Kisah Kasih Dara

Kisah Kasih Dara
BAB 104. Penghinaan Untuk Rania


__ADS_3

Adzan ashar sudah lama berkumandang, jam dinding rumah Pak Herman juga sudah menunjuk ke angka empat, dimana sang mentari juga sudah mulai mencondongkan sinarnya, hendak pergi bersembunyi untuk berganti dengan malam.


"Suamimu nanti pulang jam berapa Nak?" tanya Bu Selfi melihat Dara yang sedang menyirami tanaman bunga di depan rumah.


"Kalau tepat waktu ya mungkin sebelum Maghrib sudah sampai di sini Bu," jawab Dara sedikit menoleh ke belakang, menatap Bu Selfi yang sedang duduk mengupas mangga muda di kursi teras.


Bu Selfi menganggukkan kepala tanda mengerti, "Ayo sini Nak, dimakan dulu mangganya." Ucap Bu Selfi lagi menghentikan aktifitas Dara.


Dara segera meletakkan slang yang di pakainya ke tempatnya semula, sebelum melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi kosong sebelah Bu Selfi.


Semangkuk irisan mangga muda beserta sambal rujak manis sudah bersanding rapi di atas meja teras, membuat calon ibu muda itu menelan ludahnya sendiri seolah sudah merasakan kesegaran buah yang ada di depannya.


"Enak Bu, hemmm...." Gumam Dara lirih menikmati tiap irisan mangga yang sudah dia cocolkan ke dalam mangkuk sambal.


"Sambal buatan Ibu memang top," ucap Dara lagi di sela-sela kunyahannya, seraya mengulurkan jempol tangan ke depan ibunya.


Bu Selfi hanya tersenyum mendengar pujian anaknya, "Ya sudah kamu habiskan saja ya? Ibu mau mandi dulu," jawab Bu Selfi segera berdiri dari tempat duduknya.


Dara hanya menganggukkan kepalanya pelan melihat Bu Selfi yang hendak masuk ke dalam rumah.


"Ra?? ponsel kamu bunyi Nak.." terdengar suara Bu Selfi dari dalam rumah.


"Iya Bu.." Jawab Dara setengah berteriak, mengambil seiris mangga lagi dan memasukkannya ke dalam mulut sebelum berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


Dara segera menelan sisa mangga yang ada di dalam mulutnya saat melihat panggilan telepon dari nomor yang nggak di kenalnya.


"Halo," jawab Dara menerima panggilan.


"Apa kita bisa ketemu sekarang?" terdengar suara perempuan dari dalam ponsel, membuat Dara mengerutkan kening, menerka-nerka suara siapa yang di dengarnya.


"Siapa ini?" tanya Dara saat tak mampu menerkanya.


"Rania! aku ingin bertemu denganmu sekarang."


"Tunggu sampai Mas Erfan pulang karena aku sedang nggak ada di rumah."


"Kamu dimana? aku bisa menghampirimu sekarang." Jawab Rania membuat Dara terdiam sejenak untuk berfikir.


"Kenapa kamu diam? apa kamu takut untuk bertemu denganku sendiri tanpa Erfan?" ucap Rania memancing ego Dara.


"Aku sedang berada di rumah orang tuaku, kalau kamu mau, kamu bisa kesini sekarang,"


"Oke! aku akan ke sana, kamu bisa kirim alamatnya sekarang," jawab Rania sebelum memutus panggilan teleponnya.


Ditempat lainnya, setelah memutus panggilan teleponnya, Rania masih duduk di dalam mobilnya yang sedang berhenti di pinggir jalan.


Memukul-mukul stir mobilnya dengan keras untuk melampiaskan kemarahannya kepada Erfan laki-laki yang masih menjadi penghuni hatinya.


Laki-laki yang sudah memukulnya, melucuti harga dirinya di depan umum, dan mempermalukan dirinya di depan semua karyawan yang selama ini menghormatinya.


"Aaaahhhh, br*ngsek kamu Fan..." Teriak Rania membenamkan wajahnya di atas stir.


Membiarkan air matanya keluar membasahi pipi sebelum mengangkat kepalanya kembali dengan perubahan sorot mata yang sangat tajam menatap kedepan.


