
"Bagaimana dok hasil pemeriksaan nya? Apakah cucu saya baik-baik saja?" Tanya mama Susan saat dokter selesai memeriksa nya.
"Alhamdulillah ya buk, janin nya kini baik-baik saja. Dan sudah mulai berkembang dengan normal. Meski pun belum ukuran nya sebesar usai nya di rahim ibu. Tapi ibu jangan khawatir. Karena masih ada waktu untuk membuat bayi ibu ini tumbuh sesuai dengan usia nya hingga waktu persalinan tiba" Jelas dokter itu lagi.
"Jadi anak saya sudah boleh pulang dok?"
"Iya buk, buk Susan besok sudah boleh pulang. Tapi di harapkan buk Susan jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat dulu ya. Dan di harapkan setiap minggu melakukan cek rutin" Pinta dokter itu lagi.
"Baik dok terima kasih" Ucap Susan dengan hati yang senang karena pada akhir nya dia bisa pulang ke rumah nya.
***
"Syukur lah aku sudah bisa pulang besok ma. Aku sudah sangat merindukan rumah" Ujar Susan saat mereka kembali ke ruangan nya.
"Iya San. Mama juga senang kamu sudah boleh pulang. Mama sudah bosan terus-terusan bolak balik ke rumah sakit ini"
"Iya ma, maaf siapa juga yang mau sakit ma" Ucap Susan lagi.
"Iya sih, tapi ingat ya San kamu harus melakukan rencana kita itu agar berjalan dengan lancar" Ujar mama Susan lagi.
"Iya ma, mama tenang aja"
***
Tian duduk di meja kerja nya dengan perasaan yang masih gundah gelana. Pikiran nya masih memikirkan aku yang akan menikah dengan pak Rendi. Di buka laptop nya yang berisi foto kenang-kenangan ku bersama nya. Vidio kami menikah pun ikut serta ada di sana. Sungguh rasa bahagia yang kami rasa. Namun, rasa itu perlahan pergi menjauh dari kami. Hingga sudah tidak terlihat lagi ke mana pergi nya.
Tampa terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi nya. Tian menangis sedih dengan keadaan nya sekarang. Meski dia sudah bersama Susan, tapi hati nya masih tersemat nama ku. Hati nya sangat terluka karena lamaran ku itu.
Kembali ia terbayang saat aku bertahan dan terus mendukung nya di saat semua orang memandang nya dengan sebelah mata. Dimana dia terlibat di dengan barang haram narkoba. Tapi aku selalu ada untuk mendukung nya hingga pada akhir nya dia bisa terlepas dari barang tersebut.
"Kenapa aku begitu bodoh, padahal untuk bersatu dengan mu itu tidak lah mudah. Aku harus menahan segala nya hingga bertahun-tahun baru aku mendapatkan kamu seutuhnya" Ucap nya lagi lirih.
Yah memang sangat sulit kami bersama waktu itu. Setelah menikah pun Tian belum bisa mendapatkan hak nya karena dia belum sepenuhnya berubah terlepas dari barang haram narkoba itu.
Hampir setahun lebih dia berjuang untuk terlepas dari barang haram tersebut di panti rehabilitasi. Hingga akhirnya ia benar-benar bisa terlepas. Setelah itu baru latihan mendapatkan haknya sebagai seorang suami dariku. Dan kami dikaruniai seorang putra yang ganteng bernama Raffa. Namun sayang putraku itu tidak bertahan lama ia memilih pergi meninggalkan kami untuk selamanya.
"Begitu banyak cobaan yang kita hadapi bersama. Begitu tegar nya diri mu menghadapi tingkah ku dulu. Sabar mu memang tiada dua nya. Tapi mengapa aku begitu tega membuat mu kecewa" Sungguh laki-laki itu sangat menyesal di kekhilafannya saat itu.
Tian mengambil ponselnya di atas meja kerjanya yang saat ini sedang berdering pertanda panggilan masuk dari seseorang.
