Ku Temani Kau Dengan Bismillah

Ku Temani Kau Dengan Bismillah
Bab 43


__ADS_3

Susan sangat senang mendapati bahwa diri nya telah hamil anak nya Tian.


"Hallo mama" Ujar nya saat terdengar jawaban dari seberang.


"Susan ada apa? Kedengaran nya kamu senang sekali" Tanya mama nya merasa heran.


"Iya dong ma, bagaimana aku gak senang coba. Apa yang kita harapkan akhir nya terpenuhi juga ma"


"Maksud kamu apa? Mama gak ngerti dengan ucapan kamu barusan" Ujar wanita paruh baya itu.


"Ma, saat ini aku sedang mengandung anak nya Tian"


"Apa? Yang benar kamu San?"


"Iya dong ma, ngapain juga aku bohong sama mama. Aku hamil anak Tian dan usia kehamilan ku sekarang lima minggu" Susan tersenyum menceritakan kabar bahagia itu kepada mama nya.


"Wah, ternyata dewi fortuna berpihak kepada mu. Terus apa Tian tahu hal ini?"


"Tahu dong ma. Dia lah yang mengantarkan ku ke rumah sakit tadi untuk memeriksa keadaan ku"


"Terus bagaimana selanjut nya? Apa dia mau bertanggung jawab?"


"Kata nya sih mau ya ma. Meski pun dia menikahi ku secara siri nanti nya" Jelas Susan.


"Gak apa-apa untuk saat ini kamu menikah siri dengan nya. Yang terpenting saat ini kamu harus menjaga kandungan mu itu dengan baik. Secara hanya itu lah satu-satu nya senjata kamu untuk meluluhkan hati Tian agar tidak meninggalkan kamu. Dan saat kamu sudah menikah dengan Tian nanti nya, kamu bisa singkirkan Fitri dari kehidupan kalian" Jelas mama nya tersenyum licik.


"Iya mama, mama tenang aja. Aku pasti akan mendapatkan kembali apa yang seharus nya menjadi milik kita" Ujar Susan mengakhiri telfon nya.


Gadis itu kembali merebahkan diri nya di atas kasur kamar nya. Sungguh dia sangat bahagia dengan kehamilan nya saat ini.


***


"Ya ampun, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menikah dengan Susan. Tapi aku juga tidak mungkin membiarkan darah daging ku lahir tampa seorang ayah" Batin Tian bergejolak gelisah dengan masalah yang di buat nya saat ini. Laki-laki itu mondar mandir di ruangan kerjanya di kantor. Sungguh dia tidak menyangka bahwa hal ini terjadi begitu cepat.


"Kenapa aku bisa membuat nya sampai hamil sih? Bagaimana jika Fitri tahu, dia pasti akan kecewa dan akan meninggalkan aku. Gak, aku gak mungkin bisa hidup tampa dia. Aku sangat mencintai Fitri" Batin nya sangat frustasi.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Ya masuk" Jawab Tian mempersilahkan orang yang berada di ruangan nya itu masuk.


"Mama" Ujar Tian saat melihat mama nya Susan alis mantan mama mertua nya datang menemui nya.


"Silahkan duduk ma"


"Iya terima kasih" Ujar wanita paruh baya itu duduk di sofa yang berada di ruangan itu.


"Tian, mama gak punya waktu lama. Mama datang ke sini hanya ingin menanyakan kepastian dari mu. Mama sudah tahu semua nya. Susan sudah menceritakan semua nya kepada mama" Jelas wanita paruh baya itu.


Tian hanya terdiam menunduk. Merasa bersalah dengan semua yang terjadi karena kekhilafan nya.


"Iya ma, aku minta maaf dengan semua yang terjadi. Aku benar-benar khilaf saat itu" Ujar Tian menyesal.


"Sekarang mama tidak mau membahas hal yang telah lalu. Saat ini mama hanya ingin mencari solusi denganmu dengan masalah yang terjadi kepada kamu dan Susan. Yang berlalu biarkanlah berlalu. Jadi mama ingin bertanya bagaimana kedepannya kamu dengan Susan? Tidak mungkin kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi bukan?" Ujar wanita paruh baya itu langsung kepada inti permasalahan nya.


