
Tian berencana untuk menjual rumah yang pernah ia berikan kepada Susan karena ia harus mencari biaya tambahan untuk proyek yang ia tangani saat ini. Dengan berat hari Susan pun setuju untuk menjual rumah tersebut.
***
"Assalamualaikum" Ujar Rendi datang ke rumah ku.
"Waalaikumsalam" Jawab mama ku membuka pintu rumahku itu.
"Eh, nak Rendi. Silakan masuk nak" Ucap mamaku mempersilakan calon menantunya itu masuk ke rumah.
Rendi masuk ke dalam rumahku dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Sebentar ya nak tante panggilin Fitri dulu" ucap wanita paruh baya itu memanggilku ke yang ada di kamar.
"Sayang, ada nak Rendi di bawah" Ujar mamaku saat dirinya berada di dalam kamarku. Aku yang sedari tadi sedang sibuk membaca novel yang ada di tanganku pun kaget mendengar Rendi tiba-tiba datang ke rumahku tanpa memberitahuku terlebih dahulu.
"Rendi? Ada apa ya dia ke sini? Kenapa gak bilang-bilang" Ujar ku lagi.
"Mama gak tahu, sebaik nya kamu ke bawah temuin dia" Ucap mama ku lagi. Aku pun bergegas turun ke bawah untuk bertemu dengan calon suamiku itu.
"Bang Rendi" Tegur ku saat aku telah tiba di ruang tamu di mana tempat Rendi duduk menunggu ku di sana.
"Fitri" Jawab nya.
"Kenapa gak ngabarin dulu sih jika mau datang ke sini" Ucap ku duduk di hadapan calon suami ku itu.
"Emang nya jika aku mau datang ke sini harus mengabari kamu terdahulu? Emang nggak boleh ya jika aku berkunjung ke rumah calon istriku"
"Ya bukan begitu, setidaknya aku bisa siap-siap jika kamu mau datang dan gak kaget seperti ini" Ucap ku lagi.
"Emangnya kamu mau berdandan seperti apa jika sudah mengetahui aku akan datang ke rumahmu?"
"Ya pokok nya berdandan aja" Ucap ku dengan malu-malu.
"Maksud kamu mau tampil cantik jika aku datang untuk menemui mu?"
Aku hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapan Rendi barusan.
"Sudah kamu jangan terlalu memikirkan penampilan mu. Kamu tetap cantik kok meski tidak berdandan" Ujar Rendi memuji ku.
Sontak hal itu membuat aku tersenyum malu mendengar pujian dari Rendi.
"Kamu bisa aja bang" Ujar ku tersipu malu.
"Lo, benar kok apa yang aku bilang. Kamu selalu cantik di mata ku" Jawab nya lagi.
"Aamiin... Semoga cantik ku di mata mu tidak pernah berkurang ya bang. Sehingga tidak akan terjadi permasalahan dalam rumah tangga kita seperti yang ku alami dulu" Ujar ku.
"Insha allah hal itu tidak akan pernah terjadi karena aku mencintai mu karena Allah. Aku ingin menjalan kan rumah tangga dengan mu karena ingin beribadah kepada Nya" Jawab Rendi dengan penuh keyakinan.
"Oh ya, kedatangan ku ke sini karena ingin mengajak mu untuk melihat-lihat baju pertunangan kita. Apa kamu mau?" Tanya nya kepada ku.
"Oh gitu, tentu saja aku mau. Kalau begitu tunggu sebentar ya aku siap-siap dulu" Ujar ku langsung menuju kamar untuk bersiap-siap.
***
"Fit, besok ada pengajian di rumah nya buk Rini. Apa kamu mau pergi bareng sama aku besok?" Tanya bang Rendi saat kami di dalam mobil nya menuju butik.
"Besok ya, seperti nya aku gak akan hadir di sana, aku harus masuk kuliah besok" Ujar ku. Yah semenjak aku mengikuti universitas terbuka sabtu minggu tentu saja waktu liburan ku di habiskan untuk mengenyam pendidikan ku itu.
"Oh iya, aku lupa bahwa kamu saat ini sedang kuliah"
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan dari Rendi tadi.
