Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 96


__ADS_3

Sofi menceritakan bahwa dirinya telah dibelikan peralatan lukis oleh Rendi kepada Tian. Sofi mau memanggil Rendi dengan sebutan papa. Padahal jelas-jelas aku dan Rendy belum resmi menikah tapi Sofi sudah menganggapnya sebagai papanya.


Tian terlihat sedih karena melihat Sofi lebih mudah menerima Rendi seperti itu. Bahkan Rendi telah membuatnya bahagia dengan membeli peralatan lukis yang merupakan hobi dari putrinya itu.


"Ya Allah, papa macam apa aku ini. Kenapa orang lain malah mengerti keinginan putri ku dari pada aku papa nya sendiri. Aku seperti orang lain untuk nya" Ujar Tian dengan menitikkan air mata nya. Sungguh dia merasa sedih mengingat hal itu.


"Maaf kan papa ya nak. Papa terlalu sibuk dengan urusan papa sehingga membuat papa mengabaikan mu" Batin Tian lagi dengan sedih.


***


Tian datang ke cafe ku untuk menjemput Sofi putri nya. Yah hari ini kami memang sudah janjian untuk bertemu di cafe ku.


"Sayang papa" Ucap Tian memeluk putri nya itu dengan penuh kehangatan.


"Papa kangen nak sama kamu"


"Sofi juga kangen sama papa" Balas putri kecil itu.


"Fitri, terima kasih ya kamu sudah merawat Sofi dengan baik" Ucap Tian kepada ku setelah mereka selesai berpelukan melepaskan Rindu.


"Iya sama-sama. Aku senang kok jika Sofi di titipkan bersama ku" Jawabku dengan senyuman.


Tian tersenyum mendengar ucapan ku.


"Oh ya kata nya mama mau menjemput Sofi untuk menginap di rumah nya minggu ini"


"Iya mama sudah bilang kok seperti itu kepada ku. Mungkin sabtu sore dia sudah tiba di rumah untuk menjemput Sofi" Ujar nya lagi.


"Ya sudah Fitri aku dan Sofi pamit pulang dulu. Aku juga mau kembali ke kantor" Ucap nya lagi.


"Iya hati-hati"


***


"Sofi sayang mama" Ucap Susan menyambut dengan hangat kedatangan putri sambung nya itu. Meski masih canggung, Sofi mencoba untuk membalas pelukan Susan kepada nya.


"Sayang, kamu sudah makan siang?"


"Sudah kok tante, tadi Sofi makan di cafe nya mama Fitri"


"Kok masih memanggil dengan sebutan tante sih? Panggil mama dong sayang" Ujar Susan dengan tersenyum ramah.


Sofi melihat papa nya Tian mengangguk pelan dan memperboleh kan Sofi memanggil Susan dengan sebutan mama.


"Iya ma" Ucap gadis itu dengan berat. Susan tersenyum senang mendengar bahwa Sofi sudah mau memanggilnya dengan sebutan mama.


"Terima kasih sayang, terima kasih kalau kamu sudah mau memanggil mama dengan sebutan mama. Mama senang sekali mendengarnya dan mama janji mama akan menjadi mama yang baik untuk kamu dan juga adik yang ada di dalam perut mama" Ucap nya lagi meyakini kedua ayah dan anak itu.


"Sayang, kamu sudah makan siang?" Tanya Susan kepada Tian.


"Belum kok San"


"Kita makan siang sama-sama ya. Oh ya Sofi mau makan lagi?"


"Gak ma, Sofi sudah kenyang. Sofi mau ke kamar dulu ya ma" Ucap gadis itu langsung pergi menuju kamar nya.


***


"San, ada yang mau aku katakan sama kamu" Ujar Tian saat mereka sedang makan siang bersama.


"Iya kamu mau bilang apa?"


"Seperti nya proyek yang aku tangani ini masih lama kelar nya. Karena itu aku memutuskan untuk menikahi mu secara resmi secepat nya. Karena aku tidak mau membuat mu menunggu terlalu lama" Ujar Tian pada akhir nya memberikan keputusan.


