
"Ma, mama" Teriak Susan mencari mama nya saat diri nya sudah tiba di rumah nya.
Namun orang yang di cari sama sekali tidak terlihat batang hidung nya.
"Kemana sih mama?" Ujar nya kesal.
"Mama, mama" Terik nya lagi mencoba mencari di teras belakang rumah nya.
"Ada apa sih San? Berisik aja, pulang-pulang sudah berteriak seperti itu" Ujar mama nya Susan yang sibuk menyiram tanaman nya.
"Ma, mama tahu gak, hari ini aku bertemu dengan siapa" Tanya Susan kepada mama nya.
"Ya mana mama tahu. Secara mama gak ikut bersama kamu tadi" Jawab wanita paruh baya itu.
"Ma, hari ini aku bertemu dengan Tian ma"
"Tian? Tian abang ipar mu? Suami dari kakak mu?"
Susan mengangguk.
"Terus kenapa? Oh ya apa kamu juga bertemu dengan Sofi. Kita sudah lama lo tidak bertemu dengan cucu mama itu"
"Iya ma, aku tadi bertemu dengan Sofi. Mama tahu gak sih sekarang, Tian sudah berubah drastis ma. Dia tidak seperti dulu lagi saat bersama dengan kak Santi. Terlebih sekarang dia sudah menjadi CEO tempat ku bekerja. Dan sekarang dia sudah kaya raya ma" Ujar Susan lagi.
"Bukan kah memang dari dulu papa Tian itu kaya ya"
"Aduh mama, iya papa Tian memang sudah kaya ma, hanya saja Tian dulu nya itu nggak jelas dan pengangguran dan belum tentu juga kan ma, dulu itu perusahaan yang ia kelola sekarang ini menjadi miliknya secara dia amburadul Selain itu. Mana percaya papa nya" Jelas Susan.
"Tapi sekarang ma, dia sudah berubah. Dia telah menjadi seorang CEO di perusahaan tempatku bekerja. Itu berarti papanya sudah percaya kepada dia untuk mengelola perusahaan itu. Mama tahu nggak saat aku berkunjung ke rumahnya itu? Rumahnya megah dan mewah seperti istana ma tidak seperti dia bersama kak Santi dulu. Di mana dia hanya ngontrak dengan rumah yang sederhana jauh dari kata mewah" Jelas Susan lagi.
"Apa? Jadi sekarang dia sudah menjelma menjadi berlian begitu maksud mu?"
"Iya ma. Dia sekarang terlihat keren sekali. Ma, aku gak mau melepaskan dia. Harus nya Tian itu menjadi milik ku. Secara dulu dia telah membuat hidup kak Santi menderita. Dan harusnya harta kekayaan yang di miliki Tian sedikit banyak nya harus menjadi milih kak Santi milik kita ma"
"Iya kamu benar. Harus nya kita ikut serta merasakan kekayaan itu. Secara Sofi masih darah daging nya kita. Yah Tian harus bisa dong berbagi dengan kita"
"Ya sudah jika begitu kamu menikah saja sama Tian. Nah kalau kamu sudah menikah sama Tian, itu artinya semua yang dimiliki Tan akan jatuh ke tangan kita" Ujar mama Susan lagi.
"Gak semudah itu ma. Asal mama tahu ya. Tian itu sekarang sudah menikah lagi dan pernikahan mereka hampir dua tahun loh ma. Dan aku sangat kecewa kepada keluarga Tia termasuk juga Tian. Kenapa dia tidak mengundang kita di acara pernikahannya waktu itu? Apa mereka sudah tidak menganggap kita ini sebagai keluarganya?" Ujar Susan merasa kesal.
"Apa? Tian sudah menikah lagi? Keterlaluan sekali mereka. Padahal Sofi itu masih cucu ku dan keponakan kamu. Meski Santi sudah tidak ada di dunia ini, tapi darah Santi masih mengalir di tubuh nya Sofi. Itu arti nya kita masih keluarga" Ujar wanita paruh baya itu tampak kesal.
