
Sungguh pilu rasa hari ku mendengar dan melihat sendiri kenyataan yang terjadi kepada Tian dan Susan. Ternyata selama ini mereka memang sudah menjalin hubungan selama ini. Bahkan sebelum Raffa meninggal.
Aku berlari menuju kamar dengan rasa sakit di hati dan terus menangis. Air mata ini tidak bisa berhenti mengalir.
"Sayang, tunggu. Dengarkan penjelasan dari ku dulu" Ujar Tian terus mengejar ku.
Aku sama sekali tidak menghiraukan ucapan nya. Aku terus berlari dan masuk ke dalam kamar menutup pintu dan mengunci nya.
"Sayang, tolong dengar kan penjelasan ku dulu. Aku... aku terpaksa melakukan semua ini. Sayang aku mencintai mu lebih dari apa pun Aku mohon sayang buka pintu nya" Ujar Tian mengetuk pintu kamar yang ku kunci dari dalam.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan. Semua nya sudah jelas. Tinggalkan aku sendiri" Teriak ku penuh histeris.
"Sayang, aku mohon buka pintu nya"
Aku tidak menghiraukan ketukan pintu dan permohonan dari Tian barusan. Aku terduduk di pintu kamar ku dengan terus menangis. Sungguh rasa nya aku tidak berdaya saat ini. Tenaga ku habis karena mendapati kenyataan yang menyakitkan ini.
"Kamu tega Tian. Kamu jahat kepada ku" Batin ku menangis pilu.
Aku melangkah tertatih menuju tempat tidur. Rasa nya tubuh ini lelah sekali dan ingin beristirahat. Aku membaringkan tubuh ku di sana dan mulai memejamkan mata.
Mendapati pintu kamar tidak di buka dari ku, Tian pun berhenti mengetuk dan berjalan tertatih menuju sofa yang ada di lantai dua yang tidak jauh dari kamar ku.
"Maafkan aku sayang, aku tidak mau berpisah dengan mu. Aku sangat mencintai mu" Ujar Tian dengan lirih menangis sambil menutup wajah nya yang penuh dengan air mata.
***
"Bagus lah jika Fitri sudah tahu tentang hubungan ku dan Tian. Dengan begitu, aku tidak perlu lagi deh repot-repot mengungkapkan nya sendiri" Ujar Susan tersenyum puas melihat kehancuran rumah tangga ku.
"Dengan begini, aku yakin Fitri akan segera meninggalkan Tian. Dan Tian akan sepenuh nya menjadi milik ku. Aku yang akan berkuasa di rumah megah ini... Hahahaha" Ujar Susan tertawa lepas mendapati kemenangan nya.
"Sudah ku katakan Fitri, roda kehidupan itu pasti berputar. Dan saat ini aku lah yang berada di atas. Kamu yang sekarang berada di bawah"
"Aku senang, aku bahagia. Akhirnya kemenangan menjadi milik ku hahahaha" Susan terus saja tertawa bahagia di dalam kamar nya karena merasa menang bisa mendapatkan Tian dan membuat ku hancur.
"Aduh,,,, aku benar-benar tidak menyangka bahwa kejadian ini sungguh cepat terjadi. Sungguh dewi fortuna selalu berpihak kepada ku" Ujar nya duduk santai di atas kasur nya menikmati kemenangan nya saat ini.
***
Aku membuka mata ku di pagi itu. Yah, aku terbangun dari tidur ku saat azan subuh berkumandang.
Langkah ku tertatih menuju kamar mandi untuk berwudhu melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang muslim.
"Ya Allah, kuat kan lah hati ini dalam menghadapi segala cobaan yang Engkau berikan. Sungguh masalah yang datang di dalam hidup ku silih berganti, datang dan pergi. Aku tahu Engkau tidak akan memberikan cobaan ini di luar batas kemampuan hamba mu. Oleh karena itu, kuat kan lah aku ya Allah. Tabahkan hati ini. Aamiin" Doa ku setelah selesai solat subuh.
Aku mengemasi barang-barang ku.. Bermaksud untuk pergi ke rumah orang tua ku. Yah, aku belum bisa menghadapi Tian dan Susan saat ini. Aku butuh menenangkan diri dulu agar semua nya bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk keluarga ku.
***
Aku membuka pintu kamar. Ku lihat Tian baru saja bangun dari tidur nya mendengar suara pintu kamar kami terbuka. Dari kejadian malam tadi ternyata Tian tidur di Sofa. Aku pikir dia tidur di kamar Susan untuk menemani dan menikmati mala pertama mereka. Ternyata dugaan ku salah.
"Sayang" Tegur Tian melihat ku membawa koper yang berisi pakaian ku.
Tian datang mendekati ku. Aku sama sekali enggan untuk menatap wajah nya yang menghianati ku itu.
"Kamu mau kemana?" Tanya nya heran.
"Aku mau pergi ke rumah orang tua ku untuk menginap di sana" Jelas ku kepada Tian.
"Lo sayang, jangan pergi. Jangan tinggalin aku dan Sofi. Jika kamu pergi, siapa yang akan mengurus ku dan Sofi?"
