matanya menatap Dara, hatinya sungguh terenyuh mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir istrinya.


"Kok nangis Mas?" ucap Dara menyeka air mata suaminya.


"Terimakasih sudah mencintaiku Ra,"


"Sungguh aku yang harusnya berterimakasih Mas, aku harus berterima kasih kepada Allah karena sudah memberikanku pendamping hidup yang sempurna seperti Mas Erfan." Ucap Dara dengan seulas senyumnya menatap Erfan.


"Kamu sudah pintar ngegombal sekarang Ra?" ucap Erfan berusaha tertawa menatap Dara.


"Ya kan Mas Erfan sendiri yang mengajariku." Ucap Dara membuat Erfan menghentikan tawanya untuk merangkul pundak istrinya.


Bersambung.


_____________________

__ADS_1


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2