
Tian kembali menitipkan Sofi kepada ku karena Susan masuk ke rumah sakit akibat miom nya semakin membesar.
Dengan senang hati aku menyambut kedatangan putri kecil ku itu. Karena aku bisa ada teman nya di rumah dan tidak merasa kesepian lagi.
Aku juga mengatakan kepada mama ku bahwa pak Rendi akan melamar ku minggu depan. Dan ibu ku meminta ku untuk memberi kabar bahagia ini kepada saudara-saudara ku agar bisa berkumpul besok di rumah untuk mengadakan rapat dan mempersiapkan segala sesuatu nya untuk acara lamaran itu.
***
"Jadi kita akan membuat apa untuk menyambut kedatangan mereka? Apa kue mue aja atau kita buat makanan berat?" Tanya mama ku saat kami sedang mengadakan rapat keluarga. Yah dalam masalah seperti ini, tentu melibat kan keluarga bukan, karena itu lah kami mengadakan rapat ini.
"Emang nya berapa orang sih ma yang datang untuk melamar?" Tanya kakak ku pula.
"Belum tahu juga sih, mungkin keluarga besar nya saja" Jawab mama ku.
"Jika begitu, menu kita buat kue-kue basah aja ma. Bukan kah ini hanya acara lamaran? Nanti ketika sudah acara tunangan baru kita membuat makanan berat" Saran abang ke dua ku.
"Lagian pasti nanti yang datang tidak datang tidak lah terlalu ramai. Bisa jadi hanya kedua orang tua nya" Bang ke empat ku ikut memberi pendapat nya.
"Iya benar juga sih, kalau begitu deal ya. Kita akan bikin menu nya kue-kue aja" Ujar mama ku.
"Setuju" Jawab saudara-saudara ku serentak.
"Assalamamualaikum" Terdengar suara orang mengucapkan salam dari depan pintu rumah ku. Yah saat itu kami sedang berkumpul di ruang keluarga untuk membahas masalah ini.
"Waalaikumsalam" Jawab kami serentak.
"Siapa?" Tanya bang ke tiga ku.
"Gak tahu, biar aku saja yang buka pintu nya" Ujar ku langsung berlari membuka pintu rumah ku.
"Eh, pak Rendi, om" Ujar ku langsung mencium punggung tangan papa nya Rendi itu.
"Fitri, kenalin ini papa ku" Ujar pak Rendi memperkenalkan orang tua nya. Yah aku memang belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Rendi sama sekali.
Aku tersenyum melihat kedua anak dan ayah itu.
"Silahkan masuk" Ujar ku mempersilahkan mereka masuk. Pak Rendi dan papa nya duduk di ruang tamu.
"Tunggu sebentar ya pak, om saya panggilin mama dan papa saya dulu. Kebetulan kami juga sedang ngumpul keluarga" Ujar ku.
"Wah, pantesan ramai sekali" Ujar pak Rendi melihat di ruang keluarga ku yang tidak jauh dari tuang tamu tersebut banyak orang nya. Terlebih keponakan-keponakan ku yang berlari-larian bermain di rumah ku itu. Pokok nya jika kami sudah mengumpul, tentu riuh sekampung.
Bayangin saja bang pertama ku memiliki dua anak, abang ke dua ku memiliki tiga anak, abang ke tiga ku memiliki empat anak, abang ke empat ku memiliki satu anak, abang ke lima ku memiliki tiga anak kakak ku memiliki tiga anak, dan aku memiliki satu anak juga tapi sayang anak kandung ku telah di panggil duluan oleh sang pencipta. Dan tinggallah hanya anak sambung ku yaitu Sofi.
Yah jarak antara saudara-saudara ku itu hanya berkisar dua tahun saja. Karena itu mereka tampak sebaya. Dan hanya aku yang berjarak sepuluh tahun.
Yah ayah dah ibu ku memang menikah muda waktu itu jadi yah anak-anak mereka sudah pada seperti ini bukan. Hal itu wajar dong anak nya bisa sebanyak ini.
"Siapa Fit?" Tanya papaku ketika aku tiba di ruang keluarga.
"Pak Rendi pa bersama papanya" Jawabku.
"Oh sebentar" Ujar Apa kau bangkit dari duduknya dan langsung menuju ke ruang tamu di mana pak Rendi dan papanya menunggu kedatangan papaku di sana.
Karena kepo, abang-abang ku juga ikut untuk menemui calon suamiku itu. Karena mereka tidak pernah bertemu dan belum kenal dengan pak Rendi.