__ADS_1
"Tian, istri mu tidak hanya aku sekarang. Kamu bisa saja meminta istri siri mu untuk melayani mu. Karena itu juga tugas nya sebagai istri mu" Ujar ku dengan nada yang terdengar kesal.
"Aku tahu, tapi aku hanya membutuhkan kamu di samping ku sayang. Aku tidak butuh dia. Aku menikahi nya karena terpaksa" Tian tepat berbicara dengan nada lembutnya kepada ku.
"Oh ya? Sekarang kamu baru mengatakan itu kepada ku setelah kamu mencicipi nya dan membuat nya hamil kamu mau bilang itu adalah khilaf atau apa? Sehingga kamu harus menikahi nya begitu?" Ujar ku yang semakin kesal.
"Selama aku dan Raffa berjuang di rumah sakit, kamu malah asyik-asyikan mencari kesenangan dengan gadis itu. Padahal aku dan Raffa sangat membutuhkan mu Tian" Ujar ku menangis menitikkan air mata membayangkan kejadian waktu itu.
"Hingga Raffa menghembuskan napas terakhir nya pun kamu masih bersama dia. Itu yang kamu bilang sayang?" Emosi ku semakin menggebu-gebu.
"Sudah lah Tian, aku sudah muak mendengar perkataan mu yang semakin membuat ku emosi" Ujar ku.
Langkah ku terhenti saat Tian menahan ku agar aku tidak pergi meninggalkan nya.
"Sayang, tolong jangan pergi. Jika kamu pergi ke rumah orang tua mu, apa yang akan mereka pikirkan tentang kita. Tolong lah sayang selesaikan masalah ini dengan baik. Kita bisa bicarakan nya baik-baik" Tian masih terus memohon kepada ku.
"Maaf Tian, aku tidak bisa. Saat ini hati ku sedang terluka. Pikiran ku tidak karuan. Jika aku terus-terusan berada di sini, melihat kamu bahkan Susan, itu akan membuat ku semakin hancur. Tolong mengerti. Aku bukan tipe orang yang bisa menyelesaikan masalah dengan hati yang panas. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri ku dan mengambil keputusan. Tolong biarkan aku pergi" Ujar ku dengan nada memohon juga. Tidak terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi ku. Sungguh sangat pilu rasa nya di hati ini. Satu sisi aku tidak bisa meninggalkan suami dan juga anak sambung ku, tapi di sisi lain hati ini benar-benar telah terluka dengan kebohongan Tian kepada ku.
Melihat aku menangis, Tian pun melepaskan tangannya dan membiarkan aku pergi.
"Sayang, Tolong jangan pergi terlalu lama cepatlah kembali karena aku membutuhkanmu" Ujar Tian membuat langkahku berhenti sejenak dan kembali lagi melangkah setelah ia selesai mengatakan hal itu. Deraian air mata mengiringi kepergian ku.
Saat aku melangkah turun dari tangga, aku berpas-pasan dengan wanita pelakor itu. Aku menatap nya dengan sinis. Sedangkan orang yang ku tatap hanya tersenyum penuh kemenangan.
Aku terus melangkah masuk ke dalam mobil ku dan melaju membelah jalan raya.
Melihat ku pergi, Susan naik ke lantai dua menghampiri Tian yang berdiri penuh dengan kesedihan dan penyesalan.
"Sayang, sudah lah. Jangan kamu terlalu memikirkan Fitri. Masih ada aku di sini yang selalu menemani mu" Ujar Susan menyentuh bahu Tian untuk membuat nya sedikit tenang.
Tian malah menepis tangan istri nya itu dengan kasar.
"Apa maksud kamu ngomong seperti itu? Kita melakukannya itu atas dasar suka sama suka. Kamu tidak bisa menyalahkan aku sepenuhnya seperti itu dong. Kamu juga salah di sini" Ujar Susan dengan emosi.
"Jika benar kamu tidak menginginkan anak ini, aku akan menyingkirkan nya. Biarlah aku dan anak ku mati bersama agar kamu puas dan bisa hidup bahagia bersama istri kebanggaan mu itu" Susan berkata penuh dengan emosi.
Tian hanya diam tidak bisa menjawab apa yang di katakan oleh istri siri nya itu. Otak nya benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.
Melihat Tian sama sekali tidak memberi respon atas ancaman nya, membuat Susan semakin sakit hati.
"Oke, jika ini mau mu jangan salah kan aku. Biar kamu yang tanggung dosa nya karena tega membunuh darah daging mu sendiri" Ujar Susan pergi meninggalkan Tian.
Tian sadar dari lamunannya dan terus mengejar wanita yang sedang hamil anaknya itu Agar menghentikan perbuatan nekatnya untuk menggugurkan kandungannya.
"Susan, Susan. Kamu mau ngapain?" Panggil Tian menarik tangan gadis itu.
"Lepas kan aku. Biar kan aku melenyapkan anak ini karena papa nya sama sekali tidak pernah menginginkan kehadiran nya. Untung-untung aku pun ikut bersama nya nanti. Jadi, kamu tidak perlu pusing lagi memikir kan aku dan anak ku. Karena kami sudah mati" Ujar Susan dengan kasar nya.