"Hallo" Ujar nya mengangkat ponselnya itu setelah melihat siapa yang menghubunginya pagi ini yang tak lain adalah Susan istrinya.
"Hallo sayang, kamu sekarang di mana?"
"Di kantor, ada apa?" Tanya Tian dengan datar.
"Suara kamu kok aneh sih Tian. Apa ada masalah?" Tebak Susan curiga.
"Gak, hanya aja hari ini aku merasa lelah saja dengan masalah yang aku hadapi"
"Masalah proyek lagi? Bukan kah kamu bilang sidah mendapatkan dalang di balik semua ini"
"Iya, tapi tetap saja aku memikirkan masalah itu"
"Kamu yang sabar ya sayang.. Semuanya pasti baik-baik saja"
"Iya semuanya akan baik-baik saja. Tapi hatiku tidak baik-baik saja saat ini" Batin Tian.
"Oh ya sayang, besok aku sudah di perbolehkan pulang. Kita jemput Sofi ya besok di rumah Fitri" Ucap Susan dengan penuh semangat.
"Oh ya? Jadi kamu syukur lah jika begitu" Jawab Tian masih dengan nada datar nya.
Susan tadinya bersemangat memberi kabar bahagia ini kepada suaminya ikut menjadi berwajah murung karena mendengar suara yang terdengar biasa saja dengan kabar bahagia itu.
"Sayang, Kok suara kamu seperti itu sih?"
"Seperti itu bagaimana?"
"Seperti tidak senang saja aku keluar dari rumah sakit"
"Aku senang kok sayang pada akhirnya kamu bisa keluar dari rumah sakit. Kamu jangan berpikir yang bukan-bukan seperti itu dong kepadaku. Sudah kukatakan tadi bahwa aku sedang banyak pikiran menangani proyek ini. Jadi tolong di maklumin saja ya sayang. Dan aku minta maaf jika kamu berpikir bahwa aku cuek terhadapmu. Hanya saja aku sedang lelah sayang" Ucap Tian yang memang terdengar seperti orang yang lelah.
__ADS_1
"Ya sudah jika begitu. Aku minta maaf jika aku salah menilai mu. Kamu lanjutin aja kerja mu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Tian pun menutup ponsel nya.
Tian memijat kepalanya yang terasa pusing karena memikirkan masalah yang ia hadapi saat ini.
Kembali Tian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja karena nada panggilan berdering.
"Hallo ma" Jawab nya saat mama nya menghubunginya.
"Tian, kamu sibuk?" Tanya wanita paruh baya itu dari seberang sana.
"Gak kok ma"
"Suara kamu kok berbeda ya. Ada apa? Apa ada masalah di kantor?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.
Tian mencoba menghela nafas beratnya.
"Tuh kan seperti orang sedang dalam ada masalah saja. Meskipun mama tidak melihat wajahmu secara langsung, tapi mama ini adalah mama kamu. Jadi mama tahu juga kamu itu sedang ada masalah atau memikirkan sesuatu yang membuat kamu merasa sedih seperti ini coba cerita! Ada apa sebenarnya" Ucap mama Tia lagi. Yah nama nya juga seorang ibu, jelas tahu bahwa anak nya sedang tidak baik-baik saja.
Kembali Tian menghela napas berat nya.
"Ma, aku merasa sedih dan patah hati. Fitri akan menikah dengan pak Rendi" Cerita Tian pada akhir nya.
"Maksud kamu, pak Rendi yang kemaren yang bersama Fitri di Grand Opening cafenya itu"
"Iya ma"
"Kamu tahu dari mana bahwa mereka akan menikah?" Tanya mama Tian kepada putranya itu.
"Kemarin sore aku pergi ke rumah Fitri untuk bertemu dengan Sofi karena aku sudah lama tidak melihat keadaannya. Kulihat ramai keluarga Fitri yang berkumpul di rumah itu dan mereka sibuk mendekor rumah itu. Fitri lah yang mengatakan kepadaku bahwa tadi malam ada acara lamaran mereka. Fitri sudah dilamar sama pak Rendi dan mereka akan segera menikah. Itu artinya tidak ada harapan lagi untukku kembali kepadanya" Ujar Tian dengan suara yang terdengar sedih.
