
Aku memeriksa keadaan ku saat ini dengan menggunakan tes kehamilan.
Betapa kaget nya aku melihat hasil dari tes kehamilan itu. Senang, terharu semua menjadi satu. Aku tidak menyangka bahwa Allah begitu cepat memberikan ku dan Tian malaikat kecil di dalam rahim ku.
Dan tentu saja hal ini juga akan membuat keluarga aku dan Tian senang. Karena memang ini lah mereka harapkan.
"Alhamdulillah ya Allah terima kasih atas kepercayaan mu kepada ku" Batin ku meneteskan air mata.
"Sebaik nya aku pergi memeriksa kan diri ke dokter kandungan untuk memastikan usia kehamilan ku" Ujar ku lagi.
Aku bergegas keluar dari kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke dokter kandungan. Yah aku memang sengaja tidak mengabari Tian untuk pergi keluar. Sengaja karena aku ingin memberikan nya kejutan nanti setelah dia pulang kerja.
***
"Bagaimana dok? Apa benar saya hamil dan berapa usia kehamilan saya?" Tanya ku tidak sabaran saat dokter tadi melakukan USG kepada ku.
"Oh iya buk, selamat ya ibu memang sedang hamil dan usia kandungan nya enam minggu" Ujar nya lagi.
Aku tersenyum senang mendengar berita ini. Air mata kebahagiaan terus menerus tumpah di pipi ku.
Kini Sofi akan mendapatkan seorang adik. Dan aku juga tidak akan merasa kesepian saat Sofi pergi ke sekolah.
"Ini resep vitamin dan juga penambah darah nya ya buk. Harap di minum rutin ya untuk janin yang ada di perut ibu agar tumbuh dengan sempurna" Jelas dokter tadi memberikan ku resep setelah selesai melakukan pemeriksaan.
"Dan ibu harus jaga kesehatan, jangan terlalu capek, jangan mengangkat yang berat-berat juga. Maklum saja buk usia kehamilan ibu masih sangat muda. Dan itu akan sangat rentan terjadi hal yang tidak di inginkan" Jelas dokter tadi lagi.
"Baik dok terima kasih. Saya permisi dulu" Ujar ku berlalu dari hadapan dokter itu.
Sungguh rasa nya diri ini ingin terbang melayang mengetahui bahwa aku hamil anak nya Tian. Senyuman di wajah ini tidak pernah pudar saat melihat foto hasil USG yang di berikan oleh dokter kandungan ku tadi.
"Tian, selamat ya kamu akan menjadi ayah lagi dari anak ku" Ujar ku terus tersenyum senang.
"Sayang anak mama. Mama sudah gak sabar menunggu papa kamu pulang dan mengabari berita yang membahagiakan ini" Ujar ku lagi mengelus-elus perut ku.
"Tumbuh menjadi anak yang sehat ya nak" Ujar ku lagi.
***
"Ini Tian sudah selesai. Silahkan kamu periksa" Ujar Susan menyerahkan beberapa berkas kepada Tian untuk di periksa. Yah masih dengan bersikap genit menggoda memperlihatkan belahan dada nya kepada Tian.
Yah bisa di tebak Tian menjadi tidak konsentrasi dan gelisah melihat pemandangan itu. Yah nama nya juga lelaki normal ya mak. Di tambah kulit Susan yang putih bersih tampa ada jela siapa yang tidak tergoda coba.
"Nanti akan saya periksa. Terima kasih atas bantuan nya. Dan silahkan kamu keluar" Ujar Tian mencoba untuk memalingkan muka nya dari pemandangan itu.
"Lo, kok buru-buru sih meminta ku keluar? Apa kamu tidak mau ya aku temani lagi. Yah siapa tahu kamu masih membutuhkan bantuan dari ku" Rayu Susan lagi.
"Nanti jika aku meminta bantuan, aku akan memanggil mu lagi. Sekarang tolong keluar dari ruangan ku" Perintah Tian.
"Oke aku akan keluar" Ujar gadis itu melangkah untuk keluar dari ruangan Tian.
"Oh ya Susan" Panggil Tian lagi membuat langkah kaki Susan terhenti.
"Ya ada apa? Apa mau ku bantu lagi?"
"Bukan-bukan itu. Aku harap besok kamu jangan berpakaian terlalu terbuka seperti ini. Tidak baik jika di pandang oleh laki-laki. Berpakaian lah yang sewajarnya saja" Ujar Tian lagi.