"Nah itu dia ma, aku juga kaget setengah mati saat mengetahui bahwa Tian telah menikah lagi. Rasanya duniaku hampir roboh. Secara aku dari dulu memang sudah menyukai Tian. Hanya saja aku mengalah karena waktu itu aku masih fokus kepada pendidikanku dan juga karena waktu itu Tian sudah menjadi suaminya kak Santi. Namun kali ini aku tidak mau melepaskan Tian untuk yang kedua kalinya. Secara saat ini dia sudah menjadi berlian yang sangat berharga. Tentu saja itu semakin membuat aku berusaha untuk memiliki Tian sepenuh nya" Jelas Susan dengan tatapan yang bersemangat untuk merebut hati Tian.
"Bagus, kamu harus bisa mendapatkan Tian. Kita harus berhasil memisahkan Tian dari istri nya itu" Ujar mama Susan lagi memberi semangat kepada putri nya.
"Mama tenang saja. Aku sudah menyusun rencana untuk merebut Tian dari tangan istri nya itu. Laki-laki mana yang bisa menolak pesona kecantikanku dan juga kesaksian tubuhku. Pasti semua yang melihat diriku ini akan semakin klepek-klepek dan masuk ke dalam perangkap ku termasuk Tian" Ujar Susan penuh percaya diri.
Mereka berdua sama-sama tersenyum puas menyusun rencana untuk melancarkan aksi nya itu.
***
"Sayang aku berangkat ke kantor dulu ya. Kamu baik-baik di rumah" Ujar Tian berpamitan dengan ku.
"Ya sayang. Kamu hati-hati di jalan ya" Ujar ku mencium punggung tangan suami ku.
"Semangat belajar nya ya sayang" Ujar ku mengecup puncak kepala putri ku itu.
"Iya ma" Jawab Sofi.
Yah hari ini Sofi berangkat ke sekolah nya di antar oleh Tian. Aku merasa kurang enak badan hari ini. Rasa nya tubuh ini pegal-pegal semua.
Entah lah aku juga tidak tahu kenapa. Mungkin karena terlalu lelah sehingga membuat ku masuk angin dan menjadikan tubuh ini tidak enak.
"Kamu istirahat saja ya sayang di dapur. Nanti jika perlu apa-apa panggil saja bik Ina biar dia yang membantu mu" Ujar Tian lagi.
"Iya, sayang kamu tenang aja aku akan istirahat kok"
"Dan Sofi nanti akan aku jemput setelah dia pulang sekolah. Jadi kamu jangan khawatir masalah Sofi ya" Ujar nya lagi.
__ADS_1
"Iya sayang"
Aku melambaikan tangan ku melihat Sofi dan Tian masuk ke dalam mobil dan melaju membelah jalan raya.
Aku kembali masuk ke dalam rumah ku setelah melihat mobil Tian sudah tidak terlihat lagi dari pandangan ku.
Aku merebah kan tubuh ku di atas Sofa yang ada di ruang tamu rumah ku itu. Mencoba menyelusuri media sosial berupa facebook yah sekedar untuk mencari hiburan saja.
Aku terus menyelusuri halaman beranda di facebook ku. Hingga ada satu pemberitahuan tentang orang yang mungkin kamu kenali Susan safitri.
Seperti nya aku kenal dengan wajah ini. Pikir ku. Aku pun memutuskan untuk membuka profil dan melihat benar tidak nya dia orang yang sama.
Setelah ku lihat profil nya, ternyata dia benar orang yang sama. Dialah Susan mantan adik ipar nya Tian dari istri nya yang pertama.
Aku tersenyum melihat foto gadis itu.
"Gadis yang cantik" Batin ku terus menyelusuri profil gadis itu hingga penyelusuran ku terhenti ketika aku dapati status nya beberapa tahun yang lalu membuat aku merasa heran dan aneh.
"Setelah ini aku akan mendapatkan nya" Tulis nya.
"Mendapatkan apa yah? Apa mendapatkan cinta nya?" Ujar ku mulai menebak-nebak.
"Setelah dia tiada, aku lah yang pantas menjadi pengganti nya" Status nya lagi beberapa tahun yang lalu.
Di sana bisa ku lihat Susan memajangkan sebuah foto laki-laki namun wajah nya di samar kan agar tidak ketahuan siapa orang yang di maksud.
"This my love, my partner" Caption nya nya.