Sedangkan aku dan kakak-kakak ku iparku dan juga kakak kandungku hanya memperhatikan mereka dari jauh yaitu dari ruang keluarga. Karena merasa malu jika ikut menyempeli para urusan lelaki itu.
"Ayo buatin minuman untuk mereka" Perintah kakak ipar pertama ku.
Sontak, kakak ipar nomor tiga dan lima langsung menunju dapur untuk membuatkan minuman dan mengambil beberapa cemilan untuk tamu yang hadir di rumahku itu.
"Nak Rendi, pak" Sapa papaku ketika sudah tiba di hadapan mereka. Dan langsung berjabat tangan dengan kedua tamu itu.
Abang-abang ku pun tidak mau kalah berjabat tangan dengan para tamu kami di malam itu. Karena mereka mengikuti jejak langkah papaku tadi.
"Jadi itu calon suami mu Fit" Tanya kakak-kakak ipar ku.
"Iya kak, dia pak Rendi dia juga seorang ustad" Jelas ku.
"Wah, ustad muda, tampan lagi" Ujar kakak ipar ku yang nomor lima.
"Mana, mana" Kakak ipar ku yang dari dapur tadi pun ikut kepo dan ingin melihat pak Rendi.
"Itu lo, masa yang tua itu. Itu kan papa nya" Ujar kakak ipar ku yang ke dua lagi.
"Iya tampan juga ya. Sudah tampan tahu agama lagi" Tambah kakak ipar ku lagi.
Aku hanya tersenyum mendengar ocehan para ibu-ibu itu. Yah memang pak Rendi juga tampan. Kulit nya sawo mateng, memiliki hidung yang mancung, alis yang tebal seperti semut beriring serta bola mata nya yang kecoklatan membuat siapa pun pasti terpesona menatap nya.
"Udah, udah minggir aku mau menghantarkan minuman dan makanan ringan ini untuk tamu kita" Oceh kakak ipar ku yang nomor lima tadi.
"Ini minuman nya silahkan di nikmati" Ucap kakak ku tadi sambil menyajikan air yang di buat nya tadi di atas meja.
"Terima kasih" Ujar pak Rendi.
Kakak ku tadi pun langsung pergi ke ruang keluarga tempat kami berkumpul.
"Maaf pak, jika kami datang menganggu kalian malam-malam seperti ini. Apa lagi sedang ada acara kumpul keluarga jadi gak enak" Ujar papa Rendi dengan tersenyum salah tingkah.
"Oh tidak masalah kok pak. Justru saya senang bapak dan nak Rendi datang malam ini jadinya bisa saya perkenalkan dengan anak-anak saya dan menantu-menantu saya" Ucap papa ku lagi.
Papa ku pun langsung memanggil para menantu nya untuk berkumpul dan memperkenalkan semua nya kepada Rendi dan papa nya.
"Ternyata Fitri memiliki banyak saudara juga ya" Ujar papa Rendi.
"Iya alhamdulillah di beri rejeki anak yang banyak" Jawab mama ku pula.
"Jadi jika ngumpul ya seperti ini jadi nya. Riuh sekampung" papa ku menyempeli.
Sontak mereka pun tertawa mendengar ucapan papa ku tadi.
"Baik lah pak, tampa basa basi lagi. Maksud saya dan Rendi datang ke sini kami hanya ingin memberitahu kepada keluarga bapak. Bahwa minggu depan saya beserta keluarga saya akan datang ke rumah bapak dengan tujuan untuk melamar putri bapak yaitu Fitri untuk anak saya Rendi" Jelas Papa Rendi kepada keluargaku maksud kedatangannya malam ini.
"Yah tidak enak rasa nya jika saya tidak memberi kabar ini langsung sama kalian. Seperti tidak serius saja. Karena itu saya yang datang ke sini jadi ibarat kata sudah berunding secara keluarga seperti ini kan tanda nya serius" Ujar papa Rendi lagi.
"Iya benar pak. Saya setuju dengan apa yang bapak bilang tadi. Fitri juga sebenar nya sudah mengatakan hal yang sama kepada kami" Jelas papa ku lagi.
***
Di ruang operasi Susan sedang berjuang melawan sakit nya. Yah Susan sedang melakukan operasi untuk mengeluarkan miom nya.
__ADS_1
Tian dan mama Susan mondar mandir di depan pintu ruang operasi menunggu hasil dari operasi tersebut.
Sedangkan papa dan mama nya Tian duduk santai di kursi yang ada di depan ruangan operasi itu.