Bisa di lihat raut wajah Susan kesal mendengar nasehat dari Tian. Ternyata godaan nya dengan berpakaian terbuka tidak membuat Tian klepek-klepek.
Susan melangkah dengan kesal keluar ruangan Tian.
"Sialan kamu Tian. Bisa-bisa nya kamu menolak rayuan ku. Tidak masalah, itu yang membuat aku semakin penasaran. Aku tidak akan menyerah begitu saja" Ujar Susan lagi dengan senyuman sinis nya.
***
"Tian, tian" Panggil Susan lagi saat melihat Tian akan masuk ke dalam mobil nya.
"Iya ada apa?" Jawab Tian menutup kembali pintu mobil nya saat Susan memanggil nya.
"Kamu mau kemana? Ini belum waktu nya jam makan siang lo" Tanya Susan kepo.
"Oh, ini aku mau pergi menjemput Sofi. Ini sudah waktu nya ia pulang sekolah. Hari ini Fitri gak bisa jemput sola nya dia sedang tidak enak badan" Jelas Tian.
"Oh gitu, kalau gitu aku boleh ikut gak? Wah sebentar lagi juga kan waktu nya makan siang. Kita bisa makan siang di luar sama-sama. Aku sudah lama gak makan bareng sama keponakan ku itu. Boleh ya ku mohon" Ujar Susan memohon.
"Tapi apa tidak merepotkan kamu. Lagian pekerjaan mu sudah selesai?"
"Sudah kok. Kamu tenang aja. Semua pekerjaan ku sudah beres kamu tinggal memeriksanya saja lagi"
"Boleh ya Tian. Aku kangen sama ponakan ku itu. Hari minggu masih lama untuk jalan-jalan sana dia" Ujar Susan lagi dengan manja nya.
Tian menarik napasnya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
__ADS_1
Sungguh rasa nya ia ingin menolak permintaan gadis itu. Namun, bagaimana pun Susan adalah tante nya Sofi anak dari kakak nya. Gak mungkin dia tidak mengizinkan Susan untuk bertemu dengan keponakan nya.
"Ya sudah, ayo masuk" Ujar Tian akhirnya mengalah.
"Terima kasih" Susan tersenyum puas berlari kecil masuk ke dalam mobil Tian.
"Tian, hari ini mobil ku lagi di bengkel. Kamu bisa kan anterin aku pulang nanti. Aku gak tahu ni pulang menggunakan apa. Tolong ya" Ujar Susan mencoba merayu saat mereka menuju ke sekolah nya Sofi.
Tian tampak berpikir.
"Apa kamu gak kasihan sama aku sebagai adik ipar mu" Tambah nya lagi.
Tian memang Tidak nyaman dan merasa keberatan dengan permintaan Susan barusan. Namun, dia juga tidak mau mengecewakan Susan. Secara dia merasa bersalah atas kematian Santi. Jadi dia ingin memperbaiki semua nya dengan bersikap baik terhadap keluarga Santi. Dengan begitu ia lebih merasa lega.
"Oke, nanti aku akan mengantar mu pulang" Ujar Tian pada akhir nya. Kembali Susan mengukir senyuman kepuasan di bibir nya. Sungguh taktik nya kini berhasil untuk melakukan pendekatan kepada laki-laki itu.
***
"Sayang, sebelum pulang, kita makan siang di luar dulu ya bareng tante sama papa" Ajak Susan kepada Sofi.
"Oke tante" Jawab Sofi tersenyum senang. Mereka pun masuk ke dalam restoran berbintang lima itu.
"Wah, kita seperti keluarga. Keluarga bahagia" Ujar Susan saat mereka melakukan makan siang bersama.
"Emang kita keluarga tante" Jawab Sofi dengan polos nya.
Sedangkan Tian sama sekali tidak menanggapi apa yang di katakan Susan karena dari tadi dia sibuk dengan ponsel nya.
"Sayang, bagaimana keadaan mu sekarang? Apa sudah mendingan?" Tian mengirim pesan kepada ku.
"Alhamdulillah sudah kok sayang. Sekarang aku sedang beristirahat di kamar" Balas ku.
"Sayang, apa Sofi sudah di jemput?" Tanya ku lagi.