Sorot mata yang memerah bercampur air mata tangisannya, seolah menyala karena dipenuhi oleh amarah. "Kamu bahagia dengan wanita itu Fan? tunggu dan lihat apa yang akan aku lakukan kepada si wanita bodoh itu!" Gumam Rania dengan nafasnya yang memburu menahan emosi.

__ADS_1


Sebuah Pesan WA masuk ke dalam ponsel Rania, membuatnya mengalihkan pandangan ke layar ponsel yang masih di pegangnya.


Menyeringai sinis saat membaca nama Dara yang ada di pesan masuknya, sebuah pesan yang sudah ditunggunya sedari tadi yang berisi alamat lengkap orang tua Dara.


Rania segera menginjak gas mobil yang dikendarainya, melajukannya kembali menembus jalanan kota yang tak terlalu padat menuju alamat yang baru saja dia terima.


Flasback.


Erfan di temani Pak Subrata datang ke Perusahaan milik Papa Rania.


Melangkahkan kakinya yang baru turun dari mobil yang di kemudikan supir Pak Subrata menuju pintu masuk lobi untuk menemui Rania, wanita yang sudah membakar amarahnya.


"Jaga emosi kamu Fan, kita bisa membicarakannya baik-baik," ucap Pak Subrata berusaha mengimbangi langkah anaknya yang sedikit cepat, membuat Erfan berhenti melangkah untuk berbalik menatap papanya.


"Sekarang bukan waktuku untuk menjaga emosi Pa! wanita itu sudah berani bermain api denganku, itu artinya dia harus siap menerima api kemarahanku." Jawab Erfan menahan amarahnya.


"Fan.." Panggil Pak Subrata kembali mengikuti langkah anaknya.


Hingga Erfan kembali menghentikan langkahnya, saat pandangannya terpusat kepada Rania yang sedang melangkah dari dalam gedung perusahaannya menuju pintu keluar loby dengan beberapa pria berjas rapi di samping kiri dan belakangnya.


Dengan senyum mengembangnya yang terlihat ramah, menyuguhkan wajah polosnya untuk menarik kepercayaan klien penting yang sangat berguna untuk kelangsungan hidup Perusahaan papanya.


Erfan kembali melangkahkan kaki mendekati Rania, membuat Rania tersentak ketika mengetahui kedatangannya.


"Fan..." Ucap Rania dengan senyum mengembangnya, beradu pandang dengan Erfan yang tengah menatapnya.


"Ngapain kamu kesini? apa kamu ingin menemui...." Tanya Rania terpotong.


Plakkkkkk tamparan keras melayang di pipi putih Rania, hingga membuat kepala wanita yang selalu mencintainya itu terlempar ke kanan.


Dengan tangan kirinya yang masih menyentuh pipinya, Rania menegakkan kepalanya balik menatap Erfan.


"Apa kamu sudah gila Fan?" Teriak Rania kepada Erfan.


"Kenapa? apa sakit?" jawab Erfan dengan amarahnya yang tak terkendali.


"Ooooh...aku tahu...kamu pasti malu karena ditampar di depan semua karyawanmu kan?" ucap Erfan lagi mengedarkan pandangannya ke semua orang yang berada di dalam lobi.


"Atau....." Ucap Erfan menggantung saat pandangannya tertuju pada laki-laki berjas yang ada di samping Rania.


"Apa anda klien perusahaan ini?" tanya Erfan lirih menatapnya.


Erfan tertawa sinis tak memberi kesempatan kepada laki-laki itu untuk menjawab pertanyaannya.


"Jaga sikapmu Fan," teriak Rania dengan nafasnya yang memburu.


"Kamu yang harusnya menjaga sikap Rania..." Teriak Erfan balik membuat Rania tersentak hingga memejamkan matanya, menciptakan buliran bening yang terjatuh membasahi pipinya.


"Anda laki-laki tidak seharusnya memukul wanita seperti itu." Ucap laki-laki berjas dengan tatapan dinginnya menatap Erfan, membuat Erfan menyunggingkan senyum seringainya balik menatap laki-laki yang ada di depannya.


"Anda salah, dia bukan wanita, dia setan yang sedang menyerupai wanita, dan dia yang sudah menjadikan laki-laki seperti saya menjadi berani mengangkat tangan untuk memukulnya." Jawab Erfan sebelum mengalihkan pandangannya ke semua orang yang sedang memperhatikannya.


"Apa kalian ingin mendengar sedikit cerita tentang atasan kalian ini?" teriak Erfan kepada semua orang.