"Oh ya Sofi masih di rumah papa nya? Kapan dia akan menginap lagi di rumah mu?"
__ADS_1
"Iya Sofi masih di rumah papa nya. Aku juga gak tahu sih kapan dia akan kembali ke rumah ku. Aku sih berharap bahwa aku Tian akan segera mengantar nya kembali ke rumah ku. Secara aku sangat rindu sama dia"
"Kenapa gak ke rumah nya atau menghubungi nya saja"
"Gak bisa bang. Jika aku menghubungi Tian, Susan akan marah dan mengatain aku tidak-tidak lagi seperti kemaren. Waktu itu aku pernah menghubungi Tian sekedar menanyain kabar Sofi. Tiba-tiba Susan menghubungi ku dan yah mengatain aku yang sangat membuat hati ini terluka" Jelas ku.
"Yah itu sebab nya aku tidak mau menghubungi nya lagi. Apa lagi jika aku ke sana. Pasti aku akan di usir sama Susan. Aku gak mau mencari masalah dengan mereka atau membuat mereka berpikir bahwa aku ini perusak rumah tangga orang" Tambah ku lagi.
"Biar lah rindu ini ku pendam. Aku yakin Sofi akan segera datang menemui ku nanti"
Rendi tampak simpati mendengar cerita ku itu. Rasa nya ingin sekali laki-laki itu memeluk ku untuk memberikan kesabaran. Namun, tidak mungkin dia melakukan hal itu secara dia belum menjadi suami ku.. Bahkan berpegangan tangan saja kami tidak pernah. Atau bahkan duduk dekat-dekatan juga kami belum pernah. Yah tentu dia menjaga sikap nya karena dia adalah seorang ustad.
***
"Alhamdulillah sudah sampai" Ujar Rendi menghentikan mobilnya di halaman butik.
Aku dan Rendi masuk ke butik tersebut dan memilih beberapa kebaya yang sesuai untuk pertunangan ku nanti.
"Fitri" Tegur nya saat kami selesai memilih kebaya untuk ku.
"Iya"
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" Tanya nya lagi.
"Tentu saja boleh. Ada apa?" Ujar ku menatap Rendi dengan serius.
"Ketika kita sudah menikah nanti, apa kamu mau belajar untuk memakai hijab? Aku yakin kamu akan lebih cantik dengan hijab mu nanti" Puji Rendi meyakinkan ku.
Aku terdiam belum bisa memberi jawaban atas permintaan Rendi tadi.
"Insha allah aku akan mencoba menjadi orang yang lebih baik" Jawab ku dengan tersenyum lembut.
"Kamu adalah imam ku nanti jelas amu harus ikut semua kata mu jika itu yang baik.
"Masih banyak hal yang belum aku ketahui jadi kamu yang mengajar ku nanti" Ujar ku.
"Iya, kita sama-sama belajar ya" Jawab Rendi dengan senyum yang menyejukkan hati.
Aku mengangguk setuju dengan ucapan Rendi tadi.
***
"Sayang, ini mama bawain susu hangat untuk kamu" Ujar Susan menyerahkan segelas susu hangat yang di bawa nya tadi dari dapur kepada putri sambung nya itu.
"Tante, hari ini Sofi ada tugas di sekolah. Apa tante bisa bantuin Sofi untuk mengerjakan nya?" Tanya gadis kecil itu lagi. Yah gadis itu masih memanggil Susan dengan sebutan tante. Meski Susan sudah berkali-kali bilang kepada Sofi untuk memanggil diri nya dengan sebutan mama. Tapi Sofi masih juga belum bisa memanggil Susan dengan sebutan itu. Alhasil, Susan pun mengalah dan merelakan saja jika Sofi memanggilnya dengan sebutan tante. Toh nanti pasti dengan sendiri nya Sofi akan memanggilnya dengan sebutan mama.
"Mana? Sini biar mama lihat" Ucap Susan meminta buku tema yang menjadi tugas untuk Sofi.
Susan pun mulai membaca dan melihat tugas Sofi di buku temanya.