"Sudah lah Tian jangan terlalu khawatir dengan istri mu itu. Semua nya pasti berhasil kok, lagian dia kan pelakor jadi pelakor gak akan cepat meninggoi. Nyawa nya masih banyak kok" Ujar mama Tian dengan pedas nya.
"Ma, tidak baik berbicara seperti itu ma. Bagaimana pun Susan itu menantu kita"
"Iya menantu yang tidak di anggap pelakor" Jawab mama Tian lagi.
Mama Susan hanya bisa menangis mendengar putri nya di hina seperti itu.
"Kurang hajar kamu. Bisa-bisa nya kamu menghina anak ku yang sedang berjuang di meja operasi. Bukan nya mendoakan, malah mencaci seperti ini" Batin mama Susan merasa geram dengan mama Tian.
"Awas aja, aku tidak akan terima anak ku di perlakukan seperti ini. Mentang-mentang orang kaya seenak nya memperlakukan orang seperti ini" Tambah nya lagi masih dengan menatap sinis ke arah mama mertua anak nya itu.
"Ma, Sudah ma jangan membuat keributan di rumah sakit ini" Tian menghampiri mama dan papa nya.
"Semua gara-gara kamu. Sudah ada istri yang baik hati malah tergoda sama pelakor. Mantan adik ipar nya pulak seperti gak ada wanita lain aja. Terus sakit-sakitan pulak lagi" Ujar mama Tian lagi.
"Sudah ma, cukup jangan berbicara seperti itu lagi. Papa nggak mau mendengar mama ngomong yang tidak pantas seperti itu lagi" Tegas papa Tian mulai emosi.
Dengan wajah kesal mama Tian bersandar di tempat duduk nya sambil menatap kesal ke arah mereka bertiga. Sungguh wanita itu sangat membenci seorang pelakor. Yah karena dia dulu pernah di selingkuhi oleh papa Tian. Karena itu lah dia sangat anti dengan wanita yang hanya bisa merebut suami dan kebahagiaan orang lain itu.
"Apa apaan sih mereka berdua. Malah membela si pelakor yang penyakitan itu. Lagian sih Tian, apa dia tidak berpikir dampak dari perselingkuhan ini? Bukan kah dia sudah pernah mengalami betapa depresi nya dia saat mengetahui papa nya selingkuh waktu itu" Batin mama Tian semakin kesal dengan Tian dan Suami nya.
***
"Sofi sayang, berhubungan semua keponakan mama ada di sini, besok kita pergi jalan-jalan yuk ramai-ramai. Pasti seru" Ujar ku kepada Sofi yang sedang sibuk bermain dengan boneka nya.
"Serius ma?"
"Serius dong sayang, besok juga hari libur kan, Kita sama-sama gak pergi ke sekolah. Jadi kita akan habiskan waktu kita beramai-ramai" Ujar ku lagi penuh dengan semangat.
"Yey, asyik.... Sudah lama juga kita gak jalan-jalan ya ma"
"Iya sayang, jadi apa salah nya kita nikmati waktu kebersamaan kita" Ujar ku lagi.
"Sofi mau ke mana?" Tanya ku lagi.
"Kemana ya?" Gadis kecil itu tampak berpikir.
"Kemana ayo"
"Kita jalan-jalan ke mall terus nonton ma. Seperti nya seru deh jika nonton nya ramai-ramai"
"Gak mau ke taman wahana aja. Lebih seru ke sana karena dapat bermain bersama" Ujar ku lagi.
"Hmm.... Iya juga sih ma, Sofi jadi bingung deh mau kemana" Ujar gadis itu kebingungan karena ia ingin menjelajahi semua nya"
"Ya udah deh ma, kita ke taman wahana saja. Pasti lebih seru karena main nya bareng sama keponakan mama" Ujar gadis itu pada akhirnya.
"Oke sayang, berarti deal ya kita besok ke taman wahana"
Gadis kecil itu mengangguk kemudian langsung memeluk ku penuh kehangatan. Aku pun membalas pelukan gadis kecil itu sambil mencium puncak kepalanya.
***
"Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar. Keadaan bayi dan istri bapak baik-baik saja. Saat ini istri bapak akan dipindahkan di ruangan pemulihan" Ujar dokter itu tadi.
"Alhamdulillah, terima kasih ya dok" Ujar Tian merasa lega.