"Jadi kamu masih mengharap kan Fitri? Jika kamu masih mencintainya Kenapa kamu setuju untuk berpisah dengannya waktu itu"
"Aku tidak pernah meminta untuk berpisah dengan nya ma. Aku sangat mencintainya, aku juga tidak mau kehilangan dia ma. Tapi aku tidak bisa memilih di antara keduanya. Susan juga sudah membutuhkan aku di mana dia sakit saat ini dan aku tidak bisa melepaskan Fitri. Karena rasa cintaku begitu besar kepadanya. Tapi aku juga tidak mau menyiksa dia terus-terusan seperti ini karena hidup dimadu. Karena itulah mau tidak mau aku setuju untuk berpisah dengannya" Cerita Tian lagi.
Terdengar wanita paruh baya yang ada di seberang sana menghela nafas beratnya mendengar cerita dari putranya itu.
"Aku juga tidak tahu ma, kenapa aku bisa terjerat dalam rayuan Susan. Kejadian itu begitu cepat. Apa lagi saat itu aku sangat terpukul dengan keadaan Raffa yang sakit. Jadi untuk melepaskan rasa sedih ku itu aku lari ke Susan yang selalu memberikan ku sebuah ke nyaman" Ujar Tian lagi.
"Di tambah lagi Fitri saat itu terus berada di rumah sakit dan tidak menemani ku dan melayani ku ma selama berbulan-bulan. Jelas aku sebagai laki-laki normal membutuhkan kepuasan lahir ma" Jelas Tian lagi.
"Bagaimana pun dan apa pun alasan kamu tetap saja kamu salah. Fitri seperti itu bukan atas keinginan dia? Ini semua sudah takdir nya. Kamu sebagai papa dan seorang suami bukan nya mendukung dan memberi semangat kepada Istri dan anakmu malah kamu berbuat ulah seperti ini" Ujar mama Tian lagi.
"Iya ma aku akui aku memang salah ma. Karena itu lah ma aku menyesal dan ingin memperbaiki semua nya. Tapi sayang semua itu sudah terlambat. Susan hamil dan aku harus bertanggung jawab atas semua itu" Ucap Tian lagi sedih.
"Sudah lah, ini semua karena ulah mu juga. Kamu yang mengiginkan hal ini terjadi. Fitri berhak bahagia. Jadi tak semua yang kamu rasakan itu sudah terlambat" Ucap mama Tian lagi.
"Iya ma, karena itu saat ini aku hanya bisa diam. Aku tidak mungkin memaksa Fitri untuk bertahan meski telah tersakiti"
"Sabar ya, mungkin Fitri bukan jodoh mu yang abadi. Oh ya mama mau bilang sama kamu, bahwa mama mau menjemput Sofi minggu besok untuk nginap di rumah mama. Sudah lama juga putri mu itu tidak menginap di rumah mama" Ujar mama Tian menyampaikan maksud nya menghubungi Tian hari ini.
"Oh iya ma gak masalah. Apa mama sudah mengatakan hal itu kepada Fitri?"
"Sudah kok, dia yang mama hubungi terlebih dahulu, Sofi juga setuju untuk menginap di rumah mama. Sudah lama mama tidak menghabiskan waktu bersama cucu mama itu" Ujar wanita paruh baya itu lagi.
"Gak masalah kok ma. Sofi boleh kok menginap di rumah mama berapa lama pun dia mau" Ujar Tian lagi.
"Oh ya ma, besok Susan sudah boleh pulang"
"Oh gitu, bagus lah" Ucap wanita paruh baya itu dengan cuek.
Tian pun mengerti bahwa mama nya tidak mau mendengar apa pun tentang istri siri nya itu.
"Ya sudah ma, aku mau lanjut kerja dulu ya"
"Iya"
***
"Fitri" Tegur pak Rendi saat kami berada di sekolah.