Yah mantan suamiku itu telah berpikir dengan matang bahwa dia harus menikahi Susan secara resmi. Karena tidak ada lagi harapan untuknya kembali bersamaku saat ini. Dia harus bisa menerima Susan sepenuhnya di dalam hidupnya.


"Kamu serius Tian?" Tanya Susan meminta kepastian dari suami sirinya itu.

__ADS_1


"Iya aku serius San. Tidak mungkin aku dan kamu berstatus sebagai istri dan suami siri selamanya. Kasihan juga nanti anak yang ada di dalam perutnya ketika dia sudah lahir" Tambah Tian lagi.


Yah tentu saja nantinya ketika anak itu sudah lahir ia tidak bisa terdaftar di kartu keluarganya Tian karena status Tian dan Susan menikah secara siri dan tidak memiliki buku nikah. Bukankah peraturan saat ini. Jika ingin membuat kartu keluarga harus memiliki buku nikah begitu juga membuat akte kelahiran anak.


Tian pun tidak mau anak yang ada dalam kandungan Susan itu nantinya tidak memiliki identitas yang jelas. Karena itulah dia memutuskan untuk menikahi Susan secara resmi.


"Terima kasih ya sayang, kamu mau menikahiku secepatnya dan tidak menunggu lagi proyek yang kamu tangani saat ini berhasil aku sangat senang mendengarnya" Ujar Susan menggenggam erat tangan Tian karena merasa bahagia atas keputusan suaminya itu.


"Akhir nya aku akan menjadi nyonya besar secara resmi di rumah ini" Batin Susan senang.


"Aku harus memberi kabar bahagia ini kepada mama nantinya. Aku yakin mama pasti bahagia mendengar berita ini" Tambah batin nya lagi.


***


"Hallo ma, mama tahu nggak aku mempunyai kabar bahagia untuk kita" Ucap Susan saat ia menghubungi mamanya setelah Tian pergi ke kantor kembali.


"Apa?" Tanya mama Susan dengan semangat mendengar putrinya itu mengatakan bahwa ada kabar bahagia.


"Tadi, saat makan siang Tian bilang sama aku bahwa dia akan menikahi aku secepatnya secara resmi tanpa harus menunggu proyek yang ia tangani saat ini apakah berhasil atau enggak"


"Apa? Kamu serius Susan? Kamu nggak salah dengar kan?" Tanya mama Susan lagi meminta kepastian kepada putrinya itu.


"Iya ma, aku serius aku nggak salah dengar Tian mengatakan hal itu sama aku tadi. Aku senang banget deh ma mendengarnya. Itu artinya aku benar-benar sudah menjadi nyonya besar di rumah ini"


"Iya, kamu bener akhirnya apa yang kita inginkan telah terpenuhi. Kamu aslinya sudah menjadi nyonya besar di rumah itu yang jelas-jelas kamu juga akan mendapatkan sebagian harta dari Tian. dan mama akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Karena mama memiliki menantu yang kaya raya seperti Tian" Jelas mama Susan lagi.


"Iya ma, kita gak perlu khawatir lagi tentang status ku. Karena sebentar lagi statusku sudah sangat jelas di mata agama dan hukum" Ujar Susan tersenyum senang.


"Iya, pokok nya kita harus merayakan kemenangan kita ini"


"Iya ma, Bagaimana besok siang kita makan di sebuah restoran yang terkenal di kota ini untuk merayakan keberhasilan kita"


"Wah, Mama sangat setuju dengan rencana kamu"


"Oke ma, besok kita akan bertemu di restoran ya. Nanti akan ku share lokasinya di mana setelah aku menjemput Sofi dari sekolahnya"


"Kamu besok mau jemput Sofi di sekolahnya? Apa Sofi sudah kembali ke rumahmu"


"Wah bagus, kamu harus menjalan kan rencana yang kedua. Yaitu harus membuat Sofi betah di rumah dan melupakan Fitri. Biar Tian gak ada alasan nya lagi untuk bertemu dengan janda nya itu" Ujar mama Susan.