"Iya sama-sama. Jika begitu saya permisi dulu untuk kembali ke ruangan saya" Dokter tadi pun langsung pergi meninggalkan mereka yang tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas keberhasilan operasi yang dijalani oleh Susan. Namun tidak dengan mamanya Tian tetap merasa sinis kepada menantu sirinya itu.
"Sudah ku bilang, semuanya pasti baik-baik saja kalian sih terlalu cemas. Sudah tahu sih pelakor itu mempunyai banyak nyawa. Tuhan belum mau mengambil nyawanya karena Tuhan mau dia itu bertobat terlebih dahulu" Ujar mama Tian lagi.
"Sudah dong ma, jangan ngomong seperti itu lagi kepada Susan. Bagaimanapun Susan itu sekarang sudah menjadi istriku" Ujar Tian.
"Alah, istrinya seorang pelakor masih juga dibanggakan dan dibela seperti itu"
"Ma, sudah dong"
"Udah ah, males lama-lama berada di sini. lebih baik aku pergi jalan-jalan mencari udara segar. Daripada di rumah sakit ini yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak benar" Ujar wanita paruh baya itu lagi langsung bangkit dari duduknya dan pergi keluar untuk mencari udara segar.
"Aduh, aku mau ke mana ya?" Tanya mama Tian pada dirinya sendiri ketika ia sudah tiba di depan rumah sakit.
"Kunci mobil malah sama papa lagi" Tambahnya lagi.
Wanita paruh baya itu merokok tas yang dibawanya tadi untuk mengambil ponselnya.
"Hallo pa" Ujar mama Tian saat teleponnya diangkat oleh suaminya yang masih berada di dalam rumah sakit itu.
"Iya ma"
"Papa masih mau berada di rumah sakit ini?"
"Iya ma, ini temanin Tian untuk membawa Susan ke dalam ruangan pemulihan"
"Ya sudah lah terserah papa saja. Mama mau keluar sebentar ya jalan-jalan di kota ini. Sepertinya mama juga mau pergi ke cafenya Fitri. Sudah lama mama tidak bertemu dengan dia dan juga Sofi. Nanti papa kalau mau pulang jemput mama di sana ya" Pinta wanita paruh banyak itu kepada suaminya.
"Iya ma" Jawab suami nya dan mengakhiri panggilan telpon nya.
"Kenapa mama pa?" Tanya Tian kepada papa nya.
"Itu dia mau pergi ke cafe nya Fitri untuk bertemu dengan Fitri dan juga Sofi" Jawab lelaki paruh baya itu.
"Oh gitu"
***
"Hallo Fitri" Ujar mama Tian menghubungi ku.
"Iya ma"
"Kamu sekarang di mana? Apa ada di cafe?"
"Kebetulan saya baru keluar dari sekolah ma, dan mau ke sana. Ada apa ma?"
"Mama sekarang di Pekanbaru. Mama mau ke cafe mu untuk sekedar temu rindu dengan mu dan Sofi"
"Oh mama di sini? Sendirian? Aku jemput ya ma" Ujar ku lagi.
__ADS_1
"Oh gak perlu sayang. Mama ke sana nya menggunakan taksi saja. Ini Mama sudah berada di perjalanan kok menuju ke sana dengan taksi yang mama pesan tadi" Jelas wanita paruh baya itu.
"Kamu bersama Sofi?"
"Ini aku baru mau menjemput Sofi di sekolahnya. Nanti kami ke cafe untuk bertemu sama nama di sana. Oke" Ujar ku lagi.
"Oke sayang, sampai bertemu di sana ya"
"Iya ma" Jawabku menutup pembicaraan kami di telepon.
***
"Mama... " Teriak putri sambung ku itu itu berlari mengejar ku yang menunggunya di depan gerbang sekolah.
"Sayang" Sambut ku menyambut dengan pelukan kedatangan Sofi.
"Mama, tadi kan di kelas Sofi bisa menjawab soal yang ditulis oleh ibu guru di papan tulis ma. Kata ibu guru nilai Sofi yang paling tinggi di latihan tadi. Sofi seneng banget ma"
"Oh ya? Wah anak nama pintar sekali lama banget sama kamu sayang. Dipertahankan ya sayang nilai bagusnya" Ujar ku.
"Iya ma, Sofi juga mau berterima kasih sama mama. Karena mama tidak bosan-bosannya mengajari Sofi pelajaran di sekolah. Karena mama juga Sofi mendapatkan nilai yang bagus seperti tadi" Ujar gadis kecil itu.