Aku mengamati foto nya. Aku merasa kenal dengan bentuk tubuh laki-laki ini. Bagi ku tidak asing orang yang ada di foto itu. Aku terus mengamati dengan seksama. Dan pada akhirnya aku bisa menebak tubuh ini serta seluruh yang ada di gerak-gerik orang yang ada di foto itu mengarah kepada Tian suami ku.
Hanya saja di sana rambut nya masih terlihat gondrong.
"Gak mungkin Tian, Tian adalah abang ipar nya Susan. Gak mungkin juga dia suka sama Tian" Ujar ku tidak mau berpikir yang bukan-bukan tentang Susan.
"Emang gak ada laki-laki lain apa di dunia ini hingga Susan harus cinta nya sama Tian. Ah kamu ini Fit ada-ada aja" Ujar ku kepada diri ku sendiri.
"Wah, ternyata Susan pernah suka dengan orang yang sama dengan teman dekat nya?" Batin ku.
Aku kembali membaca tulisan status Susan itu. Terdekat? Status nya delapan tahun yang lalu. Sudah lama juga ya?" Ujar ku lagi.
"Buk Fitri, hari ini mau di masakan apa buk?" Tanya bik Ina datang menghampiri ku membuat mu menghentikan kegiatan ku saat itu.
Aku bangkit dari rebahan ku dan duduk di atas Sofa itu.
"Apa aja bik, terserah bibi mau masak apa. Hari ini aku lagi gak enak badan bik, jadi gak ada kepikiran tentang itu" Ujar ku lagi.
"Baik buk jika begitu saya pamit ke pasar dulu untuk membeli bahan-bahan nya" Ujar nya lagi.
Aku mengangguk.
"Oh ya buk" Ujar bik Ina menghentikan langkah nya.
"Ibu bilang lagi gak enak badan, apa ibu sudah periksa ke dokter? Siapa tahu ibu sudah ada isi nya?" Ujar bik Ina.
"Biasa nya sih di awal-awal kehamilan orang-orang merasakan tidak enak badan. Sama seperti bibi dulu buk" Ujar nya lagi.
Aku tersenyum kecut dan berpikir apa yang di katakan oleh wanita paruh baya itu tadi.
"Maaf buk hanya menyarankan saja. Saya permisi" Ujar nya lagi berlalu dari hadapan ku.
"Benar juga apa yang di katakan bik Ina. Akhir-akhir ini aku memang sering merasa tidak enak badan. Oh ya hari ini tanggal berapa ya?" Ujar ku lagi melihat tanggal di ponsel ku.
Tanggal enam belas Agustus. Kemaren aku datang bulan nya tanggal dua puluh tujuh Juli. Itu berarti aku sudah telat harus nya awal-awal bulan Agustus aku sudah halangan" Kata ku kepada diri ku sendiri.
"Bik, bik" Panggil ku saat melihat wanita paruh baya itu lewat di hadapan ku untuk pergi ke pasar.
"Iya buk" Jawab nya berhenti.
"Nanti tolong mampir ke apotek ya. Tolong belikan aku tes kehamilan" Ujar ku lagi.
__ADS_1
"Baik buk. Semoga nanti ada hasil yang baik ya buk" Ucap nya lagi berlalu dari hadapan ku.
Aku mengangguk dan tersenyum mendengar apa yang di katakan bik Ina barusan.
***
"Masuk" Ujar Tian saat mendengar pintu ruangan nya di ketuk.
Masuk lah seorang gadis yang cantik dengan tubuh yang langsing di ruangan itu.
"Ya Susan ada apa?" Tanya nya terus sibuk mengurus beberapa berkas-berkas yang harua di tanda tangani nya.
Susan masuk dan duduk di hadapan nya. Pakaian gadis itu kini tampak berbeda dari yang kemaren. Kini gadis itu memakai rok mini di atas lutut yang memperlihatkan betis nya yang putih mulus itu. Baju kemeja yang berlengan pendek pun di buka nya beberapa kancing agar terlihat belahan dada nya sedikit. Dan sungguh hari ini ia terlihat cantik dan seksi.
"Gak ada apa-apa. Hanya saja aku ingin membantu mu untuk menyelesaikan pekerjaan mu" Ujar nya lagi dengan lembut manja.
"Lagian kamu baru dua hari juga di sini kan, pasti kewalahan untuk mempelajari pekerjaan-pekerjaan yang ada di perusahaan ini" Ujar nya lagi.