"Susan, jangan nekat seperti ini dong. Anak ini tidak bersalah. Jangan kamu melakukan hal itu"
"Terus, aku harus bagaimana? Kamu selalu menyalahkan aku atas apa yang terjadi. Seolah-olah hanya aku yang bersalah sedangkan kamu suci seperti malaikat yang bersih" Jelas Susan dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Bukan maksud ku seperti itu Susan. Maafkan aku. Jangan kamu melakukan hal itu. Aku sudah merasa sangat bersalah dengan kepergian Raffa. Dan aku tidak mau merasakan hal yang sama dengan anak kita. Tolong jaga dia baik-baik" Ujar Tian dengan lembut membujuk Susan.
"Aku muak Tian, aku capek di salahkan sama kamu"
"Iya aku tahu, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf" Ucap Tian memeluk istri kedua nya itu.
Susan tersenyum senang karena kali ini dia kembali menang. Tian memang laki-laki yang lemah. Sangat mudah untuk di gertak seperti itu.
__ADS_1
"Ini lah yang ku harapkan Tian. Sangat mudah membuat mu berubah pikiran" Batin Susan tersenyum senang.
***
"Aku harus kemana? Jika aku pulang ke rumah papa dan mama, pasti mereka akan banyak memberikan pertanyaan dan curiga" Batin ku terus fokus menyetir mobil ku meski penuh dengan deraian air mata.
"Aku harus kemana ya? Apa ke rumah abang-abang ku? Atau kakak ku? Ya ampun buntu juga otak ku memikirkan nya" Batin ku terus memikirkan kemana harus ku tuju.
"Lebih baik aku menginap di hotel saja untuk sementara waktu. Dari pada nanti nya banyak pertanyaan dari keluarga ku. Sejujurnya aku belum siap untuk di tipa pertanyaan-pertanyaan yang tidak mau ku bahas saat ini" Kata ku lagi dalam hati.
Aku membelokan mobil ku di sebuah hotel yang cukup terkenal di kota itu. Aku memesan satu kamar selama beberapa hari di sana.
Hotel nya cukup besar dan terdiri dari tiga lantai. Aku memesan kamar di lantai paling atas, karena aku ingin menikmati pemandangan kota saat pagi dan malam hari dari atas sana.
Aku menekan tombol lif turun agar aku bisa naik ke lantai kamar ku. Saat lif terbuka, aku sibuk mencari kunci mobil ku yang aku lupa tarok di mana tadi, apakah tertinggal di loby atau bagaimana. Sedang sibuk mencari dan terus berjalan masuk ke dalam lif tidak sengaja aku bertabrakan dengan seorang laki-laki.
Laki-laki tadi pun tidak memperhatikan jalan nya karena sibuk memainkan ponsel nya saat keluar dari lif.
"Maaf" Kata ku mengambil ponsel nya yang terjatuh.
"Maaf kan aku karena aku tidak melihat tadi" Ujar ku menyerahkan ponsel nya.
"Iya aku juga minta maaf karena aku juga tidak memperhatikan jalan ku" Ujar nya tersenyum manis.
Laki-laki tadi memakai baju koko berwarna biru langit. Wajah nya tampak berseri dengan kopiah di kepala nya. Celana kain pun turut ikut serta menunjang penampilan nya.
Penampilan nya tidak seperti pada laki-laki lain pada umum nya. Bisa ku lihat kesejukan di wajah nya itu.
"Sekali lagi aku minta maaf ya" Ucap ku lagi.
"Iya aku juga" Ujar nya kembali tersenyum ramah.
Aku masuk ke dalam lif tadi yang sudah terbuka menunggu ku. Sedangkan laki-laki tadi terus berjalan menuju loby hotel.
"Ternyata sudah ku masukan ke dalam tas kunci mobil nya" Ujar ku setelah menemui kunci itu.
***
Ponsel ku berdering saat aku tiba di dalam kamar ku.
Aku merogoh tas ku untuk mengambil ponsel ku itu.
"Tian, ada apa sih dia menghubungi ku? Aku lagi ingin sendiri dan tidak mau berbicara dengan nya" Kata ku kepada diri ku sendiri.
Berkali-kali Tian menghubungiku. Namun aku sama sekali tidak mengangkat telepon darinya.
Tidak menyerah sampai di situ. Tian pun memberikan pesan kepadaku.
"Sayang, Kamu di mana? Apakah kamu sudah sampai di rumah papa dan mama?" Pesan Tian kepada ku.
Aku hanya membaca pesan itu tampa berniat untuk membalas nya.
"Sayang balas dong! Jangan membuat aku khawatir seperti ini" Pesan nya lagi.
Mendapati pesannya tidak dibalas olehku, Tian pun mencoba untuk menghubungiku lagi dengan cara meneleponku.
Karena aku bosan terus-terusan diganggu oleh Tian, aku pun membalas pesan darinya.
"Iya aku sudah tiba di rumah papa dan mama" Balas ku.
__ADS_1