"Iya ma, mama tenang saja. Aku pasti akan melakukan apa yang mama bilang ke aku. Secara aku gak mau Tian di rebut sama janda itu. Apa lagi Tian sudah mau menikahi ku secara resmi. Tentu aku tidak mau membuang kesempatan ini dengan membuka jalan untuk mereka selalu bersama" Ujar Susan lagi.


"Bagus, mama akan selalu mendukung mu"


***


"Sayang, sedang ngapain?" Tanya Susan masuk ke dalam kamar nya Sofi.


"Sedang melukis ma" Jawab gadis kecil itu terus menyibukkan diri nya di kanvas uang di bawa oleh papa nya tadi.


"Wah bagus banget sih lukisan nya. Ternyata papa membelikan mu peralatan lukisan ya"


"Ini papa Rendi yang belikan ma"


"Apa? Rendi Sofi panggil papa? belum juga menikah sama Fitri sudah dipanggil papa sama Sofi. Lagian Fitri apa-apaan sih membiarkan Rendi dipanggil papa sama Sofi. Padahal dia kan bukan ibu kandungnya Sofi" Ucap Susan dalam hatinya merasa jengkel atas panggilan itu terhadap Rendi.


"Lebih baik aku tidak memberi komentar atas panggilan itu terhadap Rendi. Karena jika nantinya aku berkomentar takutnya Sofi akan kembali marah kepadaku. Dan jika itu terjadi jelas-jelas dia tidak jadi menikahi ku secara resmi karena anaknya kembali marah padaku" Batin Susan.


"Oh gitu ya sayang. Ternyata papa Rendi mu baik ya"


"Iya ma, Papa Rendi emang baik sama Sofi. Dia selalu membelikan apapun yang Sofi mau. Karena papa Rendi tahu bawa Sofi suka melukis dan dia juga mengetahui bahwa Sofi kemarin mendapatkan juara di sekolah saat lomba melukis. Jadinya papa Rendi membelikan ini deh untuk Sofi agar Sofi semakin bersemangat dalam melukisnya" Jelas gadis itu lagi.


"Oh gitu" Ucap Susan tersenyum dan tampa sengaja pandangannya teralihkan dengan kalung yang dipakai oleh Sofi.


"Kalung nya bagus sayang" Puji Susan.


"Iya ma, kalung ini juga di belikan sama papa Rendi saat kami pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin pertunangan mama dan papa Rendi"

__ADS_1


"Pertunangan? Kapan?"


"Sofi juga gak tahu ma pasti nya kapan" Jawab gadis kecil itu lagi.


"Ya sudah, oh ya Sofi mau susu? Mama buatin ya" Ucap Susan mencoba mengambil kembali hati putri sambung nya itu.


Sofi hanya mengangguk pertanda ia mau dan terus sibuk dengan kanvas yang ada di hadapannya.


"Oke sayang, sebentar ya mama buatin susu nya". Susan langsung keluar menuju dapur dan membuat segelas susu hangat untuk putri sembung nya.


***


"Fitri, dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus. Ada apa?" Tanya Rendi yang baru saja tiba di cafe ku.


"Aku hanya merasa kesepian karena Sofi sudah tidak berada di sini"


"Emang nya Sofi kemana?"


"Sofi di jemput sama Tian"


"Apa Susan sudah pulang ke rumah?"


"Iya kemaren Susan sudah keluar dari rumah sakit karena itulah Tian menjemput Sofi kembali ke rumahnya" Jelas ku dengan sedih.


"Karena sudah terbiasa dengan kehadirannya, saat dia tidak ada seperti ini membuat aku menjadi sunyi" Ucap ku lirih.


"Yah harus bagaimana lagi. Secara Sofi itu bukanlah putri kandungku. Dia pasti akan dijemput sesuka hati Tian karena dialah yang lebih berhak atas dirinya daripada aku"


"Kamu yang sabar ya Fit"


"Iya terima kasih ya bang. Aku sangat berharap bahwa Susan benar-benar sudah berubah dan tidak akan bertindak sesuka hatinya kepada Sofi" Ujar ku.