"Iya ma, aku pasti akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi kepada Susan. Bagaimana pun Susan mengandung anak ku. Dan aku tidak mungkin menelantarkan anak itu. Aku pasti akan menikahi Susan tapi tidak sekarang ma. Aku harus fokus sama pengobatan Raffa dulu" Ujar Tian.


"Lo, gak bisa begitu dong Tian. Walau bagaimana pun Susan harus segera di nikahkan. Terlebih dia sedang mengandung. Semakin hari semakin besar perut nya. Kamu yang benar saja dong Tian" Ujar wanita paruh baya itu mendesak.


"Atau gak kamu mau mama memberi tahu Fitri tentang kelakuan bejat mu itu?" Ancam wanita itu lagi.


"Jangan ma, aku gak mau Fitri tahu. Dia pasti akan semakin terpukul dengan semua ini. Secara dia sedang sedih karena penyakit nya Raffa" Tian memohon.


"Maka nya kamu harus memberi kepastian kapan kamu mau menikahi Susan? Jika kamu bilang tunggu sampai keadaan Raffa membaik, sampai kapan?"


Tian tampak berpikir dengan apa yang di katakan mantan mama mertua nya itu.


"Baik lah aku akan menikahi Susan bulan depan" Jawab Tian pada akhir nya.


"Gitu dong. Memang seharus nya begitu" Jawab wanita paruh baya itu lagi tersenyum puas dengan keputusan Tian barusan.


Meski berat, Tian harus mengambil keputusan ini karena ia pun bersalah dalam hal ini. Terjebak dan terbuai dengan godaan Susan.


***


"Tian kemana sih? Dari tadi sore dia gak pulang-pulang ke rumah? Apa dia langsung ke rumah sakit ya? Sudah jam tujuh malam juga. Biasa nya dia bersih-bersih dulu baru ke rumah sakit. Apa dia sengaja menghindari ku. Gak, gak bisa begitu. Walau bagaimana pun aku juga sedang mengandung anak nya. Anak ini juga butuh perhatian dari ayah nya" Ujar Susan langsung mengambil ponsel dan menekan nomor ponsel Tian.

__ADS_1


Tian keluar dari ruangan tempat Raffa di rawat saat ponsel nya berdering.


"Hallo Tian, kamu bisa pulang sebentar gak? Gak tahu kenapa perut ku sakit" Ujar Susan berbohong agar di perhatikan oleh Tian.


"Aduh Susan, aku sedang berada di rumah sakit ini sedang temani Fitri untuk menjaga Raffa" Ujar Tian.


"Aduh Tian, di sana kan sudah ada Fitri. Aku sendirian lo di rumah ini. Kamu mau terjadi sesuatu sama anak kamu?" Susan terdengar mengancam.


Tian memijit kepala nya yang terasa sakit kerena kelakuan Susan yang minta di perhatikan sepenuh nya tampa memikirkan keadaan nya sekarang.


"Tian, perut ku terasa sakit lo, tolong dong Tian cepat pulang" Pinta nya lagi memohon membuat suara seloah-olah memang sedang kesakitan.


Mendengar itu Tian tampak panik. Ia pun langsung berpamitan kepadaku untuk pulang ke rumah.


"Sayang, aku harus kembali ke kantor. Ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan. Nanti setelah selesai aku kembali lagi ke sini" Ujar Tian berbohong.


"Iya sudah gak apa-apa. Lagian mama juga nanti nya datang. Kamu selesaikan saja pekerjaan mu" Ujar ku memberikan pengertian.


"Kamu hati-hati di jalan ya" Ucap ku lagi.


Tian mengangguk dan mencium puncak kepala ku.


***


Tian bergegas membuka pintu kamar Susan saat tiba di rumah nya.


Melihat pintu nya di buka, Susan berlaga seolah perut nya sedang sakit.


"Aduh Tian, sakit sekali perut ku" Ujar nya.


"Ya sudah jika begitu kita pergi ke rumah sakit saja" Ujar Tian panik.


"Gak perlu Tian. Anak ini hanya membutuhkan ayah nya" Ujar Susan tersenyum manis.


"Tolong elus perut ku" Ucap nya lagi.


Tian tampak enggan melakukan apa yang di minta oleh Susan kepada nya. Sejujur nya dia belum bisa menerima anak itu dan juga masih belum percaya bahwa Susan bisa hamil anak nya.