"Oh ini, sini gampang ini sayang. Sini mama ajarin ya cara nya" Ujar Susan mulai memberi penjelasan tentang pelajaran yang menjadi tugas Sofi.
"Sekarang ngerti kan?"
Sofi menggelengkan kepalanya tanda dia belum mengerti dengan penjelasan yang dijelaskan oleh Susan tadi.
"Masih belum mengerti juga?"
Sofi mengangguk.
"Ya sudah mama jelasin lagi ya" Susan kembali menjelaskan cara mengerjakan tugas tersebut. Yah kalian masih ingat kan jika Sofi sulit untuk memahami pelajaran nya. Untuk mengajarinya satu materi saja harus menjelaskan beberapa kali sehingga dia benar-benar bisa paham dengan pelajaran tersebut.
"Ngerti?" Tanya Susan lagi setelah menjelaskan beberapa kali.
"Sedikit sih tante. Sofi coba ya nanti kalau salah tolong di koreksi. Soal nya mama Fitri sering seperti itu" Ujar Sofi.
__ADS_1
"Fitri lagi Fitri lagi. Kenapa sih selalu Fitri yang ada di otak nya.. Emang nya tidak ada apa aku sedikit pun di dalam pikiran Sofi setelah sekian lama ini?" Batin Susan merasa kesal dengan ucapan Sofi tadi.
"Ingin rasanya aku memarahi ini bocah. Tapi aku harus bersabar karena jika aku bertindak ke gegabah pasti dia akan kembali marah kepadaku" Ucap nya lagi dalam hati.
"Ya sudah Sofi kerjain yang mana Sofi ngerti dulu. Nanti mama koreksi ya. Dan mama akan kembali menjelaskan mana yang gak Sofi mengerti hingga Sofi mengerti?" Ujar Susan mengalah.
"Oke tante" Ucap Sofi mulai mengerjakan tugas-tugas nya.
***
"Sofi lagi ngapain ya? Apa dia ada tugas di sekolah nya? Biasa nya setiap hari rabu seperti ini gadis itu selalu di berikan tugas oleh guru pelajaran matematika nya" Batin ku memikirkan putri kecil itu saat aku mulai membaringkan diri di kamar ku. Yah setiap malam aku selalu merindukan gadis kecil itu. Hanya dia teman ku di kamar ini. Jadi ketika sendirian seperti ini membuat aku galau karena kesepian.
Yah hampir dua minggu Sofi pergi meninggalkanku. Padahal aku sangat berharap bahwa Sofi akan kembali bersamaku karena sesuai dengan perjanjian yang dibuat seminggu di rumahku dan seminggu di rumahnya. Tapi hingga saat ini yang seharusnya jadwal Sofi di rumahku gadis itu sama sekali tidak tampak batang hidungnya.
"Apa Tian lupa ya bahwa jadwal. Sofi minggu ini di rumah ku" Batin ku lagi bertanya kepada diri ku sendiri.
"Aduh, ingin sekali aku menghubungi nya untuk bertanya keadaan putri ku itu. Tapi nanti malah membuat Susan mengamuk lagi" Ujar ku lagi.
***
"Oke sudah selesai? Mama periksa ya" Susan mulai mengoreksi tugas yang dikerjakan oleh Sofi tadi.
"Aduh kamu ini gimana sih Sofi masih banyak yang salah ini. Coba kamu lihat masa ini dikali dengan yang ini hasilnya segini sih coba deh kamu cari dengan serius. Gimana sih sudah di jelasin berkali-kali juga masih belum mengerti" Ujar Susan terdengar sedikit marah kepada putri nya itu.
Melihat wajah Susan yang marah seperti itu, membuat Sofi ketakutan dan sedih. Raut wajah kesedihan tampak di wajah putri kecilku itu. Yah tadi ia tampak sedikit bisa menerima Susan. Namun melihat Susan jutek seperti itu lagi membuat nya kembali takut kepada mama sambungnya itu.
"Aduh, keceplosan deh. Bisa-bisa Sofi kembali takut dan menghindar dari ku" Batin Susan merasa bersalah karena telah berbicara dengan Sofi dengan nada yang tinggi. Yah wanita hamil itu benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Yah maklum saja ya mak, wanita hamil itu hormonnya berubah-berubah. Hal itu membuatnya sulit untuk mengontrol emosinya.