"Sudah kok sayang. Sekarang kami sedang makan siang di luar" Balas Tian.
Aku hanya mengirim emod tersenyum.
"Sayang, hari ini kamu pulang nya cepat ya. Ada sesuatu yang mau aku tunjukan kepada mu"
"Apa itu?"
"Baik lah sayang, aku akan pulang secepat nya" Balas Tian.
"Kamu sudah makan belum di rumah?" Tanya Tian lagi.
"Belum sayang, gak tahu kenapa aku pengen banget makan rujak. Apa nanti kamu bisa belikan aku rujak?" Tanya Tian lagi.
"Oh tentu saja, nanti setelah aku selesai makan siang, aku akan mencarikan mu rujak. Dan kamu bisa memberitahu ku kabar baik nya apa nanti saat aku mengantar Sofi pulang" Jelas Tian lagi.
"Oke sayang, aku tunggu ya"
"Oke, tapi kamu harus makan siang dulu ya. Nanti kamu bisa sakit lagi"
"Iya sayang kamu tenang saja. Aku pasti akan makan kok" Balas ku lagi.
***
"Sibuk banget sih" Ujar Susan cemburu saat Tian tersenyum sendiri saat memainkan ponsel nya.
"Emang nya sedang chat sama siapa sih?" Tanya nya lagi dengan ekspresi wajah tidak suka.
"Oh, ini chat sama istri ku. Kata nya ada kabar baik yang mau dia sampaikan nanti" Jelas Tian.
"Oh, gitu. Emang apa?"
"Gak tahu, dia belum memberitahu ku. Kata nya tunggu tiba di rumah baru dia memberitahu ku tentang berita itu" Jelas Tian.
"Apaan sih lebai banget deh. Masa pakai acara rahasia-rahasiaan segala sih. Wanita seperti itu menjadi istri nya Tian. Memang ya Tian tidak bisa apa mencari istri yang lebih dari pada wanita itu. Gak jelas deh" Batin nya menatap sinis ke arah Tian.
"Jauh banget sih dengan level ku yang modis dan pintar ini" Tambah nya lagi.
"Ya sudah, ayo selesaikan makanan nya cepat. Setalah ini kita antar kan Sofi pulang"
"Oke" Jawab Susan.
"Sayang, sini tante suapin makan nya" Ujar Susan mencari perhatian.
"Wah ternyata kamu perhatian banget ya. Apa kamu memang perhatian dengan anak kecil atau karena Sofi ini keponakan mu saja?" Tanya Tian merasa kagum melihat Susan begitu perhatian kepada putri nya.
"Ya gak lah Tian. Aku memang suka dengan anak kecil. Mereka itu masih polos dan lugu" Jawab Susan lagi.
__ADS_1
"Tentu saja aku melakukan ini karena Sofi itu keponakan ku. Walau bagaimana pun, Sofi darah daging ku. Dan kamu juga pemicu utama nya juga untuk aku melakukan ini. Secara aku harus bisa membuat mu terkesan dan terpesona dengan ku" Batin Susan.
Tian hanya tersenyum menanggapi apa yang di katakan Susan itu.
***
"Assalamualaikum" Ujar Tian saat diri nya telah tiba di rumah.
"Wa'aliakumsalam" Jawab ku menyambut kepulangan anak dan ayah itu pulang ke rumah.
Aku mengerutkan kening ku melihat siapa yang ikut bersama Tian dan Sofi saat itu. Yah Susan adik ipar nya Tian. Tepat nya mantan adik ipar. Aku memperhatikan nya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Penampilannya telah berbeda tidak seperti kemarin saat pertama kali aku bertemu dengannya.
"Ngapain Susan ikut mereka pulang ke rumah? Dan ngapain juga dia berpakaian seperti ini terlalu terbuka apa maksudnya?" Satu persatu pertanyaan mulai muncul di benak ku.
Entah mengapa aku merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu. Aku merasa ada sesuatu yang ia rencanakan.
"Ah, sudah lah. jangan terlalu berprasangka buruk kepada orang astaghfirullahaladzim" Ucap ku dalam hati menghilangkan rasa curiga ini.
"Apa mungkin ini karena keadaan ku sekarang yang tengah hamil jadi ya mood ku tidak baik saat ini" Batin ku lagi masih menatap lekat ke arah Susan yang dari tadi duduk di sofa rumah ku sambil bermain Sofi.