"Tian, kok kamu bengong. Anak ini hanya perlu perhatian dari ayah nya. Setelah kamu datang, rasa sakit perut ku juga berkurang" Ujar Susan tersenyum menggoda.


Susan mengambil tangan Tian dan meletakkan di perut nya.


Tian menarik tangan nya dari perut Susan. Ia bangkit dari duduk nya dan berdiri membelakangi Susan.


"Tian, kenapa?" Tanya Susan heran.


"Aku belum bisa menerima semua ini" Ujar nya memijit keningnya yang terasa pusing.


Susan berdiri dan mendekati Tian.


"Sayang, Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Walau bagaimanapun ini semua sudah terjadi dan kita mau tidak mau harus menerimanya" Ujar Susan dengan lembut merayu Tian agar luluh.


"Sayang kamu tenang saja, aku tidak akan memberi tahu Fitri tentang semua ini. Yang pasti kamu harus menikahi ku secepatnya dan tidak meninggalkan ku" Ujar Susan lagi.


Tian masih gelisah pandangan nya masih lurus kedepan dengan tatapan kosong nya.


"Sayang" Ujar Susan memegang wajah Tian agar menatap mata nya.


"Kamu percaya deh sama aku. Aku akan selalu ada di sisi mu dalam situasi apa pun. Aku akan merahasiakan apa yang terjadi kepada kita dengan siapa pun" Ujar gadis seksi itu mencoba menggoda Tian. Tangan nya mulai menelusuri setiap lekuk tubuh laki-laki itu.


Tentu saja Tian terlena dan terbuai dengan rayuan dari gadis itu. Kucing mana yang bisa menolak ikan. Apa lagi ini ikan segar dan seksi membuat kucing mana pun pasti akan mau menyantap nya.


"Sayang, aku tahu saat ini kamu sedang pusing dengan masalah-masalah yang ada di dalam hidup mu. Kamu tenang saja, aku ada di sini untuk membantu mu. Malam ini coba lah untuk melepas semua masalah itu bersama ku" Ujar Susan mendekatkan wajah nya kepada wajah Tian. Hingga pada akhir nya bibir mereka saling menyatu.


Kembali Tian terbuai dengan godaan gadis seksi itu. Dan menempuh jalan menuju surga dunia bersama.


***


Aku panik saat alat mendeteksi jantung Raffa berbunyi tidak karuan. Sungguh hati ini merasa gelisah mendengar hal itu.


"Mama, ma ini Raffa kenapa ma?" Ujar ku panik.


"Panggil dokter Fitri" Ujar mama ku.


Aku langsung berlari mencari dokter untuk memeriksa keadaan putra ku.

__ADS_1


"Ibu tolong tunggu di luar dulu ya" Ujar dokter tadi setelah tiba di ruangan Raffa.


Aku dan mama menunggu di luar dengan keadaan cemas. Aku semakin ketakutan dengan hal buruk yang terjadi kepada putra ku itu. Air mata terus saja mengalir di pipi.


"Ma, Raffa ma, aku takut sesuatu terjadi kepada nya" Ujar ku menangis memeluk mama ku.


"Sayang, jangan memikirkan hal yang bukan-bukan seperti itu. Kamu harus kuat dan berdoa agar Raffa baik-baik saja" Ujar mama ku memberi semangat.


Aku merogoh saku celana ku untuk mengambil ponsel. Ku tekan nomor ponsel Tian dan menghubungi nya.


Namun, tidak ada jawaban dari nya. Tidak menyerah sampai di situ, aku kembali menghubungi nya. Namun, hasil nya tetap sama tidak di jawab sama sekali.


"Ya Allah Tian, kamu di mana sih? Anak mu sedang kritis saat ini tapi kamu tidak mengangkat telfon ku" Ujar ku.


"Sabar Fitri, mungkin Tian sedang di jalan sehingga tidak mendengar ponsel mu berdering" Ucap mama ku menenangkan ku.


"Dokter bagaimana keadaan anak ku?" Tanya ku kepada dokter yang baru saja menangani kondisi anak ku itu.


"Maaf buk, kamu sudah berusaha sebisa kami. Tapi Tuhan berkehendak lain" Ujar nya.