"Iya meskipun aku baru seminggu sih bekerja di perusahaan ini, tapi sedikit banyaknya aku juga sudah memahami dan juga sudah mengerti prosedur yang ada di perusahaan ini" Tambah nya lagi.
"Iya aku percaya sama kamu. Terlebih kamu memang orang yang pintar di universitas mu jadi tentu saja kamu mudah untuk memahami pekerjaan di kantor ini dengan sekejap" Ujar Tian.
Yah laki-laki itu memang tampak kewalahan dengan beberapa pekerjaan yang ada di atas mejanya. Karena biasanya di induk perusahaan ia selalu dibantu oleh pamannya. Namun di perusahaan anak cabang ini, dia bekerja sendiri dan harus menyelesaikan semua pekerjaan ini sendiri. Itu yang membuatnya kewalahan dan bingung harus bagaimana menyelesaikan semua pekerjaan-pekerjaan ini.
"Oh ya Tian. Kamu kan belum ada asisten. Bagaimana aku yang menjadi asisten mu. Yah aku juga bisa membantu mu untuk menyelesaikan pekerjaan mu" Tawar Susan lagi.
"Benar juga apa yang kamu bilang San. Apa salah nya aku menjadikan kamu asisten ku. Kamu juga orang yang ku kenal dan ku percaya terlebih kamu adalah adik ipar ku" Ujar Tian setuju.
Susan tampak tersenyum puas dengan keputusan Tian. Mantan suami mendiang kakak nya itu mulai terperangkap dengan jebakan nya.
"Yes, berhasil aku sudah maju selangkah dengan menjadi asisten mu. Dengan begitu aku dengan mudah bisa dekat-dekat terus sama kamu dan mengambil hati mu. Aku akan terus-terusan bertemu dengan mu" Batin nya senang.
Susan datang dan berdiri di belakang Tian. Gadis itu mulai membukuk kan sedikit tubuh nya agar belahan dada itu terlihat.
Kini gadis itu berdiri hanya berjarak beberapa senti saja di samping Tian.
Tian menjeling dan merasa gelisah saat gadis itu berada di sisi nya.
"San, tidak perlu sedekat ini" Ujar nya lagi.
"Kenapa? Aku hanya mau melihat mana pekerjaan yang harus ku bantu" Ujar nya lagi terus membungkuk mencoba merayu.
"Ini, yang ini tolong kamu selesaikan yang ini ya. Dan tolong kamu kerjakan di sana. Duduk di kursi yang ada di depan ku" Perintah Tian lagi.
Susan tersenyum mendengar apa yang di katakan Tian.
"Baik lah, aku akan mengerjakan nya di hadapan mu" Jawab Susan berjalan menuju kursi yang berhadapan dengan Tian.
"Masih takut namun tidak bisa menolak" Ujar Susan tersenyum senang melihat perangai Tian yang demikian.
"Semakin kamu bertingkah untuk menolak, semakin membuat aku mengejar mu" Ujar Susan lagi di dalam hati nya.
***
"Buk, ini tes kehamilan yang ibu minta" Ujar bik Ina memberikan tes kehamilan kepada ku.
"Terima kasih bik" Jawab ku langsung menuju kamar mandi untuk mengetahui hasil nya. Yah kenapa akhir-akhir ini aku merasa tidak enak badan.
Aku merasa berdebar di dada. Jantung ku bergemuruh saat melakukan tes kehamilan ku itu.
Hingga pada akhir nya garis dua berwarna merah terpampang nyata di hadapan ku.
Aku membuka mata ku lebar-lebar untuk memastikan apa yang ku lihat ini benar ada nya.
Aku menggosok-gosok mataku takut jika aku salah lihat. Namun hasil nya tetap sama garis dua.
Kembali aku mencuci wajah ku takut jika ini hanya lah mimpi. Namun, tetap saja hasil nya sama.
Aku merasa sangat senang mendapati hasil itu. Kini impian mama mertua ku telah tercapai. Aku bersyukur kepada Allah yang telah mempercayai ku dan Tian menitipkan kami malaikat kecil yang kelak akan menjadi pelipur lara di dalam hidup kami berdua.
__ADS_1