Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
Episode 90 Serangan Untuk Erfan


__ADS_3

"Kamu nggak papa kan Ra?"  tanya Erfan setelah keluar dari restauran, menghentikan langkahnya untuk menatap lembut manik mata istrinya.


Dara menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak papa Mas,"


Erfan menyunggingkan senyumnya sebelum membelai lembut puncak kepala istrinya, "Ayo pulang." ucap Erfan kembali menggandeng tangan Dara dan melangkahkan kakinya menuju pintu basement tempat parkir mobilnya.


"Kita nggak balik kantor Mas?" tanya Dara tetap berjalan di samping suaminya.


"Kita langsung pulang aja,"


Dara menganggukkan kepalanya pelan semakin mempererat gandengan tangannya.


Erfan dan Dara segera masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya keluar dari basement tanpa mengetahui kalau ada satu mobil hitam yang sedang memperhatikan mereka dari jauh, mengamati pergerakan mereka sebelum mengikuti pajero yang dikendarai mereka dari belakang.


"Kenapa diam Ra? lagi mikirin apa?" tanya Erfan menoleh sekilas menatap Dara sebelum mengalihkan kembali pandangannya lurus ke depan, menatap jalanan di depannya yang terasa lenggang.


"Nggak mikirin apa-apa Mas," jawab Dara pelan melingkarkan tangannya di lengan kiri Erfan sebelum menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


Erfan tersenyum sebelum mecubit gemas pipi istrinya, menoleh sepintas menatap Dara sebelum mengalihkan pandangannya ke arah kaca spion yang ada di atasnya.


"Sepertinya mobil itu mengikuti kita Ra!" ucap Erfan membuat Dara menegakkan tubuhnya untuk menoleh kebelakang melihat mobil hitam yang dimaksud suaminya.


"Mungkin tujuanya searah sama kita Mas," jawab Dara dengan fikiran positifnya menatap Erfan yang masih melihat ke arah spion.


Erfan semakin menginjak gas mobilnya, menambah kecepatan laju mobilnya dengan tetap melirik ke arah mobil hitam yang ada di belakangnya lewat kaca spion yang ada di depannya, membuat jantung Dara berdetak dengan cepat karena rasa takut yang sudah menguasai dirinya.


"Pelan pelan Mas," ucap Dara dengan perasaan takutnya menatap Erfan yang tengah fokus dengan stirnya.


"Seperti dugaanku Ra, Kita sedang di ikuti," ucap Erfan saat melihat mobil yang di belakangnya mengikuti laju cepat kendaraannya, membuat rasa takut Dara semakin meningkat, hingga membuat badannya gemetar dengan detak jantung yang sudah berpacu dengan sangat cepat.


"Kamu tenang ya Ra? aku nggak akan membiarkan mereka menyakiti kamu," ucap Erfan lagi berusaha menenangkan istrinya, walaupun hatinya sendiri merasa tidak tenang.


Erfan melajukan mobilnya dengan sangat kencang, melewati jalan raya yang penuh dengan kendaraan hingga sampai di kawasan industri dengan berbagai macam pabrik di sisi kanan dan kiri jalan yang terlihat sepi.


Erfan semakin khawatir saat melihat mobil yang sedari tadi mengikutinya berhasil menyalip laju mobilnya, dan tiba-tiba berhenti menyerong untuk menghadang mobilnya dari depan.


"Ciiiiitttttt," Erfan menginjak rem mobilnya kuat kuat hingga membuat mobilnya berhenti mendadak.


"Ya Allah," Pekik Dara saat tubuhnya yang terlindungi dengan seat belt berasa terpental.


"Bagaimana ini Mas?" tanya Dara dengan perasaan takutnya, menyentuh lengan kekar suaminya yang masih terbalut degan jas kerja sambil mengarahkan pandangannya kedepan, melihat ke arah mobil yang baru saja berhenti di depannya.


"Nggak papa Sayang, semua akan baik baik saja, kamu tunggu disini ya, jangan ikut turun." jawab Erfan menggenggam tangan Dara yang menyentuh lengannya, sebelum melepas jas kerjanya dan turun dari mobilnya.


"Hati hati Mas." ucap Dara dengan tubuh gementarnya melihat Erfan yang sedang berjalan menghampiri dua orang yang baru keluar dari mobil hitam.

__ADS_1


Dua orang laki laki dengan tubuh tinggi besar kini sedang berdiri tepat di samping mobil mereka, menunggu kedatangan Erfan yang sedang berjalan menghampiri.


"Apa mau kalian?" tanya Erfan tanpa rasa takut menatap laki laki yang berdiri di depannya.


"Hanya ingin bermain main sedikit dengan kamu dan istri kamu, ucap Joni orang suruhan rania itu sebelum ...


BUG Joni melayangkan tinjunya ke pipi Erfan, hingga membuat tubuh Erfan yang belum siap menerima pukulan itu terhuyung kebelakang.


"Masss..." Pekik Dara dari dalam mobil sambil membekap mulutnya yang menganga kaget.


"Br*engs*k," ucap Erfan berusaha berdiri tegak menyentuh sudut bibirnya yang terluka.


"Apa kamu ingin permainan yang lebih dari ini Tuan?" ucap Joni dengan senyum sinisnya sambil menekuk lehernya ke samping kanan dan kiri seakan ingin melenturkan sendi sendinya untuk mempersiapkan pertarungannya dengan Erfan.