"Fan! cukup! kita bisa menyelesaikannya di dalam," ucap Pak Subrata berusaha menghentikan anaknya.

__ADS_1


Erfan tak bergeming, menatap papanya sekilas sebelum mengalihkan kembali pandangannya ke semua orang.


"Saya laki-laki yang sudah berumah tangga, saya sangat mencintai istri saya segenap jiwa dan raga saya, tapi kebahagiaan kami hampir hancur karena skenario yang diciptakan seorang wanita yang katanya mencintai saya..." Ucap Erfan menciptakan rasa malu untuk Rania.


"Dan kalian tahu siapa wanita itu? dia!" ucap Erfan lagi meletakkan telunjuknya di depan Rania, membuat Mata Rania membulat menahan marah sebelum mengalihkan pandangannya ke semua orang yang sedang menatapnya seolah dirinya tersangka.


"Dia menyuruh orang untuk menguntit mobilku, menyerangku hingga menusuk perutku! disini, tepat disini luka tusuknya." ucap Erfan menyentuh luka yang ada di perutnya.


"Gila ya? kita nggak nyangka kalau Bu Rania sekejam itu,"


"Hatinya ternyata nggak Secantik wajahnya ya..."


Suara kasak kusuk karyawan yang bisa terdengar oleh Erfan, Rania dan Pak Subrata.


"Fan! cukup Fan!" ucap Pak Subrata lagi mengedarkan pandangannya ke semua arah, menyentuh lengan anaknya yang terlihat kalap.


Erfan tak bergeming, mengibaskan kasar tangan papanya tetap melanjutkan kemarahannya.


"Dia juga yang mengirim orang untuk menjadi sekretaris pribadiku, memata-matai rumah tanggaku untuk mencari cela agar bisa merusak keluargaku."


"Apa kalian tahu apa yang dilakukannya?" ucap Erfan tertahan saat emosinya semakin membara kembali mengingat semuanya.


"Dia memalsukan hasil tes kesuburanku, membuatku tertekan dan terpuruk karena hasil tes itu menjadikanku laki-laki mandul." ucap Erfan penuh penekanan menoleh ke arah Rania.


"Apa kamu mempunyai bukti dengan semua omong kosong mu itu?" Sentak Rania kepada Erfan.


"Bukti? hahaha kamu butuh bukti??....apa kalian semua juga membutuhkan bukti?" jawab Erfan mengedarkan kembali pandangannya ke semua orang seraya mengambil foto-foto yang ada di dalam kantong jas kerjanya.


"Ini foto dua orang yang menyerangku," ucap Erfan memperlihatkan foto kebersamaan Rania bersama Joni dan Bagio ke semua orang termasuk laki-laki yang ada di sebelah Rania, membuat Rania terkejut menatap fotonya.


"Dan ini foto perempuan yang yang dia kirim untuk menjadi sekretarisku," ucap Erfan lagi menunjukkan foto kebersamaan Rania bersama Cindy.


"Itu kan Cindy sekretarisnya Bu Rania..."


"Pantesan nggak pernah ke kantor, ternyata jadi mata mata sekarang"


"Iya jadi perusak rumah tangga orang."


Kasak kusuk kembali terdengar di telinga Erfan.


"Apa anda mendengarnya Pak? wanita ini Secretarisnya." Ucap Erfan dengan senyum kemenangannya menunjukkan foto Cindy kepada laki-laki yang ada di sebelah Rania.


Erfan mengalihkan pandangannya menatap Rania sebelum melemparkan semua foto yang ada di tangannya ke wajah Wanita yang hampir merusak kebahagiaanya.


"Maaf Bu, untuk kerja sama yang barusan kita sepakati, saya akan membatalkannya." Ucap Laki-laki berjas menatap Rania yang masih memejamkan mata menerima penghinaan Erfan.


"Tapi Pak..." ucap Rania membuka matanya, berusaha menghentikan kliennya yang sudah melangkahkan kaki meninggalkannya.


"Apa kamu puas Fan? apa kamu puas mempermalukan ku seperti ini?" teriak Rania menatap Erfan yang sedang berusaha mengontrol nafasnya yang masih memburu.


Bersambung.


________________________


Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.

__ADS_1


Dan...silahkan mampir ke karya author yang ke dua ya...... "AIR MATA PERNIKAHAN SIRI"


__ADS_2