"Sayang, emang nya apa yang mau kamu kasih tahu ke aku tentang kabar baik yang kamu katakan tadi" Tanya Tian membuat lamunan ku buyar.
"Ha?" Aku kaget.
"Tadi Katanya kamu mau memberitahu kabar baik kepadaku saat aku pulang ke rumah. Emangnya kamu mau memberikan kabar baik apa?" Tanya Tian dengan lembut kepadaku.
"Oh itu, ayo ikut aku" Ujar ku menarik tangan Tian agar mengikuti ku ke kamar.
"Sayang, sekarang tante bantu kamu untuk ganti pakaian nya ya. Ayo kita ke kamar mu" Ajak Susan.
"Oke tante" Jawab gadis polos itu mengajak tante nya untuk pergi ke kamar nya.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi aku lah yang akan menjadi nyonya di rumah ini. Dan kamu sepenuh nya akan menjadi milik ku. Kamu lihat saja mama tiri mu itu sama sekali tidak memperdulikan mu. Yang di pedulikan hanya papa mu saja. Dasar wanita jahat" Batin nya lagi menatap sinis anak tangga yang aku dan Tian telusuri itu.
***
"Sayang emang nya ada apa sih? Apa kamu mau aku kasih pijitan siang-siang begini? Malam tadi belum puas?" Tanya Tian menggoda.
Aku menatap Tian dengan kesal dan ku tutup pintu kamar kami.
"Apaan sih, masa aku mau meminta itu siang-siang sih" Ujar ku lagi dengan kesal.
"Terus, ngapain kamu mengajak ku ke kamar?"
"Aku mau mengatakan nya sama kamu dan hanya kamu orang yang pertama mengetahui kabar bahagia ini" Ujar ku tersenyum senang.
Tian tampak masih bingung dengan apa yang aku katakan. Suami ku itu tampak belum mengerti dan paham dengan maksud ku barusan.
"Tara, ini kado untuk mu" Ujar ku menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna putih kepada Tian.
"Kado? Emang ada yang ulang tahu? Siapa? Aku rasa aku gak ulang tahun deh" Ujar Tian bingung.
"Gak harus ulang tahun juga kan aku harus memberi kado kepada kamu. Bisa saja aku memberi kado kepada kamu karena hari ini hari spesial untuk kita" Ujar ku lagi.
"Hari spesial? Spesial apa sih maksud mu?" Tian masih bingung dengan apa yang aku katakan.
"Sudah, Jangan banyak bicara lebih baik kamu buka saja kotak itu dan lihat apa isinya. Aku yakin kamu pasti akan kaget dan merasa senang mengetahui isi dari kota itu" Ujar ku lagi tersenyum.
Tampa diminta untuk yang kedua kalinya, Tian pun langsung membuka kotak yang berwarna putih itu yang kuberikan kepadanya untuk melihat apa isi dari kotak tersebut.
Terlihat lah sebuah tes kehamilan dan foto hasil USG yang ku lakukan tadi pagi.
Tian mengambil dan melihat hasil dari tes kehamilan itu. Dua garis berwarna merah terpampang nyata di sana.
Tian tersenyum senang melihat hasil tes itu. Dan kembali ia mengambil dan melihat foto USG yang ku lakukan tadi.
Senyuman itu pun semakin lebar terukir di bibir nya.
"Sayang, ini? Apa ini artinya kamu hamil?" Tanya Tian seakan tidak percaya.
Aku mengangguk membenarkan.
"Alhamdulillah terima kasih ya Allah telah di berikan kepercayaan kepada kami" Ujar Tian melakukan sujud syukur.
"Terima kasih sayang. Kamu benar, kabar ini memang sangat membuat ku kaget dan bahagia. Aku sangat-sangat bahagia saat ini" Ujar Tian lagi tersenyum dengan meneteskan air mata keharuan nya.
"Mulai sekarang, kamu nggak boleh terlalu capek dan kamu nggak boleh mengerjakan pekerjaan yang berat-berat. Kamu harus selalu beristirahat dengan cukup di kamar. Jika perlu apa-apa kamu tinggal memanggil bik Ina saja untuk membantumu oke. Jaga anak kita ya sayang" Ujar Tian mengelus perut ku.
"Iya sayang kamu tenang saja, aku pasti menjaga anak kita dengan baik" Jawab ku.
__ADS_1