Meskipun Rendi belum mengetahui apa yang terjadi sepenuhnya kepada sofi dan susahnya waktu itu dan jelas laki-laki itu sangat penasaran maksud dari perkataanku tadi. Namun laki-laki itu memilih untuk diam dan tidak mau bertanya lebih lanjut atas apa yang terjadi waktu itu. Karena dia merasa itu tidak lah pantas untuk ia ketahui secara itu adalah urusan keluarga.


"Kita berdoa saja untuk kebaikan sofi dan juga keluarganya di sana" Ucap Rendi.


"Iya bang, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk putri kecilku. Dan semoga dia mendapatkan kebahagiaan di sana"


"Aamiin" Ujar Rendi.


***


Seminggu setelah kejadian itu, Tian pun memutuskan untuk menikah dengan Susan secara resmi. Pernikahan mereka di lakukan hanya di kantor KUA saja dan tidak di adakan acara resepsi nya. Secara saat ini kondisi Susan tidak memungkin kan jika dia adakan resepsi. Karena Susan masih dalam pengawasan dokter. Dia melakukan rawat jalan untuk melihat perkembangan kondisi ini dirinya dan bayi yang ada dalam kandungannya.


Susan dan mama nya masuk ke dalam kamar utama di rumah megah itu.


"Alhamdulillah akhirnya kalian sudah resmi menjadi suami istri secara hukum" Ucap mama Susan dengan raut wajah kebahagiaan kepada Susan.


"Iya ma, aku juga sangat senang karena Tian telah menikahi ku secara resmi seperti ini. Dia sudah menepati janjinya kepadaku" Jawab Susan tersenyum senang.


"Yah meskipun kami tidak melakukan acara pernikahan sesuai dengan yang aku impikan. Tapi jika sudah menikah seperti ini juga tidak masalah bagiku. Karena semua ini sudah sah secara hukum" Ucap ku lagi.


"Iya Susan, untuk saat ini kamu tidak perlu mengadakan acara yang mewah-mewah. Yang penting kamu sudah menjadi istri kalau merak yang kaya raya itu" Ujar mama Susan lagi.


Mereka berdua sama-sama tertawa bahagia.


***


Mama Tian menghempas kan diri di atas Sofa yang ada di ruang kerja nya Tian. Yah setelah acara akad nikah, Tian kembali ke kantor nya untuk melanjutkan pekerjaan nya. Jelas papa dan mama Tian ikut dengan nya karena tidak mau berada di rumah mewah nya itu di sebab kan kehadiran Susan. Yah hingga saat ini mama Tian belum bisa menerima sepenuh nya.


"Kamu apa-apaan sih Tian, emang harus ya menikahi Susan lagi seperti ini?" Ujar wanita paruh baya itu dengan rasa marah nya.


"Ma, Susan saat ini sedang mengandung anakku. Saat ini aku hanya memikirkan masa depan untuk anakku nanti. Dimana jelas nanti anakku tidak bisa masuk di dalam kartu keluargaku dan untuk urusan sekolahnya seperti membuat akte dan juga lain-lain itu pasti akan dipersulit karena kami tidak memiliki buku nikah. Aku tidak mau hal itu terjadi ma. Kasihan anak ku, aku tidak mau dia menjadi korban atas keegoisan ku nanti" Jelas Tian kepada mama dan papa nya itu.


"Ya kamu benar Tian, bagaimana pun anak itu tidak bersalah. Dia harus memiliki masa depan yang cerah" Ucap papa Tian memberi dukungan kepada putra nya itu.


"Iya sih pa, tapi kan Tian tidak membiarkan anak itu begitu saja apa lagi menelantarkan nya. Tian masih mau bertanggung jawab dengan anak itu. Dan tentu nya semua kebutuhan dari anak itu pasti tercukupi. Tian tidak mengabaikan nya lo pa"

__ADS_1


"Sudah lah ma, biarkan saja Tian menentukan kehidupan nya. Kita sebagai orang tua hanya memberikan dukungan kepada putra kita" Ujar papa Tian lagi.


"Ah kalian ini sama saja. Hanya bisa menyakiti perasaan perempuan saja" Batin mama Tian jengkel dengan keputusan kedua ayah dan anak itu.


__ADS_2