"Sayang mama, maafin mama ya sayang. Mama tidak bermaksud untuk memarahi kamu atau membentak kamu. Mama hanya keceplosan dengan bernada tinggi berbicara seperti itu kepada kamu. Maafin mama ya sayang" Ucap Susan memeluk Sofi agar gadis itu tidak jadi menangis. Yah bisa-bisa Tian mengamuk jika putri nya itu menangis karena di bentak oleh Susan.
"Bisa-bisa Sofi akan meminta Tian untuk mengantar nya lagi ke rumah Fitri. Dan pasti hal itu akan membuat Tian dan Fitri bertemu kembali. Gak, aku gak mau Tian kembali sama Fitri. Yah meski pun Fitri akan bertunangan. Tapi itu kan baru akan, belum pasti terjadi tidak nya. Jadi aku harus lebih waspada" Batin Susan masih dengan memeluk Sofi.
"Maaf kan mama ya sayang. Tolong jangan marah sama mama" Ucap Susan lagi mencium beberapa kali puncak kepala putri nya itu.
"Iya tante" Jawab Sofi.
"Sekarang mama jelasin lagi ya cara kerja nya" Ucap Susan kembali menjelaskan cara mengerjakan soal yang ada di buku tema putri nya itu yang menjadi tugas nya.
"Bagaimana apa sudah ngerti?" Tanya Susan lagi.
"Sofi coba ya tante untuk mengerjakan nya" Ujar Sofi yang kini mulai mengerjakan tugas nya.
***
"Kemana sih Susan? Dari tadi di cariin malah gak tahu pergi nya kemana. Padahal aku mau menanyakan surat rumah nya di mana" Ucap Tian pada diri nya mencari istri nya itu.
"Bik, apa bibi melihat Susan?" Tanya Tian saat bertemu dengan bik Ina yang berada di dapur.
"Oh, buk Susan tadi sih sepertinya ke kamar non Sofi. Karena tadi katanya mau mengantarkan susu hangat untuk non Sofi" Ujar wanita paruh baya itu kepada majikannya.
"Makasih ya bi" Ujar Tian langsung pergi menuju ke kamar Sofi untuk bertemu dengan istrinya itu dan membahas masalah rumah yang akan dijualnya agar bisa memberikannya modal untuk proyek yang sedang bermasalah saat ini.
"Iya pak sama-sama" Jawab bik Ina dan kembali melanjutkan pekerjaannya di rumah itu.
***
"Nah ini sudah bisa kamu mengerjakan nya sayang. Tinggal sedikit saja lagi yang salah yaitu hasil nya. Jalan nya sudah benar ini" Ujar Susan lagi kepada putri nya itu saat ia memeriksa tugas Sofi.
"Ini coba Sofi carikan yang ini di kalikan dengan yang ini" Ucap nya lagi.
Sofi pun mulai kembali mengerjakan soal itu. Sedangkan Tian yang baru tiba di depan kamar Sofi memperhatikan gerak-gerik kedua wanita yang berbeda usia itu.
"Ternyata Susan benar-benar telah melaksanakan ucapannya. Di mana saat ini dia sedang berbuat baik kepada Sofi. Dan dia juga mulai berusaha untuk mengambil hati Sofi kembali agar putriku itu kembali dekat dengan nya" Batin Tian tersenyum bahagia melihat kedua wanita yang saat ini berada di rumahnya itu akur seperti itu.
Yah waktu itu Susan pernah meminta kepada Tian agar Sofi selalu berada di rumahnya dan tidak lagi pergi ke rumahku. Hal itu dikarenakan dia ingin menjalin hubungan sehat dengan Sofi lagi. Jika nanti Sofi ke rumahku maka waktu untuk mengambil hatinya Sofi itu menjadi tidaklah banyak. Oleh karena itu Susan meminta Tian untuk membiarkan saja Sofi berada di rumahnya. Dan Susan pun membuktikan hal itu di mana saat ini hubungannya dan Sofi mulai membaik.
__ADS_1