"Iya sayang sama-sama"
"Sofi janji Sofi akan mempertahankan nilai Sofi. Sofi bangga banget mempunyai mama seperti mama Fitri. Karena sesibuk bagaimanapun mama, mama tetap bisa meluangkan waktu untuk Sofi, terima kasih ya mama" Ujar gadis kecil itu dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
"Iya sayang, sama-sama" Ujarku dengan perasaan haru di hati. Karena putri sambung ku itu begitu bangga kepadaku dan begitu menyayangiku.
"Ya sudah, sekarang kita pergi ke cafe mama ya. Ada seseorang yang menunggu kita di sana. Dan dia sangat kangen sama Sofi"
Gadis kecil itu mengkerutkan keningnya karena tidak tahu siapa yang menunggunya di sana.
"Siapa ma?"
"Nanti juga kamu akan tahu. Sekarang ayo kita masuk ke mobil untuk menuju Cafe mama dan bertemu dengan orang itu. Mama yakin kamu pasti akan senang bila bertemu dengan orang itu" Ucap ku.
Tanpa diminta untuk yang kedua kalinya Sofi pun langsung masuk ke dalam mobilku. Aku pun menyalakan mesin mobil ku dan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya menuju Cafe yang telah ku bangun bersama pak Rendi calon suamiku.
***
"Sekarang kita sudah sampai. Ayo sayang turun" Ujar ku. Sofi pun turun dari mobil ku itu dan kami berdua saling berpegangan tangan menuju pintu masuk Cafe ku itu yang sudah mulai terlihat ramai oleh para pengunjung karena ini sudah waktunya makan siang.
Sofi mencoba menelusuri setiap pengunjung yang ada di cafe tersebut untuk mengetahui siapa yang menunggunya saat ini dengan kedua matanya.
Terlihat di pojok Cafe seorang wanita paruh baya sedang menyeduh kopi cappucino yang dipesannya tadi.
"Oma?" Ucap nya.
"Ma, mama, itu oma? Itu beneran oma kan?" Tanya nya kepada untuk memastikan bahwa penglihatannya itu benar.
"Iya sayang itu oma. Oma sudah lama menunggu kita dan dia mau bertemu dengan Sofi karena sudah sangat kangen sama Sofi"
Sofi tersenyum bahagia melihat kehadiran wanita paruh baya itu. Ia pun langsung berlari ke arah wanita paruh baya yang duduk di pojok cafe itu sendirian.
"Oma... " Teriak nya.
"Eh, cucu oma" Ujar mama Tian menyambut kedatangan cucu nya dengan pelukan hangat nya.
Semua para pengunjung sempat melihat ke arah sofi dan juga mamanya Tian. ya karena Sofi berteriak memanggil omanya.
Jadi mereka semua melihat ke arah Sofi.
Namun kedua wanita yang berbeda usia itu tidak menghiraukan para pengunjung yang hadir menyaksikan adegan mereka berdua. Mereka berdua tetap berpelukan melepaskan rindu yang sudah lama tidak bertemu.
"Oma kapan datang nya? Terus opa mana?" Tanya Sofi.
"Ma" Ucap ku sambil tersenyum dan mencium punggung tangan mantan mertuaku itu.
"Oma belum juga lama tiba sayang. Opa ada kok di rumah sakit"
"Rumah sakit? Emangnya papa sakit? Sakit apa?" Tanyaku kaget dan mulai panik mendengar ucapan dari mantan mama mertuaku bahwa suaminya sedang berada di rumah sakit saat ini.
"Bukan papa yang sakit. Tapi Susan istri sirinya Tian itu dia kan sedang sakit dan sedang menjalani operasi miomnya. Jadi Papa di sana untuk melihat perkembangan kondisinya" Jelas wanita paling banyak itu lagi kepadaku.
"Ya Allah, kirain papa lagi yang sakit. Terus, apa operasi yang dijalani oleh Susan berhasil ma?"
"Berhasil kok, pelakor itu mempunyai banyak nyawa untuk bertahan hidup. Sekarang dia di pindah kan di ruang pemulihan" Jelas wanita paruh baya itu lagi.
"Oh syukur lah jika dia baik-baik saja"
"Lo, kok bersyukur sih. Kamu gak marah sama dia? Gak dendam karena telah merusak kebahagiaan kamu dan Tian?" Tanya mama Tian.
Aku tersenyum mendengar pertanyaan dari mantan mama mertuaku itu.