__ADS_1
"Iya pak"
"Jangan panggil saya bapak. Panggil saja saya abang. Tidak lama lagi kita kan menikah masa ia kamu memanggil ku dengan panggilan itu" Ujar pak Rendi.
Aku tersenyum mendengar ucapan pak Rendi itu.
"Iya pak, eh bang"
"Oh ya sepulang sekolah apa kamu ada kegiatan lain?"
"Gak sih, palingan jika ada pun mengecek keadaan cafe" Ujar ku.
"Emang nya ada apa bang?"
"Aku mau mengajak mu untuk pergi ke toko emas untuk membeli cincin pertunangan kita" Ujar pak Rendi kepada ku.
"Oh gitu. Boleh bang tapi saya harus pergi menjemput Sofi dahulu. Boleh kan kita mengajak Sofi juga?" Tanya ku.
"Tentu saja boleh. Anak mu itu anak ku juga" Ujar pak Rendi lagi.
Aku tersenyum senang mendengar ucapan dari pak Rendi barusan. Yah bahagia sekali rasa nya dengan sikap pak Rendi itu. Meski dia tahu bahwa Sofi itu bukan putri kandung ku, tapi dia tetap sayang sama Sofi selayak nya anak sendiri.
Jika anak orang saja dia bisa menerima dan menyayangi nya, apa lagi anak nya sendiri. Pasti dia tidak akan mengecewakan anak-anak nya kelak.
***
"Sayang mama" Ujar ku saat menjemput Sofi di sekolah nya.
"Mama" Sofi berlari dan memeluk ku.
"Om Rendi"
"Jangan panggil om sama saya. Panggil saya dengan sebutan papa. Karena sebentar lagi mama dan papa akan menikah" Jelas pak Rendi dengan tersenyum ramah.
"Iya papa" Jawab Sofi dengan senyuman nya.
"Ya sudah ayo kita berangkat" Ajak pak Rendi lagi.
"Kita mau kemana ma?"
"Kita mau pergi membeli cincin pertunangan mama dan papa Rendi" Ujar ku.
"Oh gitu, oke deh ma. Tapi Sofi boleh gak nanti mampir ke toko buku. Sofi pengen membeli beberapa buku dan peralatan melukis Sofi" Pinta gadis kecil itu.
"Tentu boleh dong sayang. Apa pun boleh untuk Sofi. Papa akan membelikan nya untuk Sofi. Jika perlu papa akan membelikan Sofi satu set alat lukis berupa kanvas, kuas dan cat warna nya sekali. Jadi Sofi gak perlu melukis di buku lagi. Bagaimana?"
"Beneran pa?" Tanya Sofi meyakinkan.
"Iya benar dong sayang. Ngapain papa bohong sama anak kesayangan papa ini" Ujar nya.
"Asyik.... Sofi seneng banget pa. Makasih ya pa" Ujar gadis kecil itu gembira mendengar apa yang di katakan pak Rendi itu.
"Iya sayang sama-sama. Pokok nya Sofi ingin apa pun akan papa berikan kepada putri papa ini" Ujar Rendi.
"Emang nya Sofi hobi melukis ya?"
"Iya pa, Sofi senang banget melukis. Kemaren waktu ada perlombaan di sekolah, Sofi ikut dan Sofi mendapat juara pertama"
"Benar kah?"
"Iya pa, Sofi senang banget pa" Ujar gadis kecil itu bahagia.
"Ternyata anak papa ini hebat ya. Berarti papa harus memberikan Sofi hadiah nanti"
"Benar pa?"
"Iya sayang"
"Jika sudah besar Sofi mau menjadi apa?" Tanya Rendi lagi.
"Sofi pengen menjadi pelukis terkenal pa. Sofi pengen ke liling dunia untuk melukis semua pemandangan indah di dunia ini" Celoteh putri ku itu.
__ADS_1
"Wah, semoga cita-cita anak papa ini terwujud ya sayang. Papa akan memberi dukungan kepada putri papa ini" Ujar Rendi terus fokus mengendarai mobil nya.