Joni kembali mendekati Erfan, ingin melayangkan kembali pukulannya ke arah Erfan.


Plakk......


plakkk.....


plakkk......


plakkk....


Erfan berusaha menangkis tangan Joni yang berusaha menunjunya, menangkis lagi tendangan joni yang terarah ke perutnya sebelum menahan dengan kuat tangan kekar Joni yang terulur ke depannya, memuntirnya kebelakang dengan keras hingga mengeluarkan bunyi KRAK


"Kenapa kamu diam saja b*doh!" teriak Joni kepada temannya yang bernama Bagio sambil memegangi tangannya yang terasa sakit.


Bagio melangkah mendekati Erfan, memasang kuda kudanya menatap Erfan yang telah bersiap untuk melawan segala bentuk penyerangannya.


Plakkk...


Plakkkk...


Plakkk..


Erfan berusaha menangkis setiap pukulan dan tendangan Bagio, menangkis kembali tangan Bagio yang akan memukul bagian dadanya sebelum BUG..


JDUK...Erfan berhasil mekukul pipi Bagio sebelum menendang keras perut Bagio hingga membuat tubuh Bagio terhuyung ke belakang.


"Aaaah," rintih Bagio menyentuh perutnya sebelum berdiri dan kembali menyerang Erfan dengan sisa tenaganya.


Erfan menangkis dalam tangan kanan Bagio yang akan memukul kepalanya, memukul keras siku dalam tangan Bagio dengan siku dalam tangan kanannya hingga menekuk mengikuti lekukan tangan Erfan yang akan mencengkeram tengkuk Bagio untuk mengunci ruang gerak lawannya.


"Siapa yang menyuruh kalian?" Sentak Erfan saat menahan dan mengunci tubuh Bagio yang sudah tertunduk dibawahnya.

__ADS_1


Belum sempat Bagio mengeluarkan suaranya,


"Awas Mas......," Terdengar suara teriakan Dara dari dalam mobil saat melihat Joni yang sedang berlari ke arah suaminya.


"Aaaa..." Pekik Erfan menyentuh perut Bawah kanannya yang berdarah akibat tusukan pisau dari Joni.


"Massss...." Teriak Dara segera membuka pintu mobilnya, berlari ke arah Erfan yang masih berdiri memegangi perutnya.


"Ayo cepat kita pergi dari sini," Ucap Joni dengan cepat membantu temannya Bagio untuk bangun dan segera berlari memasuki mobilnya, meninggalkan lawannya yang sudah berlumuran darah.


"Massss..." Ucap Dara lagi dengan tangisnya menyentuh perut Erfan yang berdarah sebelum menoleh kan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat kondisi sekitarnnya, ingin mencari pertolongan untuk suaminya.


"Aku nggak papa Ra, hanya sedikit tergores, kamu nggak perlu khawatir," ucap Erfan menatap istrinya yang menangis, berusaha untuk tersenyum tanpa bisa menyembunyikan ekspresi kesakitannya.


"Sebentar Mas..." Ucap Dara segera berlari menuju mobilnya untuk mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, sebelum berlari lagi menghampiri suaminya yang sudah terduduk di pinggir jalan.


"Ayo Pak ...aku mohon angkat Pak...."Ucap Dara dengan tangan gemetarnya mencoba menghubungi Nathan.


"Aaaah," teriak Dara frustasi saat Nathan tidak menjawab panggilannya.


"Bagaimana ini Mas? Mas Erfan kuat ya? aku mohon..." ucap Dara menatap suaminya sebelum menggeser layar ponselnya lagi untuk menghubungi Aditya.


Baru tut... ke dua belum sempat Aditya menjawab panggilannya Dara menurunkan ponselnya dari telinga saat melihat mobil sedan hitam yang baru berhenti di depannya.


"Terimakasih Ya Allah..." ucap Dara lirih dengan senyum lega bercampur dengan tangisannya saat melihat Dewa yang sedang turun dari mobil sebelum berlari menghampirinya.


"Kenapa Ra? ada apa dengan kalian?" tanya Dewa panik ikut berjongkok didepan Erfan dan Dara.


"Bantu aku bawa Mas Erfan ke rumah sakit dulu Wa, aku mohon..." ucap Dara memohon menatap Dewa dengan air matanya yang semakin mengalir.


"Ayo," jawab Dewa segera membantu Erfan berdiri, mengarahkan tangan kanan Erfan merangkul pundaknya untuk membantu Erfan berjalan menuju mobilnya.


"Pelan-pelan Wa," ucap Dara setelah membuka pintu belakang mobil Dewa, melihat Dewa yang sedang membantu suaminya masuk ke dalam mobil.


Setelah memastikan Erfan duduk dengan baik, Dara segera menutup pintu mobil sebelum berlari dan memutari mobil untuk duduk di sebelah suaminya.


"Cepat Wa...aku mohon cepat....." Ucap Dara memelas berusaha menutupi luka Erfan dengan tangannya, walaupun dia tahu itu sia sia karena darah masih terus saja mengalir tanpa memperdulikan tangisannya.


"Sabar Ra," jawab Dewa semakin menginjak kuat gas mobil untuk mempercepat laju mobilnya menembus jalanan yang terlihat lenggang.


"Mas Erfan kuat ya Mas? kita akan segera sampai di rumah sakit." Ucap Dara berusaha menguatkan suaminya yang kini sedang bersandar di dadanya.


Bersambung.


___________________

__ADS_1


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.


__ADS_2