"Gak ma, nggak ada yang harus aku marahkan dari Susan dan juga nggak ada yang harus aku dendam kan dari perbuatan mereka. Mungkin ini sudah takdirku. Jodoh aku dan Tian tidak begitu lama. Jika sudah surat takdir yang digariskan oleh sang pencipta kepadaku seperti ini aku harus bisa menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada" Ucap ku terdengar bijak mantan mama mertuaku itu.
"Lagian, jika kita mau menyalakan kita tidak harus menyalakan Susan saja. Semua itu tidak akan terjadi jika Tian nya juga tidak kemakan sama rayuan Susan. Mereka sama-sama salah, mereka sama-sama khilaf. Yang sudah terjadi, biarkan berlalu sekarang kita melihat masa depan kita dan meneruskan hidup kita tanpa harus mengungkit masa lalu yang menyakitkan" Jelas ku lagi dengan tersenyum lembut kepada mama Tian.
"Ya ampun Fitri, begitu Mulianya hati kamu. Kamu bisa memaafkan kesalahan mereka yang telah menyakiti hati kamu dan yang telah melukai perasaan kamu. Bahkan kamu masih mau membantu Tian untuk merawat Sofi saat ini"
"Ya ampun mama nggak perlu memujiku berlebihan seperti itu. Aku sangat sayang sama Sofi. Sofi sudah ku anggap seperti anakku sendiri. Aku senang jika Sofi terus-terusan berada di sampingku dengan begitu aku mempunyai teman di rumah dan teman untuk tidur bersama. rumah juga akan terasa sepi jika Sofi tidak berada di sana" Jelas ku dengan senyuman yang lembut kepada mantan mama mertuaku itu.
"Ya ampun, mama benar-benar bangga sekali sama kamu. Mama juga mau mengucapkan terima kasih karena kamu bersedia merawat Sofi. Mama doakan semoga kamu bisa mendapatkan jodoh yang terbaik nantinya. Mama juga tidak bisa memaksa kamu untuk kembali bersama Tian. Karena mama tahu kamu pasti tidak akan mau kembali bersama dia. meskipun mama sangat berharap bahwa kamu akan mau kembali bersamanya"
"Ma, perasaan aku dan dia sekarang sudah berubah. Aku hanya menganggap Tian itu sebagai temanku saja. Dan walau bagaimanapun Tian itu sudah mempunyai istri aku tidak mau merusak rumah tangga mereka"
"Iya mama paham, meski mama sangat tidak menyukai Susan. Tapi mama juga tidak mau merusak rumah tangga mereka. Mama sangat membenci wanita pelakor yang telah merusak rumah tangga orang lain. Karena mama juga pernah mengalami hal yang seperti kamu alami ini. Hanya saja papa kamu tidak sampai menikah dengan pelakor itu. Jika papa kamu sampai menikah dengan pelakor itu dan wanita itu sampai hamil seperti Tian dan Susan, mungkin mama juga tidak akan memaafkan papamu dan tidak akan mau kembali bersama papamu" Jelas wanita paruh baya itu kepadaku.
"Ma, sekarang Susan itu sudah menjadi menantu mama. Alangkah lebih baiknya mama bisa menerima Susan itu sepenuh hati mama. Karena bagaimanapun dia sedang mengandung anak Tian cucu mama" Ujarku dengan lembut sambil memegang dan menggenggam tangan mantan mama mertuaku itu dengan erat agar dia bisa menerima Susan sebagai menantunya.
Wanita paruh baya itu hanya bisa menghela nafas beratnya.
"Mama juga gak tahu apa mama bisa menerima dia sebagai menantu mama atau tidak. Tapi untuk saat ini mama benar-benar belum bisa menerimanya. Mungkin lama-kelamaan mama akan mencoba untuk menerima dia sebagai menantu mama" Jelas wanita paruh baya itu lagi.
"Iya ma, semoga saja mama bisa menerima Susan secepatnya" Ujar ku tersenyum ramah.
"Oh ya ma, mama sudah pesan makanan? Sebentar aku ambilin makanan untuk kalian ya" Ujar ku langsung pergi menuju ke dapur cafe untuk mengambil beberapa makanan yang dapat kuberikan kepada mantan mama mertuaku dan juga mantan putri sambung ku itu.
Setelah beberapa menit aku masuk ke ruangan dapur dan aku kembali kepada mereka dengan membawa makanan yang kusiapkan untuk mereka tadi.
"Nah ini dia makanannya silakan dinikmati" Ujar ku mempersilahkan kedua wanita yang berbeda usia itu untuk mencicipi makanan yang kubawa tadi. Mereka pun mencicipi makanan tersebut dengan lahapnya.
__ADS_1