Aku menutup mulut ku yang terbuka lebar menggunakan tangan ku. Kembali air mata membasahi pipi ku. Hal yang paling aku takuti kini telah terjadi. Putra ku kini telah tiada meninggalkan ku di dunia ini.


"Mama, Raffa ma... Raffa" Ujar ku dengan lirih.


Sungguh rasa nya dunia ini berhenti berputar mengetahui anak ku telah pergi untuk selama nya.


Aku memberi pesan kepada Tian mengatakan bahwa Raffa telah tiada.


Aku buka pintu ruangan itu dengan perlahan berjalan dengan langkah lesu mendekati putra ku itu. Sungguh rasa nya sangat menyiksa menghadapi semua ini.


Ruangan yang selama berbulan-bulan sebagai saksi bisu perjuangan aku dan juga Raffa untuk melawan penyakitnya, kini juga sebagai tempat Raffa mengakhiri hidupnya.


Aku juga tidak mengerti kata nya jika mengobati penyakit ini secara dini akan mempercepat untuk kesembuhan bagi penderita. Namun, entah mengapa dengan anak ku tidak begitu. Dia malah pergi meninggalkan ku dan lelah berjuang untuk sembuh.


"Raffa sayang mama. Terima kasih ya sayang telah hadir di dalam hidup mama. Terima kasih telah mengajarkan mama sabar dalam menghadapi hidup ini. Sekarang, Raffa tidak sakit lagi. Raffa sudah berada di tempat yang indah di sisi Allah" Ujar ku mencium dengan lembut dan memeluk tubuh mungil yang tergeletak tidak berdaya itu.


"Mama sayang Raffa. Tunggu mama ya nak, tunggu mama datang menemui Raffa kita akan bersama-sama lagi di sana" Ujar ku lagi menitik kan air mata perpisahan dengan putra kesayangan ku itu.


"Sabar ya sayang, Allah lebih sayang kepada Raffa. Dia tidak mau Raffa terus-terusan sakit seperti ini. Kamu yang kuat ya nak" Ujar mama ku memberikan semangat kepada ku.


***


Tian merebahkan tubuh nya di atas kasur milik Susan merasa lelah karena bekerja di malam yang hangat ini.


Susan yang berbaring di samping nya mengelus dan mencium puncak kepala suami ku itu.


"Terima kasih ya sayang kamu telah menemaniku malam ini" Ujar Susan tersenyum senang.


Tian meraih ponsel nya di atas nakas yang terdapat di samping tempat tidur nya Susan.


Ia kaget melihat panggilan dari ku berkali-kali kepada nya yang tidak terjawab. Tian bangkit dari baring nya dan duduk di atas tempat tidur itu.


"Fitri memanggil ku berkali-kali dari tadi" Ujar nya kepada Susan.


Tian membuka pesan dari ku.


Betapa kaget nya ia membaca pesan yang ku kirim kepada nya.


Ia pun menangis membaca pesan itu kemudian bergegas memakai kembali pakaian nya.


"Sayang kenapa?" Tanya Susan heran.


"Raffa, Raffa sudah tidak bersama kita lagi" Ujar nya langsung keluar dari kamar Susan menuju ke rumah sakit.


"Ha?" Susan pun ikut kaget mendengar hal itu.


"Raffa meninggal? Wah, dewi fortuna semakin berpihak kepada ku. Setelah Raffa tiada, anak yang ada di dalam kandungan ku ini yang akan menggantikan nya" Batin nya tersenyum puas.


"Musibah untuk mu Fitri, tapi keberuntungan berpihak kepada ku" Ujar nya lagi.


***


Tian melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit.


"Ya Allah apa yang sedang aku lakukan? Kenapa aku kembali melakukan hal itu? Apa lagi di saat anak ku kritis seperti tadi. Hingga saat dia tiada pun aku tidak menemani nya" Ujar Tian merasa bersalah. Air mata terus mengalir di pipi nya.

__ADS_1


"Maaf kan papa nak. Papa telah gagal menjaga mu. Maaf kan papa" Ujar nya lagi.


"Maaf kan aku Fitri. Aku kembali terjebak di dalam lubang yang sama. Aku memang bukan suami yang baik untuk mu" Tambah nya lagi terus menyetir hingga tiba di rumah sakit.


__ADS_2